Hilangnya Sang Heroin

1211 Kata
Celine masuk ke dalam kamar meski sudah di larang oleh wanita itu, tetapi dia sungguh tidak mendengarkan sama sekali. Dia hanya ingin menanyakan sesuatu pada Dyroth. Setelah itu dia akan pergi. Begitulah yang dijelaskan oleh Celine pada wanita itu. Bruak! Pintu terbuka. Celine melihat Dyroth tengah mengasah belati. Sangat tajam, sampai kilat pisau itu silau di matanya. Sangat tipis sampai Celine ngilu saat melihatnya. "Celine?" "Ada yang ingin kutanyakan." Celine langsung menjelaskan tujuannya, tidak berbasa-basi lagi. Dia langsung mengatakan inti dari kedatangannya ke kamar Dyroth. "Kau yang membunuh mayat-mayat itu, kan?" Tuduh Celine. "Ya," angguk Dyroth. Tidak ada raut penyesalan dari wajah Dyroth. Dia tetap tenang bahkan meski sudah diketahui kalau dia membunuh banyak orang. "Ha? Kenapa … kenapa bisa? Kau terus bersamaku … kapan kau membunuh mereka?" "Ketika kau berbalik badan, mungkin?" jawab Dyroth. Celine merasa ngeri melihat Dyroth. Dia adalah pembunuh berdarah dingin. Bisa-bisanya dia tetap tenang setelah membunuh orang sebanyak itu, tanpa ada rasa bersalah. Pantas saja waktu itu dia menolak untuk melihat mayat-mayat tersebut, dan berpura-pura takut dengan darah, padahal sesungguhnya dia tidak suka melihat bangkai bekas pembunuhannya. Sebab dia merasa kurang sempurna dalam membunuh orang. "Untuk apa pisau itu?" tanya Celine. Celine jadi takut, dia khawatir kalau pisau itu akan dijadikan alat untuk membunuhnya. Sangat tajam, mungkin dalam sekali sayatan seluruh nadinya akan putus. Dyroth tetap mengasah pisau itu, membersihkan lalu meletakkannya di atas meja. Sebelum itu dia sudah balut dengan kain kecil agar tidak terkena abu. "Aku suka menajamkan benda tajam," jawab Dyroth. "Kau pembunuhan," ucap Celine dengan nada menyumpah. "Aku hanya menyingkirkan manusia tidak berguna," balas Dyroth lagi. Dia terus berdalih seolah dia adalah seorang malaikat yang menghukum orang-orang jahat. Padahal dia sendiri lebih kejam daripada orang-orang yang dia bunuh. Memang Dyroth hanya membunuh orang yang melakukan kesalahan saja, tetapi tidak baik jika harus main hakim sendiri, apalagi harus membunuh. Banyak petugas istana yang bisa memberikan hukum setimpal bagi mereka. "Aku yakin kau juga bukan pertama kali membunuh manusia. Kau sudah banyak melakukan pembunuhan, bukan?!" tuduh Celine lagi. Bagaimana tidak, daei cara bicara dan santainya Dyroth dalam menceritakan pembunuhan itu, membuat Celine merasa kasian, sebab pria itu sama sekali tidak punya hati kecil. Dia yakin kalau Dyroth sudah melakukan pembunuhan pada manusia. Bukan hanya saat mereka bersama saja. "Ya, mungkin beberapa kali," jawabnya lagi. "Kau tidak punya hati," hina Celine dengan muka jijik melihat Dyroth. "Aku mencintaimu, tentu saja aku punya hati," jawab Dyroth lagi. "Apa?!" "Aku mencintaimu!" tegas Dyroth dengan suara lantang. "Aku semakin jijik denganmu," hina Celine pada Dyroth. Dyroth adalah pria yang tampan dan baik, sampai Celine pernah berpikir untuk jatuh hati pada Dyroth. Tetapi ketika tahu bahwa orang itu telah membunuh banyak orang demi kepuasan sendiri, membuat Celine merasa mual mengingat wajah orang tersebut. "Aku akan tunggu sampai kau menerimaku," tambah Dyroth. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan hinaan Celine. Dia tidak mendengarkan perkataan kasar dari wanita itu, dan terus meyakinkan diri bahwa hatinya adalah milik Celine. Sementara Celine yang tidak ingin lagi melihat wajah Dyroth, tidak tahu berbuat apa. Sebab yang dia hadapi bukanlah manusia, juga bukan Yumiro. Dia adalah setengah manusia dan Yumiro. Ketika Yumiro hidup tanpa hati, tetapi dia memiliki sebagian. Sungguh aneh. Celine pergi dari kamar tersebut. Dia sudah muak menghadapi Dyroth yang menjijikkan baginya itu. Dia sungguh sulit bernafas ketika melihat Dyroth berdiri di depannya. Dia tidak bisa menyangka kalau orang yang selama ini dia anggap baik dan lemah, ternyata adalah pembunuh berantai. Ketika sudah keluar dari kamar, Celine melihat wanita itu berdiri di sana. Sejak pertama kali dia masuk ke dalam, wanita itu tetap di sana menjaga dari luar. "Kau dari tadi di sini?" tanya Celine. Wanita itu diam tetapi matanya seolah mengatakan ya pada Celine. Celine melirik wanita itu dan membayangkan jenis apa dia itu. Seperti Dyroth, wanita itu juga berpenampilan seperti seorang wanita, tidak mirip Yumiro sama sekali. "Mungkin dia kaki tangan, Dyroth," tebak Celine dalam hati. *** Prajurit kerajaan Athiam dikerahkan mencari Celine, sebab sudah seharian wajahnya tidak terlihat. Belum lagi karena berita kematian orang-orang secara misterius menambah kepanikan Genah dan juga Darchen. Sejak pagi dia tidak melihat wanita itu. Sudah gelap pun belum juga kembali. Saat para korban pembunuhan itu di identifikasi, tidak ada satu pun diantara mereka yang mirip dengan Celine. Sudah barang tentu salah satu diantara mereka. Darchen yang kesal dengan dirinya sendiri tidak bisa menyalakan orang lain. Prajurit yang dia perintahkan untuk menjaga Celine malah dibohongi oleh Celine dalam modus kabur dari kamar. Berulang kali dikatakan oleh Darchen agar dia tidak melewati kamar, tetapi dia masih saja keras kepala. Wanita itu tidak pernah mendengar apapun yang dia katakan. Terus saja nasehat bagi Celine dianggap sebagai kekangan. Padahal jelas yang diperintahkan oleh Darchen pada wanita itu adalah demi kebaikan dirinya sendiri. "Maaf, Pangeran, kami tidak menemukan Nona Celine," ucap seorang prajurit pada Darchen. Setiap prajurit yang dia perintahkan untuk mencari Celine dengan posisi berpencar, satu per satu mundur dari tugas, sebab dari setiap penjuru tidak ada yang menemukan Celine. Bahkan jika sekalipun Celine sudah mati, makan Darchen menyuruh untuk membawakan mayat wanita itu. Jangankan mayat, bahkan sehelai baju saja tidak ada dapatkan. Darchen begitu pusing dengan kelakuan wanita itu, sudah berulangkali diberi perintah tetapi semua dia langgar. Harus dengan cara apalagi Darchen menyuruh wanita itu, tetap saja dilanggar. Darchen akan lebih senang jika Celine menghilang karena tersesat, dibandingkan dengan dia diculik oleh orang lain. Dia tidak akan mengampuni orang yang telah menyakiti Celine. Jika sampai dia tahu ada yang lecet atau setitik goresan ditubuh wanita itu, Darchen akan memberi hukuman yang berat pada orang yang melukai. "Pangeran, Nona Celine tidak ditemukan sama sekali," ucap Genah memberikan laporan. "Hmmm," balas Darchen. Darchen terpikir dengan orang misterius yang waktu itu pernah memasuki istana. Dia mendekati Celine. Bisa saja hilangnya Celine berhubungan dengan orang misterius tersebut. Darchen curiga. Jika memang benar dia diculik harusnya Genah dengan cepat bisa menemukan keberadaan mereka. Tetapi bau Celine tidak terendus sama sekali. Seperti menghilang dari dunia. "Mungkinkah Nona Celine sudah kembali ke dunianya?" tanya Genah sambil menebak. Darchen langsung terdiam. Dia tidak pernah terpikir kalau wanita itu telah kembali ke dunia asalnya. Padahal Darchen sudah melakukan berbagai cara agar wanita itu sama sekali tidak menemukan jalan pulang. Tetapi jika memang benar yang ditebak oleh Genah, itu artinya mereka akan berpisah untuk selamanya. Banyak sekali tanda kalau Celine sudah meninggalkan dunia mereka. Dari jajak tubuhnya tidak ada sama sekali bau. Bahkan magis yang diletakkan Darchen di tubuh Celine tidak dapat dia lacak. Seolah mereka telah terputus. "Tidak mungkin," sangkal Darchen. Dia belum siap berpisah dari wanita itu. Tidak mungkin kisah mereka hanya sampai sebatas bertemu dan berpisah saja. Belum banyak yang dilakukan oleh Darchen pada Celine. Dia belum rela jika harus berpisah dengan Celine. Darchen akan mengejar Celine bagaimanapun caranya. Jika Celine bisa masuk ke dalam dunianya. Mengapa dia tidak bisa masuk ke dalam dunia Celine? Begitulah yang dipikirkan oleh Darchen. Dia benar-benar tidak akan melepaskan Celine. Bahkan jika harus berpindah alam pun dia siap asal bisa bersama Celine. "Namun, Pangeran, ada yang janggal dari hilangnya Nona Celine," simpul Genah. "Ya," angguk Darchen setuju. "Nona Celine hanya akan pergi bersama dengan manusia lain yang berasal dari dunianya itu, tidak mungkin dia pergi sendiri. Hamba yakin Nona Celine saat ini sedang mencari orang tersebut, dia belum menemukan jalan pulangnya, Pangeran," jelas Genah. "Aku paham sekarang," celetuk Darchen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN