Buruk Sangka

2036 Kata
Celine kemudian mendekati pinggiran sungai untuk meresapi air jernih yang terasa menyegarkan itu. Ia menjatuhkan tahannya ke permukaan air lalu membasuhkannya pada tangan dan wajahnya. "Kenapa bisa ada tempat sejuk seperti ini di sini? Tempat ini mulai dari sekarang adalah milikku pribadi, hahahah," ucap Celine sambil menikmati air sungai yang tenang. Sesekali angin yang tanang menghembus dedaunan yang ada di sungai itu. Seketika daun-daun coklat tersebut menyirami tubuh Celine dan tanah yang ditutupi rumput hijau. Ia kemudian menengadah ke langit sambil menutup matanya dan menikmati betapa asrinya tempat tersebut. Ia dengan perlahan menghirup udara segar lalu menghembuskannya dengan lega. Sudah lama sejak terakhir kali ia bisa merasakan kedamaian di hidupnya. Betapa ia merindukan kesendirian menenangkan seperti yang ia rasakan sekarang. "Relaksasi yang ampuh," hela Celine dengan posisi masih menengadah ke langit. "Mengapa kau bisa masuk?" Suara itu lagi-lagi menghancurkan keheningan yang rukun baginya. Tentu saja suara itu berasal dari mulut Darchen. "Kenapa kau tahu tempat ini?" tanya Celine balik. "Seharusnya aku yang menanyakan hal ini padamu," balas Darchen membalikkan pertanyaan Celine. "Aku tak sengaja menemukannya," terang Celine singkat. Ia langsung berdiri dan menatap wajah Darchen dengan kerutan dahi tak senang. Darchen semakin bingung dan bertanya-tanya mengapa wanita itu selalu bisa menembus segel yang dibuat olehnya secara khusus. Tak satupun orang yang bisa memasuki tempat segel darinya termasuk itu raja. "Apa jenis sihirmu adalah sihir segel?" tanya Darchen keheranan. "Ha? Sihir? Aku tidak punya sihir atau apalah itu. Aku hanya manusia biasa," jawabnya ketus. "Kau berbohong. Lalu mengapa kau bisa menembus segel di depan sana," tunjuk Darchen. Celine bahkan tak tahu kalau tempat itu ternyata sudah disegel Oleh Darchen dengan kekuatan magis. Ketika masuk ia tak mendapatkan hambatan sama sekali, ia dengan mudahnya melangkahkan kaki menuju sungai itu. "Aku masuk begitu saja, serius, aku tak berbohong," ucap Celine meyakinkan. Namun Darchen sama sekali tidak percaya dengan omongan Celine. Ia ingin membuktikan sendiri perkataan wanita tersebut dengan memasangkan langsung segel ke tubuhnya. "Hey hey! Apa yang kau lakukan?!" Celine tidak dapat bergerak akibat segel yang dibuat Darchen ke tubuhnya. Belum yakin kalau wanita itu tak memiliki sihir sama sekali, Darchen menambahkan segel di tubuh Celine hingga ia tak dapat berbicara sama sekali. Seperti ada sesuatu yang menahan dirinya. "b******n itu! Sudah dikatakan tidak ada sihir masih saja tak percaya," decak kesal Celine dalam benaknya. "Jangan menyembunyikan sihirmu dan tunjukkan padaku," perintah Darchen yang masih bersikeras meyakini kalau wanita itu memiliki sihir yang kuat. "Sialan kau Darchen, aku akan mencakar wajahmu jika sudah lepas dari segel ini," umpat Celine dengan mimik wajah kesal yang membabi buta. Sudah hampir satu jam ia berdiri tanpa bergerak sama sekali, tapi tidak ada tanda-tanda kalau Darchen akan membebaskan dirinya dari segel. Kakinya sudah kebas akibat terlalu lama berdiri. Untung saja cuaca di sana cukup menenangkan pikiran hingga ia lupa betapa tersiksa dirinya. "Inginku berkata kasar," hela Celine mencoba bersabar. Sudah tidak tahan lagi akhirnya Celine mencoba menggerakkan tubuhnya dengan paksa. Ternyata ia dapat melepaskan dirinya dari segel tersebut. Jika tahu dari awal dia bisa melakukannya, tak akan mungkin ia mau berdiri lama hingga kakinya terasa keram. Tidak terima dengan kekejaman Pangeran Darchen, Celine memutuskan untuk menjahili anak raja itu dengan drama klise yang sering ditontonnya di televisi dulu. Celine menjatuhkan tubuhnya ke tanah dengan lesu hingga tampak seperti orang pingsan. Kemudian ia hanya perlu menunggu Pangeran itu masuk ke dalam kejahilannya. "This is time for killing," ucapnya dalam hati. Melihat wanita itu tersungkur lemas di tanah, Darchen langsung memeriksa keadaan Celine lalu menyandarkan wanita itu di dadanya. Bukannya berhasil menjahili Darchen, Celine malah tidak tahan sendiri dengan wangi tubuh dari pangeran tersebut. Jantungnya juga berdegup kencang ketika berada di sandaran pria itu hingga tak sengaja ia membuka matanya lalu menjauh dari Darchen. "Aku sudah yakin kau hanya berpura-pura," kata Darchen. Celine kemudian membuka mulutnya mengisyaratkan kalau dirinya tak bisa berbicara, tapi ia bisa menggerakkan badannya. "Jangan coba-coba untuk mengerjai ku," timpal Darchen tidak yakin. Ia percaya bahwa gadis tersebut hanya bersandiwara saja. Walau faktanya memang benar kalau Celine tak dapat mengeluarkan suaranya akibat segel yang tidak bisa ia lepaskan dari tubuhnya. Sudah berkali-kali ia mencoba meyakinkan Darchen dengan bahasa isyarat, tapi Pangeran itu tak yakin sama sekali dan bersikap acuh. Bahkan ia meninggalkan sungai itu karena merasa muak melihat sandiwara dari Celine. Tidak ingin bisu untuk selamanya, Celine akhirnya mengejar Darchen dan meminta agar dilepaskan dari segel. Tapi tetap saja, pria keras kepala itu tak menghiraukannya sama sekali. Celine kemudian mengikuti kemanapun Darchen pergi. Bahkan ketika pria itu hendak ke kamarnya, Celine tetap mengikuti. "Kenapa kau membuntuti ku?" tanya Darchen risih melihat wanita itu terus saja mengikutinya. Celine kemudian menunjuk mulutnya sambil mengisyaratkan kalau ia tak dapat bersuara sama sekali. Namun Darchen sama sekali tak yakin dengan perkataan Celine. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat agar wanita itu tak dapat mengganggu hidupnya. Dengan gerakan gesit, Celine menghadang pintu yang sedikit lagi akan tertutup lalu menerobos masuk ke dalam kamar Darchen. Wanita itu kemudian menarik tangan Darchen lalu menggigitnya dengan keras. "Apa yang kau lakukan?!" tanya Darchen terkejut tiba-tiba saja Celine menggigit tangannya dari belakang." Lagi-lagi Celine menunjuk mulutnya dan mengisyaratkan pada Darchen kalau ia benar-benar tak bisa mengeluarkan suaranya. Darchen masih tidak percaya dengan perkataan Celine. Sebab, hanya beberapa orang saja yang dapat bebas dari segelannya, yaitu orang-orang yang memiliki magis tinggi. Demi meyakinkan Darchen, akhirnya Celine mengeluarkan air matanya lalu memohon agar Darchen membebaskan segelnya. Pangeran Valerio itu pun melepaskan magisnya sehingga Celine dapat berbicara dan bersuara sesuka hatinya. "Eh? Test … test … woohoo … suaraku kembali, hahaha." Dengan girang Celine memegang tenggorokannya karena dirinya telah terbebas dari segel magis milik pria dingin itu. Darchen merasa terhibur dengan tingkah Celine yang bodoh. Ia tersenyum tipis saat melihat Celine yang berperilaku layaknya anak kecil. "Ekhm … pergi dari sini, aku tidak suka ada orang yang masuk ke dalam kamarku," usir Darchen. Ia tersadar betapa gilanya dia karena ikut senang melihat Celine bertingkah konyol seperti baru saja. Untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan, ia pun mengusir wanita itu dari hadapannya. "Aku juga tak suka berlama-lama di sini, apalagi denganmu, cih," decak Celine kesal lalu pergi dengan hentakan kaki yang keras. Sesaat Darchen Valerio kebingungan dengan dirinya sekarang, bisa-bisanya ia tak marah setelah gadis itu mengumpat dirinya. Ia bahkan tersenyum tanpa disadarinya tadi ketika melihat konyolnya Celine. "Apa sekarang ada jenis sihir baru?" tanya Darchen kebingungan pada dirinya sendiri. Darchen menduga kalau Celine memiliki sihir menggoda laki-laki hingga ia sedikit terpanah melihatnya. Tidak biasanya ia meloloskan wanita tanpa disiksa terlebih dahulu. Sementara Celine, sudah beberapa kali bertemu ia masih dapat hidup dan bernafas dengan baik. "b******n gila itu memang tidak memakai otak," umpat Celine kesal. "Ada apa, Nona?" tanya Genah heran melihat Celine yang baru saja datang sambil merengut. "Darchen si psikopat itu membuatku bisu tadi," jawabnya. "Tapi suara Anda tampak normal, Nona," kata Genah. "Iya, dia sudah melepaskan segelnya," terang Celine singkat. "Hmmm, ada yang ingin hamba tanyakan, Nona," tambah Genah dengan penasaran. "Apa? Tanyakan saja." "Apa itu psikopat?" "Hahaha … jadi dunia ini kalian belum mengerti tentang psikopat," ledek Celine. "Bisa dibilang psikopat itu seperti pembunuh tak berperasaan," jelas Celine mengibaratkan. "Oh, terima kasih, Nona, telah memberikan hamba ilmu pengetahuan," tunduk Genah. "Ya," jawab Celine mengangguk lambat. Celine kemudian naik ke atas ranjangnya untuk meregangkan tubuh beberapa saat. Kakinya kesemutan sebab terlalu lama berdiri. "Aish, gara-gara dia, kakiku naik betis, dasar sialan!" umpat Celine kesal sambil memukul ranjangnya. "Nona, bahasa Anda kadang sukar dipahami, apa itu naik betis?" tanya Genah kebingungan. "Hmmm, tidak ada. Aku tidur dulu, jangan biarkan orang lain mengganggu," perintah Celine sambil memejamkan matanya. Hari masih sangat cerah tapi Celine sudah membungkus tubuhnya dengan selimut. Genah si pelayan setia itu hanya bisa mengangguk dan mengerjakan sesuatu perintah tuannya tersebut. Meski ia ingin sekali menasehati, tapi rasanya terlalu lancang. Apalagi karena ia tahu kalau Celine baru saja disiksa oleh Pangeran Darchen. Ia memaklumi kondisi Celine. Setelah Celine terpejam, tiba-tiba suruhan Darchen datang menyampaikan pesan pada Genah. Pesuruh itu menyampaikan bahwa Darchen ingin menanyakan beberapa hal tentang Celine. "Aku akan ke sana," angguk Genah mengerti. Segera ia menghadap Darchen sesuai yang telah disampaikan oleh orang suruhannya tersebut. "Hamba mengahadap Pangeran Darchen," sapa Genah sambil menunduk. "Ada perihal apa Pangeran memanggil hamba?" sambung Genah. "Siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Darchen. "Maafkan hamba, Pangeran. Nona Celine hanyalah manusia biasa dan tak memiliki sihir apapun. Namun ada yang aneh dari dirinya," jelas Genah dengan posisi masih menunduk. "Apa?" "Nona Celine terlihat asing dan berbeda dari orang pada umumnya. Baik bahasa ataupun gaya hidupnya," terang Genah. "Aku sampai mengira ia memiliki sihir pelet," timpal Darchen. "Tidak, Pangeran. Ia murni hanyalah manusia biasa," jawab Genah mengungkapkan pengetahuannya tentang Celine. "Terus cari tahu tentang wanita itu," perintah Darchen. Genah mengangguk lalu pergi dari ruangan Darchen. "Lalu mengapa ia bisa menembus segelku?" tanya Darchen pada Panglima Dion Moghet yang sedari tadi berada di ruangan tersebut. "Hamba juga tidak mengerti, Pangeran. Bahkan hamba tak bisa menembusnya, mengapa ia dapat melakukannya?" Dion yang merupakan panglima kepercayaan Darchen pun ikut bingung. Tidak mungkin Genah membohongi mereka. Ia merupakan prajurit khusus yang sangat setia dan jujur. "Awal berjumpa dengannya aku sudah curiga kalau dia bukanlah gadis biasa. Pakaiannya yang aneh merupakan faktor pentingnya," tambah Darchen. "Hamba akan mengamati gadis itu, Pangeran," usul Dion. "Tidak perlu, biar aku yang langsung menyelidikinya," timpal Darchen Valerio. "Bagaimana jika ia benar memiliki sihir yang tidak kita tahu, Pangeran. Anda bisa terjebak dalam perangkap nantinya," sambung Dion menyarankan. Ia khawatir jika tuannya tersebut masuk ke dalam perangkap musuh. Namun Darchen berpikir lain. Jika memang wanita itu adalah seorang musuh, tak mungkin ia masuk ke dalam kastilnya tanpa senjata pelindung. Dengan tangan kosong, wanita itu tidur di kasurnya tanpa ada segel magis ataupun sihir lainnya. "Aku bisa mengatasinya," jawab Darchen yakin. Ia yang langsung menyelidikinya tentang identitas asli Celine. "Cari asal wanita itu dan semua seluk beluk tentang dirinya," perintah Darchen tegas. Dion Moghet menunduk sekaligus undur diri untuk melaksanakan tugas yang diberikan padanya. Sementara Darchen mengambil beberapa buku kuno yang membahas tentang penghancur segel. Ia percaya kalau di dalam buku-buku kuno tersebut memuat info yang sedang dicarinya. Susah payah ia mencari namun tidak ada satu buku pun yang memberinya jawaban. Tidak sampai disitu saja perjuangannya, ia tetap bersikeras untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya seputar wanita itu. ~Malam hari~ "Huah … badanku sakit semua gara-gara tidur seharian." Celine meregangkan ototnya sambil menguap lalu bangkit dari tidurnya yang pulas. Ia langsung mencari keberadaan pelayannya untuk meminta dibuatkan makanan pedas di hari yang dingin itu. Langit begitu sunyi tak satu pun bintang menghiasinya. Bahkan bulan pun bersembunyi di balik awan kabut hingga malam itu terasa hampa. "Genah … Genah … kau dimana?" teriak Celine memanggil pelayan itu berulang kali. Tapi tidak ada sahutan dari Genah, bahkan batang hidungnya tak muncul ketika dipanggil. Celine yang sudah teringin untuk memakan makanan pedas terpaksa harus membuat sendiri. "Untunglah dulunya aku seorang babu di rumah sendiri, masak apa saja bisa," decaknya merasa beruntung sambil berjalan menuju dapur istana yang tak terlalu jauh dari kamarnya. Ketika di dapur banyak pelayan yang bertugas di sana menanyai kedatangannya dan meminta agar dibuatkan. "Biar kami saja yang memasakkan untuk Anda, Nona Celine," pinta Pelayan. "Tidak usah, biar aku saja. Aku rindu masakan sendiri," jawabnya menolak bantuan dan terus mengiris bahan untuk memasak. Para pelayan di sana berkusip satu sama lain karena takut di marahi oleh Ratu Sibenth yang amat menyayangi Celine. Mereka takut dipecat jika ketahuan membiarkan tamu ratu tersebut melakukan hal sendiri. "Nona, tidak baik jika Anda melakukan sendiri. Tangan Anda bisa lecet," peringat Pelayanan lainnya dengan sopan dan suara yang lembut. "Tidak usah, sudah tanggung ini. Biar kuselesaikan saja," jawabnya keras kepala. Salah satu diantara mereka merupakan pelayan pribadi dari Erica Zaleria yang kebetulan berada di sana untuk mengambilkan tuannya makan malam. Melihat kehadiran Celine di sana, ia langsung berlari untuk melaporkan pada tuannya mengenai wanita itu. "Putri Erica," panggil Pelayannya dengan tergesa-gesa. "Ada apa?! Mengagetkan saja," senggak Erica kesal. Ia sedang memandangi lukisan wajah Darchen dengan tenang. Tapi tiba-tiba pelayan yang tidak bisa membaca situasi itu datang mengagetkan dirinya. "Maaf, Putri. Ada informasi penting. Celine berada di dapur dan masak sendiri di sana," ucapnya menyampaikan kabar. "Apa?! Penjilat itu cari muka lagi?! Cih," cela Erica tak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN