Celine tidak bisa mencerna kondisi saat itu. Dia dibingungkan dengan kemunculan seseorang yang amat mirip dan persis sekali dengan Dyroth. Hanya saja ada beberapa hal beda yaitu pada bagian rambut. Dyroth memiliki rambut pendek, tapi kini hitam panjang.
Dulu Dyroth mengatakan kalau dirinya adalah manusia sebatang kara yang hidup sendiri tanpa ada orang lain bersamanya. Bahkan dulu Dyroth selalu mengatakan kalau dirinya lemah dan tidak bisa berbuat apapun. Tapi yang dia lihat kini adalah seorang yang berwajah angkuh dan berwibawa.
"Celine …."
"Jangan pernah sebut namaku dengan mulut kotormu!"
"Aku sudah menduga hal ini terjadi," decak Dyroth.
Pria itu berjalan mendekat ke arah meja makan, lalu dia menarik kursi tempat dia untuk duduk. Dia memanggil Celine agar ikut makan bersamanya.
"Makanlah jika mau," kata Dyroth. Dia tidak terlalu memaksakan Celine untuk makan dan duduk bersamanya. Dia hanya perlu agar wanita itu makan. Jika dia tidak suka dengan kendaraan Celine, dia tidak bisa memaksa. "Jika lapar, dan tidak suka aku di sini, kau bisa makan nanti," sambung Dyroth.
"
"Siapa kau sebenarnya?!"
"Dyroth Alucard," jawabnya. Sambil dia mengambil piring dan menuangkan nasi di atasnya.
"Syiialan," decak Celine dengan suara pelan kesal. "Hey … aku tahu kau Dyroth, setidaknya jelaskan kau siapa. Dirimu sebenarnya. Kau bukan manusia biasa yang penakut, kan? Kau berbohong padaku!"
"Aku sudah minta maaf. Makanlah, perutmu sudah bergemuruh, aku mendengarnya," timpal Dyroth.
"Aku tidak selera," tolak Celine. Meski sesungguhnya dia teramat lapar. Tapi dia terlalu benci dengan kebohongan Dyroth. Tidak pernah Celine menolak makan segenting dan sedarurat apapun persoalannya. Tapi entah mengapa saat mengingat Dyroth dan kebohongannya, Celine kehilangan napsu makannya pula.
Celine tetap berdiri di sana. Karena bosan dia mendekati pintu dan mencoba membukanya. Tapi tidak bisa. Sesekali dia menatap Dyroth. Hendak menanyakan pada Dyroth cara membukanya. Namun karena yang dia lihat bukanlah seperti Dyroth yang biasa, dia tetap diam.
Dyroth makan layaknya manusia biasa. Tidak ada perbedaan dengan manusia pada umumnya. Awalnya Celine mengira kalau pria di depannya itu adalah makhluk lain, jenis baru di dunia tersebut.
"Apa dia manusia?" tanya Celine dalam benaknya.
Tring!
Suara garpu besi yang terbalik terdengar. Dyroth selesai makan. Dia kemudian berdiri beranjak dari kursi. Kemudian berjalan mendekati pintu.
Melihat Dyroth mengarah ke dekat Celine, membuatnya meminggir karena tidak suka bila berdekatan dengan pria itu. Dia juga menutup nutupi badannya karena pakaian yang dia pakai terlalu minim. Pahanya terlihat, pusat, perut, dan badannya di bagian belakang juga terbuka, tidak tertutupi. Terlalu risih, Celine tidak biasa dengan pakaian minim seperti itu.
"Aku sudah selesai, makanlah jika ingin," ucap Dyroth."
"Oh," balasn Celine.
Dyroth berjalan melangkah mendekati Celine, tapi wanita itu langsung mundur sambil mengalihkan pandangannya. Dia membuang muka agar tidak melihat wajah pria itu.
Melihat Celine yang menjauh dari dirinya, membuat Dyroth hanya bisa menunggu sampai wanita itu menerima dirinya kembali. Dia membuka pintu lalu hendak melangkah keluar dari sana.
"Kya!" panggil Celine menghentikan langkah Dyroth.
Pria itu berbalik. "Ada apa?" tanya Dyroth.
"Pulangkan aku," suruh Celine dengan nada judes.
"Sudah malam," balas Dyroth.
"Pulangkan aku sekarang!" tegas Celine lagi.
"Istirahat sehari di sini," jelas Dyroth lagi.
Sudah larut sekali. Jika pria itu mengantarkan dia pulang, bisa-bisa nyawanya terancam. Sebab dia adalah orang yang tengah diinciar seluruh kerajaan. Dia dibenci dan hendak dimusnahkan oleh mereka. Jika sampai wajahnya terlihat dan auranya tercium oleh orang-orang, yang ada dia akan ditangkap dan di bunuh.
Terutama karena kedua kerajaan tengah membuat sebuah siasat dalam menghancurkan dirinya. Jika dia masuk ke dalam kandang tersebut, sama artinya dengan bunuh diri. Untuk itu malam ini Dyroth tidak bisa menghantarkan dirinya.
"Aku tidak bisa. Nanti aku terbunuh," jawab Dyroth.
"Apa? Aku tidak yakin. Bukannya kau kuat? Kau hanya berpura-pura lemah di depanku!" sangkal Celine.
"Aku serius tentang itu," sambung Dyroth.
Celine terdiam ketika melihat raut wajah Dyroth. Tampak kalau dirinya benar-benar jujur dengan perkataannya. Mungkin memang benar kalau dia sedang diincar oleh dunia.
Celine juga sedikit tidak tega jika pria itu sampai tertangkap dan dibunuh karena dirinya. Akhirnya dia berhenti meminta agar dipulangkan malam itu.
"Baju apa ini? Aku minta ganti," ucap Celine cerewet meminta.
"Tidak ada pakaian lain, hanya itu," balas Dyroth.
Wanita yang pertama kali dia lihat tadi memang berpakaian seperti yang dia pakai. Mungkin yang tengah dikenakan oleh Celine adalah pakaian dari wanita tersebut.
"Aku merasa miris melihat kalian," ejek Celine.
Dyroth tertawa. Jika Celine sudah mengumpat begitu, artinya dia sudah bisa menerima keadaan. Dia sedikit lebih tenang dalam mengontrol wanita keras kepala seperti Celine.
"Aku akan suruh mereka menjahitkan pakaian untukmu. Bajumu kotor, jadi aku membuangnya," terang Dyroth.
"Kau?! Kau yang membuka bajuku?!"
"Tidak, hanya membuang saja," ucap Dyroth.
"Jika lelah, biar aku antarkan ke kamarmu."
Celine mengerucutkan bibirnya. Lalu dia berjalan dengan hentakan kaki menuju meja makan. Dia memegang sendok dan garpu lalu menuangkan segala makanan dan lauk yang sedao baginya. Lalu dengan sedikit raut tidak senang dia tunjukkan pada Dyroth.
"Awas kalau sampai ada racun di sini," gerutu Celine sambil sambil mengunyah makanan.
"Hahaha … aku tidak tega membunuhmu," lawak Dyroth sambil tertawa.
Untuk menghilangkan rasa tidak mood Celine dengan keadaan yang membingungkan sekarang, dia menanyakan pada Dyroth langsung tentang dirinya dan juga tempat tersebut.
"Sebenarnya … kau siapa?" tanya Celine.
Ketika Dyroth melangkahkan kakinya mendekati Celine, wanita itu langsung menyuruh agar pria itu tidak mendekat ke arahnya.
"Tetap di sana!"
Dyroth langsung berhenti. Kakinya tidak lanjut melangkah. "Jawab dari sana saja," tambah Celine memerintah.
"Kenapa aku bisa dikontrol begini?" Dyroth kebingungan dengan dirinya yang tiba-tiba saja sabar menghadapi situasi. Dia adalah seorang yang kejam. Jika tidak suka, bisa-bisa dia langsung merenggut nyawa orang yang dia benci. Tidak jauh beda dengan Darchen. Hanya saja Darchen lebih adil dalam menghukum orang lain. Sedangkan Dyroth, dia orang yang agresif. Tidak mementingkan siapa yang dia lukai. Bahkan orang terdekat sekali pun tidak membuat dirinya berwelas asih. Jika tidak benar baginya, maka tidak benar.
Namun entah apa yang membuatnya menjadi b***k di depan Celine. Sedikitpun dia tidak bisa berkutik menyakiti wanita itu. Padahal ketika dipandang sedikitpun tidak ada yang menarik.
Awal dia menjadi tergiur pada wanita itu bukan didasari atas rasa suka. Dia hanya butuh jenis sihir milik Celine. Tidak ada yang lain. Beberapa waktu yang lalu dia juga hendak mengambil magis Celine. Tapi karena sedikit penghalang, dia tidak bisa. Hari dimana mereka bertemu untuk kedua kalinya. Dyroth sudah bersiap mengambil magis Celine, hanya saja dia tidak bisa.
Lalu dia hendak mencoba untuk kedua kalinya di pertemuan mereka yang ketiga. Tapi dia gagal, sebab perhatiannya tercuri. Hingga pada akhirnya dia jatuh dalam buaian Celine. Dia merasa mendapat kehangatan dan ketulusan. Tidak pernah sekalipun dia merasa begitu, tapi hari itu juga Dyroth menemukan orang tersebut.
Dia tidak memiliki ibu ataupun ayah. Dia hanyalah seorang yang hidup sebatang kara. Dia tidak dilahirkan, tapi dia tercipta. Bahkan dia sendiri tidak tahu tujuannya hidup di dunia, tapi seiring berjalannya waktu dia tahu, kalau dirinya diciptakan untuk membuat dunia damai.
Dia memiliki tugas untuk merebut kembali hak meraka yang telah hilang. Ketika dia bangun untuk pertama kalinya, dia sudab disambut oleh orang lain yang menyebut dirinya sebagai raja. Dia bangkit dari peti emas beralas kain merah dengan dipenuhi bunga indah di sisinya. Dia juga disembah. Dia sedikit bingung. Hanya saja ingatannya sedikit demi sedikit terputar. Dia melihat kejadian masa lalu di kepalanya.
Kini dia paham. Dia adalah sebuah kebangkitan bagi bangsa mereka. Mereka terus ditindas. Hanya sebuah hak yang mereka perlukan.
"Aku Raja Dyroth Alucard. Kalian sering menyebut Pemimpin Yumiro," kata Dyroth dengan tegas dan lantang.
"Uhuk … uhuk … uhuk." Celine sampai tersedak karena mendengar Dyroth. Dia langsung mengambil minum dari sisi sebelah kirinya. Lalu kemudian dia menatap Dyroth. "Jangan bercanda!"
"Aku serius," jawab Dyroth.
Celine sungguh tidak bisa membayangkan betapa lihainya Dyroth menutupi identitasnya selama mereka bersama. Dia hanya mengenal pria polos dan lugu. Dia juga tahu kalau Dyroth diincar oleh Kerajaan Athiam, tapi dia tidak pernah terpikir kalau orang yang dia jumpai itu adalah seorang Pemimpin Yumiro.
Celine langsung teringat akan perang yang akan berlangsung besok hari. Jika Dyroth sampai terbunuh ketika perang, dia akan bersedih, sebab pria itu sangat baik dan perhatian padanya. Pria itu terus melindungi dirinya. Tapi jika bukan Dyroth yang gugur di medan perang esok, artinya Darchen dan teman yang lainnya harus mati.
Entah apa yang ada di pikiran Celine, sehingga dia bisa ragu dengan keputusannya. Dia membenci Pemimpin Yumiro, tapi dia tidak suka bila Dyroth harus mati.
Seandainya jika perang itu bisa dia hentikan, mungkin tidak akan ada korban jiwa. Perdamaian tidak akan bisa dikibarkan sebab persiapan perang telah dilakukan. Lagi pula bagi kedua belah pihak perdamiann adalah hal mustahil.
Jika Celine memberitahu pada Dyroth kalau besok Negeri Seberang dan Negeri Athiam akan menyerang mereka, bisa-bisa mereka akan melakukan persiapan yang matang, sehingga kemungkinan menang bagi Darchen semakin kecil. Tetapk jika dia tidak mengatakannya Dyroth akan menghilang.
"Kenapa semua masalah hanya aku yang menanggungnya? Kenapa?!" teriak Celine.
"Tenangkan dirimu," nasehat Dyroth.
"Berhenti bersikap peduli. Aku akan lebih tenang jika kalian tidak bermuculan. Kalain hanya membuatkan semakin gila," ungkap Celine dengan nada keras.
Jika saja Dyroth tidak datang padanya, mungkin dia akan dengan mudahnya menyetujui kalau perang itu berlangsung. Hanya saja dia mengenal Dyroth. Meraka bahkan menghabiskan hari bahagia bersama. Bagaimana mungkin dia bisa menghancurkan kenangan itu. Sungguh dia tidak bisa.
Dyroth memanggil wanita itu lalu menyuruh agar diantarkan ke kamar yang mereka siapkan untuk Celine.
"Turuti apa yang dia katakan," perintah Dyroth pada wanita itu.
Kemudian Dyroth pergi setelah menyampaikan perintah pada wanita itu. Dia membiarkan mereka berdua bersama. Sebab jika dia masih muncul di hadapan Celine untuk saat ini, bisa-bisa semakin membuat Celine depresi.
Dia tahu kalau wanita itu sedang kacau pikirannya. Belum lagi seperti yang dia dengar kalau status Celine tidak jelas. Dyroth tahu kalau Celine hanyalah tamu di kerajaan Athiam. Dia bukan bagian dari mereka. Dia juga tahu kalau Celine memiliki status yang tidak jelas. Bahkan keluarga pun tidak ada yang bisa ditemukan.
"Apa dia makhluk asing?" tanya Dyroth pada dirinya sendiri.
Ketika Dyroth telah sampai ke dalam kamarnya, Celine masih tidak ingin beranjak dari kursi. Dia tetap di sana tanpa melakukan apapun. Sedangkan wanita itu diam menatap dan memperhatikan gerak-gerik dari Celine.
"Apa tujuan Dyroth sebenarnya? Kenapa dia menangkapku? Au yakin dia sudah merencanakan segalanya sejak awal," duga Celine.
Celine baru tersadar akan satu hal. Dia sempat curiga dengan kematian orang-orang di acara Perdamaian itu. Mayat-mayat tersebut selalu berkaitan dengan orang yang mengganggu Celine. Bahkan untuk yang terakhir kali, 5 mayat mati sekaligus ditemukan dengan luka yang teramat parah, bahkan sampai tidak dikenali lagi. Sebelum kematian tersebut Celine dan Dyroth bersama terus, jadi kecurigaan Celine tidak bisa didasari. Bisa-bisa dia dikatakan menuduh. Tetapi dugaan lain telah dibenarkan, ketika pria yang hampir memperkosanya saat itu juga mati di tempat kejadian. Lalu ketika Celine ingin melihat, Dyroth langsung menarik dan melarang untuk berbalik.
Akhirnya Celine tahu siapa dalang dari pembunuhan tersebut. Dyroth lah pelakunya. Alasan dia melakukannya itu tidak pasti. Yang Celine tahu adalah orang-orang tersebut pernah mengganggu Celine.
"Apa dia membunuh meraka karena ku?" tebak Celine.
Celine kemudian berdiri. Dia meminta agar wanita itu mengantar dirinya ke kamar Dyroth.
"Dimana kamar Dyroth?" tanya Celine pada wanita itu.
Namun wanita itu diam saja tidak menjawab. Dia terus membawa Celine jauh dari tempat makan tadi. Sampai akhirnya wanita itu berhenti. Lalu dia mengisyaratkan pada Celine agar masuk ke dalam.
Celine langsung membuka, kemudian dia melihat situasi di dalam. Ruangan itu tampak normal, tidak ada yang aneh. Tetapi dia tidak melihat Dyroth di sana.
"Aku bilang kamar Dyroth!" tegas Celine pada wanita itu dengan nada menyuruh.
Wanita itu memiliki perasaan tidak enak terhadap Celine. Dia takut kalau wanita bitu menyakiti Dyroth. Untuk menjaga keamanan dan keselamatan rajanya itu, dia tidak menunjukkan Celine pada kamar Dyroth.
"Hey … dimana kamar Dyroth? Apa perlu aku berteriak di sini sampai Dyroth mendengarnya?" Ancam Celine.
Wanita itu menatap Celine kemudian dia menunjuk sesuatu. Bermaksud kalau dia akan menuntut Celine ke kamar Dyroth."Harus diancam dulu," celetuk Celine.
Ketika sampai di depan pintu kamar Dyroth. Wanita itu mengetuk pintu tersebut. Tetapi tidak mendapatkan sahutan dari dalam.
Dengan lancang Celine hendak masuk tanpa seizin Dyroth dari dalam. Tentunya wanita itu langsung menarik Celine, menghentikan Celine yang liar itu bertindak tidak sopan di tempat mereka.
"Aku tidak akan rusuh di sini. Lepaskan aku!" suruh Celine memerintah.
Wanita itu melepaskan genggamannya. Dia sebenarnya sudah tidak tahan lagi dengan Celine, dia ingin sekali mencabik-cabik wanita itu, hanya saja karena Dyroth terlalu melindungi Celine, membuat dia harus menahan diri.