Meski Celine sudah menjelaskan betapa sulitnya kalung tersebut dilepas, tapi tetap saja pedagang itu tak yakin. Beberapa kali Celine menarik paksa kalung tersebut namun ia belum juga yakin.
"Kau bisa coba lepaskan ini," suruh Celine yang sudah kesal. Semua kalimat yang diucapkan olehnya tak satu pun dipercayai pedagang tersebut. Akhirnya Celine menyuruh pedagang itu membuktikan perkataannya sendiri. Agar ia tidak mengira kalau Celine sedang membual.
Dengan penuh penasaran, Pedagang itu pun mencoba untuk melepaskan kalung tersebut dari leher Celine. Tangannya mulai menjatah ke arah kalung tersebut.
"Jauhkan tanganmu darinya." Terdengar suara dari belakang Celine. Bagi wanita tersebut suara itu tidaklah asing. Ia langsung berbalik dan memastikan orang yang sedang melerai pedagang itu melepaskan kalungnya.
"Darchen?" Celine langsung ternganga melihat kedatangan pangeran itu.
"Dimana Genah? Mengapa ia tidak ada bersamamu?" tanya Darchen dengan wajah kesal.
"Dia sedang membelikan ku makanan di ujung sana," jawab Celine dengan wajah bingung.
"Bukankah kau bisa mengikuti dia, kenapa kau pergi sendiri?!" Dengan nada sedikit tinggi, Darchen menyenggak Celine.
"A-Aku hanya … tunggu dulu, kenapa kau kenal Genah?" tanya Celine tersadar.
"Bukan urusanmu," jawab Darchen ketus.
Celine hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari pangeran yang amat dingin dan aneh itu.
"Kenapa kau biarkan dia menyentuhmu?" tanya Darchen dengan tatapan sinis menatap pedagang itu. Hawa mencekam amat terasa saat Darchen menghampiri mereka dan merusak suasana sebelumnya.
"Eh? Tidak, dia hanya …." Belum selesai ia menjelaskan pada Pangeran itu, Darchen langsung menimpal," Hanya apa? Naik ke atas kereta dan pulang ke istana!" Perintah Darchen tegas.
"Ta-Tapi Genah …."
"Ke kereta sekarang!" tegasnya lagi.
Tanpa berkutik, Celine langsung berjalan menuju kereta sesuai dengan perintah Darchen.
~Kereta~
"Aish, kenapa dengan Psikopat itu? Datang-datang dan mengamuk," decak Celine merengut di dalam kereta.
Ketika mulutnya sedang berkutik mencibiri Darchen, tiba-tiba orang yang sedang ia umpat masuk dan duduk di tepat di depannya.
"Wah! Kenapa ia ada di sini?" ucap Celine dalam benak. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping agar mata mereka tak saling bertatapan. Mata Pangeran itu sangatlah menyeramkan hingga bulu kuduknya berdiri.
"Mengapa kau keluar dari istana tanpa pengawal?" tanya Darchen memecah keheningan.
"A-Aku hanya ingin saja," jawabnya gugup.
"Apa kau ingin dibunuh oleh penjahat? Ha?!" Darchen menyenggak Celine dengan nada keras.
"Tidak, tentu saja tidak."
"Lalu, mengapa kau membiarkan pria jelek itu menyentuhmu? Apa kau memang suka dijamai pria?!" Dengan amarah, Darchen mengucapkan perkataan pedas dan tajam yang melukai hati Celine.
"Apa maksudmu? Aku tidak serendah itu sampai menyuruh orang lain untuk menyentuhku!" jawab Celine. Hatinya terasa sakit, tertusuk oleh omongan Darchen.
"Katakan untuk apa kau menyuruh pria itu menyentuhmu!" perintah Darchen dengan nada keras.
"Siapa kau berhak mengurusi hidupku! Terserah ku ingin melakukan apa pun. Aku ingin menggoda pria lain, aku ingin disentuh oleh pria, itu bukanlah urusanmu!" jelas Celine. Ia langsung keluar dari kereta tersebut bahkan sebelum roda kereta berhenti. Ia langsung melompat turun dari kereta dengan kesal.
Mendengar jawaban Celine, Darchen langsung menghela nafasnya. Ia langsung tersadar dari emosinya dan menyesali perkataannya. Ia baru saja sadar bahwa kata-katanya sangatlah menyakiti wanita tersebut.
Ia juga bingung dengan dirinya. Entah mengapa hatinya resah ketika melihat Celine dekat dengan laki-laki lain. Ia juga bingung mengapa suasana hatinya sering berubah-ubah. Terutama perihal Celine.
"Apa aku kelewat batas?" hela Darchen sambil merenungi kesalahannya.
Sementara Celine yang kesal sejadi-jadinya melihat Darchen, hanya bisa mengumpat dan menyumpahi pangeran itu. Ia mengambil batu di jalan lalu melemparkannya ke arah pohon di dekatnya.
"Argh! Dasar b******n! Kenapa sikapmu jahat begitu, ha?! Jangan pernah dekati aku jika hanya menyakitiku! Dasar Psikopat!"
Selama perjalanan menuju istana Athiam, mulutnya tak henti-hentinya mengumpat dengan kalimat-kalimat kotor. Kekesalannya tak pudar sama sekali. Bahkan setelah sampai di istana pun, ia masih saja terus mengumpati pangeran itu.
"Nona Celine, Anda sudah kembali?" Genah langsung menyapa dan menghampiri tuannya itu dengan penuh resah. Dengan cemas, ia memeriksa keadaan Celine dan mencoba melihat kondisi Celine apakah masih utuh atau ada goresan di tubuhnya.
"Hey hey hey ... ada apa? Aku baik-baik saja," kata Celine sambil memegang Genah agar berhenti memeriksa dirinya.
"Maafkan hamba, Nona. Karena kelalaian hamba, Anda terkena amukan Pangeran Darchen," sambung Genah merasa bersalah.
"Tidak masalah, ini bukan salahmu. Tadi itu terjadi karena kesalahan ku," terang Celine. "Oh yah, kenapa kau dan Darchen bisa saling berkenalan? Apa kalian punya hubungan?" sambung Celine bertanya.
"Sebenarnya hamba adalah suruhan Pangeran Darchen. Tapi percayalah, Nona, hamba tulus ingin mengabdi pada Anda," jawab Genah sambil menunduk. Ia termaat menyesal karena tidak memberitahukan padanya perihal dirinya.
"Apa? Kau suruhannya? Untuk apa dia mengirimmu padaku?" Semakin mencoba mencari tahu, dia semakin bingung pula. Keanehan pun bermunculan dipikirkannya. Banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya, tapi tak satu pun bisa diucapkannya.
"Sebenarnya Pangeran Darchen mengirim hamba untuk mengawasi dan mencari tahu identitas Anda. Namun, hamba melihat kalau Anda adalah orang yang baik, akhirnya hamba memutuskan untuk melayani Anda dengan sepenuh hati," jelas Genah.
"Iya, aku paham. Lalu untuk apa pula ia mengawasi ku? Bahkan tadi ia tiba-tiba datang dari belakangku," kata Celine menceritakan kejadian tadi pada pelayan yang sudah ia anggap temannya sendiri.
"Hamba juga tidak mengerti tentang hal itu, Nona," jawabnya.
"Aish, aku semakin bingung. Waktu itu dia hampir membunuhku, dilain waktu dia menciumku dan baru saja tadi dia mencaciku. Aku benar-benar tidak mengerti dengannya," decak Celine kesal sambil membayangkan betapa anehnya Darchen.
"Apa Pangeran Darchen pernah mencium Anda?" tanya Genah memperjelas. Ia terkejut mendengar Celine mengatakan kalau tuannya itu pernah dicium oleh Pangeran Darchen.
"Hmmm, yah. Padahal aku sudah berontak di situ, tapi ia tetap meneruskannya," jawab Celine.
Genah merasa kalau pangeran yang sudah ia kenal dari lama itu telah berubah. Ia yakin kalau pria itu menyukai Celine, tapi tak bisa menunjukkan perasaannya dan tidak tahu harus memperlakukannya seperti apa, sebab itulah mengapa tingkah Darchen terlihat aneh.
"Apakah Anda tahu, Nona. Selain tugas mengawasimu, hamba juga mendapat tugas untuk menjagamu dari segala macam marabahaya. Hamba adalah pasukan khusus Pangeran Darchen dalam memata-matai. Namun lucunya, Pangeran Darchen malah menugaskan hamba untuk mengabdi pada Anda," lanjut Genah memberitahu tujuannya mendekati Celine.
Meski dulunya ia melakukan segalanya demi kepatuhannya terhadap Darchen Valerio, namun sekarang telah berganti menjadi tulus. Ia melayani Celine karena kemauannya sendiri. Ia meminta langsung pada Darchen agar melayani Celine semasa hidupnya sampai dirinya tak dibutuhkan oleh wanita tersebut.
"Ah bikin pusing saja. Aku istirahat dulu. Kau juga istirahatlah, mungkin kau juga lelah seharian penuh berkeliling tadi," saran Celine.
"Terima kasih, Nona. Tapi hamba akan menjaga di depan saja," balas Genah.
"Tidak perlu, kau tidurlah di kamarku juga. Kau tidak boleh menolak dan kebetulan hari ini aku juga tak menerima penolakan," sambung Celine sambil menarik tangan Genah menuju kamarnya.
Genah yang tak dapat menolak akhirnya pasrah dan masuk ke dalam kamar Celine. Ia duduk di kursi anyaman yang kokoh sambil mengawasi Celine ketika sedang tidur.
Ia begitu bertekad untuk menjaga Celine. Dari dulu ia selalu dianggap sebagai b***k dan diperlakukan layaknya seorang b***k. Tak pernah sekali pun ada orang yang menghargainya seperti rakyat biasa. Namun Celine adalah satu-satunya orang yang memperlakukan dirinya seperti manusia lainnya, ia tak membeda-bedakan derajat mereka dan tampak tulus padanya. Sebab itu Genah memilih untuk melayani Celine. Padahal Darchen telah mengangkatnya sebagai tim pasukan khusus. Namun ia memilih menjaga Celine dimanapun kapanpun itu.
Karena terlalu letih, Celine sama sekali tak terbangun semalaman. Ia baru bangkit dari tidurnya setelah seorang pengawal memanggil namanya berulang kali.
"Nona Celine, Ratu Sibenth ingin menemui Anda," kata Genah membanguni Celine yang masih berada di dunia mimpi.
"Ha? Untuk apa dia datang? Aish … aku ngantuk sekali," rengeknya yang setengah hati bangkit dari tidurnya.
"Apa hamba sampaikan saja pada Ratu Sibenth kalau Anda sedang tidur dan tidak bisa diganggu," timpal Genah berpendapat.
"Hey jangan! Tidak sopan jika menolaknya," sambung Celine. Ia langsung bangkit dengan sigap lalu memperbaiki wajah dan pakaiannya. Dengan cepat, ia berjalan menuju depan pintu dimana Ratu Sibenth sedang menunggunya.
"Hormat kepada Ratu Sibenth," sapa Celine sambil menunduk.
"Celine, kau sudah belajar tatakrama di kerajaan, tekun sekali," puji Ratu Sibenth sambil memegang tangan Celine.
"Terima kasih Yang Mulia Ratu, aku diajarkan Genah dengan sabar," jawab Celine.
"Benarkah? Ada hal yang ingin kutanyakan padamu," ucap Ratu Sibenth.
"Perihal apa, Ratu?" tanya Celine penasaran. " Ah, ada baiknya jika kita bicaranya di dalam saja, Ratu."
Celine menuntun Ratu Sibenth masuk ke kamarnya dan mempersilahkan istri penguas kerajaan tersebut duduk.
"Aku hanya ingin tanyakan tentang pelayan itu," tunjuk Ratu Sibenth ke arah Genah yang berdiri di depan pintu menunggu pembicaraan Ratu Sibenth dan Celine selesai.
"Oh, Genah. Aku menyukai ketelatenannya, Ratu. Lagi pula aku terpaksa harus memilihnya dan menolak pelayan darimu," jawab Celine.
"Jelaskan padaku," perintah Ratu Sibenth penasaran.
"Jadi Genah itu adalah pelayan yang dikirim langsung oleh Pangeran Darchen. Aku juga tidak tahu alasan mengapa ia mengirimnya," terang Celine dengan raut mimik yang serius.
"Apa? Darchen? Anakku? Dia mengirim pelayan itu?" Ratu Sibenth tidak menyangka kalau anaknya itu melakukan hal tersebut pada wanita yang baru saja datang di kehidupan mereka. Ia teramat bahagia melihat anaknya yang keras hatinya telah meleleh. Ia yakin kalau Celine adalah pembawa berkah pada mereka.
Mendengar hal itu, Ratu Sibenth ingin mempercepat tumbuhnya perasaan Celine pada Darchen. Dari hari itu ia bertekad untuk melakukan berbagai cara agar anaknya dan Celine dapat menjalin kasih segera.
"Ya, Ratu. Aku juga baru tahu semalam tentang identitas Genah," sambung Celine menjelaskan.
"Celine, mungkin Darchen menyukaimu. Aku sangat bersyukur dia sudah sembuh dari penyakit hatinya," kata Ratu Sibenth bahagia.
"Eh? Bukan begitu. Dia mengirim Genah untuk …."
"Hahaha … Celine, aku sangat bersyukur karena mu. Kau harus banyak belajar tentang anakku mulai daru sekarang. Oh ya, nanti akan aku kirimkan beberapa perhiasan dan baju untukmu. Kau harus kenakan, apalagi di depan Darchen. Kau harus tampil menarik," perintah Ratu Sibenth kegirangan. Ia memeluk Celine dengan erat sambil tersenyum bahagia. Ia tampak terlihat seperti gadis remaja yang sedang pubertas saja.
Awalnya Celine mengira kalau ratu dari sebuah kerajaan adalah orang yang garang dan kejam, sesuai pengalamannya dalam menjelajahi dunia perkomikan. Kenyataannya tidak begitu. Seperti yang dia lihat langsung, ratu kerajaannya sangatlah baik hati dan gaul. Tingkahnya seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Tidak sempat menjelaskan pada Ratu Sibenth tentang tujuan Darchen sebenarnya, istri dari penguasa kerajaan itu terlanjur salah paham dan langsung pergi tanpa mendengarkan penerangan dari Celine.
"Aduh, bisa gawat ini! Dia salah paham sekarang," decak Celine khawatir. Ia tahu bagaimana sifat dari Ratu Sibenth. Tidak tanggung-tanggung ia akan melakukan hal apa pun demi kebaikan anaknya. Celine khawatir kalau ratu tersebut merencanakan hal-hal aneh demi mendekatkan mereka.
"Kenapa aku malah menceritakan hal itu padanya, aish … aduh, aku bodoh sekali," ejek Celine lada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya berkali-kali.
Dari kejauhan, Genah melihat tuannya itu bertingkah aneh dan tampak sedang menyakiti diri sendiri. Dengan cepat ia langsung berlari menghampiri Celine dan menanyakan keadaannya.
"Apa yang terjadi, Nona? Mengapa Anda memukul diri Anda sendiri?"
"Genah … huhuhu … Ratu Sibenth salah paham," rengek Celine bercerita.
"Apa maksud Anda, Nona?"
"Ia mengira kalau Darchen psikopat gila itu menyukaiku dan pastinya akan mempersulitku," ucapnya mengadu.
"Tidak masalah, Nona. Ratu Sibenth adalah ibu yang sangat sayang pada anaknya. Ia akan memperlakukan dengan baik orang-orang disekitar Pangeran Darchen," terang Genah menenangkan Celine.
"Iya aku tahu," jawabnya terdiam.
Celine kemudian pergi berjalan-jalan mengelilingi kerajaan tersebut untuk menenangkan diri. Ia menyuruh agar Genah tidak perlu menemaninya karena sedang ingin menyendiri.
Setiap sudut dari istana indah itu, dimasukinya secara berurut dan rapi. Semua lorong dijelajahinya satu per satu. Hingga ia terhenti ketika mendapati tempat aneh yang tak jauh berada di balik halaman belakang istana tersebut.
Sebuah tembok besar yang tampak kokoh terlihat seperti jalan rahasia di kerajaan Athiam karen ia melihat ada pintu di sekitar tembok itu berada, hanya saja tertutupi oleh daun-daun menjulur ke bawah hingga tak ada satu orang pun mengetahuinya. Celine mengira kalau pintu itu merupakan jalan pulangnya menuju dunia nyata.
Akhirnya ia mendekati pintu tersebut dan menarik daun yang tampak seperti tirai penutup. Ia memasukinya dengan mudah tanpa ada kesulitan sama sekali.
Ketika masuk melalui pintu tersebut, ia langsung disuguhi pemandangan yang sangat indah. Ternyata di balik tembok kokoh itu terdapat sungai jernih yang menyegarkan mata dan bunga-bunga berbagai macam jenis baik warna dan bentuknya yang menyenangkan hati bila memandanginya. Selain itu banyak kupu-kupu berterbabangan di sekitar bunga dan beberapa pohon musim gugur.
"Wah … inikah yang dinamakan surga dunia?"