Resah

1746 Kata
Rambutnya lurus hitam mengkilap. Tertata rapi membentuk wajahnya yang tirus. Sedikit helaian rambut bagian depannya terbang terhayun melambai. Bibirnya merah dengan garis yang begitu tipis halus. Matanya berwarna coklat gelap namun memikat. Hidungnya begitu indah bahkan seperti suda dipermak. "Apa kau manusia?" tanya Celine asal bicara. Deg! Pria itu terkejut. Tiba-tiba matanya terbelalak menghadap Celine. "Hahaha … aku hanya bercanda. Oh yah, siapa namamu?" tambah Celine. "Aku Dyroth Alucard," jawabnya memperkenalkan namanya. "Astaga!" teriak Celine lalu menutup mulutnya seketika dengan mata terbuka lebar. Jantung pria itu kembali berdetak kencang. Terus saja dia terkejut dengan ekspresi wajah Celine. Seakan wanita itu mengetahui segalanya. Membuatnya resah akan satu hal yang selamanya harus tertutup rapat dan tidak boleh terbuka ke sembarang orang. "Namamu indah sekali. Seperti … seperti hero di game, aku suka," puji Celine. Dia tidak habis-habis bercerita tentang game di dunia nyata yang dulu pernah dia mainkan. Padahal orang di era itu tidak tahu sama sekali tentang dunia tempat Celine tinggal dulu. Bahkan lampu saja hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya, apalagi barang teknologi. "Game?" "Hahaha … tidak usah pikirkan. Oh yah, kau hendak ke Istana Athiam juga?" tanya Celine. "Bisa dikatakan begitu," jawab Pria itu yang bernama Dyroth Alucard. "Aku juga. Tapi karena sudah malam, aku tidak berani pulang sendiri. Sebaiknya kita berdua bersama pergi ke sana," usul Celine. "Apa kau benar seorang pelayan?" tanya Dyroth. "Eh? Sebenarnya aku bukan pelayan," jawab Celine jujur. "Putri?" "Bukan," balas Celine. "Anggota prajurit?" "Ehm, yah bisa dikatakan begitu," angguk Celine. Pantas saja saat pertama bertemu dengan Celine, Dyroth sudah merasakan sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Seolah dia sedang terhisap ke dalam sebuah perangkap khusus penyedot magis. Dyroth juga tidak bisa terlalu dekat dengan Celine. Namun karena sudah dapat beradaptasi, dia mulai bisa sedikit lebih dekat dengan wanita itu. Dyroth penasaran akan satu hal dari wanita itu. Namun dia tidak bisa langsung bertanya. Wanita yang ada di sampingnya kini bukanlah seseorang biasa saja. Terlihat kalau wanita itu teramat berbahaya bagi musuh dan merupakan jimat keberuntungan bagi sekutu. Pelan-pelan dia mendekat ke arah Celine lalu mencoba menyentuh tubuh wanita itu. Walaupun hanya sentuhan kecil, dia harus memastikannya. Ketika tangan wanita itu tadi memukul pundaknya, terasa terbakar saat bersentuhan. Seperti sebuah energi yang saling bertolakan. "Magis macam apa yang dia miliki?" gumam Dyroth dalam hatinya. Sudah setengah jalan mereka lalui. Namun Celine hanya berdiam diri sendiri tanpa ada sepatah kata pun keluar dari Dyroth. Sudah lama dia menunggu agar keheningan mereka pecah. Tapi pria itu termenung entah sedang memikirkan apa. "Hey, kenpa kau berangan-angan saat berjalan?" Celine mencoba mengejutkan Dyroth Alucard dengan menepuk pundak pria itu, lagi. Pundaknya terasa panas seolah terbakar lahar panas. Seketika magisnya terasa terhisap ke dalam tangan wanita itu. Sampai tulagnys ikut menggigil saat terkena sentuhan tangan Celine. "Ah maaf, sakit yah?" Celine merasa bersalah karena sudab lancang memukul pundak Dyroth. Dia terlalu senang bisa berkenalan dengan pria itu hingga ingin sekali cepat akrab. Selian wajahnya yang tampan, tampak kalau Dyroth adalah seseorang dengan tipe pria polos. Hingga membuatnya bersemangat untuk mengisi hari-hari Dyroth yang mulus. Dia hendak memberi lika-liku dalam perjalanan hidup Dyroth. Tanpa tahu latar belakang dari pria yang baru saja dia kenal tadi. "Tidak," jawab Dyroth berbohong. Tidak terasa perbicangan mereka menyita lelah saat berjalan hingga depan gerbang masuk ke dalam istana. Diantara mereka bahkan tidak ada yang sadar kalau ternyata kaki mereka telah melangkah jauh dari dugaan. Bahkan Celine tidak merasa takut sama sekali dengan suara-suara aneh yang mengeringi langkahnya sebab ada Dyroth di sampingnya. "Wah, kita sudah sampai. Tidak terasa," ucap Celine sambil mengela nafasnya. "Ya. Aku senang bisa berkenalan denganmu," balas Dyroth sambil menatap Celine dengan senyum ramah. "Aku juga. Kalau ada kesempatan kita bisa berjalan-jalan bersama. Aku bisa ajak kau berkeliling pasar di sini," tambah Celine. "Aku sudah tahu area pasar, karena aku penguasanya, hahaha," sambungnya bercanda. "Aku menanti hari itu," timpal Dyroth. "Baguslah. Ngomong-ngomong … kau tinggal … eh maksudnya, kau berasal dari Negeri Seberang?" tanya Celine. "Hmmm … bisa dikatakan begitu," balas Dyroth. Ketika ada beberapa pertanyaan lagi yang ingin ditanyakan Celine pada Dyroth, orang yang baru saja dia kenal itu, tiba-tiba Genah muncul dari depan gerbang memanggil namanya keras. "Nona Celine!" panggil Genah. Celine langsung menatap ke arah Genah. "Oy!" sahutnya sambil melambaikan tangan. Genah berlari ke arahnya dengan penuh cemas. Sudah gelap malam begitu tapi Celine masih keluar. Dia khawatir, sebab saat ini Yumiro tengah berontak. Beribu Yumiro telah lepas di kota. Mereka lahir dengan jumlah yang teramat banyak. Sementara perasaan Genah sudah tidak enak. Dia takut kalau Celine sampai tergigit Yumiro. "Dari mana saja, Nona Celine?" "Aku menunggu di ujung hutan sana," jawab Celine sambil tersenyum. "Perkenalkan, ini Dyroth, dia pulang bersamaku" kata Celine mencoba untuk memperkenalkan teman barunya itu pada Genah. "Ehm? Maksud Anda, Nona?" lempar Genah bertanya. Celine keheranan, dia menatap Dyroth. "Dia … eh?!" Pria itu sudah tidak ada lagi di sana. Baru saja sedetik yang lalu dia berdiri tepat di samping Celine. Namun tiba-tiba saja hilang entah kemana. Tanpa ada jejak ataupun pertanda kepergiannya. "Apa Anda kurang sehat, Nona Celine?" "Kemana dia? Aku tadi bersama Dyroth … teman baruku," sunggul Celine lagi. Sesuai kenyataan yang dia alami tadi. Sungguh dia benar-benar yakin bertemu dengan pria tampan tadi, dan bersama pulang ke istana. Tidak mungkin dia sedang halusinasi. Jelas dia merasakan segalanya. Celine mengucek matanya berulang dan mengedipkannya kemudian. Dia hendak memastikan kesalahan apa yang sedang terjadi. Dyroth jelas adalah manusia. Jadi tidak mungkin secepat itu bisa pergi menghilang begitu saja. Jika sekali pun dia adalah jin atau makhluk halus lainnya, sudah barang tentu Celine tidak dapat menyentuh ataupun merasakan kasat tubuh Dyroth. Celine ingat sekali percakapan mereka, baik itu saat pertama jumpa atau saat sedang di perjalanan. Bahkan wajah dan suara Dyroth terlukis indah dan jelas di kepala Celine. Ketampanan Dyroth masih terus terngiang, tanpa ada yang kurang, dengan sempurna Celine dapat menggambarkan ciri-ciri pria itu. "Hamba hanya melihat Anda seorang diri, Nona," jelas Genah. "Apa?! Kau benar-benar tidak lihat dia tadi?" tanya Celine lagi untuk memastikan. "Benar, Nona," jawab Genah. "Tidak mungkin dia menghilang begitu saja. Apa dia setan?" gumam Celine dalam benaknya. "Anda tidak seharusnya menunggu hamba, Nona. Sangat berbahaya," nasehat Genah dengan sedikit memgamuk. "Wah … Genah, sekarang kau sudah menyenggak ku," ucap Celine sambil tersenyum bahagia. Dia senang karena kini Genah tidak segan lagi padanya. Hal itu merupakan kebahagiaan kecil bagi Celine. Sebab kini dia dan Genah akan bisa lebih dekat tanpa ada hubungan antara tuan dan pelayan. "Maafkan hamba, Nona." Genah langsung membungkuk karena tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak marah pada Celine. Tadi itu hanya ungkapan karena dia teramat takut jika sampai Celine kenapa-napa. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi apa-apa pada Celine. "Tidak perlu, aku senang," jawab Celine dengan wajah entah sudah seperti apa. Dia berekspresi bodoh karena membayangkan betapa dekatnya kini mereka. "Sebaiknya kita masuk saja, Nona," ajak Genah. Mereka kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Celine baru sadar kalau dirinya belum pernah mandi seharian. Dia terus menunda waktu hingga akhirnya dia lupa kalau dirinya belum pernah mandi sama sekali. Dia baru ingat ketika Genah menanyakan padanya. Jika tidak ditanyakan oleh Genah, dia tidak akan sadar bahwa dirinya belum juga membersihkan dirinya. "Hahaha … astaga, aku hanya ganti baju saja tadi, hahaha." Celine tertawa terbahak-bahak saat berbicara dengan Genah. Dia bahkan sampai terguling-guling di atas ranjang karena tergelitik dengan kebodohannya sendiri. "Nona, sudah hentikan! Mandi cepat," suruh Genah mendesak. "Baiklah, Putri Genah," sahut Celine bergurau. Dia bangkit dari ranjang, dan langsung membuka bajunya dan kemudian menutup tubuhnya dengan kain tipis. Ketika kain itu dililitkannya ke tubuhnya, dia teringat akan satu hal. Sudah lama dia belum melihat batang hidung Darchen dalam beberapa hari. Bahkan namanya saja disebut tak pernah. Celine penasaran dengan keanehan tersebut. Tidak biasanya Darchen seperti itu. Biasanya dia selalu muncul atau berkabar tentang dirinya. Namun beberapa hari berlalu, dia belum pernah melihat pangeran itu. "Eh, dimana Darchen?" tanya Celine pada Genah. "Pangeran Darchen pergi menjalankan tugas, Nona," jawab Genah. "Tugas? Tugas apa?" "Terdengar bahwa Yumiro telah mengambil kekuasaannya di Pulau Kensy , dengan jumlah sangat banyak." Genah mulai bercerita tentang rawannya dunia mereka saat ini. Beberapa waktu silam, tidak sengaja Raja Erogha dan Raja Sendas dari Negeri Seberang melihat keanehan pada awan. Terlihat bahwa kabut hitam gelap telah menyelimuti langit di terangnya hari. Anehnya, awan itu hanya berputar di atas satu pulau saja. Dengan penuh kewaspadaan kedua belah pihak mengambil keputusan untuk segera menyelesaikan masalah tersebut. Mereka mengirim orang-orang hebat untuk menyelidiki hal tersebut. Sebab pertanda tersebut merupakan sinyal kalau Yumiro telah lahir dengan jumlah berjuta dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Sampai dugaan itu benar-benar terjadi. Yang paling parah adalah ketika mereka yang bertugas melihat Pemimpin Yumiro turun ke muka bumi mereka. Sungguh berita yang mengerikan. Sangat buruk bagi dunia karena hal itu merupakan kutukan bagi seluruh umat di bumi. "Apa Yumiro ada pemimpinnya?" tanya Celine. "Tentu saja, Nona. Sebenarnya mereka juga hidup seperti manusia pada umumnya. Hanya saja ada beberapa diantaranya hanya tingkat rendah, dan merupakan Yumiro yang sering muncul di pemukiman dan hutan," jelas Genah. "Ah, aku baru tahu," decak Celine. "Lalu apa hubungannya ceritamu dengan Darchen?" tanya Celine. Sinyal kabut gelap hitam itu bukanlah pertanda biasa saja. Tapi merupakan tanda bahaya yang sangat genting. Turunnya Pemimpin Yumiro, membuat kecemasan para petinggi dan jajarannya. Bukan hanya Negeri Athiam saja yang mencemaskan hal itu. Namun Negeri Seberang pun ikut resah. Sebab kemunculan mereka sudah mendesak seluruh negeri untuk segera mengatasinya. Jika negeri belum juga berdamai, pemberantasan Yumiro itu tidak bisa dilaksanakan. Oleh sebab itu, dikeadaan genting begitu acara perdamaian tetap dilaksanakan. Meski bumi sedang tidak baik-baik saja, namun acara itu harus dilaksanakan. Untuk berjaga-jaga dari ancaman Yumiro, orang-orang terhebat dari Negeri Athiam dan Negeri Seberang diturunkan menjaga keamanan. Termasuk Pangeran Darchen. Dia mendapati peranan penting dalam penjagaan itu. Bukan hanya pangeran dari Negeri Athiam saja yang ikut di dalamnya. Tetapi pangeran berbakat nan jenius dari Negeri Seberang juga ikut menjaga keamanan. Seluruhnya dikerahkan untuk mengamankan bumi. Biak menjaga perbatasan ataupun pinggir-pinggir negeri. Khusunya di Pulau Kensy. Menjadi tempat khusus bagi Pangeran Darchen dan pangeran dari Negeri Seberang tersebut. "Apa seberbahaya itu?" tanya Celine dengan muka tegang. "Tentu saja, Nona. Bisa dikatakan akan terjadi perang setelah ini. Namun Pangeran Darchen sudah harus turun sekarang. Semoga saja Pangeran Darchen bisa pulang dengan selamat," ucap Genah. Celine langsung menatap Genah. Baru pertama kali Celine melihat Genah resah tentang Darchen. Biasanya Genah selalu yakin kalau Darchen bisa mengatasi segalanya, termasuk perang. Namun mengapa kali ini dia begitu resah? "Apa Darchen akan kembali?" tanya Celine. Genah mengela nafas." Semoga saja, Nona," jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN