Cerita di Siang Hari

1779 Kata
Ruang ganti pakaian para penari yang elok itu rupanya, ramai karena kekurangan anggota. Satu diantara mereka tiba-tiba terkilir saat sedang menari sesuai lantunan irama. Bukan karena cemas dan khawatir tentang kondisi si penari, namun mereka resah sebab tidak ada pengganti untuk pertunjukan berikutnya. "Sudah kukatakan dia tidak pantas ikut dalam acara ini. Lihatlah! Dia hanya beban!" Kata Penari wanita satunya dengan suara keras sambil menunjuk wajah wanita yang terkilir kakinya. Dia menyalahkan segala kerusakan pada wanita terkilir itu. Padahal wanita terkilir kakinya itu sedang menahan sakit ditambah malu, dan dari orang-orang lainnya malah menambah penyesalan padanya. Dia pun tidak ingin hal itu terjadi di pertunjukan besar seperti Acara Perdamaian tersebut. Namun apa jadinya, dia tidak bisa mengelak. Seorang penari lainnya dengan senagaja menyandungkan kakinya ke arah wanita itu, hingga akhirnya dia pun terjatuh. Sebut saja nama wanita yang terkilir itu adalah Noni. Noni memanglah salah satu penari berupa cantik dan anggun. Ditambah kulitnya sedikit berbeda dari wanita penari lainnya. Seperti s**u putih yang lembut. Karena kecantikannya itu, banyak pula wanita-wanita yang membenci dirinya. Alasannya hanyalah karena kecemburuan. Cemburu dengan wajah dan kulit Noni, cemburu dengan lekuk tubuhnya, cemburu karena Noni teramat pandai menari. Hanya saja, kelebihan itu justru membawa dirinya dalam lubang hitam. Sangat sering terjadi, ketika menari dirinya mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya. Kotak rias yang hilang, bedak yang rusak, lipstik patah. Semua berbagai perlakuan jahil telah dia telan sendiri. Dia tidak berani menentang ataupun protes pada perbuatan temannya. Meski dia tahu siapa pelakunya. Dia hanya bisa diam. Sebab dia tahu kalau pekerjaan itu sangat penting baginya. Jika dia kehilangan pekerjaan karena membantah, adik-adiknya tidak akan bisa makan ataupun bersekolah. Akhirnya dia terus bertahan sampai dia mendapat cukup banyak uang tabungan demi kelangsungan hidup mereka kelak. Misalnya hari ini, dengan sengaja temannya merencanakan hal licik untuk mempermalukan Noni di depan banyak orang. Namun sungguh Noni masig bertahan. Dia langsung berdiri ketika jatuh. Dia dengan paksanya berjalan sendiri ke belakang tirai agar tidak menjadi pusat perhatian orang-orang ramai. Dia sungguh tidak sanggup lagi berjalan lebih jauh. Sementara dia perlu mengambil kain di dalam ruan gan agar bisa mengatasi kakinya yang sakit itu. Untungnya saja pelayan di istana menyadari kesulitannya. Akhirnya ia terbantu dan dipapah nenuju ruang rias agar bisa beristirahat. Setelah perjuangan susah payahnya berlalu, kini dia mendapat hujatan dari temannya. Jelas wanita yang mengamuki dirinya tersebut adalah wanita paling iri padanya. Karena kericuhan itu seorang prajurit penjaga keamanan mengadu pada panglima terdekat. Hingga akhirnya sampai ke telinga Dion, lalu terkabarkan sampai pada Darchen. Mendengar hal sepele itu diperbesarkan, membuat Darchen murka. Dia menjadi sulit menahan emosi dan amarahnya. "Cari wanita itu," perintah Darchen pada Dion. Seharian Darchen tidak melihat Celine dimanapun. Pagi sekali, memang dia mengadakan upacara bersama keluarga kerajaan dari Negeri Athiam dan Negeri Seberang. Setelah matahari telah terik, Darchen mengurusi segala keamanan. Baik itu menjaga pertahanan ataupun mengatur posisi penjagaan dan pengawasan. Kemudian karena semuanya telah tertanganinya. Dia sekarang heran mengapa Celine tidak muncul setelah seharian dia sibuk. "Baik, Pangeran," angguk Dion. Panglima sekaligus orang kepercayaan Darchen itu pergi mencari Celine, dia tidak sengaja mencium aroma dari tubuh seorang Yumiro. Namun Dion tidak bisa melacak keberadaan Yumiro itu, dia hanya bisa mencium aroma dari kejauhan. Semakin Dion mendekati hutan perbatasan, Semakin kuat pula kewaspadaannya. Terasa baginya tanda bahaya. Dia bisa merasakan keberadaan Celine, dan juga seseorang yang asing di dekat hutan sana. Amat terasa magis dari orang tersebut. "Celine," sebut Dion dengan perasaan cemas, lalu berlari kencang untuk mencari keberadaan wanita itu. Dia tahu kalau orang di dekat Celine itu sangat berbahaya. Jika sampai terjadi apa-apa pada Celine, dia tidak bisa dan tidak akan mampu menghadap ke Darchen. Lagi pula, Celine adalah tanggung jawabnya. Tentu saja dia akan panik, mengingat betapa berbahayanya orang di sekitar hutan itu. Dion menyusuri hutan dengan cepat, dalam hitungan detik dia telah menemukan posisi Celine. Sekaligus dia mencari tahu asal kekuatan magis yang begitu kuat tersebut. "Dion!" panggil Celine sambil tersenyum saat melihat panglima itu datang dari sudut lain menuju ke arahnya. "Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Dion. "Tidak, aku hanya berjalan-jalan. Tadi terlalu ramai, jadi sulit untuk bergerak," jawab Celine berbohong. "Dengan siapa kau di sini?" tanya Dion lagi. "Tidak ada, aku sendiri," jawab Celine lagi berbohong. Dion langsung mengeluarkan semacam magis tak berbentuk, dan bercahaya, lalu kemudian di arahkannya pada Celine. Seperti selubung ketika berada dj tubuh Celine. Mungkin sebagai alat pengaman bagi Celine agar orang berbahaya itu tidak bisa merasakan, atau mencium keberadaan Celine. "Kalau begitu, mari," ajak Dion kembali ke istana. "Eh? Apa Ratu Sibenth menyuruhmu?" "Pangeran Darchen," jawab Dion singkat. Celine baru teringat dengan Darchen setelah dikatakan oleh Dion. Sebab seharian tidak pernah dia melihat Darchen. Sebanyak apapun usaha untuk melihat Darchen, dia tidak menemukannya. Akhirnya dia sendiri lupa dengan keberadaan Darchen. Saat berjalan meninggalkan hutan, Celine sesaat berbalik ke belakang melihat Dyroth di sana. Kemudian dia melambai meskipun dia tidak melihat keberadaan laki-laki itu di sana. Celine simpati padanya. Sebab Dyroth Alucard sudah menjelaskan kepadanya tentang kehidupan laki-laki itu. Dia dikatakan berbahaya oleh orang-orang karena memiliki sihir yang aneh seperti milik Celine. Hanya saja Celine telah ditutupi segel oleh Darchen, sementara dia tidak bisa. Akhirnya banyak orang yang merasakan keberadaannya dengan anggapan berbahaya. Jika orang lain melihatnya, sesegera mungkin mereka akan memusnahkan Dyrot, dengan beralaskan demi melindungi dunia dari kehancuran. Namun dia juga memiliki harapan, akhirnya dia terus bersembunyi dari orang-orang agar hidupnya lebih panjang lagi. Mendengar itu Celine terharu dan tergugah. Dia sangat simpati. Dia bisa merasakan kesedihan Dyroth. Sama seperti dirinya dikala magis telah mengontrol tubuh dan pikirannya. Dia akan berubah menjadi seorang monster yang menakutkan, bahkan amat berbahaya terhadap orang lain. Celine menyamakan antara posisi dirinya dengan Dyroth. Sungguh malang. Bukan mereka yang menginginkan sihir itu. Dia muncul membawa bencana seperti kutukan. Tidak ada mereka mengharapkan adanya magis atau segala jenis yang berhubungan dengan sihir. Mereka malah semakin sulit berbaur, bahkan selalu cemas jika berasa di perkumpulan ramai. Dyroth menjelaskan alasan mengapa dia tidak berada di dalam keramaian di istana. Sebab orang-orang takut padanya. Jika dia muncul di sana, orang lain akan langsung membunuhnya, hingga acara itu tidak berlangsung dengan baik. Dyroth juga mengatakan kalau dirinya telah di incar beberapa hari yang lalu. Bahkan termasuk pihak istana. Mereka ingin memusnahkan Dyrot. Untungnya Dyrot berhasil kabur dari mereka dan bersembunyi sampai saat mereka bertemu tadi. Karena iba, Celine ingin melindungi Dyroth dari mereka. Tapi dia bukan siapa-siapa. Bahkan sihirnya saja tidak bisa dikontrol olehnya. Celine hanya bisa berharap agar Dyroth selalu baik-baik saja. Padahal Celine sama sekali tidak merasakan apapun darj Dyroth. Dia tidak merasa takut saat di dekat laki-laki tersebut. Malah dia merasa nyaman di samping Dyroth. Apalagi Dyroth pernah membantunya kembali ke istana di awal pertemuan mereka. Jadi sudah tentu Celine tidak tega jika mereka secepat itu harus berpisah karena Dyroth mati. Dia baru saja mengenal Dyroth, tapi kebaikan laki-laki itu sudah amat banyak baginya. Saat Dyroth merasakan kedatangan Dion, dia langsung menghela nafas panjang, seraya berkata pada Celine," Aku pergi dulu, seseorang akan membunuhku." "Membunuh? Apa kau akan baik-baik saja?" "Tentu saja. Aku sudah biasa berlari dari kematian," jelas Dyroth sambil bercanda. "Aku sedang serius. Jaga dirimu, Dyroth. Jika kau sampai mati, aku tidak akan pernah memaafkan hal itu," ucap Celine dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dyroth tersenyum. "Aku akan menemuimu lagi. Kalau begitu terima kasih untuk hari ini, sampai jumpa," pamit Dyroth. "Eh, Dyroth, sebenar," panggil Celine menahan langkah pria itu. Celine mengambil sebuah gelang yang dia buat sendiri dari benang. Dia memberikan pada Dyroth. "Semoga kita masih bisa bertemu," ucap Celine lalu memberikan gelang itu ke tangan Dyroth. Lalu dia melambai pada Dyroth. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Celine berjalan menjauhi tempat mereka berbincang tadi. Mengikuti arah jalan menuju istana. Tidak berapa lama, Dion datang menjemput dirinya. Dalam hati Celine berkata," Mungkinkah Dion yang dimaksud oleh Dyroth?" Jika benar, itu artinya Darchen juga ingin membunuh Dyroth. Padahal jika dipikirkan lagi, sihir itu bukanlah alasan bagi mereka untuk membunuh seseorang. Jika sihirnya terlalu berbahaya mengapa bukan magisnya saja yang dimusnahkan, bukan orangnya. "Kenapa kau tampak murung?" tanya Dion pada Celine. "Entahlah, mungkin kecapean," jawab Celine. Dari wajahnya Celine sudah tampak jelas kalau dirinya tengah dalam banyak pikiran. Ditambah dia tidak tahu apakah menutupi kebenaran bahwa dia bertemu bahkan berteman dengan Dyroth adalah hal yang benar. Sungguh semua itu membuatnya harus berpikir keras. Apakah dia harus mengatakan pada Dion kalau dia baru saja bertemu dengan orang yang ingin dibunuhnya, atau terus menyembunyikan pertemuan itu. Setelah sampai di istana. Celine langsung dibawa ke ruang rias oleh Dion. Panglima itu menyuruhnya masuk ke dalam untuk bersiap-siap. "Hey … ada apa ini?" tanya Celine keheranan. Tiba-tiba saja dia disuruh masuk ke ruang rias. "Pangeran Darchen yang memerintahkan aku untuk menyuruhmu masuk ke dalam," jelas Dion. "Untuk apa? Aku tidak ingin memakai riasan," jawab Celine menolak tegas. Dia menjauh dari dekat pintu ruangan itu dan terus menolak untuk masuk ke dalam. Entah dari mana dan sejak kapan, Darchen sudah berada di belakangnya sambil menyentuh bahunya dengan satu jari dan mata tidak berekspresi sama sekali. "Astaga!" ucap Celine kaget. Darchen mengisyaratkan pada Celine agar masuk ke dalam ruangan itu. Pangeran itu melirik-lirikkan matanya ke arah ruangan lalu kembali menatap Celine. Berulangkali dia melakukan itu sampai Celine keheranan. "Apa? Kenapa? Ada apa?" Celine tidak paham sama sekali dengan maksud Darchen. "Masuk," suruh Darchen lalu mendorong tubuh Celine dengan jarinya tadi. "Tidak!" tolak Celine sambil menghentakkan kaki dan tangannya secara bersamaan. Dion yang melihat keberanian Celine hanya bisa tersentak kaget. Dia kemudian pergi dari hadapan Keduanya setelah mendapat isyarat dari Darchen agar meninggalkan mereka berdua di sana. "Sana," suruh Darchen lagi. Lalu mendorong tubuh Celine dengan satu jarinya. "Argh! Aku tidak mau!" tegas Celine. "Setelah kau pergi entah kemana, dan kau membangkang padaku?" ungkap Darchen. "Ha? Aku tidak membangkang. Aku memang tidak akan masuk ke sana," balas Celine. "Masuk." Darchen mendorong tubuh Celine lagi. Setiap kali jaringa mendorong tubuh wanita itu, Celine akan langsung menunjukkan ekspresi tidak senang. Bibirnya akan mengerucut jika dia mendorong tubuh Celine. Dia menikmati keusilannya itu dan terus mengulanginya. Agar Celine semakin cemberut dan kesal padanya. Darchen menyukai hal itu, karena tidak ada orang yang berlaku tidak sopan padanya, kecuali Celine. "Argh! Jangan mendorongku!" amuk Celine, lalu memagang jari Darchen yang sedari tadi mendorong-dorong bahunya. Darchen yang pelit senyum itu kemudian menatap Celine dengan perasaan tergelitik, meski hanya tipis yang dia tunjukkan. "Ck," decisnya. "Jangan mempermainkan aku!" tegas Celine yang mulai kesal. Darchen malah dengan sengaja dan usil menjetik kepala Celine. Kemudian dia menarik hidung Celine kuat sampai meninggalkan bekas berwarna merah di sana. "Argh! Darchen syalan!" umpat Celine. Dia kemudian menginjak kaki Darchen lalu memukul perut Darchen. Karena tubuhnya tidak sampai jika harus memukul kepala Darchen. Sebab tinggi badannya kalah jauh dengan tubuh Darchen. Tangannya tidak sampai menjatah kepala Darchen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN