Sengitnya Pertarungan

2046 Kata
Celine terbangun dari ranjangnya. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya ringan karena pusing. Dia sedikit terhayung saat duduk dan mencoba melihat sekitar. Celine berusaha sekuat tenaganya untuk mengingat kejadian sebelumnya. Samar-samar dia mengingat bahwa tangannya menusuk pisau ke jantung Dyroth. Dia hanya mengingat hal itu yang terjadi terakhir kali. Kemudian tiba-tiba dia kehilangan kesadarannya entah apa penyebabnya. Setelah beberapa saat, dia sudah mendapati dirinya terlentang di atas ranjang, dengan pakian utuh tanpa ada yang kurang. Celine membuka jendela untuk memastikan waktu saat ini. Dia melihat cahaya matahari belum lagi terbit. Bisa dikatakan sekarang masih dini hari. Dia belum terlambat untuk kembali ke istana karena cahaya matahari belum melintas. Dia mengambil air putih di dekat mejanya, lalu meneguk habis yang ada di sana, supaya badannya sedikit segar dan bertenaga. Ketika dia membuka pintu tersebut, dia langsung melihat lorong lorong yang memisahkan jalan yang satu dengan lainnya. Celine tidak tahu harus lewat mana. Karena terakhir kali saat berjalan dia tidak berada di ruangan tersebut. Jalannya tidak diingat oleh Celine sama sekali. "Apa yang direncanakan oleh Dyroth? Aku yakin dia adalah orang yang baik," ucap Celine. Dia tahu pria itu adalah seorang yang memiliki hati. Meski dia bangsa Yumiro namun dia bisa merasakan kalau Dyroth masih menyisihkan nurani di hatinya. Celine akhirnya memutuskan untuk memasuki setiap lorong untuk memastikan jalan yang benar. Jika dia langsung bertatapan dengan Dyroth, Celine memutuskan untuk menyuruh pria itu untuk segera mengantarkan dirinya pulang. Dia yakin pria itu akan mengantarkan dirinya. "Huft … ternyata bukan yang ini," decak Celine. Dia tidak menemukan jalan yang benar. Akhirnya dia kembali ke ruangan tadi, lalu memasuki lorong yang satunya. Perjuangannya bukan hanya sebatas berjalan melewati lorong lalu kembali lagi ke awal. Namun Celine menanggung banyak rintangan. Mulai dari kakinya yang tiba-tiba melemah karena terlalu lama menopang dirinya. Dia juga sampai lupa jalan balik ke ruangan awal tersebut. Sehingga waktunya banyak dihabiskan mencari jalan balik ke posisi awal. Ketika Celine sudah melewati jalan satunya, Celine melihat kamar Dyroth. Dia langsung berlari ke sana berharap pria itu mau mengantar dirinya pulang. Saat dia memanggil dari luar, tidak ada yang menyahut. Dia membuka tanpa izin dari dalam, tetapi tidak menemukan siapapun di sana. Anehnya selama dia mengelilingi lorong dan jalan tidak ada satupun yang menjaga atau patroli. Terlalu sepi untuk sebuah istana. Tidak mungkin jika istana itu tanpa penjagaan. Celine bingung, namun dia tidak menghabiskan waktunya di sana dalam pikirannya yang masih buntu tersebut. Dia berjalan menyusuri segala arah. Mulai dari jalan yang membawanya ke arah tangga dan gudang, sampai ke dapur dan ruang rapat. Semua sudah dilewati oleh Celine. Tapi tidak ada satupun orang di sana. Sangat sepi sampai Celine merasa ada yang berbeda. "Ha? Serius tempat ini sepi apa gimana?" Celine dengan linglung berjalan. Tanpa arah dia terus memasuki setiap lorong. Sampai akhir batas dia melihat Darchen dari kejauhan. Celine langsung lemas saat melihat wajah Darchen. Pangeran tersebut sedang bertatapan dengan Dyroth. Tidak tahu kepastiannya, Celine ragu jika saat itu adalah perang besar, atau hanya sekedar perdebatan untuk menjemput Celine. Dia tidak tahu fakta yang benar, namun yang pasti Celine sedikit resah dengan kedatangan Darchen. Dia tahu kalau mereka telah bertemu, mustahil jika diantara mereka ada yang hidup. Jika tidak Darchen yang mati, maka Dyroth yang harus mati. Tentu hal itu membuat sesuatu kemungkinan yang jawabannya tidak ada yang tahu. Celine takut jika sampai terjadi apa-apa pada Darchen. Sebab yang dia tahu adalah Dyroth seorang yang kuat dan kejam. Dia bisa membunuh banyak orang dalam sekali jetikan jari. Dia ditakuti banyak kaum. Meski dia tahu seperti apa Darchen sebenarnya, tapi Celine takut jika sampai Darchen menghilang dari hidupnya selamanya. Apabila hal itu sampai terjadi, bagaimana dia harus melanjutkan hidup? Sementara arahnya ditiup oleh Darchen. Dari kejauhan Celine berlari meski langkahnya sudah tidak lurus lagi. Dia terombang-ambing. Langkahnya tidak satu. Namun dia tetap berlari. Hatinya terus bergetar berharap agar diberi perlindungan bagi mereka, bangsa manusia. Semoga terhindar dari marabahaya. Dia terus berlari, terus melangkah. Sebisa mungkin dia harus menahan kesadarannya tetap terjaga. Jika sampai dia kehilangan kesadaran, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika dia memantau dari kejauhan, dia melihat kalau pembicaraan mereka semakin tegang. Sesekali Darchen melakukan penyerangan. Namun semuanya dihindari Dyroth dengan sangat sempurna. Badannya hanya bergerak sedikit untuk menghindari serangan tersebut. Di situ barulah Celine tahu, bahwa Dyroth tidak mati saat dia menusukkan pisau ke jantung pria tersebut. Dyroth hanya berpura-pura kesakitan saat terkena tusukan pisau tersebut. Bodohnya Celine masuk ke dalam tipu muslihat Dyroth. Dia yang terlalu mudah mempercayai dan meyakini jika Dyroth adalah orang yang baik. Dia terus memupuk dirinya untuk menganggap Dyroth sebagai orang yang suka membantu, namun nyatanya tidak. Dyroth hanya senang mempermainkan dirinya. Tidak ada kejujuran dari mulut Dyroth. Semuanya palsu semata hanya untuk kepentingan pribadi saja. Tidak tahan lagi dengan sikap Dyroth, Darchen akhirnya melakukan segel kuat untuk mengurung Dyroth di dalam dan menyiksanya dengan magis. Pertarungan mereka semakin tegang. Awalnya hanya perbicangan saja, kini mereka telah bermain fisik. "Apa yang kau rencanakan?" tanya Darchen pada Dyroth. "Entahlah, mungkin karena bermain dengan wanita itu sedikit menyenangkan, aku suka dia," jawab Dyroth. Cekaman magis yang menyiksa itu semakin menyakiti tubuh Dyroth. Seakan rantai panas sedang mengikat dirinya sampai tulangnya hampir remuk. Tapi dia terus tertawa menikmati segalanya. "Sudah lama aku tidak merasakan permainan kecil seperti ini. Kau memang lawan yang cocok untukku," ucap Dyroth terus menikmati siksaan Darchen. Tusukan terus mendarat ke tubuh Dyroth. Semakin dia tertawa keras, semakin ingin pula Darchen menghancurkan kesombongan pria tersebut. Sampai akhirnya tubuhnya tidak bisa menahan sakit dari serangan Darchen. Dia langsung membuka segel tersebut dan membebaskan dirinya dari lingkaran menyakitkan tersebut. Dyroth menjadi lebih serius dalam menghadapi Darchen. Dia kini tidak hanya menangkis dan menghindari serangan Darchen. Dia pun sesekali mengeluarkan jurusnya untuk menyakiti Darchen. "Katakan apa tujuanmu!!" Perintah Darchen dengan nada keras. "Mungkin … menjadikan dia permaisuri," jawab Dyroth. Darchen semakin menggebu-gebu mengeluarkan serangannya. Sampai Dyroth merasa kewalahan terus menghindar. Serangan tersebut sangat cepat dan membabi buta. Karena terlalu kencang dan kuat, sampai meninggalkan luka di bagian tangan Dyroth. Mustahil dia mendapatkan lecet luka dari orang lain. Saat dia akan memulihkan luka tersebut, tiba-tiba tidak bisa menghilang. Dia terlalu meremehkan Darchen. Dia menikmati setiap serangan itu karena terlalu sombong. Ternyata dia salah, Darchen telah melukai dirinya dan membuat dia pasif saat menyembuhkan. Bahkan dia sampai terjatuh dari keseimbangannya. Dia menambah kewaspadaannya dan mulai menyerang Darchen. Dia mengeluarkan kekuatannya berniat membuat Pangeran Darchen melemah. Namun Darchen dengan lihai menangkis dan menghindar. Dari setiap serangan dan hindaran yang dilemparkan oleh Dyroth, dibalas langsung oleh Darchen. Sampai akhirnya Dyroth membuat sebuah lubang hitam dimana Darchen akan kehilangan kesadaran jika menginjaknya. Karena serangan yang tidak diperkirakan oleh Darchen, dia tidak sengaja menginjak lubang hitam tersebut. Badannya tidak berasa seketika. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Dyroth, dia langsung mengeluarkan magisnya dan mengarahkan pada Darchen, sehingga tubuh pangeran tersebut terhempas sampai terhempas ke dinding. Darchen dapat memadamkan racun dari magis tersebut lalu dia membalas Dyroth secara langsung. Pemimpin Yumiro itu tergores tangannya dengan magis yang dikeluarkan oleh Darchen. Sampai mengeluarkan darah dari lengannya. Ketika dia hendak mengobati luka tersebut, ternyata kejadiannya sama seperti di awal, luka tersebut tidak menghilang. Setiap serangan pangeran tersebut permanen di tubuh orang yang dia tandai. Tidak bisa diobati bahkan orang hebat sekalipun. Seorang yang kuat seperti Dyroth mustahil tidak bisa mengatasi satu hama seperti Darchen. Tidak mungkin dia kalah dari seroang manusia. Kecongkakan dari Dyroth membuat dirinya semakin kuat pula. Tekadnya membunuh Darchen semakin besar. Dia mengeluarkan magisnya lagi lalu mengarahkannya tepat di depan mata Darchen. Untungnya Darchen langsung menghindar. Meski badannya masih lemah karena serangan tiba-tiba dari Dyroth, tapi dia berusaha agar tidak sampai terkena serangan Dyroth lagi. Ketika Celine sudah mendekat ke arah mereka berdua, dari arah belakang ada seseorang yang menarik tangannya. Tidak tahu entah siapa, dia terus menarik Celine. "Nona Celine!" "Genah?!" "Pelankan suara Anda, Nona," ajar Genah. Celine langsung memeluk Genah karena senang saat melihat Genah. Dia menanyakan gerangan apa yang membawa mereka sampai ke Pulau Kensy. "Perang besar sedang berlangsung, Nona," jelas Genah. "Kenapa tidak tunggu sampai matahari terbenam sekali lagi?" tanya Celine. "Dipercepat oleh pangeran Darchen, Nona. Mengetahui kalau Anda diculik oleh Pemimpin Yumiro, membuat Pangeran Darchen murka dan melepas pasukan khusus menyerang lebih awal, lalu diikuti pasukan lainnya," terang Genah. Darchen telah melihat kalau Celine berhasil di selamatkan oleh Genah. Setidaknya dia tenang karena wanita itu aman. Dia sedikit berkurang resahnya. Sekarang pikirannya akan fokus pada perang saja. Dia jadi lebih leluasa untuk menghabisi Dyroth. Sebab tadi dia menahan diri untuk tidak sampai membunuh Dyroth. Karena jika dia membunuh pria itu, bisa-bisa posisi Celine tidak ada yang tahu. Untuk itu dia harus memastikan kalau Celine sudah diselamatkan oleh Genah terlebih dahulu, lalu dia fokus menyerang Dyroth. Kecepatan serangan Darchen bertambah. Bahkan sampai Dyroth tidak bisa menembus satu serangan ke tubuh Darchen. Dia tidak bisa melihat pangeran itu sedang melakukan apa karena terlalu cepat. Tiba-tiba dari belakang Dyroth sudah berdiri Darchen yang sudah siap menghunuskan mata pedang ke arah Dyroth. Ketika Darchen sudah yakin kalau kematian Pemimpin Yumiro adalah sekarang, tapi dia salah, Pemimpin Yumiro itu juga menghindar dengan cepat. "Cih," decak Dyroth. Mereka terus unjuk kemampuan. Sangat sengit sampai diantara mereka tidak bisa ditentukan siapa yang akan menang. Brak! "Genah!!" Jerit Celine. Genah tiba-tiba terpelanting ke arah tembok entah siapa yang melakukannya. Dia baik-baik saja walau dari wajahnya terlukis rasa sakit. "Kalian kira semudah itu menipuku?" Entah datang darimana dan kapan, seketika Dyroth berada di depan Celine dan Genah. Lalu dia menyerang Genah sampai terhempas. "Dyroth?" "Kalian mengalihkan perhatianku agar bisa membawa Celine dari sini? Terlalu menganggapku mudah," bengis Dyroth. Dia mengangkat tubuh Genah dengan menarik lehernya, lalu menahannya terawang di atas udara. Sampai Genah merasa sesak dan susah bernafas. "Lepaskan dia, Dyroth! Lepaskan!" perintah Celine. Darchen langsung menolong Genah menjauhkan dari tangan Dyroth. "Jangan memancing amarahku!" peringat Dyroth yang mulai kesal. Sebab dia tidak suka saat ada yang membawa Celine darinya. Dia tidak suka jika wanita itu akan jauh darinya. Genah langsung menutupi tubuh Celine. Dia menjaga agar tidak sampai pengalihan panggung. Namun hal itu pula yang semakin membuat Dyroth murka. Dia menghempaskan tubuh Genah lagi. Sampai darah keluar dari mulut Genah. Sebab tubuhnya remuk bagian dalam karena Darchen menghantam dirinya. "Dyroth! Hentikan!" pinta Celine. Ketika Dyroth menyakiti Genah, di situ pula Darchen membalas Dyroth. Dia memukul bagian belakang Dyroth dengan magis yang sengaja berjenis batang pohon. Lalu dia lepaskan ke arah Dyroth. Karena murka Dyroth memasang segel ke arah Darchen agar Pangeran itu tidak menghalanginya dalam menghabisi Genah. Sebab salah satu orang yang menarik perhatian Celine adalah Genah. Dyroth tidak suka dengan wanita itu saat Celine mengatakan kalau Genah adalah orang penting nagi Celine. Jiwa ingin membunuh semakin menggejolak. Dia mengambil posisi menarik magis lalu menyerang ke arah Genah. Dia menancapkan magis dengan kekuatan besar lalu mengarahkannya pada Genah. Bangunan itu hancur ketika Dyroth melemparkan magis ke arah Genah. Untuk menyelamatkan pasukan khususnya itu, Darchen menghancurkan lingkaran tersebut. Lalu dia menyelematkan Genah. Sebelum itu, dia menarik Celine dengan cepat sehingga berada di belakangnya, lalu memberikan perlindungan pada Genah dengan menyegel sekitar Genah. "Tetap di sini!" suruh Darchen. Darchen memastikan terlebih dahulu keselamatan Celine, setelah itu dia kembali menyerang Dyroth. Dia dengan bringas menghantam tubuh Dyroth. Meski banyak yang meleset tapi setidaknya Dyroth sampai kewalahan. Tiba-tiba secara picik Dyroth mengangkat tubuh Genah, lalu dijadikannya sandera. Dia mengancam akan membunuh Genah jika tidak segera memberikan Celine padanya. Tentunya hal itu tidak membuat Darchen takut, sebab dia yakin kalau hal itu hanya sekedar ancaman. Tidak semudah itu pula dia membunuh Genah. "Jangan tertipu, Pangeran!" teriak Genah. "Genah!" Jerit Celine dari kejauhan. Dia khawatir dengan Genah. "Aku lebih baik mati daripada harus merelakan Nona Celine berada di dekatmu!" tegas Genah pada Dyroth. Darchen mengambil langkah cepat menyakiti Dyroth. Namun tiba-tiba ancaman itu seakan mencekam. Dyroth mengarahkan belati yang dia asah di dalam kamar itu, dia mengarahkan tepat di leher Genah. "Langkahmu cepat, tapi dapat menghilangkan nyawa wanita ini. Mungkin dia berharga bagimu? Jika tidak, silahkan sentuh aku," kata Dyroth. "b******n kau, Dyroth!" umpat Celine. Dia berteriak keras tidak menerima segalanya, meski tidak ada yang mendengarnya. Darchen diam seketika. Lalu dia menenangkan pikiran agar dapat mencari solusi. "Lepaskan dia! Ambillah Celine," ucap Darchen. Sudah barang tentu Dyroth tidak akan menyakiti Celine, jika dia meninggalkan dan menyerahkan Celine padanya, tidak akan ada yang terjadi pada Celine, tapi jika dia malah gegabah dan membiarkan Genah tinggal di sini, sudah tentu nyawanya terancam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN