Pendatang Baru

1819 Kata
Kabar bahwa akan diadakannya acara besar di istana, terdengar sampai ke telinga para warga. Seluruh jalan di pemukiman penduduk dipenuhi oleh sorak gembira. Sebab Negeri Athiam akan berdamai dengan Negeri Seberang, setelah sekian lama saling bermusuhan. Tidak ada lagi perampasan dan perompak kejam dari Negeri Seberang. Ditambah setelah perdamaian tersebut terjadi artinya para warga akan lebih luas dalam mencari lahan pertanian dan peternakan. Bagi pemburu-pemburu akan lebih leluasa dalam memanah hewan. Tidak ada batas dan larangan lagi. Tentu saja semua orang gembira. Bukan hanya warga saja yang senang, semua pengawal dan panglima di istana pun merasakan kebahagiaan itu. Sebab, dengan adanya perdamaian tersebut, mereka tidak akan terlalu kewalahan dalam membasmi para Yumiro yang berada di perbatasan antar negeri. Akan ada bantuan dari Athiam dan juga Seberang. Seluruh undangan disebar dk itu seluruh kota. Pengumuman dikabarkan ke seluruh penjuru negeri. Tidak ada batasan bagi orang yang hendak ikut berpartisipasi dalam rangka mendamaikan kedua belah pihak. "Mengapa sangat tiba-tiba?" tanya Celine bingung. "Permohonan perdamaian sudah lama diberikan. Hanya saja baru dicetuskan dua hari yang akan datang, Nona," jelas Genah. Dengan keramaian seluruh kota, Genah sedikit lega. Setidaknya rencana busuk Erica akan terhambat selama beberapa hari kedepan. Ruangannya semakin sempit dalam rencana liciknya. Beberapa hari itu pula Genah bisa untuk tidak terlalu memantau Celine. Dia bisa pergi ke Lokasi Prajurit Khusus beberapa hari ini untuk memberikan informasi sekaligus mengajarkan prajurit-prajurit itu jika ada situasi genting saat ada acara nanti. Selain itu Genah memiliki tanggung jawab untuk mengatur Prajurit Siaga di perbatasan dan di kota. Jadi untuk beberapa waktu dia membutuhkan sedikit kesempatan agar bisa mengurus masalah keprajuritan. Karena dalam waktu dekat akan ada acara besar, Genah sedikit lega, sebab dia tidak terlalu memusingkan lagi tentang keselamatan Celine Erica tidak akan berani mencelakakan Celine saat ini, sebab terlalu banyak mata dan saksi apabila dia berbuat jahat. Lagi pula, Erica kini sedang sibuk mengurusi acara, sebab dia juga merupakan tamu penting dalam acara tersebut. Hingga dia tidak akan sempat mencelakakan Celine. Justru yang dikhawatirkan oleh Genah saat ini bukan hal itu lagi. Dia khawatir kalau Celine berniat usil pada Erica, hingga dapat merusak nama baik Celine sendiri. Untuk itu dia mengingatkan beberapa nasehat pada Celine. Dia menyuruh wanita liar itu agar tetap menjadi wanita yang lemah. Agar semua orang tidak terlalu memperhatikan dirinya. Selain itu Genah juga menyuruh Celine untuk tidak terlalu dekat dengan Pangeran Darchen. Meski Darchen sendiri yang datang, sebisa mungkin menjauh. Sebab terlalu banyak wanita yang mengincar Darchen. Genah takut kalau kecemburuan wanita-wanita itu bisa berimbas buruk pada Celine. Hingga menyebabkan nyawa Celine terancam. Begitu banyak nasehat yang diucapkan Genah. Namun Celine hanya mengangguk pada setiap omongan Genah. Sambil tersenyum dia mengiyakan perkataan Genah. "Aku mengerti," ucap Celine. "Baiklah, Nona. Hamba pergi dulu, Nona," pamit Genah permisi pada Celine. "Heh? Kau mau kemana? Tidak boleh," larang Celine. Dia sama sekali tidak membiarkan Genah pergi dari pandangannya. Sebab dia takut kalau kepergiannya itu berhubungan dengan prajurit khusus lagi. Celine tidak suka jika Genah bekerja di sana. Terlalu berbahaya bagi seorang wanita. Meski dia tahu kala Gena adalah wanita hebat, namun dia mencemaskan keselamatan Genah. Bahkan sampai dia meminta Darchen agar memberhentikan Genah dari sana. Namun tampaknya hal itu tidak bisa dilakukan. Karena menang Genah adalah pion penting dalam lingkaran keamanan negeri. "Hamba hanya menjaga tembok istana dari para penyusup dan pembubuh bayaran, Nona," jawab Genah berbohong. Dia menutupi lagi kejadian sebenarnya. "Aku ikut juga. Bosan di sini terus. Lagian di ruang utama terlalu ramai. Aku tidak suka kebisingan yang mereka perbuat," umpat Celine. "Tidak bisa, Nona. Sebaiknya Anda tetap di sini. Biarkan Hamba saja yang pergi. Hanya sebentar. Hamba akan pulang sebelum malam tiba," ucap Genah. "Tidak boleh, kau harus berada dekat dengan pengawasanku. Aku tahu kau diperintahkan Darchen ke perbatasan. Mengaku!" "Tidak, Nona." Genah terus menyangkal. Sekeras apapun Genah meminta agar diizinkan pergi, Celine tetap tidak memperbolehkan dirinya. Sampai akhirnya dia bisa lepas saat Ratu Sibenth datang ke kamar mereka. "Celine," sapa Ratu Sibenth. "Eh? Salam, Ratu Sibenth," tunduk Celine membalas sapaan tersebut. "Hamba permisi," sambung Genah lagi. Dia membungkuk memberi salam, lalu keluar dari sana. Dia menjadikan peluang kecil itu sebagai kesempatannya untuk pergi ke perbatasan. "Ada apa, Ratu?" tanya Celine. "Tidak, aku hanya rindu dan ingin menyapa. Sekaligus memberikan kau gaun cantik untuk dikenakan saat acara berlangsung," jelas Ratu Sibenth. "Terima kasih, Ratu, hamba merasa tersanjung." "Jangan sungkan begitu. Aku ingin menggunakan baju yang sama denganmu. Jadi akan ada beberapa pilihan untuk kau tunjuk dan kenakan nanti," sambung Ratu Sibenth. "Aku akan pakai apa saja, Ratu," jawab Celine. "Untuk itu aku mendapat ide dengan langsung memilihkannya padamu. Sebentar lagi pelayan akan datang membawanya, tunggu saja sambil berbincang-bincang," pungkas Ratu Sibenth. "Silahkan duduk, Ratu." Celine mempersilahkan Ratu Sibenth duduk bersama dengannya di atas ranjang. "Bagaimana menurutmu tentang Darchen?" tanya Ratu Sibenth. "Eh? Menurutku?" "Iya," angguk Ratu Sibenth. Dia seolah sedang mengharapkan banyak pujian kepada anaknya itu dari mulut Celine. "Aku rasa Darchen baik … ehm iya … dia baik," jawab Celine bingung. Dia menatap Ratu Sibenth dengan pandangan keheranan sebab tiba-tiba menanyakan hal demikian hingga membuat dirinya kebingungan. "Lalu?" sambung Ratu Sibenth lagi. "D-Dia … dia juga hebat," balas Celine dengan gugup. Sungguh dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. "Apa kau mencintainya?" Ratu Sibenth langsung menanyakan ke intinya. Karena sudah tidak sabar lagi dengan jawaban Celine yang tidak menyambung dengan pertanyaannya. Celine langsung tercengang mendengar pertanyaan Ratu Sibenth. Bibirnya terbuka lebar hingga ternganga. "Pertanyaan macam apa ini?" cela Celine dalam benak. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada ratu tersebut. Lagi pula dia tidak akan menjawabnya. Kalau bisa mengelak, dia pasti akan memilih agar terhindar dari pertanyaan tadi. Namun kini dia sudah masuk ke dalam kebingungan. "Hahah … kalau cinta negeri artinya kita juga cinta dengan pemimpin-pemimpinnya," jawab Celine mengelak. "Pandanglah dia sebagai laki-laki, bukan seorang pangeran," suruh Ratu Sibenth. Dia sungguh ingin tahu bagaimana pendapat Celine tentang putranya itu. Dia perlu memastikan perasaan Celine terhadap Darchen, agar dia dengan mudahnya bisa mempertemukan keduanya hingga ke jenjang yang lebih serius lagi. Celine tidak menjawab dan terus menunduk. Dia tidak bisa menjawab Ratu Sibenth. Sebab dia sendiri pun ragu dengan perasaannya. Dia takut kalau sampai mengatakan bahwa dirinya mencintai Darchen, kalau ujung-ujungnya mereka tidak bisa bersama. Namun jika dia mengatakan tidak cinta, kebenarannya sudah didusta. Celine mencintai Darchen. Namun dia tidak ingin memberitahu orang lain bahkan Darchen sekalipun. Sebab dia tahu kalau dirinya tidak lama lagi akan meninggalkan dunia tersebut. "Entahlah, Ratu. Yang utama bagiku adalah bisa beradaptasi dengan semuanya. Aku akan memastikannya nanti," jawab Celine mengelak. "Yang terpenting sekarang adalah … gaun mana yang akan dikenakan?" sambung Celine mengalihkan pokok pembahasan. "Ah ya ampun, kenapa lama sekali? Bersabarlah, dia akan datang." Tidak lama kemudian gaun itu datang dibawa oleh pelayan suruhan Ratu Sibenth. Mereka langsung memilih corak dan warna bagus untuk dikenakan nanti saat acara perdamaian itu. Sungguh Ratu Sibenth berharap orang-orang memandang Celine saat acara itu berlangsung, agar dia dengan mudahnya dapat memperkenalkan Celine pada mereka. Sekaligus hal itu bisa menambah ikatan antara dia dan Celine juga karena sudah memakai gaun sama, yang membuat orang lain mereka memiliki hubungan lebih. Bukan sekedar permaisuri dan tamu. *** Sudah petang hari, Genah juga belum kembali. Padahal tadi dia berasalan pada Celine kalau dirinya hanya pergi sebentar mengawasi tembok di luar istana. Namun setelah Celine mengecek langsung ke tempat itu, tidak ada tugas bagi Genah di sana. Hanya prajurit biasa yang mengawasi tempat tersebut dan beberapa panglima, termasuk Dion. "Kemana dia itu?" Celine mulai resah. Dengan mulut yang terus mengumpat pada Genah membuat Dion mengerti akan satu hal tentang apa yang membuat Genah begitu menyesak dirinya saat pagi tadi. Ternyata karena Celine teramat menspesialkan Genah. Tidak ada yang lebih perhatian pada Genah selain dari Celine. Padahal Genah adalah wanita kuat. Bahkan Yumiro kuat pun bukan hal berat baginya. Namun Celine takut akan kehilangan Genah. Dion melihat Celine berjalan menjauh dari wilayah istana. Dia berjalan ke arah hutan menuju perbatasan. "Celine, sebaiknya kembali. Hari mulai gelap," suruh Dion. "Aku hanya melihat-lihat saja," jawab Celine beralasan. Dia sebenarnya hendak menjumpai Gena yang menurut tebakannya sekarang ada di Lokasi Prajurit Khusus. Dia ingin langsung melihat bagaimana tempat dan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang di sana. "Pangeran Darchen akan mempersulitku," tambah Dion lagi menahan agar Celine tidak melangkah lebih jauh lagi dari Istana Athiam. "Jangan ikuti aku. Aku hanya ingin berjalan-jalan," pinta Celine. Karena sudah dijanjikan oleh Celine, Akhirnya Dion membiarkan wanita itu pergi, dengan satu syarat, yaitu jangan ke jurang, atau menjauhi Athiam. Celine akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi menjemput Genah, diganti dengan menunggu Genah di depan hutan gerbang masuk ke wilayah kerajaan berada. Di ujung jalan itu dia duduk sambil menopang dagunya. Sudah lama dia menunggu namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Genah. Malam hampir tiba, tapi Genah tak kunjung datang. Kalau kembali sekarang sudah tanggung. Dia tetap termenung di sana menunggu sampai Genah datang. Krek-krek! Suara terdengar dari balik tumpukan rumput yang menjulang tinggi. Celine mendekati asal suara itu, hendak memastikan. Dia tidak akan takut pada binatang, karena di area itu jarang adanya binatang buas, palingan hanya binatang kecil seperti kelinci liar atau rusa. Yang ditakutkan olehnya adalah Yumiro. Karena semua orang sibuk saat ini, mungkin beberapa Yumiro kelas tinggi bisa menembus segel magis Negeri Athiam. Celine menepikan rumput itu lalu melihat kondisi di sana. "Eh? Hai … aku tidak tahu ada orang di sini," sapa Celine pada seseorang yang teramat tampan di balik rumput yang bertumpuk itu. Dengan perasaan sedikit terkejut, dia menyapa pria itu. Jika dilihat, pria itu sepertinya bukan orang biasa. Baju yang dikenakannya tampak mewah dan indah. Benak Celine mengatakan kalau pria itu adalah pangeran dari Negeri Seberang yang sedang berkeliling sampai ke ujung jalan wilayah istana. "Apa kau sedang berkeliling?" tanya Celine lagi. Pria itu tetap diam, dan terus menatap Celine. Tanpa mengeluarkan jawaban. Celine merasa terlalu sok akrab jika belum memperkenalkan diri. Menurutnya pria itu juga keheranan melihatnya, karena sebelumnya Celine tidak pernah ada di istana. Sebagian orang tidak mengenal dirinya, apalagi orang-orang dari luar istana dan Negeri Athiam. "Oh, perkenalkan, aku Celine Morgithen, senang bertemu denganmu," ucap Celine sambil membungkuk memperkenalkan dirinya lalu tersenyum setelahnya. Dia mencoba ramah kepada orang-orang dari Negeri Seberang karena dia tahu sebentar lagi akan diadakannya acara perdamaian besar-besaran. "Aku pelayan dari istana," sambungnya lagi. "Pelayan?" balas Pria itu. "Yah," angguk Celine. Pria itu tersenyum," Senang bertemu denganmu." "Apa kau sedang berkeliling? Eh, ngomong-ngomong kau dari Negeri Seberang, kan,? Ehm … apa yang kau lakukan di balik sana? Apa kau tersesat?" tanya Celine berturut-turut tanpa memberi jeda pria itu untuk menjawab. "Apa perlu dijawab semua?" tanya Pria itu. "Eh?" Celine terdiam sejenak. "Hahaha … tidak usah, astaga. Tidak perlu jawab, ya ampun kau lucu sekali," ledek Celine sambil terkekeh. Karena terlalu terbawa suasana, dia tidak sadar telah memukul pundak pria itu lalu tertawa sampai dia hampir ingin buang air kecil. Pria itu bahkan terkejut karena ada wanita yang terlalu cepat merasa akrab. Yang membuat pria itu semakin bingung adalah, mengapa Celine bisa tertawa hebat begitu padahal dia tidak melawak sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN