Genah mengatakan pada Celine kalau masih ada seseorang lainnya yang terperangkap di dunia mereka, sama seperti Celine. Dia hidup bersama di dunia Celine dan terdekap di dunia asing tersebut.
Celine kala itu sangat senang, sampai dia hampir menangis karena terlau bahagia. Dia tidak tahu harus berkata apa. Matanya berkaca-kaca karena terlalu senang. Bahkan untuk mengungkapkan perasaan syukurnya itu, dia tidak dapat.
Celine ternganga sambik tersenyum, matanya sedikit berair mendengar secercah harapan tersebut. Dia akhirnya memiliki seorang yang dapat diajaknya berjuang bersama, agar bisa keluar dari dunia paralel tersebut.
Celine sudah hampir patah semangat ketika Darchen mengatakan kalau dirinya tidak dapat kembali lagi ke dunia asalnya. Namun akhirnya Genah datang dan membawa harapan baru baginya.
"Genah … terima kasih. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Aku tidak bisa berkata-kata," ucap Celine terharu. Dia memeluk Genah dengan erat sebagai tanda ucapan terima kasih atas kebaikan Genah yang rela pergi berhari-hari hanya untuk mencari informasi tentang cara pulang bagi Celine.
Sementara Darchen yang telah berdiri sejak lama di sana, melihat betapa bahagianya wanita itu. Perasaannya hancur ketika Celine tersenyum seperti itu. Dia merasa sebentar lagi dirinya akan kehilangan sosok yang bisa mengamukinya.
Darchen merasa kesal karena membiarkan Genah pergi menemui Pak Kong. Andai saja dia tidak membolehkan Genah pergi, mungkin harapan itu tidak akan datang pada Celine.
Darchen sudah menebaknya, jika Celine tahu kalau ada orang lain selain dirinya yang terdekap di dunia mereka, Celine akan lebih bersemangat mencari jalan pulang. Sementara Darchen tidak suka jika wanita itu menemukan jalan pulang. Dia hanya ingin Celine tetap berada di dunia yang sama dengannya. Darchen tidak akan pernah membiarkan Celine pergi dari dunianya, bagaimanapun caranya.
"Aku harus mengatakannya pada Darchen," ucap Celine dengan semangat.
Mendengar kata-kata dari Celine membuat Darchen semakin kesal. Dia pergi dari sana, lalu membiarkan kedua wanita itu saling berbincang.
Darchen masuk ke aula besar Kerajaan Athiam, untuk melanjutkan rapat mereka. Sebab beberapa hari lagi mereka akan turun untuk berperang. Kemungkinan, besok mereka akan pergi ke pulau tersebut, menghancurkan markas besar pada Yumiro.
Tapi dia tidak bisa membiarkan Celine berbahagia saling bertukar cerita dengan Genah. Dia kembali ke sana, hendak menyuruh Genah ikut bersamanya.
"Genah," panggil Darchen dari luar pintu yang terbuka lebar.
"Hamba, Yang Mulia Pangeran Darchen. Ada apa, Pangeran?" tanya Genah.
"Ikut rapat," ucap Darchen. Dia kemudian langsung pergi setelah mengatakan hal tersebut. Terlihat jelas kalau Darchen sangat berbeda. Bahkan Genah sendiri sampai ternganga tidak paham.
Tidak pernah Darchen datang langsung memanggil seseorang. Dia selalu menyuruh orang lain untuk menyampaikan perintah darinya. Bahkan ketika sedang ada keadaan genting sekalipun, Dion lah yang terus menyuruh Genah, atas nama Pangeran Darchen.
"Kenapa dengan Pangeran Darchen?" tanya Genah pada Celine.
"Hmmm? Dia kenapa?" Tanya Celine balik.
"Tidak seperti biasanya," celetuk Genah.
"Dia memang suka berubah. Jangan pusingkan hal itu," jawab Celine.
Genah yang masih lelah, hanya bisa mendengarkan perintah dari Darchen. Apalagi karena Darchen langsung yang memanggilnya, menolak pun dia tidak berani. Bahkan berleha-leha dia tidak berniat. Dia langsung berjalan mengikuti Darchen.
Padahal malam dimana dia sedang berada di penginapan itu, Genah tidak tidur sama sekali. Sebab dia merasa terusik dengan angin itu. Dia yakin sekali kalau angin itu adalah seseorang yang baru saja lewat.
"Genah, kau beristirahat lah dulu," kata Celine. Dia memanggil Genah yang tengah melangkah pergi mengikuti Darchen yang berada di depan mereka.
"Nona Celine? Hamba tidak perlu beristirahat lagi," jawab Genah.
Genah dan Darchen tidak tampak lagi oleh Celine. Mereka telah jauh berjalan. Padahal Celine tidak suka melihat Darchen yang begitu tega membiarkan Genah yang baru saja sampai itu langsung rapat besar. Jika dipikir-pikir Genah membutuhkan istirahat sejenak.
Celine yang tidak diperbolehkan keluar dari sekitar kamarnya itu langsung merasa bosan. Perkara tidak ada teman berbicara. Ditambah aktivitasnya di dunia paralel sangat sedikit. Tidak seperti di dunianya dulu, banyak komik dan ada handphone yang menemani hari-harinya. Selain itu dia juga bekerja. Walaupun hanya karyawan biasa, tapi Celine setidaknya disibukkan dengan pekerjaan tersebut.
Berbeda dengan sekarang. Celine hanya di kamar terkurung, tidak melakukan apapun. Pekerjaan rumah sudah ditangani para pelayan. Bahkan makan dan minum disiapkan. Tidak ada wadah baginya. Hendak belajar perang pun, Darchen tidak mengizinkan. Bertanam, semua tumbuhan yang dia tanam mati semua, tidak ada satu jenis pun yang hidup.
"Membagongkan sekali," decak Celine.
Dia bercermin dan menata wajahnya setelah mandi. Dia menukar gaunnya.
"Astaga, kenapa ini panjang sekali," celetuk Celine.
Dia kemudian menggunting gaunnya yang panjang sampai menyentuhnya tanah. Lalu dia memotongnya sampai atas lututnya. Kemudian dia mengikat rambutnya dengan rapi hingga menyerupai ekor kuda.
"Beginilah aku yang sesungguhnya," kata Celine sambil tersenyum berbicara dengan pantulan bayangannya sendiri.
Celine kemudian dengan senyum di wajahnya keluar dari kamar. Dia hendak mencari orang yang berasal dari dunia itu. Dia berharap agar orang itu berada di perkumpulan orang-orang yang masih berkumpul merayakan hari perdamaian.
"Anda tidak diperbolehkan pergi, Nona," sergap seorang prajurit pada Celine.
"Hmmm … aku dipanggil oleh Darchen," sambung Celine berbohong.
"Pangeran sedang rapat, Nona. Mustahil Pangeran Darchen memanggil Anda," timpal Prajurit lainnya.
"Maksudnya itu … hmm … jadi aku disuruh oleh Darchen untuk memasakka makan siang untuknya. Jadi aku harus ke dapur sekarang. Kalau tidak percaya, kalian bisa ikuti aku," tambah Celine membual. "Hey … cepat, dia bisa marah kalau tidak ku siapkan makanan," sambung Celine.
Kedua prajurit yang menjaga itu akhirnya mengikuti Celine. Mereka mengawasi Celine bahkan saat memasak. Dia benar-benar dipantau oleh keduanya. Bahkan ketika Celine pergi ke kamar mandi untuk menyuci sayuran, salah seorang prajurit mengikuti Celine.
"Aku tidak akan kabur," ucap Celine.
Akhirnya prajurit itu memberi jarak antar mereka. Dia mundur dan memanta hanya sampai di depan pintu bagian dapur saja.
Celine sudah merencanakan segalanya. Pergi ke bagian dapur agar bisa kabur lebih mudah. Di bagia sisi timur dapur, terdapat pintu yang berbatasan langsung dengan bagian kandang kuda. Sehingga dari sana, Celine bisa pergi kabur dari pantauan kedua prajurit tersebut.
Celine pelan-pelan mencari celah untuk pergi kabur. Dari pintu yang ukurannya kecil itu, Celine menunduk. Dia berjalan mengikuti lorong hingga sampai di kandang kuda.
"Aduh … dunia terasa sejuk," hela Celine sambil menarik nafas.
Celine langsung berlari dari kandang kuda yang dipenuhi jerami padi itu. Dia hendak pergi ke tempat di mana kerumunan orang berada. Dengan penuh harap, jika orang yang berasal dari dunia nyata itu, dapat ditemukan olehnya.
Kebetulan di kerumunan orang itu banyak pedang kecil yang membuka tenda. Sehingga seperti sebuah festival. Anak-anak yang saling berkejaran dengan tangan yang penuh dengan mainan dan makanan. Begitu ramai, sampai Celine pusing harus mulai dari mana.
Dari jalan setapak itu, Celine memulainya dari ujung. Satu persatu orang ditandainya dengan menempelkan tinta merah di baju.
Satu per satu orang ditandainya dengan pewarna tersebut. Hingga sudah hampir semua orang yang dia tandai, tapi tidak ada satupun yang dia kenali di sana.
Hingga ada satu kelompok orang lagi yang belum dia tandai. Celine langsung berjalan ke tempat tersebut. Wajahnya dia perhatikan. Dua orang telah dia tandai bajunya dengan tinta. Sampai tangannya hendak menandai seorang lagi. Salah seorang dari mereka melihat Celine yang sedang berniat mengotori pakaian temannya. Orang tersebut berteriak pada Celine.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Eh? Hehe … tidak ada," jawab Celine tersenyum.
"Kau mengotori baju kami. Aku yakin dia memiliki hiat jahat," tuduh seorang lagi dari kelompok mereka.
"Mari kita adukan saja dia," timpal yang lainnya.
Jika sampai Celine sampai di tangan prajurit, bisa-bisa dia tidak akan bisa lagi bebas. Dia akan terkurung.
Akhirnya Celine berlari dari mereka. Sehingga membuat kelompok orang-orang tersebut curiga terhadapnya. Mereka mengira kalau Celine memiliki niatan jahat, dengan tinta. Mereka pun mengejar Celine, untuk meminta pertanggungjawaban. Setidaknya mereka menginginkan Celine menjelaskan tujuannya.
"Hey … berhenti kau!" teriak mereka.
Namun Celine semakin kecang pula larinya. Hingga akhirnya dia tidak bisa berlari lagi. Ada tembok yang membuatnya terhenti. Dia terjebak. Dia memasuki jalan buntu.
"Yah … bisa tertangkap kalau begini," resah Celine.
Celine mengangkat kedua tangannya, lalu mengarahkan pada orang-orang yang sedang berlari mendekat ke arahnya. Dengan harap agar orang-orang itu menjauh darinya, atau setidaknya Celine menyegel jalan agar orang-orang yang mengejarnya itu tidak bisa melihatnya.
Dia mendorong-dorong tangannya berharap agar keluar magis seperti yang dilakukan oleh Darchen dan Genah. Dia melakukannya berkali-kali. Tapi tidak bisa. Dia terus mencoba dengan mengeluarkan telunjuknya berharap magis datang dari sana. Tapi tidak jua.
Padahal dia memiliki magis, tapi dia tidak bisa menggunakannya.
"Dasar sialan! Apa gunanya magis ini jika tidak bisa dipakai," celetuk Celine kesal.
"Di sana dia!" Teriak mereka yang sudah melihat Celine.
Celine tidak bisa berbuat apapun, dia telah tertangkap. Jalan buntu itu membuatnya tidak bisa berlari bebas lagi. Setelah tertangkap nanti, Celine takut kalau dirinya semakin dikurung oleh Darchen.
Celine akhirnya hanya bisa pasrah. Dia berdiri sambil mengangkat kedua tangannya pertanda kalau dirinya menyerah.
Tiba-tiba seseorang lain yang berbeda dari mereka, datang mendekati Celine. Dari kejauhan Celine melihat samar-samar orang tersebut.
"Dyroth!" panggil Celine lalu melambai.
Celine merasa aman kini, sebab ada Dyroth. Pasti pria itu akan menyelamatkan dirinya. Entah mengapa Dyroth selalu ada ketika Celine sedang dalam bahaya. Seperti terakhir kali, saat dia hampir dibunuh. Untungnya Dyroth lewat dan menyelamatkan dirinya.
Dyroth berjalan mendekat Celine, dan mencoba melindungi wanita itu dari kumpulan orang-orang tersebut. Dia berdiri di depan Celine agar orang-orang tersebut tidak membawa Celine.
"Dyroth, mereka akan menangkapku," ucap Celine mengadu.
"Hmmm, aku mengerti," angguk Dyroth Alucard paham.
Dyroth memegang Celine, lalu sedetik kemudian mereka telah berpindah tempat. Tiba-tiba saja mereka sudah berada di belakang orang-orang tersebut.
Celine sampai shock batinnya karena perpindahan itu. Sungguh dia tidak menyangka kalau benar memang ada sihir yang bisa berpindah tempat.
"Kalau ada sihir ini, mungkin aku tidak perlu naik bus ke kantor," celetuk Celine dalam hati.
Mereka berlari ke tempat yang lebih sepi, dimana jarang orang berada.
"Kita duduk di sana saja," tunjuk Celine yang sudah ngos-ngosan karena berlari.
"Apa kau lelah?" tanya Dyroth.
"Aduh … huft … jangan ditanya, aku sangat kehausan," jawab Celine.
"Akan kubawakan air," ucap Dyroth.
"Hey … duduk dulu, nanti saja. Kau tidak capek?"
"Tidak," sambung Dyroth.
Dyroth pergi membelikan minuman segar untuk Celine.
"Kenapa dia baik sekali, hatiku bergetar," celetuk Celine. "Kalau saja dia orang yang pertama kutemui di dunia ini, mungkin cintaku akan jatuh padanya," sambung Celine bergumam.
Beberapa saat kemudian, Dyroth datang membawa minuman di tangannya. Kemudian dia duduk lalu memberikannya pada Celine.
"Kenapa cuma satu? Kau tidak haus?"
Dyroth hanya membeli satu gelas saja minuman untuk Celine. Padahal dia juga lelah berlari sama dengan Celine.
"Maaf lama," ucap Dyroth.
"Tidak masalah, terima kasih. Apa kau mau?" tanya Celine menawarkan minuman itu.
"Tidak," jawabnya.
"Oh yah, kenapa kau lama? Apa penjual minuman ini susah ditemukan?"
Dyroth teramat lama datang. Entah mungkin karena dia tidak menemukan penjual minuman, atau karena antri.
"Ya," jawab Dyroth singkat.
Ketika mereka tengah berbincang-bincang, orang-orang berlarian satu per satu. Terdengar bahwa ada mayat yang ditemukan di dekat pohon besar di sekitar pasar kecil itu berada.
Ditemukan enam orang tewas dalam keadaan mengenaskan, bahkan sampai wajahnya tidak dapat di identifikasi lagi. Darah menggenangi tempat kejadian terkait. Kaki dan tangan yang sudah patah. Begitu sadis, sampai beberapa orang yang melihat muntah karena tidak tahan melihat badan para mayat-mayat tersebut.
"Astaga, ada mayat?"
"Benarkah?" respon Dyroth.
"Ayo kita lihat," ajak Celine.
Dyroth langsung menarik tangan Celine. "Tetaplah di sini," suruh Dyroth.
"Apa kau tidak penasaran?"
Dyroth menggelengkan kepalanya. Dia berkata kalau dia tidak tertarik dengan kematian tersebut. Dia bahkan sampai melarang Celine untuk melihat tempat kejadian terkait.
"Apa kau takut dengan mayat?" tanya Celine.
Dyroth mengangguk.
"Oh … aku tidak tahu kau takut hal seperti itu. Baiklah."
Celine baru tahu kalau pria berbadan kekar seperti Dyroth takut dengan mayat. Padahal dari tampangnya dia terlihat sangat gagah pemberani. Tapi ternyata tidak, Dyroth hanya seorang pria lemah yang memiliki kekuatan besar tapi takut dengan segalanya.
"Ada satu tempat yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Dyroth.
"Wah … dimana?" tanya Celine antusias.
"Aku takut kau tidak mau pergi bersamaku. Sangat jauh, mungkin kau akan kelelahan jika berjalan kaki," jelas Dyroth.
"Apa tidak bisa pakai sihir tadi. Bukannya kau bisa berpindah tempat hanya dengan kedipan mata?"
"Terlalu banyak magis yang keluar jika berpindah tempat," jawab Dyroth.
Lagi pula, sihir jenis perpindahan tempat itu hanya bisa membawa mereka sejauh satu kilometer saja. Lebih dari itu harus menggunakan magis yang lebih besar lagi. Sebab itu tidak sembarangan menggunakan sihir tersebut. Jika hanya untuk jarak dekat, mungkin tidak akan mengurangi magis, hanya saja jika terlalu jauh, dapat membuat badan melemah karena magis yang terlalu banyak terkuras.
"Kita jalan saja, tidak apa," sambung Celine.