Akan Terus Menjadi Pelindung

2189 Kata
Kuda hitam milik Panglima Dion, melaju sesuai pacuan darinya. Langkah kak kuda tersebut terdengar terdesak akan sesuatu. "Mohon maaf, Panglima. Kenapa kau terlihat sedang terburu-buru?" tanya Genah keheranan. Dia yang duduk satu punggung kuda dengan Panglima Dion serasa terguncang karena laju yang begitu cepat. "Pangeran menyuruhku untuk mengantarkan kau pulang sebelum matahari terbenam," jawab Dion. "Sebelum matahari terbenam? Bukankah jaraknya terlalu jauh jika diberi waktu sesingkat itu? Mustahil, Panglima," ucap Genah menjelaskan. Mereka kini sedang di jalan, tepatnya hutan lebat yang dipenuhi pohon rimbun. Jika diperkirakan jarak tempuh dari posisi mereka saat ini sampai ke Istana Athiam terhitung sampai besok, saat matahari sudah terik. Tidak akan mungkin bisa sampai sebelum matahari terbit. Secara tidak langsung Pangeran Darchen sedang menghukum mereka dengan permintaan mendesak tersebut. "Kenapa Pangeran Darchen menyuruh kita terburu-buru?" tanya Genah keheranan. "Entahlah, mungkin karena Celine," jawab Dion. "Nona Celine sudah kembali?!" Sedikit Genah menjadi riang. Mendengar itu Genah malah meminta agar Dion memacu kuda lebih cepat lagi. Sebab dia pun sudah tidak sabar lagi melihat Celine, untuk melepas kerinduannya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dia khawatir dengan mental majikannya itu. Dalam batin Dion berkata," Apa dia tidak takut mati?" Susah payah dia menjagakan agar Genah tidak sampai mabuk, tapi wanita itu malah menyuruh dirinya untuk menambah kecepatan lari kuda tersebut. Sungguh dia bingung dengan wanita. Tidak ada satu pun diantara kata-kata mereka yang dipahami oleh Dion. Terlalu banyak lika-liku istilah yang keluar dari mulut para wanita. Kuda hitam milik Panglima Dion, melaju sesuai pacuan darinya. Langkah kak kuda tersebut terdengar terdesak akan sesuatu. "Mohon maaf, Panglima. Kenapa kau terlihat sedang terburu-buru?" tanya Genah keheranan. Dia yang duduk satu punggung kuda dengan Panglima Dion serasa terguncang karena laju yang begitu cepat. "Pangeran menyuruhku untuk mengantarkan kau pulang sebelum matahari terbenam," jawab Dion. "Sebelum matahari terbenam? Bukankah jaraknya terlalu jauh jika diberi waktu sesingkat itu? Mustahil, Panglima," ucap Genah menjelaskan. Mereka kini sedang di jalan, tepatnya hutan lebat yang dipenuhi pohon rimbun. Jika diperkirakan jarak tempuh dari posisi mereka saat ini sampai ke Istana Athiam terhitung sampai besok, saat matahari sudah terik. Tidak akan mungkin bisa sampai sebelum matahari terbit. Secara tidak langsung Pangeran Darchen sedang menghukum mereka dengan permintaan mendesak tersebut. "Kenapa Pangeran Darchen menyuruh kita terburu-buru?" tanya Genah keheranan. "Entahlah, mungkin karena Celine," jawab Dion. "Nona Celine sudah kembali?!" Sedikit Genah menjadi riang. Mendengar itu Genah malah meminta agar Dion memacu kuda lebih cepat lagi. Sebab dia pun sudah tidak sabar lagi melihat Celine, untuk melepas kerinduannya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Dia khawatir dengan mental majikannya itu. Dalam batin Dion berkata," Apa dia tidak takut mati?" Susah payah dia menjagakan agar Genah tidak sampai mabuk, tapi wanita itu malah menyuruh dirinya untuk menambah kecepatan lari kuda tersebut. Sungguh dia bingung dengan wanita. Tidak ada satu pun diantara kata-kata mereka yang dipahami oleh Dion. Terlalu banyak lika-liku istilah yang keluar dari mulut para wanita. ~Istana Athiam~ Kakinya Genah melangkah panjang, berlari ke arah kamar Celine. Dia sudah teramat tidak sabar lagi menemui majikannya itu. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Sampai akhirnya dia menyerahkan segalanya pada Sang Penguasa atas kejadian yang akan mereka lalui selanjutnya. Genah sudah mengira kalau mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Dia yakin kalau pertemuan mereka hanya sebatas sampai di malam Festival Hyros saja. Berakhir dengan perayaan kembang api yang begitu meriah. Begitulah sangkaannya. Tapi ternyata pemikirannya yang pesimis itu terbantah seketika. Mereka dipertemukan lagi dalam keadaan yang sama, meski kedepannya akan ada perubahan alur dari takdir masing-masing. "Nona Celine!" teriak girang Genah dari depan pintu kamar Celine yang sudah dibukanya terlebih dahulu. Dia masuk ke dalam dengan langkah kaki sesak. Kemudian memeluknya erat tubuh Celine. Dia bahagia karena orang seperti Celine dapat dirangkulnya kembali. Dia senang karena Celine tidak meninggalkan dirinya, sama seperti orang-orang terdahulu yang telah meninggalkannya untuk selamanya. "Genah! Astaga! Kau kembali. Huaaaa!" balas Celine. Dia memeluk Genah juga. Sambil berputar-putar dengan posisi masih saling berangkulan, mereka meluapkan sepi karena telah tidak bertemu beberapa waktu lalu. Sekarang mereka bisa dapat saling menggenggam dan melihat hangatnya senyum satu sama lain. Betapa gembiranya kedua wanita itu. Dengan berlebihan, Celine meraung padahal tidak ada air mata sama sekali. Suaranya yang keras itu membuat Genah bahagia. Sebab yang dirindukannya dari Celine adalah kehebohan yang dimiliki oleh Celine. Tidak ada wanita yang pernah dia temui seperti Celine, tidak tahu malu, suka berlebihan, dan ceroboh. Hanya ada satu orang seperti Celine, dan tidak akan pernah ditemuinya lagi dimanapun berada. "Apa kau baru saja sampai?" tanya Celine. "Benar, Nona. Hamba dan Panglima Dion baru saja sampai," jawab Genah tersenyum. "Astaga! Sudah makan, belum?" tanya Celine lagi. "Hari ini belum, Nona. Tapi hamba tidak lapar sama sekali," balas Genah. "Tidak bisa begitu, kau harus makan. Pasti lelah seharian di perjalanan," usul Celine. "Nona," sebut Genah. "Kenapa?" "Apa Anda baik-baik saja?" "Hmmm? Kenapa kau bertanya seperti itu?" "Sebab, malam itu hamba melihat Anda begitu tersiksa," ungkit Genah teringat tentang kejadian malam dimana Pangeran Darchen dan dirinya bertengkar hebat. Disitu Genah benar-benar melihat kekecewaan dari raut wajah Celine. Meski dia ingin sekali membantu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia berdiri di balik pohon besar dan menatap dari kejauhan. "Hahaha … aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Bahkan aku saja sudah lupa dengan kejadian itu," kata Celine. Sungguh benar dia tidak pernah mengingat kejadian malam itu. Dia hanya benci dengan perlakuan Darchen terhadapnya, tapi dia tidak bisa membenci orangnya. "Untunglah, Nona. Hamba khawatir dengan keadaan Anda. Namun, Tuan Alan memberitahukan pada hamba kalau Anda baik-baik saja di sana," jelas Genah. "Aku juga bersyukur. Oh yah, kau mau makan apa. Kau sudah lapar, 'kan?" "Tidak, Nona." "Kalau begitu istirahatlah, mungkin kau kelelahan," usul Celine lagi. Genah pun mendengar perkataan dari Celine. Meski tidak lelah, dia membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Sebab dia tahu kalau Celine akan terus memaksa dirinya agar beristirahat. Sebenarnya ada satu hal yang ingin dikatakan Genah pada Celine. Namun dia mengurungkan niatnya agar tidak menimbulkan kekhawatiran. Saat berjalan menuju kamar Celine, Genah terlebih dahulu menjumpai Pangeran Darchen untuk menyampaikan kondisi Lokasi Prajurit Khusus. Tidak sengaja, dia melihat Putri Erica sedang menangis mengadu pada ayahnya tentang Celine. Akhirnya dia mencoba mendengarkan perbincangan dari kedua iblis terkutuk itu. Pelan-pelan dia mendekat, dan mengendap-endap mendengar kata-kata yang keluar dari mulut mereka. "Dia harus menanggung penghinaan yang telah diucapkannya tadi padaku, Ayah." Sambil berderai air mata, Erica menangis mengadu pada Ayahnya. "Tenanglah, Putriku. Ayah akan meminta Baginda Erogha untuk membersihkan wanita itu dari istana," ucap Ayahnya. "Dan lagi … sepertinya Pangeran Darchen mulai menjauhiku, Ayah. Semuanya karena wanita itu menjelek-jelekkan namaku di depan Pangeran Darchen," tambah Erica lagi berbohong. "Putriku, tidak mungkin Pangeran Darchen menjauhimu, dia hanya butuh ruang saja. Ayah akan membahas ini dengan Raja Erogha," sambung Ayahnya lagi. Ayah Erica bukanlah orang yang jahat ataupun licik. Dia hanya seorang ayah yang tidak bisa menolak setiap permintaan anaknya. Sebisa mungkin dia akan menuruti permohonan dari putrinya yang dia sayangi. Begitu pula dengan Erica. Dia tidak pernah menampakkan sifat aslinya pada ayahnya, sebab dia tahu kalau ayahnys tidak pernah mendidiknya untuk menjadi orang yang jahat. Dalam pengajaran ayahnya, dia hanya dituntut agar menjadi anak yang anggun, baik, lembut, dan bersosial tinggi. Hanya saja karena terlalu takut kehilangan Darchen dari hidupnya, Erica menjadi orang yang menakutkan. Bahkan melakukan segala cara untuk tetap mempertahankan kedekatannya dengan Darchen. Mendengar pembicaraan dari mereka, Genah langsung bergegas ke kamar Celine. Dia harus menjaga keamanan dari majikannya itu agar tidak terjadi apa-apa kedepannya. Sebab dia sudah tahu kalau Erica akan melakukan hal buruk pada Celine. Genah berharap agar Celine tetap selamat dan senantiasa terjaga. Semoga Celine tidak disulitkan oleh Erica, sebab dia tidak ingin kalau nanti kejadian beberapa tahun silam terulang kembali. Dia tidak ingin hal serupa terjadi lagi, dan menimpa Celine. Disaat Genah mengkhawatirkan Celine, disitu pula Erica mulai mencari cara untuk menyingkir Celine dari dunia itu. Tidak melihat kalau Ayahnya akan mengusir Celine dari istana itu, Erica terpaksa harus memainkan cara kejam untuk menyingkirkan Celine dari dunia itu. Dia meminta pada pelayan-pelayannya bagaimana cara terbaik untuk menghancurkan Celine, bagaimana agar dia bisa diusir dari istana dengan penuh hina. "Putri Erica, hamba bisa mengusulkan seseorang yang hebat untuk Anda. Dia memiliki ramuan mujarab yang mungkin bisa menambah siasat dalam perang ini," ucap salah seorang pelayan padanya. "Apa maksudmu?" tanya Erica. "Tuan Putri bisa langsung menemui orang tersebut. Kemudian tanyakan apapun yang sedang Anda cari jawabannya saat ini. Sebab dia bisa memberikan Anda arahan yang tepat," jelas Pelayan itu lagi. "Katakan dimana orang tersebut?" tanya Erica. Dia bersemangat lagi karena tahu kalau ada orang yang bisa membantu dirinya dalam menyingkirksn Celine dari istana. "Hamba akan tuliskan di secarik kertas, Putri. Semoga saja Anda bisa menemukannya dengan cepat," ucap Pelayan itu. "Aku akan suruh orang mencarinya, tenang saja." "Tuan Putri, orang itu tidak akan mau menjawab dan memberi saran pada orang-orang rendah seperti kami. Ada baiknya jika Tuan Putri Erica yang langsung pergi ke sana," usul Pelayan itu. "Sungguh merepotkan saja. Kalau begitu aku akan pergi malam ini saja. Aku takut ketahuan oleh orang lain yang berada di istana ," jawab Erica dengan mulut cemberutnya. Ketika hari sudah gelap, dan saat semua orang telah masuk ke dalam kamar masing-masing. Erica dan Pelayan setianya langsung bergegas menuju tempat yang sudah dituliskan Pelayan tadi untuknya. Dia dengan niatannya itu pergi ke sebuah desa yang terbilang cukup jauh dari istana. Sebelumnya dia belum pernah keluar dari istana tanpa pengawasan, namun demi menyingkirkan Celine, dia nekat melakukannya. Bahkan dia tidak pernah pergi ke luar perbatasan. "Banyak sekali nyamuk," decak Erica kesal sambil memukul tangannya yang sudah dirumuni nyamuk. "Pakai baju tebal, Putri." Pelayan setianya itu mengambilkan kain dari dalam tas, lalu menutupi tubuh Erica dengan kain tersebut. Malam yang dingin itu membuat Erica menjadi depresi. Dia ingin kembali ke istana, tapi sudah berjalan sejauh itu. Dia menangis karena tidak bisa mengendalikan situasi. "Putri Erica, kita akan sampai," ucap Pelayan itu. "Diam! Aku hanya butuh obatku. Ambilkan," perintah Erica dengan suara keras. Pelayan itu mengambilkan air putih dan obat penenang milik Erica. Erica memang memiliki penyakit mental yang senantiasa kambuh. Dia sering depresi. Suka menangis tiba-tiba, mengeluh, tertawa. Emosinya terombang-ambing. Terkadang dia sudah menjadi orang yang lembut. Namun di lain waktu, dia teramat licik. Pelayan setianya bahkan sudah kewalahan dalam menghadapi dirinya. Setiap hari dia selalu mencoba memaklumi sikap Erica, tapi dia malah semakin kewalahan. *** ~Halaman Istana~ "Sudah kuduga," decak Genah. Sesuai dugaannya, Erica pergi ke suatu tempat untuk merencanakan sesuatu yang buruk pada Celine. Dia memantau betul gerak-gerik Erica dengan Pelayan yang dibawanya untuk memastikan perbuatan apa yang akan direncanakan oleh wanita itu. "Genah … apa yang kau lakukan larut begini?" tanya Celine heran saat melihat Genah tengah berdiri di depan pagar istana. "Nona Celine? Kenapa Anda keluar dari kamar?" tanya Genah balik. "Hey hey hey, jawab pertanyaanku dulu," sangkal Celine. "Hamba hanya mencari angin, Nona," jawab Genah menutupi kejadian sebenarnya. Dia tidak ingin kalau Celine mencemaskan masalah Erica itu. Dia hanya bisa menjaga Celine dan berharap agar tidak terjadi apa-apa padanya. Sesekali dia berpikir untuk menyampaikan kabar itu pada Darchen, namun dia juga takut kalau hal itu membuat banyak persoalan di istana. Dia takut kalau Pangeran Darchen kesulitan dalam mengambil tindakan untuk memecah permasalah. Akhirnya dia menyimpan sendiri dan menunggu waktu yang tepat untuk membongkar kelicikan dari Erica yang sebenarnya. "Ehm, bagaimana dengan Anda, Nona. Apa yang Anda lakukan di sini?" tambah Genah bertanya. "Aku mencarimu. Dasar kau ini. Lain kali katakan kalau mau pergi. Aku jadi cemas," umpat Celine dengan muka kesal yang ditekuk. "Maafkan hamba, Nona. Lain kali hamba akan katakan pada Anda," jawab Genah menunduk. "Mari kita kembali ke kamar, Nona," ajak Genah. "Eh? Kau sudah selesai cari anginnya?" "Sudah, Nona." Genah mengangguk. "Kita duduk di sana dulu. Sepertinya aku juga sulit tidur malam ini," minta Celine. "Baiklah, Nona." Mereka duduk di bangku yang terletak di taman istana tersebut. Dengan angin yang tenang itu, membuat mereka merasa nyaman dalam kesepian. "Genah," panggil Celine. "Ada apa, Nona?" "Apa kau tidak punya kekasih?" tanya Celine dengan pertanyaan absurd. Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benaknya ketika mengingat kalau ternyata Genah tidak pernah mendapat waktu untuk dirinya sendiri. "Kenapa Anda menanyakan hal itu, Nona?" "Jawab saja," suruh Celine. "Hamba tidak punya kekasih, Nona. Lagi pula hamba tidak sempat memikirkan hal itu," jawab Genah. "Ehm? Benarkah? Kau tidak sempat? Sibuk sekali dirimu. Aku akan carikan pasangan padamu," ucap Celine sambil tertawa. "Tidak perlu, Nona. Hamba tidak membutuhkannya," jawab Genah menolak. "Wah, kenapa kau cuek sekali? Kau harus punya pasangan, agar kau punya warna dalam kehidupanmu," kata Celine. "Hamba tidak pantas mendapatkan hal semacam itu," balas Genah dengan murung. "Eh? Kau sangat pantas. Siapa bilang tidak pantas?! Jangan sampai aku membakar mulit orang yang mengatakan begitu padamu," amuk Celine kesal. Dia tidak suka jika ada yang merendahkan Genah. Bahkan jika ratu sekalipun yang mengatakan hal begitu pada Genah, Celine akan benar-benar membalas perkataan itu. "Hamba sendiri yang menyatakan demikian, Nona. Hamba rasa kasih sayang dan cinta hanya datang pada orang-orang beruntung saja. Dan hamba buka orang yang beruntung," pungkas Genah. "Aku menyayangimu. Artinya kau beruntung. Jangan terlalu merendahkan dirimu. Kau sangat hebat dan cantik. Bahkan aku tidak bisa dibandingkan denganmu. Jadi jangan berkecil hati karena takdir," kata Celine dengan mulut bijaknya. "Terima kasih, Nona," ucap Genah sambil tersenyum dan menatap Celine dengan bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN