Dengan penuh kebencian, Erica berjalan dengan langkah kaki panjang dan menghampiri Celine di dapur istana.
"Oh ternyata ada Nona Celine di sini," sapa Erica berlagak tidak tahu.
"Eh, Putri Erica, untuk apa kemari?" sapa Celine balik.
"Aku hanya ingin melihat situasi istana saja. Kebetulan berpapasan denganmu di sini," jawab Erica dengan mulut manisnya. Wajahnya yang lugu dan cantik terlihat sangat bersih dari kedengkian, walau fakta sebenarnya berbanding terbalik sembilan puluh derajat.
"Kebetulan yang tidak disangka, aku mengira kalau Putri Erica bersengaja datang kemari, hahaha," balas Celine menyindir dengan tawa paksa.
"Hahaha, Nona Celine pandai sekali bergurau. Oh yah, apa yang sedang kau masak itu?" tanya Erica mengalihkan topik pembicaraan.
"Sebenarnya ini tak pantas kusebut makanan, tapi yah, Putri Erica bisa lihat sendiri," ucap Celine merendah.
"Makanannya tampak enak, tercium dari aromanya," puji Erica bersilat lidah. Dalam hatinya tak berkata seperti itu.
"Putri Erica dapat mencicipinya, kalau mau," sambung Celine berbasa-basi.
"Bolehkah?" tanya Erica memperjelas.
"Tentu saja," angguknya.
Erica kemudian mendekati Celine lalu mengambil sendok pengaduk masakan dari tangan Celine. "Aku ingin coba mengaduknya," jawabnya sambil tersenyum.
"Sandiwara apa yang sedang kau rencanakan, sialan," umpat Celine kesal dalam hati.
Celine hanya bisa menatap Erica dengan mata jijik meski harus dengan senyum paksa di bibirnya.
"Apa kau dulu berasal dari desa, Celine? Tampaknya kau sudah terbiasa memasak," ungkap Erica sambil mengaduk.
"Hahaha, iya. Aku sering masak sendiri. Soalnya aku terbilang wanita yang mandiri jadi tidak suka menyusahkan orang lain," balas Celine menyindir balik.
"Aku juga ingin memasak, tapi tak diizinkan oleh ayah dan ibuku. Ratu Sibenth juga, apalagi Darchen, dia akan sangat marah jika melihatku bermain dengan api," jelas Erica menyombongkan diri.
Telinga Celine yang sudah panas mendengar suara Erica hanya bisa mengangguk dan tak meladeni perkataannya sama sekali. Ia hanya mengangguk berpura-pura terkesan dengan isi perkataan Erica. Tapi Erica tak henti-hentinya menyombongkan diri hingga membuatnya tak tahan lagi. "Benarkah begitu? Kau sangat manja, hahaha. Oh yah, biar aku saja yang aduk masakannya. Aku takut tangan Putri Erica yang lembut lecet karena tak biasa dengan pekerjaan ini."
Celine langsung menarik gagang pengaduk tersebut lalu menggeser badannya agar Erica mundur dan menjauh dari tungku tempat ia memasak.
Celine dengan cepat-cepat menuangkan masakannya ke wadah lalu bergegas pergi menjauh dari hadapan Erica. Ia sudah muak melihat tampang wanita busuk itu dari tadi.
Erica yang sama kesalnya dengan Celine, hanya bisa melampiaskannya pada pelayannya.
"Dasar penjilat! Kau tidak lihat bagaimana dia menyerangku dengan kata-katanya tadi?" kata Erica kesal pada pelannya selepas sampai di kamarnya.
"Hamba melihat, Putri. Dia sangat lihai menyindir, mungkin karena berasal dari desa," balas Pelayan itu.
"Aku juga tahu. Lain kali aku akan membalasnya karena tadi sudah mempermalukanku di depan pelayan-pelayan rendahan sana," ucapnya yang semakin kesal mengingat Celine.
Berbeda dengan Erica, Celine malah bertekad untuk mencabik-cabik mulut putri tersebut di lain kesempatan. Kurang puas dengan sindirannya tadi, ia harus membalaskan kekesalannya. Tidak ada yang berani mencari gara-gara dengannya dulu karena keganasannya. Tapi Erica malah mengibarkan bendera permusuhan dengan memancing amarahnya.
"Tunggu saja bagianmu, wanita menjijikkan," decak kesal Celine sambil mengepal tangannya membentuk sebuah tinju. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan menghempas pintu dengan keras.
Tak sengaja Darchen melihat Celine membawa masakan yang ia kira adalah sebuah ramuan. Pangeran itu diam-diam mengikuti Celine dari belakang dan memantau pergerakannya.
Sadar kalau seseorang sedang mengikutinya, Celine langsung berbalik memeriksa keadaan. Ia meletakkan masakannya itu lalu menelusuri ruangannya dengan teliti.
"Keluar! Kalau aku sampai menemukanmu, awas saja kau kuhajar sampai babak belur," ancam Celine dengan kemoceng di tangannya sebagai alat untuk berjaga-jaga.
Darchen kemudian tersadar dari kebodohannya karena bersembunyi dari Celine, ia keluar dari balik tirai tempat ia menutup diri.
"Darchen?" Celine terngaga sejenak karena heran. Ia merasa bingung saja melihat tingkah Pangeran Darchen yang terus berubah-ubah. Terkadang sudah sangat dewasa dan kejam, di lain waktu ia berperilaku bak anak kecil.
"Apa yang kau lakukan di kamar seorang gadis, ha?" tanya Celine curiga. Ia mundur menjauh perlahan lalu melindungi dirinya dengan kemoceng yang ia pegang.
"Tidak ada," jawab Darchen singkat. Beberapa saat kemudian ia tersadar lagi dari kebodohannya. Ia adalah pria yang tak suka berlama-lama dan tak suka dengan kerumitan. Biasanya ia langsung mengatakan apapun yang menjanggal di benaknya. Terkecuali dengan wanita di depannya, ia malah membelit-belitkan masalah.
"Apa pangeran memang kerjanya senggang sampai sempat membuntuti ku?" tanya Celine keheranan.
"Aku hanya sedang memeriksa beberapa hal," jawabnya kaku. Ia kembali menjadi orang dingin dan cuek.
"Cih, kau sama saja dengan wanita sok lugu itu. Alasan memeriksa beberapa hal, tapi nyatanya sedang merencanakan kejahatan padaku," umpat Celine dengan suara pelan dan bibir yang menyudut mencaci Darchen dan Erica.
"Aku curiga benda yang kau bawa itu adalah ramuan peningkat sihir," tuduh Darchen menunjuk masakan yang dibawa Celine dari dapur.
"Apa? Ini?" tunjuk Celine ke arah wadah itu. "Hahaha … ini hanya makanan biasa. Kenapa kau terobsesi sekali dengan sihir, ha? Lucu sekali," ledek Celine sambil tertawa terbahak-bahak.
Celine mengambil makanan tersebut dan memakannya dengan nikmat dan menunjukkannya pada Darchen. "Apa ada perubahan, ha? Astaga … sudah kukatakan padamu kalau aku hanya manusia biasa, masih saja tidak percaya," terang Celine sambil memakan masakannya.
Namun ketika melihat bentuk masakan yang asing baginya, Darchen semakin tinggi keyakinannya kalau masakan tersebut adalah ramuan.
"Aku tak pernah melihat masakan sejenis itu," ucap Darchen.
"Tentu saja tidak pernah. Ini masakan era modern, tidak ada di jaman kolot seperti di sini," jelas Celine sambil menghina. "Oh yah, kau tidak pernah mencicipi masakan seperti ini, bukan? Nah." Tanpa bertanya terlebih dahulu, Celine langsung menyuapkan makanan yang ia masak tadi ke dalam mulut Darchen.
"Enak, 'kan?" tanya Celine soal pendapat Darchen tentang rasa masakannya.
"Apa yang kau lakukan?" Darchen membuang masakan itu dari mulutnya karena takut terkena racun.
"Hey hey … tidak bisakah kau menghargai masakan orang lain? Susah payah aku memasaknya," senggak Celine mengamuk.
"Tidak ada yang bisa menjamin kalau di situ tidak ada racunnya," balas Darchen.
"Apa? Racun apa, ha? Kalau ada racun di sini tidak mungkin akan kumakan, dasar tukang curiga," decak Celine kesal.
"Katakan padaku siapa kau sebenarnya," perintah Darchen dengan wajah tak senang.
"Aish … sudah kukatakan padamu berulang kali. Aku berasal dari dunia lain yang berbeda darimu. Aku terhisap ke sini melalui lukisan kuno milik ayahku. Apa kau puas sekarang?" jelas Celine mendetail.
Darchen ingin sekali mempercayai perkataannya, tapi ceritanya begitu tidak logis. Sama sekali tidak masuk akal. Anak kecil sekali pun tidak akan tertipu dengan bualan seperti itu.
Merasa buang-buang waktu, Darchen pergi dari kamar Celine dan kembali mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh Raja Erogha padanya.
"Kenapa rasa masakannya enak sekali," decak Darchen dalam benaknya sambil membayangkan rasa masakan yang di sulangkan oleh Celine ke mulutnya.
"Dasar pria kurang ajar. Sudah masuk tanpa izin, membuang masakanku, sekarang dia pergi tanpa pamit. b******n," amuk Celine kesal.
Tak berapa lama kemudian, Genah, pelayan setianya datang setelah ditunggu tunggu cukup lama.
"Dari mana saja kau?" tanya Celine setelah melihat Genah datang dengan raut wajah lesu.
"Maafkan hamba, Nona Celine. Hamba mendapatkan tugas dari Panglima Dion Moghet. Anda tadi tertidur pulas hingga hamba tak tega membangunkan," ucap Genah meminta maaf atas kesalahannya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja makanan yang kumasak segera dingin, tidak enak jika dilama-lamakan," balas Celine. Ia langsung mengambil wadah makanan yang ia siapkan khusus untuk Genah dan langsung memberikan pada pelayan yang sudah ia anggap sebagai teman sendiri.
"Terima kasih, Nona Celine. Hamba tersanjung dengan masakan ini," ungkap Genah terharu. Ia merasa diangkat derajatnya ketika diperlakukan bak teman oleh Celine.
"Ayo cipipi, ini namanya rendang. Tidak ada yang bisa buat selain Celine Morgithen," tambah Celine sambil tersenyum membanggakan diri.
"Maaf, Nona. Tapi masakannya terlihat asing," nilai Genah sesaat setelah melihat masakan yang bentuk bahkan aromanya tak pernah ia lihat dan cium sebelumnya.
"Ho ho, tentu saja. Ini hanya ada di tempatku. Makan saja, lalu beri aku nilai," pinta Celine semangat.
Dengan ragu, Genah memasukkan masakan tersebut ke dalam mulutnya lalu menelannya perlahan. Awalnya ia mengira akan pingsan keracunan akibat masakan tersebut, ternyata ia malah ketagihan karena rasanya yang lezat.
"Nona, enak sekali! Hamba bahkan tak bisa berhenti memakannya," puji Genah sambil melahap seisi masakan yang diletakkan dalam wadah.
"Masakanku memang sangat lezat, tidak diragukan lagi. Bahkan Lyn si b******k itu tidak bisa hidup tanpa sajian dariku," ucap Celine teringat dengan teman masa kecilnya tersebut.
"Apa Lyn adalah kekasih Anda, Nona?" tanya Genah.
"Bukan, dia bisa dikatakan saudaraku dari dunia lain. Tapi aku menyukainya, hanya saja tak terbalaskan," ungkap Celine bercerita.
"Dunia lain? Apa maksud Anda, Nona?"
"Tidak ada, jangan pikirkan. Kau tak akan mengerti betapa rumitnya permasalahan ku," sambung Celine.
Celine kemudian berjalan mendekati jendela kamarnya dan membuka lebar agar angin masuk ke dalam ruangan.
"Dingin sekali," decak Celine lalu menggosok-gosok bahunya agar tetap hangat.
"Anda bisa masuk angin, Nona," peringat Genah khawatir.
"Iya," angguknya. "Aku merindukan Lyn dan Paman Sam. Apa mereka sadar kalau aku sedang menghilang? Seandainya aku mendengar perkataan paman, mungkin hal ini tidak akan terjadi," renung Celine menyesali perbuatannya.
"Hamba yakin mereka juga sedang mencari-cari Anda saat ini, Nona. Jangan cemaskan hal itu lagi," ucap Genah menenangkan Celine.
"Ya, pastinya. Tapi mereka tidak akan menemukanku jika aku sendiri tidak tahu cara pulang," tambah Celine dengan perasaan putus asa.
"Hmmm, Nona, hamba bisa merasakan perasaan Anda saat ini. Semoga saja mereka cepat menemukan Anda," ucap Genah memohon pada penguasa agar mempermudah penyelesaian masalah majikannya tersebut.
"Terima kasih, Genah, karena sudah menemuiku di sini. Aku hanya hidup sebatang kara di dunia ini, tidak ada tempatku mengadu. Malang sekali nasibku," hela Celine.
"Sudah menjadi tugas hamba, Nona."
Tiba-tiba Genah teringat dengan tugas yang diberikan oleh Darchen padanya, yaitu menyelidiki tentang Celine. Ia sebenarnya tidak ingin, tapi hal tersebut adalah perintah dari Pangeran Darchen.
"Nona Celine, maafkan hamba jika bertanya dengan lancang. Apakah Anda memiliki sihir sehingga bisa lepas dari segel magis milik Pangeran Darchen?"
"Tidak sama sekali, aku juga bingung. Aku bisa menghancurkan segel miliknya tanpa kesusahan sama sekali," jawab Celine sungguh.
"Selama ini tak banyak orang yang bisa lolos dari segel Pangeran Darchen, tapi Anda dapat melakukannya."
"Aku juga tidak mengerti. Aku hanya manusia yang hidup di masa depan, tidak mempercayai adanya sihir," terang Celine serius.
"Hamba juga melihat kalau Anda hanyalah manusia biasa," sambung Genah.
" Tahukah kau, di jamanku juga mengenal sihir, tapi bukan sihir seperti yang kalian kenal," tambah Celine.
"Apa itu, Nona?"
"Orang yang bisa sihir dikatakan dukun, tapi kekuatannya tak sehebat orang di jaman sekarang," ucap Celine memberitahu.
"Hamba bingung sekali mengapa Anda terus menerus mengatakan tentang dunia berbeda dari kami," celetuk Genah keheranan.
"Hmm, kujelaskan pun kau tidak akan percaya," balas Celine. Ia tidak ingin lagi membahas tentang dunianya pada orang-orang kerajaan Athiam. Karena tidak satu pun diantara mereka yang akan yakin. Mereka malah menyebut dirinya sedang membual atau mengarang cerita. Padahal benar yang sedang ia katakan.
"Aku tidak bisa tidur malam ini," decak Celine sambil menatap kehampaan malam dari jendela.
"Mengapa, Nona Celine. Anda bisa saya pijat agar tertidur pulas malam ini," saran Genah.
"Hahaha … tidak perlu. Aku tidak biasa dipijat, suka geli saja ketika ada yang mengurut badanku," tolak Celine.
Celine kemudian menutup jendela tersebut dengan rapat lalu pergi dari kamarnya. "Kemana Anda akan pergi malam begini, Nona Celine?" panggil Genah sambil mengikuti langkah kaki Celine.
"Aish … pergilah tidur, aku pergi sendiri," usir Celine. Ia tak ingin kalau Genah ikut terlibat dalam masalahnya yang rumit.
"Tidak, Nona, hamba tak bisa membiarkan Anda pergi sendiri, apalagi di larut malam seperti ini," jelas Genah penuh khawatir.
"Aish … kau … terserahlah. Aku hanya tak dapat tidur jadi ingin berjalan-jalan sejenak," kata Celine menerangkan kondisinya.
"Tapi, Nona, di luar terlalu berbahaya," jelas Genah lagi.
"Kau antarkan saja aku sampai ke perpustakaan, lalu tinggalkan saja aku di sana. Begitu saja," ucap Celine.
"Baiklah, jika itu keinginan, Nona Celine," angguk Genah menyetujui. Ia sudah tahu bagaimana sikap wanita itu. Sangat keras kepala dan tak mau mendengar nasehat orang lain. Sudah dicemaskan malah membangkang dan tetap melakukan keinginannya sendiri.
Genah dengan penuh pengawasan, menemani Celine berjalan hingga ke perpustakaan istana. Ia berharap agar tak terjadi apa-apa pada majikannya tersebut setelah ditinggalnya sendiri di dalam perpustakaan sendiri.
"Sudah, istirahat saja di ranjangku, kau mungkin lelah," suruh Celine perhatian.
"Baiklah, Nona," angguk Genah mengiyakan. Walau setelah Celine masuk, ia tetap mengawasi majikannya tersebut di depan pintu untuk memastikan ke amanan dari Celine.
Ketika ia mengawasi cukup lama, ia pun bertemu dengan Panglima Dion disela-sela kesibukannya mengawasi majikannya. " Hormat pada Panglima Dion," tunduk Genah menyapa.
"Ada urusan apa kau di sini?" tanya Dion.
"Hamba sedang menemani Nona Celine mengambil beberapa buku di dalam," jawab Genah sopan. "Kalau boleh tahu, apa hal gerangan Panglima datang kemari," sambungnya menanyakan.
"Pangeran Darchen ada di dalam juga. Aku hanya mengawasi saja dari sini," jelas Dion.
"Benarkah? Hamba berharap tidak terjadi masalah lain pada mereka berdua," harap Genah memohon pada penguasa.