Salbia dengan tergesa-gesa berlari melaporkan serangan dari manusia. Bangsa manusia menyerbu mereka dengan jumlah pasukan yang amat banyak. Mereka berbondong-bondong mendatarkan pulau tempat para Yumiro singgah.
Wanita itu amat panik sampai ketika berlari dia menabrak segala benda yang menghalangi jalannya. Sampai tiba di depan Dyroth.
"Raja, bangsa manusia menyerang tembok utama," lapor seorang prajurit yang bersama dengan Salbia pada Dyroth
"Oh, ya? Kerahkan semua pasukan," perintah Dyroth.
Dyroth seakan menikmati peperangan tersebut. Seolah dia menunggu kejadian tersebut sejak lama. Dia tersenyum saat mendengar peperangan akan segera dimulai.
Sementara Salbia yang sudah takut akan terjadi kekalahan. Di medan perang, dia mengeluarkan magisnya dalam bentuk cakar yang panjang dan tajam.
Dia mengarahkan ke setiap orang yang dianggap membahayakan kaumnya. Satu per satu prajurit bangsa manusia berjatuhan akibat serangan dari Salbia. Dia begitu buas di dalam perang hingga dalam satu kali cakaran bisa mematikan banyak orang. Dia menggugurkan banyak korban jiwa. Dengan penuh kebencian dia menghabisi nyawa para manusia hingga di depan tembok dekat gerbang kerajaan mereka itu disapu bersih oleh Salbia.
"Ada satu Yumiro yang amat kuat, Panglima Dion," lapor seorang prajurit pada Dion.
"Kerahkan pasukan khusus di bagian depan," perintah Dion.
Untuk mengambil alih panggung, Dion maju ke depan bersama dengan pasukan khusus ditemani oleh Genah di belakangnya. Mereka bersama-sama menghabisi para Yumiro hingga korban jiwa hanya sedikit yang melayang.
"Aku akan selamatkan Nona Celine," ucap Genah.
"Jangan, belum saatnya," jawab Dion.
"Hmm," angguk Genah.
Beberapa waktu yang lalu, Darchen baru tersadar dengan hilangnya Celine secara tiba-tiba. Dia baru ingat jika ada sosok misterius yang terus mencoba mendekati Celine.
Awalnya Darchen tidak tahu siapa orang tersebut. Namun saat dia mencari tahu tentang keberadaan Celine, samar-samar dia bisa melihat Pemimpin Yumiro. Baik dari aura dan pancaran gelap. Dia langsung tahu dan mengerti. Bahwa Celine diculik oleh Pemimpin Yumiro, Raja Dyroth Alucard.
Meski tidak tahu alasan khusus Dyroth membawanya ke pulau Yumiro, tapi dia tidak peduli. Intinya dia sudah mengibarkan bendera permusuhan antar manusia dan Yumiro. Darchen yang sudah membara kebenciannya terhadap Yumiro, semakin menjadi-jadi seiring tahu kalau Celine telah dibawa paksa oleh Yumiro tersebut.
Kemurkaan Pangeran dari Negeri Athiam itu telah diuji hingga batas kemampuannya dalam menahan amarah. Dia teramat ingin membunuh orang-orang yang telah berani mengambil wanitanya secara sembunyi-sembunyi. Dia begitu membenci Raja Dyroth, sampai darahnya mendidih karena membayangkan betapa piciknya pemimpin tersebut.
Yumiro kalah telak dalam aspek jumlah pasukan, meski mereka banyak memiliki pasukan dengan kekuatan khusus, tetapi pasukan mereka kalah banding jumlahnya dengan kedua negara tersebut. Lama-lama pulau itu rata dihabiskan oleh bangsa manusia.
Tidak sia-sia kedua negara bersatu dalam menghancurkan Yumiro. Mereka berhasil. Jika mereka bekerja lebih keras lagi, para Yumiro akan punah dari dunia mereka. Mereka mungkin akan terbebas dari yang namanya Yumiro.
Darchen dalam satu hentakan tangannya menghabiskan banyak Yumiro. Membunuh Yumiro dengan bengis. Darah busuk bertumpahan dimana-mana. Banyak sekali genangan darah busuk di tanah. Baik itu darah manusia atau Yumiro.
Sampai akhirnya Darchen berhadapan langsung dengan Salbia. Yumiro dengan kelenturan badannya dan juga terkenal karena kelincahan tubuhnya. Dia teramat gesit sehingga dia sering menang dalam panggung peperangan.
Darchen memotong langsung tangan wanita itu kemudian menggariskan mata pedang ke kaki Salbia dengan olesan racun magis di atasnya. Wanita itu melemah seketika. Dia yang terkenal bringas tiba-tiba menjadi semut di tangan Darchen. Dia langsung kalah telak.
Salbia sendiri pun sampai tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah kalah. Dia mengira kalau manusia adalah makhluk lemah yang dipenuhi dengan keegoisan dan keiriaan saja. Ternyata dia baru saja bertemu dengan orang yang amat kuat auranya, bahkan sampai dia sesak saat berada di dekat pria tersebut. Salbia tercengang. Tangannya yang lihai dalam mengayunkan cakar tiba-tiba hilang dalam kedipan mata. Kakinya melemah tidak bisa digerakkan sama sekali. Dia terjatuh di atas tanah.
Dia menatap Darchen, dia menandai wajah Pangeran tersebut. Kemudian dia baru ingat bahwa Dyroth pernah menceritakan bahwa harus berhati-hati dengan pangeran dari Negeri Athiam. Dyroth juga pernah mengatakan kalau Pangeran dari Negeri Seberang harus terus dipantau, hanya saja Pangeran Darchen lebih menakutkan dibandingkan Pangeran dari Negeri Seberang.
"Ahk … ahk." Darah berkeluaran dari mulut Salbia. Dia menahan sakit dari segel yang digoreskan oleh Darchen di kakinya. Dia menahan sakitnya. Sampai akhirnya dia melihat kegelapan di depan matanya. Dia melihat seorang pria berbadan kekar mendekat ke arahnya.
Tidak rela jika harus mati konyol seperti itu, dia setidaknya harus berhasil membunuh bangsa manusia. Meski dengan pertumpahan darah sekalipun. Dia harus menghabisi semua manusia sebagai bukti baktinya pada Pemimpin Yumiro.
Dia menggerakkan tangannya sebelah lalu mencakar kaki pria tersebut, yang merupakan Dion. Karena terlalu sibuk menghabisi nyawa Yumiro lainnya, Dion tidak melihat korban berserakan di atas tanah. Dia terus mengayunkan pedangnya ke arah Yumiro yang masih hidup, lalu membunuh mereka. Dia tidak sadar jika masih ada Yumiro yang sekarat. Salbia masih hidup. Hanya saja dia tidak sanggup lagi melakukan perang. Nyawanya berada di ujung tanduk, tetapi kebencian darinya masih terus mengalir semakin besar dan semakin dalam. Hingga menimbulkan tekad membunuh bangsa manusia. Dia mencakar kaki Dion.
Darah mengalir deras dari kakinya. Dia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dia hampir saja terjatuh, tetapi untungnya dia adalah orang yang tangkas. Sehingga dengan kilat dia melompat tinggi ke arah langit dan menghunus pedang ke arah salbia.
Yumiro bisu itu mati di tangan Dion. Meski dengan luka di kakinya yang cukup parah. Dia berhasil menghabisi nyawa salah satu Yumiro terkuat. Setidaknya musuh mereka berkurang.
Sementara dengan Darchen yang terus fokus memasuki atap naungan bangsa Yumiro, terus maju dan menghabisi banyak Yumiro. Percikan darah ternoda di bajunya. Tangannya merah karena pertumpahan darah. Dia begitu haus akan kemenangan. Dia membasmi segala yang menghalanginya. Dia hanya memikirkan wanita itu, Celine. Dia terus semakin kuat saat membayangkan wajah Celine.
Dia tidak suka jika ada orang lain yang menyentuh Celine selain dirinya. Lalu dengan mudahnya Dyroth datang memancing amarahnya. Tentu saja dia akan marah besar. Dia begitu bernapsu untuk mengoyak tubuh Pemimpin Yumiro. Dia terus mencari dimana keberadaan Raja Dyroth tersebut. Hingga matanya tidak berkedip sama sekali saat mengayunkan pedangnya.
Pintu besar yang tertutup rapat tidak bisa dibuka oleh Darchen. Dia sudah satu langkah lebih dekat dengan wanita itu, tetapi pintu itu terlalu kuat terkunci.
Akhirnya dia membuka paksa pintu tersebut. Dia mengeluarkan magisnya, sampai pintu itu dengan sendirinya terbuka.
"Selamat datang, Pangeran Darchen."
Seorang pria dengan rambut panjang dan seluruh pakaian berwarna hitam, menyambut Darchen. Dia tersenyum pada Darchen, seolah menunggu kedatangan dirinya.
"Raja Dyroth Alucard," panggil Darchen dengan mata penuh kebencian.
"Oh, jadi Pangeran Darchen Valerio tidak terlalu buruk. Kau tampan dan kuat. Tidak masalah jika harus menjadi sainganku," ucap Dyroth seolah tenang bercanda.
"Aku tidak terlalu senang dengan kalimat itu," balas Darchen. Dia menahan diri dan mengawasi pergerakan Dyroth. Dia tidak boleh terlalu gegabah dalam memulai pertempuran dengan Dyroth. Orang yang akan dia lawan bukanlah sembarang orang saja. Dia adalah pemimpin Yumiro yang teramat kuat.
"Oh yah, ada yang ingin kutunjukkan padamu," sambung Dyroth sambil tersenyum.
Darchen tidak menghiraukan sikap Dyroth yang terus mengajak Darchen berbincang seolah dekat padahal mereka dipenuhi kebencian.
"Kau lihat? Bagus, bukan?" Dyroth menunjuk ke arah baju yang dia pakai. " Celine yang belikan untukku," sambungnya.
Tidak tahan dengan omong kosong yang dikatakan oleh Dyroth, membuat Darchen spontan menyerang Dyroth terlebih dahulu. Dia melemparkan magis berbentuk jarum tepat ke arah jantung Pemimpin Yumiro tersebut.
"Hahahah." Dyroth tertawa. Dia dengan mudah mengelak dari serangan Darchen. "Tenang dulu. Masih ada yang ingin kuceritakan padamu," tambah Dyroth.