Semua Palsu

2014 Kata
Celine tidak terlalu memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Dyroth. Dia hanya menganggap kalau pria itu sedang bergurau asal bicara saja. Celine merasa kalau Dyroth tidak serius. Sampai akhirnya Celine terkejut dengan ucapan Dyroth selanjutnya. "Kau tidak boleh pergi kemanapun," ucapa Dyroth. Saat itu Celine yang semula baik-baik saja memperhatikan bunga yang bermekaran dan tumbuh indah, seketika tidak berekspresi. Dia menatap wajah Dyroth dengan senyum paksa karena kebingungan. "Apa kau sedang bercanda?" Tanya Celine dengan muka senyum terpaksa. Dyroth memetik bunga sezelia, lalu meletakkannya di atas telinga Celine. Kemudian dia tersenyum. Dia seolah tidak mendengarkan Celine. Dia terus menatap bunga itu, entah apa yang dia pikirkan. Tapi Celine merasakan sesuatu yang aneh dari pria itu. Tidak seperti biasanya Dyroth berperilaku seperti itu. Dia adalah pria jujur dan polos, tapi tadi baru saja Celine merasakan kalau ada sesuatu yang berbeda dari Dyroth. Tidak tahu letak keanehan itu, tapi Celine merasakannya. Celine bisa melihat mata Dyroth sedang membayangkan sesuatu yang tidak bisa Celine tebak. Hanya saja mata itu tidak biss berkhianat. "Ada apa denganmu, Dyroth?" tanya Celine. "Kau cantik sekali," celetuk Dyroth. "Ahhhh … kau bikin malu saja," sambung Celine. Dia memegang pipinya yang hampir memerah karena mendengar pujian dari Dyroth. Di dunia nyata Celine hanyalah manusia biasa yang tidak ada pengagumnya. Dia hanya wanita yang bekerja pagi sampai sore, lalu berkeliaran di malam hari bersama temannya. Waktunya tidak pernah dia habiskan bersama lelaki. Entah itu karena kurang menarik, atau dia yang tidak ingin menjalin hubungan dengan orang lain, tapi dia adalah seorang gadis yang belum pernah sama sekali berpacaran atau memiliki kekasih. Dulu dia sempat hampir gila karena statusnya yang tidak pernah kunjung berpacaran. Dia melakukan kencan buta sesuai dengan suruhan temannya. Tapi tidak ada satupun yang berhasil. Alasannya banyak. Baik itu karena pria yang dia kencani sudah punya pacar sebelumnya, atau karena kurang nyaman dengan Celine. Sungguh hanya Lyn yang menemaninya saat itu. Dia hanya dekat dengan satu pria, dan tidak mengenal pria lain. Hingga akhirnya cintanya jatuh pada Lyn. Saat itu Celine berpikir kalau dia telah jatuh cinta. Tapi dia salah. Ternyata perasaannya terhadap Lyn hanyalah karena takut kehilangan saja. Dia terlalu nyaman dengan Lyn sampai dia mengira kalau dia mencintai Lyn. Kini setelah hatinya jatuh pada Darchen, Celine baru sadar. Dia melihat perbedaan rasa itu. Dia pada Lyn hanyalah karena saling menyayangi, sedangkan pada Darchen karena memang dia ingin hidup bersama dengan pria itu selamanya. Ketika Celine masih sedang asyik tersipu dengan pujian itu, tiba-tiba guntur bergemuruh. Seketika langit menjadi kabut. Tidak ada hujan saat itu, hanya kabut yang menyelimuti sekeliling. Pandangan buram karena kabut tebal itu. Hanya saja yang membuat langit itu terasa aneh adalah ketika gelapnya terlalu hitam, padahal hari seharusnya terik. "Astaga! Bagaimana ini?" Celine sibuk mencari tempat perteduhan. Tapi di sana hanyalah padang bunga yang luas tanpa atap untuk berteduh. "Apa kita kembali saja?" tanya Dyroth. "Tidak tidak … kita berteduh dulu. Nanti kau sakit," jawab Celine. Dia memegang tangan Dyroth menariknya ke bawah sebuah pohon yang berdiri kokoh dengan daun yang amat lebat. Setidaknya mereka bisa berduh di sana, meski rintihan hujan bisa mengenai mereka. Celine membuka halai gaunnya seperti selendang yang dia ikat di pinggangnya, lalu menutupkan kain itu ke kepalanya Dyroth. Dia takut kalau pria itu sakit jika tertimpa hujan. Sebab yang dia ketahui bahwa pria itu adalah anak sebatang kara. Tidak ada yang akan mengurusnya jika sampai jatuh sakit nanti. Jadi dia benar-benar ekstra menjaga Dyroth, jangan sampai hujan menimpa pria itu. Duar! Petir menyambar tempat di depan mereka. Cahaya itu seolah hampir menyayat mata mereka. Sampi Celine terkejut hampir pecah jantungnya. Untungnya Dyroth sigap langsung memeluk Celine hingga cahaya itu tidak terlalu jelas di mata Celine. Dyroth menutup telinga Celine lalu memeluknya. Dia bisa merasakan kalau wanita itu bergetar. Dia tahu kalau wanita itu adalah seorang yang penakut, hanya saja berpura-pura seolah paling kuat, dan terus bersikap ingin melindungi orang lain, padahal jelas-jelas dia pun membutuhkan perlindungan dari orang lain. Celine yang ketakutan itu memegang badan Dyroth kencang. Sama sekali dia tidak melepas dan terus menyembunyikan wajahnya dari dunia. "Tenanglah, aku ada di sini," ucap Dyroth lalu mengelus rambut Celine agar tenang. Dia tersenyum saat itu. Dia terlalu senang, sebab dia bisa merasa kalau dirinya dibutuhkan oleh Celine. Anehnya meski petir sudah saling bersahutan. Tapi tidak ada hujan yang turun membasahi bumi. Kering tidak ada setitik air yang jatuh. Celine teringat akan sesuatu. Dia baru sadar kalau Pemimpin Yumiro akan datang besok. Perang akan segera terjadi. "Darchen!" Tiba-tiba Celine berteriak. Dia seperti meresahkan seseorang. Dia takut kalau terjadi apa-apa pada Darchen besok. Tidak ada yang bisa menjamin dia kembali pada Celine lagi. Dia takut kalau hidupnya akan sepi. Baik itu Genah, Dion dan yang terpenting Darchen. Dia tidak kuat membayangkan kepergian orang-orang tersebut. "Kita harus kembali!" Celine bertindak tergesa-gesa. "Tenanglah! Celine … tenangkan dirimu," ucap Dyroth menenangkan Celine. Wanita itu tampak panik seolah memiliki penyakit jiwa. Dia seperti orang depresi, terlalu cemas dan ketakutan. "Pemimpin Yumiro … dia … dia akan datang. Dyroth, kita harus bersembunyi, kita harus bersembunyi!" Celine berteriak meminta agar mereka bersembunyi. Dyroth baru tahu kalau wanita itu memiliki penyakit mental. Bisa dikatakan kalau Celine mengidap depresi. Dari wajahnya terlihat kalau dia ketakutan, tengah cemas akan sesuatu. "Dia tidak akan menyakitimu, jadi tenangkan pikiran dulu," timpal Dyroth. Dia terus memegang tangan Celine agar wanita itu tidak pergi berlari. Dia melihat Celine bersikap keras untuk pergi dan bersembunyi. Dyroth sudah menduga kalau Celine memiliki kecemasan tingkat tinggi saat petir yang menyambar tadi. Getaran tubuh itu terbilang tidak normal. Ditambah setelah sambaran guntur itu terjadi, Celine langsung berteriak menyebut nama Darchen. "Apa Darchen akan baik-baik saja?" tanya Celine pada Dyroth. "Tenanglah, Celine," ucap Dyroth lagi. "Genah … Genah … dia tidak boleh pergi turun perang. Aku takut dia tidak kembali," kata Celine terus-menerus. Pikirannya kacau sampai dia tidak bisa mengontrol diri. Dyroth yang tidak tega melihat wanita itu bertindak aneh seperti itu, membuat Dyroth terpaksa menutup mulut Celine. Dia menghilangkan kesadaran wanita itu. Kemudian dia membawanya pergi dari sana. "Mereka tidak boleh merebutmu dariku." *** Suara genangan air terdengar sayu di telinga Celine. Dia mendengar decisan air hingga membuatnya tersadar. Dia membuka matanya kemudian. Meski penglihatannya masih belum pulih, pandangannya kabur karena kepalanya terlalu berat untuk bangkit. Ketika dia sudah berhasil duduk, tiba-tiba tagannya tidak sengaja menyentuh air. Spontan Celine kaget, melihat kalalu dirinya tengah terapung di atas air dengan lapisan daun hijau tipis yang menampung dirinya tidak terjatuh ke dalam air. Kolam persegi panjang itu dipenuhinya kelopak bunga mawar merah. Yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika dia melihat tubuhnya, dan mendapati pakaiannya berganti. Berwarna merah dengan panjang sampai ke matahari kaki, tapi terbuka sampai ke atas paha. Sangat terbuka. Sampai Celine tidak nyaman dengan pakaian berwarna merah itu. Kemudian d4d4nya hanya tertutup di bagian menonjolnya saja. Sementara pusat dan badannya terbuka. Saat itu pakaiannya seperti seorang pengantin baru. Celine tentu bertanya-tanya dalam benaknya. Dimana dia? Siapa yang membawanya? Lalu tempat seperti apa yang sedang dia pijak? Semua itu muncul di kepalanya Celine. Sungguh dia tidak dapat menjawab semua pertanyaan tersebut. Sampai seorang wanita masuk ke dalam kolam tersebut. Wanita itu tersenyum ramah dan lembut. Kemudian dia berdiri di pinggiran kolam kemudian menarehkan tangannya. Dia membantu Celine naik ke atas. "Dimana ini?" pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut Celine pada wanita itu. Tempatnya seperti sebuah kerajaan, hanya saja sedikit lebih kecil dibandingkan dengan Kerajaan Athiam. Terlihat mewah. Bahkan kolam itu telah di semen dengan rapi, lalu pinggirannya terdapat karpet berwarna merah. Yang paling membuat Celine kagum adalah ketika kolam itu berada di dalam sebuah ruangan beratap indah. Sangat nyaman sampai Celine pelanga-pelongo melihat sekitar. Tidak ada jawab dari wanita itu. Dia hanya berjalan sambil memegang tangan Celine menuntunnya berjalan keluar dari kolam tersebut. Sampai di pintu, Celine semakin dikagetkan. Pintunya terukir inda besar dan tinggi. Sampai Celine untuk melihat ujung pintu tersebut harus mendongak ke atas. Terlalu tinggi sampai lehernya pegal karena terus melihat ke arah atas. "Kemana kau membawaku?" tanya Celine. Wanita itu tetap tidak menjawab. Dia terus tersenyum tanpa pernah luntur dari wajahnya. Sampai mereka sampai di sebuah ruang makan. Ruangan itu tidak jauh beda dengan tempat sebelumnya, dimana pertama kali kesadaran Celine kembali. Lantai yang dilapisi karpet merah, ruangan yang dipenuhi lilin, sebuah bangku dan meja yang sudah tertata rapi di sana. Sangat indah. Seperti bayangan Celine pada rumah orang Eropa kuno. "Seperti tempat vampir," celetuk Celine. Sebenarnya Celine takut dijadikan wanita pemuas di sana, sebab dari pakaian yang dia kenakan kini tampak seperti seorang w*************a. Tapi dia terus menenangkan pikirannya. Dia takut kalau semua ini hanyalah jebakan untuknya. "Tidak bisakah kau bicara? Aku bertanya padamu," ungkap Celine yang sudah mulai kesal. Mata wanita itu berubah menjadi dingin. Senyuman itu telah luntur dari wajahnya. Tangannya sudah terkepal. Celine sampai menjauh dari wanita itu karena takut dengan ekspresi yang dikeluarkan wanita itu. "Oh, jadi kau tidak tuli," celetuk Celine sembarang bicara. Mulutnya memang sangat tidak bisa berkata-kata lembut, dia langsung mengeluarkan apapun yang ada di pikirannya. Jika dia suka, dia akan katakan. Tapi jika dia tidak suka, dia juga akan ungkapan. Mungkin celetuk Celine itu menyinggung perasaan wanita itu. Sampai tiba-tiba tangannya mencekik leher Celine. Wanita itu dengan muka kejinya terus menekan leher Celine, sampai Celine tidak bisa bernafas. Celine mengira akan mati hari itu juga terbunuh oleh wanita itu. Sangat sakit, sampai kesadaran Celine hampir menghilang kembali. Baru saja dia terbangun, kini dia akan tumbang lagi. Hingga akhirnya datanglah seorang pria. Dia menghentikan wanita itu mencekik leher Celine. Wanita itu teramat patuh, dia melepaskan tangannya dari leher Celine. Lalu dia mundur menjauh dari Celine. Dia tidak keluar dari ruangan itu, tapi dia terus memantau Celine. "Dyroth?" Pria yang membantu Celine dari wanita itu adalah Dyroth. Celine sungguh tidak menyangka kalau Dyroth juga berada di tempat yang sama degannya. Celine melihat Dyroth dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Pakian berwarna hitam dan sebuah pin berwarna merah bulat di bajunya. Rambut pria itu semula pendek, tapi Dyroth yang ada di depannya memiliki rambut panjang lurus da hitam. "Apa yang terjadi?" tanya Celine dengan muka bingung pada Dyroth. "Kau cantik memakai pakaian itu," balas Dyroth. Dia tidak menjawab pernyataan Celine, dan malah melihat tubuh Celine dengan pakain terbuka itu. Celine spontan mundur menjauh dari Dyroth. Dia merasa kalau pria di depannya itu tidaklah Dyroth yang dia kenal. Yang menjaga dirinya, dan tidak berani berbuat senonoh padanya. Tapi baru saja, Dyroth di depannya itu sudah berlaku tidak sopan dengan melihat lekuk tubuh Celine. Mata Dyroth sama sekali tidak lepas dari Celine. Dia terus tersenyum seolah menganggap Celine sebagai bonek pajangan yang fungsinya untuk dipandangi saja. Hal itu membuat Celine tersinggung. Sebab tanpa seizinnya pakaiannya telah berganti, lalu dengan mata seperti itu Dyroth melihatnya. Celine mengangkat sebelah tangannya, lalu menampar Dyroth dengan kuat. Dia menatap wajah Dyroth dengan perasaan jijik. Dia juga tidak menyangka kalau Dyroth akan melakukan hal itu padanya. Yang dianggap baik olehnya ternyata adalah seorang yang tidak bisa menghargai dirinya. Padahal Celine tidak tega menampar pria itu, tapi dia merasa direndahkan. Dia merasa kotor setelah ditatap seperti itu oleh Dyroth. Kemudian wanita yang masih terus memantau Celine itu mengeluarkan belati dari tangannya, dan berlari ke arah Celine, dia hendak menghunus belati itu ke perut Celine. Sebab dia tidak suka jika ada seseorang yang kuran sopan pada Dyroth. Dyroth langsung menahan tangan wanita itu, lalu menampar balik wajah wanita itu, sampai tubuhnya terbanting hingga ke tembok yang kira-kira jaraknya terbilang luas. "Jangan pernah muncul di hadapanku," ucap Dyroth pada Wanita itu. Kemudian wanita itu berdiri dan segera pergi dari ruangan itu. "Siapa kau?!" tanya Celine berteriak keras pada pria tersebut. Pria itu tersenyum. Bahkan sudut bibirnya sama dengan milik Dyroth. Dia memegang tangan Celine hendak mengajaknya berjalan bersama agar duduk di kursi lalu makan bersama. Celine langsung menepiskan tangan Dyroth. Matanya yang tajam itu melihat wajah Dyroth dengan perasaan najis. Dia merasa kotor sebab pria itu baru saja memegang tangannya. "Jelaskan siapa kau!!" senggak Celine. "Maaf karena kau harus melihatku sebagai seorang yang hina," ungkap Dyroth. "Jangan katakan kalau kau adalah Dyroth! Jangan pernah katakatan!" "Maafkan aku," ucap Dyroth lagi. "Siapa kau sebenarnya?" "Tetaplah melihatku sebagai Dyroth yang kau kenal. Jangan pernah merubah pandanganmu tentangku lagi, Celine," pinta Dyroth.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN