Kabar Baik Untuk Sebagian Orang

2006 Kata
Celine takut kalau Darchen sampai berlaku lebih lanjut lagi. Tidak akan mampu Celine menghadapi ataupun menghentikan Darchen kalau sudah sampai kelewat batas. Celine melemparkan baju yang dia bawa tadi, kemudian menyuruh Darchen memakainya. Dia pun segera keluar dari kamar agar Darchen menukarnya tanpa dilihat eh Celine. Niatnya yang baik itupun digagalkan oleh Darchen. Pangeran yang suka semena-mena itu kemudian menyuruh Celine agar tidak keluar dari kamar, barang hanya satu langkah dari hadapan Darchen. "Apa kau gila?" tanya Celine dengan muka bodohnya. "Sepertinya," jawab Darchen. Celine menggelengkan kepalanya dengan pandangan heran melihat Darchen yang tidak berpikir sama sekali itu. Dia kemudian menunjuk kepalanya, berniat menegur Darchen agar menggunakan otak ketika hendak berbicara. Celine keluar dari kamar dan tidak mendengarkan apa yang dikataka Darchen padanya. Celine merasa kalau pria itu benar-benar gila sampai berganti baju pun harus ada Celine di sana. Ketika kakinya sudah satu langkah keluar dari pintu kamar tersebut, tiba-tiba angin seolah menariknya mundur ke dalam kamar. Secepat kilat pintu itu tertutup keras hingga mengeluarkan suara yang amat kuat. Lau badannya kembali ke titik awal, yaitu berdiri tepat di depan Darchen. Angin yang keras itu mendorong tubuh Celine sampai dia sendiri tidak bisa menghentikan tekanan tersebut. Untungnya dia terdorong tepat di hadapan Darchen, hingga pangeran itu menangkap pinggangnya dan langsung mendekapnya. "Ini pasti ulahmu!" tuduh Celine lalu menatap tajam ke arah Darchen. Dia memukul telapak tangan Darchen yang memegangnya itu, lalu melepaskan dekapan dari pangeran tersebut. "Sudah kukatakan jangan melangkah dari pintu itu," tegas Darchen lagi. "Cih, haruskah aku mendengar perintahmu terus-menerus?" decak Celine dengan suara pelan. Celine kemudian memegang kedua bahu Darchen, lalu menghadapkan wajah pangeran itu sejajar dengan matanya. Lalu dia mengambil baju yang dia bawa tadi, dan membuka semua kancing yang ada di sana. Secara bertahap, Celine memakain pakaian itu ke badan Darchen. Pertama dia memasukkan tangan pertama, lalu tangan baju yang kedua. Dia merapikan posisi beju itu dengan menepuk di baju tersebut. Celine kemudian mengancingkan baju tersebut satu per satu, hingga sampai pada kancing paling bawah. "Sudah," ucap Celine. Darchen yang sudah panas telinganya karena terpanah, langsung mencium kening Celine sambil tersenyum. Dia kemudian meraih tangan wanita itu lalu digigitnya keras, sampai meninggalkan bekas di sana. "Auuuch … apa yang kau lakukan?" jerit Celine kesakitan. "Kenapa kau menggemaskan sekali?" jawab Darchen tanpa rasa bersalah. Darah Celine langsung naik ke atas dengan deras. Pipinya merona karena malu dengan pujian Darchen. Jarang sekali pria itu memujinya. Pangeran itu hanya membentak, mengamuki, menyuruh, dan mengejeknya setiap saat. Darchen lalu masuk ke kamar mandi dengan membasa celana dan bagian penting lainnya. Dia sudah puas menjahili wanita itu. Tidak mungkin pula dia menyuruh Celine memakaikan celana ke kakinya. "Aku kira dia akan menyuruhku," celah Celine ketika melihat Darchen berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Celine selagi menunggu Darchen selesai memakai pakaian lengkap, membersihkan ranjangnya yang berantakan karena tidak dia rapikan. Dia mulai membenahi barang-barang tersebut. "Tumben kau merapikan ini?" "Aku selalu merapikan kamarku!" tegas Celine membantah kalimat Darchen yang terdengar menghina itu. "Benarkah? Aku selalu melihatmu merusak semua ini. Dan … kemudian Genah yang membersihkan," sangkal Darchen. "Jangan membuatku kesal padamu, yah," peringat Celine. "Fakta bukan?" "Ingin kucabik mulutmu, bajjingan," umpat Celine dengan suara pelan. Darchen naik ke atas ranjang, lalu merebahkan badannya di sana. Dia melentangkan tububnya lalu memanggil Celine kemdian. Dia menepuk-nepuk kasur tersebut, menyuruh Celine untuk tidur di sampingnya. Celine meletakkan benda di tangannya lalu mendekat ke arah ranjang. Dia naik kemudian membaringkan tubuhnya di dekat Darchen. Pria itu langsung memeluk Celine, dan mengelus rambut Celine. Dia seolah memberikan kenyamanan pada wanita itu. Dia ingin menunjukkan kalau Darchen sangat tulus padanya. Sikapnya yang suka frontal padanya bukanlah pertanda kalau Darchen membencinya. Namun dikarenakan dirinya memang sangat sulit menahan amarahnya. Sifatnya memang dari awal arogan. Darchen mengaku bahwa bersikap lembut pada seseorang sangatlah sulit. Bahkan pada ibunya sendiri dia tidak bisa berlaku lembut, apalagi terhadap orang lain. Dia terlalu disanjung sejak lama, bahkan saat dia baru saja lahir. Hingga dirinya tumbuh menjadi orang yang amat arogan. "Darchen …," panggil Celine. "Hmm?" "Apa aku bisa kembali ke duniaku?" tanya Celine. Tangan Darchen berhenti mengelus kepala Celine. Lalu dia kemudian memegang dagu wanita itu. Dia menatap kedua bola mata Celine. "Tidak," jawab Darchen singkat. Celine langsung melingkarkan tangannya di leher Darchen, lalu bersembunyi di dekat leher pria itu. Dia menutup matanya berharap bisa menerima kenyataan tersebut. Dia sangat ingin kembali ke tempat di mana dia seharusnya hidup. Tapi di lain sisi pula dia ingin tetap bersama dengan Darchen dan juga Genah, termasuk juga Dion. Tapi dia tahu kalau mereka adalah dua jenis manusia yang berbeda alam. "Aku rindu duniaku," ucap Celine dengan suara lirih. Celine memanglah sudah letih badannya karena terlalu capek sore tadi. Dia bermain hujan sampai kewalaham seperti itu. Celine langsung tertidur. Terlalu hangat dan nyaman berada di pelukan Darchen, hingga nafas pria itu seolah membawanya ke tempat indah. Detak jantung itu seperti irama yang menidurkan Celine. Darchen melihat Celine yang pulas itu, langsung mengambil selimut lalu menutupi wanita itu. Dia terus berada di samping Celine sambil menatapnya terus-menerus tanpa henti, lalu mengelus rambut Celine. "Kau tidak boleh pergi dari dunia ini," ucap Darchen. *** Genah yang sudah setengah perjalanan sampai ke Kerajaan Athiam, singgah di sebuah penginapan di kota. Masih terlalu jauh untuk pulang ke sana. Hari sudah gelap. Dia belum mandi dan makan selama bertualang tersebut. Untuk itu, dia tidak menyiksa dirinya dan berhenti sejenak. Jika sampai Genah jatuh sakit di depan Darchen, bisa-bisa mulut Celine yang cerewet itu mengumpat terus padanya. Untuk menghindari hal itu terjadi, dia membersihkan diri di penginapan tersebut. Lalu mengembalikan staminanya yang terkuras habis malam kemaren. Ketika Genah tengah mandi. Tiba-tiba angin berhembus meniup tirai jendela yang ada di kamar mandi tersebut. Genah langsung memeriksanya. Tidak ada yang dia temui di sana. Bahkan sangat hening. Tapi angin tadi terasa seperti seseorang yang baru saja lewat. Gena langsung menutup jendela itu, lalu melanjutkan mandinya. Dia cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan beranjak dari sana. Karena Genah masih penasaran dengan angin tadi, dia pergi langsung turun ke bawah memeriksa dari jarak dekat. Genah yakin kalau angin itu bukan sekedar angin lalu saja. Dia bisa merasakan aura ketika angin tadi lewat. Ketika dia sudah mengelilingi penginapan itu, tidak ada tanda-tanda keanehan yang patut dia curigai. Dia memeriksa di bagian dalam penginapan, dan juga memeriksa bagian luar penginapan, tapi tidak juga ditemukannya. "Apa yang kau lakukan di sini? Tengah malam begini?" Seorang pria sedikit tua menghampiri Genah. "Tidak, hanya memastikan saja," jawab Genah. "Masuklah ke dalam, terlalu berbahaya untuk seorang wanita berada di sini malam-malam begini," nasehat Pria agak tua itu. "Baik, terima kasih," jawab Genah. Celine langsung masuk ke dalam. Tapi dia teringat akan satu hal. Dia berbalik ke belakang berjalan ke tempat pria tadi berdiri. "Apa di sini sering terjadi kejadian aneh?" tanya Genah. "Tidak sering. Tapi beberapa hari ini selalu ada wanita yang menghilang," kata Pak Tua itu. "Wanita? Hanya wanita?" tanya Genah. "Hanya wanita muda saja yang menghilang, anak-anak tidak, dan juga usia lanjut. Awalnya kami mengira ini pemerkosaan, tapi tidak. Jasad jasad wanita itu tidak di temukan meski sudah dikerahkan petugas dari istana besar. Aku dengar hilangnya wanita-wanita itu ada hubungannya dengan Pemimpin Yumiro," ucap Pak Tua itu menjelaskan secara rinci. "Terima kasih," balas Genah. *** Pagi hari yang cerah membangunkan Celine dari tidurnya. Dia melihat ke sebelahnya, tapi tidak mendapati Darchen di sana. Heran dengan hal tersebut, Celine mencoba mengingat kejadian semalam. Terasa nyata, artinya bukan mimpi. Tapi kenapa Darchen tidak ada di sana bersamanya. "Mungkin dia sudah pergi," gumam Celine dalam benak. Dia langsung membasuh mukanya dan mengganti pakaiannya ke gaun yang lebih tipis, sebab hari terasa panas. Celine menyiapkan makanan untuknya sendiri. Dia tidak terbiasa memakan makanan dari kerajaan tersebut. Terlalu asing di lidahnya. Seperti biasa, dia melebihkan porsinya sebab dia masih berharap Genah pulang dan memakan sarapan bersamanya. Dia membawa bubur yang dia masak itu ke kamarnya. Kemudian meletakkannya di atas meja. "Heduh … lama sekali dia. Nanti dingin pasti tidak enak lagi," ucap Celine menghela nafas. Setelah dia duduk dan hendak menikmati bubur tersebut. Tiba-tiba Darchen datang ke kamarnya, lalu mengambil bubur tersebut. Dia duduk di kursi rotan yang dipahat itu, bersebelahan dengan Celine. "Hey … itu untuk Genah," ucap Celine. Darchen langsung mengambil mangkuk yang ada di tangan Celine, lalu memakannya. Dia memberikan mangkuk yang ada di tangannya sebelumnya. "Punyaku," ucap Celine. "Enak," balas Darchen tidak peduli. "Dasar," decak Celine kesal. Celine meletakkan mangkuk bubur milik Genah. Dia tidak memakannya sama sekali. Dia takut ketika Genah pulang nanti, perutnya masih kosong dan tidak memakan makanan apapun beberapa hari selama dia pergi. Darchen menyuapkan bubur tersebut ke mulut Celine. Sebab dia melihat kalau Celine benar-benar ingin memberikan bubur yang satunya lagi pada Genah. "Buka mulut," suruh Darchen. "Ha?" Celine sampai bingung melihat Darchen. Ternyata dia bisa berlaku manis pada dirinya. Celine mengira kalau Darchen hanya orang kaku yang tidak tahu romantisisme. Celine membuka mulutnya agar Darchen bisa menyulangi dirinya. Sampai mangkuk tersebut habis. "Apa Genah tidak pulang hari ini?" tanya Celine. "Dia akan kembali," jawab Darchen. Darchen langsung pergi setelah berkata seperti itu. Dia seolah tidak senang dengan kepulangan Genah. Bukan karena tidak suka kalau Genah kembali, hanya saja Darchen tidak suka dengan kabar yang akan disampaikan Genah pada Celine. "Dia akan tiba, sebentar lagi," ucap Darchen dari jarak yang agak jauh. "Benarkah?" Celine sangat senang. Sampai girang begitu wajahnya. Sementara Genah yang berangkat dari penginapan kira-kira masih dini hari, sudah tiba di simpang menuju jalan masuk ke Istana Athiam. Dia begitu tidak bersabar bertemu dengan Celine terutama mengabarkan berita bahagia yang sedang dia bawa. Setelah kuda yang dia tunggangi di masukannya ke dalam kandang, kemudian dia langsung berlari. "Nona Celine!" teriak Genah. Dia tampak bahagia. "Genah! Syialan!" balas Celine berteriak. Celine langsung memukul b****g Genah keras. Lalu dia memeluk Genah. "Ku kira kau sudah mati," kata Celine. Sambutan yang begitu menggelikan. Bukannya disambut dengan senang, Celine malah memukuli habis Genah dan mengatakan kalimat seperti itu. Genah begitu tergelitik dengan Celine. Dia merasa tidak akan pernah dia mendapat sesuatu seperti yang dilakukan oleh Celine padanya. "Nona Celine, ada hadiah yang hamba bawa untuk Anda," kata Genah. "Hu hu hu … aku terharu. Apa itu?" Celine menyuruh Genah duduk sebelumnya lalu menyuguhkan bubur itu pada Genah. "Habiskan, kau mungkin lapar," ucap Celine. "Nona Celine …," "Apa?" tanya Celine. "Terima kasih," jawab Genah. "Kenapa kau ini?" Celine memegang dahi Genah. "Apa kau kelelahan sampai stres begini?" lanjut Celine. Genah tersenyum, lalu memakan habis bubur tersebut. Hanya hangatnya masakan Celine yang bisa dia rasakan selama dia hidup. Tidak pernah dia menemukan makanan seenak yang dimasak oleh Celine. Sebab hanya dari masakan wanita itulah yang dapat dia rasakan ketulusan yang sesungguhnya. Genah teramat berterima kasih pada siapapun yang telah membuatnya bisa bertemu dengan Celine. Meski dia tahu kalau sebentar lagi mereka tidak akan bersama lagi. Celine akan pergi ke dunianya. Otomatis dia akan tinggal. Genah tidak siap berpisah dengan Celine, hanya saja dia membunuh ke keegoisannya. Dia suda cukup merasakan kehangatan dan ketulusan dari Celine, kini saat bagi Celine berhenti terus tersiksa di dunia yang bukan peradabannya. Setelah bubur itu habis dimakannya, Genah langsung mengatakan pada Celine tengang apa yang dia dapatkan dari Pak Kong saat itu. "Nona Celine, hamba sebenarnya pergi mencari Pak Kong, seorang yang dapat memberi jawaban bagi orang-orang yang sedang tersesat menyelesaikan pertanyaan," ucap Genah. "Ha? Apa yang kau tanyakan?" "Aku menanyakan bagaimana cara agar Anda dapat kembali ke dunia asal Nona Celine," jawab Genah. "Genah … kau tidak perlu terlalu keras," ucap Celine. "Nona, masih ada orang lain selain Anda yang terdampar di dunia ini," sambung Genah memberikan kabar bahagia tersebut. Darchen yang sudah berdiri di depan pintu kamar Celine hanya bisa menatap mereka. Satu mengatakan dengan antusias, dan satunya lagi mendengarkan dengan bahagia. Darchen teramat kecewa dengan jawab yang didapat Genah. Sudah lama dia menutupi kebenaran tersebut sendiri, tapi Genah mengatakannya pada Celine. Sesungguhnya Darchen sudah mengetahui dari awal kalau ada seseorang lagi yang datang ke dunia mereka selain dari Celine. Tapi dia hanya menyimpan sendiri, dan menjadikannya rahasia. Dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari dunia tersebut. Mereka harus terus bersama. Bagaimanapun usaha Celine, terus digalakkan oleh Darchen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN