Awal Pertemanan

1736 Kata
Hari dimana penggelaran Acara Perdamaian antar kedua negeri itupun berlangsung. Banyak warga dari luar Kerajaan Athiam datang ke sana. Riuh keramaian itu membawa hari baru bagi mereka. Sebab banyak sekali perubahan yang datang akibat Perdamaian itu, baik itu membawa pada kebaikan ataupun keburukan. Namun dominan pada keuntungan dibandingkan kerugian. Para petinggi dari kedua negeri itu berkumpul di dalam aula besar Kerajaan Athiam. Saling bertukar pendapat dan pikirannya masing-masing untuk mendapat hasil musyawarah yang terbaik. Beberapa jam sudah berlalu, ketegangan tersebut juga sudah selesai. Kini acara bahagia yang harus dipertontonkan pada publik. Tari-tarian dari gadis-gadis cantik dan langsing, menemani acaranya. Lagu dan nyanyian merdu mengiri acara tersebut. Ada juga beberapa aksi penampilan pedang yang amat memukau. Semua pertunjukan itu sangatlah bagus. Tidak ada acara seramai itu selain daripada Acara Perdamaian. Sebab kedua negeri telah bersama dan bersatu. Dari ufuk timur dan barat, semua terisi penuh. Acaranya begitu besar, sampai penduduk harus berdempetan untuk menghadirinya. Untung saja masalah itu sudah dipertimbangkan, ada beberapa orang khusus yang bertugas untuk menghindari kekacauan yang ada. Dengan diperintahkan nya orang-orang cerdas untuk mengatur tempat dan mengawasi penduduk yang menghadiri. "Biarkan aku melihat wanita-wanita cantik yang sedang menari sana!" ucap penduduk satu dengan suara keras dan saling berdesak-desakan. "Apa menurutmu hanya kau yang ingin lihat?! Kami juga ingin, minggir!" balas penduduk lainnya. Mereka saling beradu paling depan untuk melihat tarian-tarian yang diiringi oleh lagu dari penyanyi yang merdu suaranya. Tidak ada yang mengalah diantara mereka. "Aish, dasar brisik!" amuk Celine lalu menutup telinganya karena merasa bising dengan suara pria-pria mata keranjang yang haus melihat paha mulus dari wanita-wanita penari sana. Celine merasa terganggu dengan kerusuhan yang dilakukan pria tengah beradu di tengah lautan manusia tersebut. Kebetulan Celine juga berdiri diantara penduduk di sana. Dia tidak berani duduk di samping petinggi dan keluarga kerajaan, sebab dia hanyalah orang asing. Meski Ratu Sibenth sudah menyiapkan tempat khusus untuknya, tapi Celine malah berkumpul dengan penduduk. "Bisa diam tidak?!" sambung Celine dengan dahi mengerut karena tidak nyaman dengan kerusuhan mereka. "Hey! Dasar wanita, jangan mengurus urusan pria, lebih baik kau pergi pulang dan berlatih memasak di sana," balas Pria yang tadinya rusuh dengan orang lain itu. "Wah! Mulut bebek sepertimu seharusnya tidak datang ke sini. Bikin susah bernapas, tahu tidak? Pergi sana pergi, aku muak melihat orang yang suka menyepelekan orang lain," umpat Celine tidak senang dengan perkataan pria tadi padanya. Dia merasa kalau pria itu telah rasis karena sudah membandingkan hak wanita dan kewajiban. "Kau tahu dengan siapa sedang berbicara?" sambung Pria itu lagi. "Aku tidak peduli, kau seorang raja pun aku tidak peduli," jawab Celine. Pria itu dengan ringan tangan menarik tangan Celine lalu menjambak rambut Celine. "Ah!" jeritnya kesakitan. Pria itu memperolok olok Celine dengan mulut kotornya. Terus bersuara menghina Celine. Hingga akhirnya Celine sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan pria itu. Celine diam pasrah tidak melawan, lalu menatap pria itu dengan mata tegas. Sementara pria itu dengan terkejutnya melihat mata wanita itu berubah menjadi merah. Di pelipisnya timbul urat yang teramat hijau warnanya. Aura dari Celine pun dirasakan oleh pria itu. Kebetulan pria itu juga memiliki magis di tubuhnya, hanya saja tidak besar dan tidak terlalu kuat. Pria itu melepaskan tangannya dari rambut Celine lalu berniat untuk lari dari dekat wanita itu. Dia merasa ada yang aneh dari wanita itu jadi dia berpikir untuk melarikan diri. Meski setelah memperlakukan wanita itu dengan tidak baik. Dengan cepat Celine menarik kerah baju pria itu lalu mencekiknya dengan kuat, hingga urat kepala pria itu tampak karena sulit bernafas. Celine melotot ke arah pria itu dengan mata merahnya. Lalu dia mengatakan," Lancang sekali kau, hahaha … berani-beraninya kau … kau menyentuhku!" Dengan histeris dan suara mengerikan seperti pembunuh, Celine terus menyiksa pria itu. Semakin pria itu mencoba melepaskan tangan Celine dari lehernya, semakin kuat pula cekikikan Celine. Pria itu bahkan tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa. Seakan dia melemah dan tidak bertenaga sama sekali. Tubuhnya kaku seketika dan dia bahkan tidak bisa merasakan sesuatu dengan baik lagi. "A-Ampun … aku hanya bercanda, tolong … tolong lepaskan aku," ucap Pria itu. Sedangkan orang-orang di sana yang juga berkumpul, tidak ada yang berani mendekati kedunya ataupun melerainya, sebab Pria yang dicekik oleh Celine itu adalah orang kejam dari wilayah sekitar. Dia suka mengambil hak milik orang lain dan menyepelekan orang-orang. Sebab itu banyak penduduk yang mawas dari pria itu. Celine melepaskan tangannya dari leher pria itu lalu menyeret pria itu dengan satu tangan menarik rambut pria yang panjangnya sebahu itu. Tubuh pria itu terseret dengan posisi tidak berdaya. Dia sudah amat kesakitan dengan penyiksaan yang dilakukan Celine. Pria itu sudah memohon berkali-kali pada Celine, namun Celine dengan kejamnya membalas perbuatan pria itu padanya. Dengan lancang pria itu menjambak rambut Celine dan mencemooh dirinya. Hal itu yang membuat Celine semakin menikmati balas dendamnya. Setelah sampai di daerah yang jarang dan jauh dari keramaian, Celine mulai menyiksa pria itu. Matanya yang merah itu teramat kejam saat dilihat. Sesuai dengan cara siksanya pada orang yang diseretnya dari keramaian sana. "Katakan apa yang tadi kau bilang padaku!" perintah Celine sambil mengatupkan kedua rahangnya. "A-Ampun …ampun … mohon lepaskan aku," Pria itu hanya mengatakan hal demikian berulang kali. Celine karena kesalnya menginjak kepala pria itu. "Apa kau dengar?!" senggak Celine. Ketika tangan Celine hendak mengoyak pria itu, tiba-tiba ada seseorang dari belakangnya. Karena sentuhan itu, Celine jadi buyar ketika merasakan kehangatan dari telapak tangan orang yang memegang bahunya. "Dyroth?" Ternyata orang tersebut adalah Dyroth Alucard. Dia mendatangi Celine, tidak tahu karena sengaja atau kebetulan saja. Dyroth mengambil tangan Celine lalu melapnya dengan bajunya. Sembari berkata," Jangan kotori tanganmu." Celine kembali tenang seketika. Matanya kembali seperti semula, bahkan urat yang tampak itu pelan-pelan menghilang. Dia kembali seperti keadaan awal, dimana dirinya sendiri yang sepenuhnya mengontrol kendali. Celine langsung menutup wajahnya dengan tangannya, sebab tidak percaya pada apa yang telah dia perbuat. Celine memang membenci pria yang menghinanya tadi, namun dia sedikit pun tidak berniat membunuhnya. Namun karena terbawa emosi tadi, magis tubuhnya mengambil kendali tubuhnya, seperti setan yang menjerumuskan dirinya sendiri, dia malah terbawa amukan sendiri hingga hendak membunuh orang. "Aku tidak ingin seperti ini … aku tidak ingin," desis Celine tidak terima dengan keadaannya. Dyroth langsung memeluk Celine agar wanita itu tidak terlalu terbebani dengan perubahan dirinya. Meski mereka baru saja saling kenal beberapa waktu yang lalu, tapi Dyroth bisa melihat keresahan dan kegundahan hati Celine. "Aku takut pada diriku sendiri," sambung Celine lagi dengan tatapan penuh penyesalan. Dia merasa kalau dirinya tidak ada bedanya dengan para iblis jahat yang tega dan tidak berhati karena hampir membunuh orang lain. Dengan pelan, Dyroth mengelus kepala Celine agar wanita tenang hatinya. Dia kemudian membawa Celine pergi jauh dari daerah itu. Dia menuntun Celine pergi dari sana, ke tempat yang lebih menenangkan. Ketika mereka berbalik, dan baru tiga langkah menjauhi tempat itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari pria itu. Seperti rintihan. Ketika Celine ingin berbalik ke belakang melihat pria itu, Dyroth langsung menutup matanya dan menarik Celine lembut untuk segera pergi dari sana. Seolah Dyroth sedang melarang dirinya untuk menatap ke belakang. Entah itu baik baginya atau dia sedang menutupi sesuatu. Dyroth tersenyum tipis setelah mendengar jeritan dari pria itu. Sebab dia puas karena telah membunuh manusia. Dia senang, seperti ada sensasi baru yang dia rasakan. Ketika langkah kaki mereka menjauhi pria itu, Dyroth dengan jetikan jarinya langsung membunuh pria itu. Leger pria itu tersayat rapi seolah tergores pedang. Lalu badannya terhempas tiba-tiba ke arah dinding keras yang kokoh. Hingga remuk badannya terdengar kuat. Teramat sakit hingga pria itu lebih memilih mati daripada di siksa parah oleh Dyroth. Celine tidak mengetahui apapun tentang Dyroth. Yang dia kenal dari Dyroth hanyalah seorang pria dari Negeri Seberang, tanpa tahu status ataupun kekuatan yang dimiliki oleh pria itu. Namun dia teramat senang dekat dengan Dyroth, sebab dia merasa tenang saat di samping pria itu. Ketika amarahnya memuncak, dengan mudah Dyroth bisa membantunya keluar dari kesesatan emosi tersebut. "Aku mendengar jeritan," ungkap Celine dan masih berniat untuk berbalik ke belakang melihat asal suara tersebut. "Tidak perlu, nanti kau emosi lagi saat melihat wajah pria itu," balas Dyroth melarang. Seakan perkataan dari Dyroth adalah sebuah kebenaran. Perkataan dari mulutnya terdengar logis. Celine dengan percayanya langsung menerima argumen dari Dyroth. Benaknya mengira kalau Dyroth mencemaskan dirinya. Meski memang dalam kenyataannya bahwa Dyroth benar mengkhawatirkan Celine mengetahui kekuatannya. Mereka pergi ke sebuah hutan, dimana awal mereka berjumpa kemarin. Mereka berdiri di bibir hutan sambil menenangkan diri Celine. "Apa kau tidak ingin melihat acarnya?" tanya Celine. "Kau seolah sedang memanggilku tadi," jawab Dyroth. "Aku tidak …." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Dyroth langsung memotong," Aku merasakan kalau kau dalam bahaya," timpal Dyroth. "Aneh sekali," decak Celine merasa bingung. Setelah percakapan itu, hanya ada keheningan yang menyelimuti sekeliling mereka. Bahkan serangga tak berbunyi sedikit pun. Sangat sunyi, hingga angin yang berhembus terasa kencang. "Apa kau sering tidak bisa mengendalikan dirimu?" "Eh? Ya," jawab Celine kaget karena Dyroth baru saja memecah keheningan itu. "Kapan awal mulanya?" "Entahlah, baru-baru ini. Aku juga tidak terlalu yakin," jawab Celine lagi. "Apa aku boleh menyentuh tanganmu sebentar?" "Ha? Tangan?" timpal Celine keheranan. Untuk apa Dyroth meminta izin menyentuh tangannya. Celine jadi bingung dengan tujuan pria itu. Jika hanya untuk memegang mengapa harus meminta izin? Apa yang ingin dia lakukan? "Maaf, tidak masalah jika kau tak mengizinkannya," sambung Dyroth meminta maaf karena merasa terlalu lancang. Celine dengan datarnya menarehkan tangannya ke arah Dyroth. Lalu dengan matanya dia memberi isyarat kalau Dyroth bisa memegangnya. "Nah," sodor Celine lagi dengan sedikit anggukan kepala. Dyroth perlahan memegang pergelangan tangan Celine, lalu dia menutup mata seolah sedang memeriksa sesuatu. "Kau memeriksa apa?" tanya Celine penasaran. Deg! Irama detak jantung Dyroth tiba-tiba tidak terkontrol. Seakan tersedot seluruh magisnya. Dia sungguh tidak bisa menyentuh Celine. Bahkan hanya untuk memeriksa seberapa besar magis di tubuh Celine, dia tidak mampu. Tidak pernah Dyroth menemukan orang dengan magis aneh seperti milik Celine. "Bukan tidak ada, tetapi langka," batin Dyroth. Setelah Dyroth membuka matanya, Celine langsung menanyakan padanya," Apa kau menemukan sesuatu?" "Ehm," angguk Dyroth. "Apa? Apa? Katakan," suruh Celine dengan cepat dan muka penasaran. "Kau belum menikah," ucap Dyroth bercanda. "Aku kira kau menemukan apa," balas Celine dengan muka masam. "Hahaha … maaf. Kau memiliki magis spesial," jawab Dyroth. "Aku tahu. Tapi aku tidak membutuhkannya. Aku akan senang jika ada orang yang bisa mencabut magis ini dariku," sebut Celine. "Benarkah?" "Ya, aku merasa terkutuk dengan kekuatan bodoh ini," tambah Celine lagi. "Banyak orang yang menginginkan ini. Termasuk Pemimpin Yumiro. Semoga kau tetap baik-baik saja," kata Dyroth Alucard.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN