Nikmatnya Hujan

2124 Kata
Kedua manusia bak kucing dan annjng itu, tidak pernah berbaikan meski sejenak. Mereka terus bertengkar, dan berdamai setelahnya. Entah karena mungkin pertama kali bagi Celine, atau memang sifatnya yang terlalu liar, tidak ada yang tahu penyebab utamanya. Mereka terus recok tidak pernah akur sama sekali. Terkadang sudah bertindak manis, di lain waktu pula sudah bersenggak-senggakan, dan setelahnya berdamai lagi. Terlalu rumit kisah mereka hingga hendak di ceritakan pun sudah terlalu klise. Mungkin beberapa diantara Dion dan Genah sampai bosan melihat mereka bertengkar selalu. Terkadang Genah ingin sekali menasehati Celine agar menjadi wanita yang lebih patuh lagi, agar tidak terjadi sikap acuh dari Darchen. Tapi jangankan mendengarkan, bahkan untuk menanggapi Genah ketika berbicara, Celine sudah bising lebih dulu. "Aku tidak mau masuk!" ucap Celine menolak. "Akan turun hujan, cepat masuk!" Desak Darchen pula. "Bagus kalau begitu, aku bisa mandi hujan," jawab Celine keras kepala. "Apa kau katak? Cepat masuk!" "Ah! Tidak," tolak Celine. Hari memanglah sangat mendung. Bahkan awan yang hitam itu mulai menggeliat suara gemuruh kilat yang saling bersahutan. Meski cahaya kilat tidak tampak, namun suara keras dari langit terdengar keras. "Yeeee! Hujannya sudah turun!" teriak Celine dengan girang. Dia melompat ke bawah koridor dan berlarian di tanah yang dipenuhi rumput hijau, lalu mendongakkan kepalanya menunggu hujan yang turun semakin deras. "Woy … sini, tunggu hujan bersamaku," ajak Celine dengan senyum. "Dasar bocah," decak Darchen mengejek. Dia merasa bermain bersama Celine adalah hal yang dapat membuat harga dirinya jatuh. Dia hanya berdiri di pinggiran pagar koridor menonton Celine yang sedang menjulurkan lidahnya untuk menampung hujan masuk ke mulutnya. Hujan itu sudah makin deras berjatuhan ke bumi. Pakaian Celine telah kuyup bahkan rambutnya juga. Dia semakin senang pula sampai tidak sadar kalau hiasan di kepalanya berjatuhan. Bahkan dia terlalu gembira sampai menari-nari kecil seperti anak kecil. Dia memanggil manggil Darchen agar bergabung bersamanya menikmati hujan yang dapat melunturkan rasa sepi dalam hati. Bahkan sedih terasa ringan ketika hujan, seolah sedang mengalir dibawa oleh sang hujan. Darchen terus menolak, dan terus berdiri menatapi Celine. Sebenarnya dia sudah malas melihat tingkah Celine itu, dia ingin segera menarik wanita itu dari sana. Tapi Celine terlalu liar sampai dia mengurungkan niatnya. Namun jika dia meninggalkan wanita itu sendiri, dia khawatir akan datang pula pria misterius yang tampak sedang ingin mengincar Celine. Celine yang sama kesalnya dengan jawab masing-masing, membuatnya harus melakukan sesuatu. Dia berjalan mendekat ke arah koridor. Dia berdiri di sana, sambik membawa air yang dia tampung di gelapak tangannya. Lalu Celine melemparkan air tersebut ke arah Darchen, sehingga menyebabkan wajah Darchen basah. Pangeran itu tampak tidak senang. Dia menjegilkan matanya menatap Celine, lalu dengan perasaan tidak senang beranjak pergi dari sana. "Yah ... tidak asik, sensi sekali," decak Celine kecewa melihat langkah beranjak pergi Darchen, dia hanya ingin bermain bersama, tapi pangeran itu terlalu anggun untuk mau ikut bermain hujan bersama Celine. Celine kembali menghadang langit dan bermain air dengan puas. Meski sendiri tapi dia senang sekali. Walaupun sedikit membosankan. Akhirnya dia punya ide agar memiliki teman bermain di sana. Dari kejauhan, dia masih melihat kalau Darchen berdiri di balik penyangga bangunan, menatap Celine dari sana. Dia mungkin hanya ingin memantau saja. "Ahhh!!!" teriak Celine keras, sampai Darchen jelas mendengar suara tersebut. Setelah berteriak, Celine bersembunyi di balik pohon agar Darchen tidak langsung menemukan dirinya. Jika sampai mata pria itu menangkap kalau tidak terjadi apa-apa padanya, yang ada pangaran tersebut akan langsung mengamuk dan tidak akan turun ke bawah rintik hujan yang segar. Spontan Darchen langsung melihat ke sana, tanpa memikirkan hujan yang belum reda itu. Padahal dia sangat benci pada hujan, sebab ketika hujan dulu semua teman-temannya dalam perang mati tanpa ada sisa selain dirinya. Luka itu membuatnya membenci hujan. Jika dia malah menikmati hujan, seolah dia merasa kalau dia sedang menikmati kematian temannya juga, dia harus terus berduka, agar pengorbanan teman-temannya terjunjung hingga nanti. Darchen kembali teringat dengan teman-temannya yang gugur tanpa tersisa, kenangan buruk yang ingin dia simpan selamanya terputar begitu saja. Suara Celine membuatnya teringat. Dia khawatir pula jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Mungkin untuk ke dua kalinya dia akan semakin membenci hujan, karena pada saat momen itu mereka yang disayangi oleh Darchen menghilang untuk selamanya. "Celine!" teriak Darchen memanggil sebab dia tidak melihat wanita itu. Dia dengan paniknya melihat ke segala penjuru arah, namun tidak sanggup melangkah. Dia takut menghadapi fakta kalau wanita itu dalam bahaya. Jika saja benar, dialah orang yang paling tidak berguna di seluruh dunia. Begitulah yang dia pikirkan. Celine keluar dari balik pohon dengan rasa bersalahnya. Dia benar-benar melihat wajah Darchen begitu panik, bahkan terlihat tidak berdaya. Celine bahkan sampai keheranan melihat reaksi dari Darchen. Tidak pernah dia mengira kalau Darchen akan sepanik itu hanya karena dia berteriak. Celine kemudian berdiri di dekat pohon menunggu Darchen datang menghampiri dirinya. Dia tidak berani lagi bermain-main dengan Pangeran itu. Celine baru tahu kalau sebenarnya Darchen bukan takut hilang harga dirinya jika turun ke bawah dan bermain hujan, tapi karena kenangan pahit yang datangnya bersama dengan hujan. Celine akhirnya paham dengan hal itu, setelah melihat langsung bagaimana raut wajah pangeran tersebut. Darchen berjalan dengan langkah kaki panjangnya ke hadapan Celine. Dia langsung memeluk wanita itu dengan perasaan lega. Dia sampai berpikir kalau Celine sungguh hilang dibawa pria misterius. Namun itu hanya kepanikannya saja, dia terlalu berpikiran buruk akibat hujan yang turun tersebut. Celine terdiam. Dia tidak membalas dekapan dari Darchen. Dia merasa amat bersalah karena tadi menjahili Pangeran tersebut. Jika saja dia tidak egois, mungkin raut wajah itu tidak akan pernah dia lihat. "Darchen," bisik Celine tepat ke telinga Darchen. Suaranya lirih seolah kedinginan karena pakaiannya yang basah kuyup. Namun suaranya yang biasa keras cempreng melengking itu tiba-tiba turun nadanya karena rasa bersalah pula. "Jangan pernah tunjukkan ekspresi wajah seperti itu … kecuali jika untukku," sambung Celine. Lalu dia memeluk tubuh Darchen lagi, dengan memberikan setulus hatinya. Kemudian Darchen menarik tangan Celine berjalan untuk berteduh di bawah atap, lalu menuju kamarnya Celine. Dia menuntut hingga kamar mandi, lalu mengambilkan handuk kering untuk Celine. "Tetap berdiri di sini," perintah Darchen. Kemudian setelah handuk itu dia ambil, dengan bertahap Pangeran Darchen itu mengeringkan rambut kepala Celine dari air hujan tadi. Dia dengan penuh perhatian membantu Celine mengeringkan rambut tersebut. Dia bahkan menyuruh Celine membuka baju agar tidak masuk angin. Pelan-pelan Celine membuka gaunnya, lalu ditutupinya dengan handuk untuk. Di sana benar-benar kalau Darchen sepenuhnya hanya ingin mengeringkan Celine. Mulai dari rambut hingga kaki, Darchen mengelap air tersebut dari tubuhnya. "Sebentar," ucap Celine. Dia pergi mengambil handuk lain sebanyak dua helai yang berbeda ukurannya. Dia menyuruh Darchen membuka bajunya lalu menutupnya dengan handuk satunya, dimana ukurannya lebih besar pula. Awalnya pangeran itu tidak mau, dia menolak, entah apa pula yang dia takuti. Tapi Celine memaksanya. Celine merenunginya sejenak, mungkin Darchen hanya takut kalau dirinya lepas kendali. Akhirnya Celine keluar dari dalam kamar mandi, lalu menunggu dari luar. Dia mengunci pintu tersebut, agar Darchen mendengar perintah darinya. "Aku tidak akan melihatnya, buka bajumu," teriak Celine dari luar. Kesempatan waktu itu dia gunakan untuk memakai baju. Terlalu dingin cuaca di luar sana, menyebabkan dia menggigil. Oleh karena itu Celine memakai pakaian yang lebih tebal pula. Setelah berbaju, dia pergi ke kamar Darchen, masuk untuk mengambil pakaian ganti untuk Darchen. Untungnya jarak kamar mereka tidak jauh sama sekali, hanya dengan sekali toleh saja, langsung terlihat kamar kedunya dekat dan berdampingan. Celine mengambil beberapa pakaian, lalu memberikannya pada Darchen. Dia membuka kunci pintu kamar mandi, lalu membiarkan Darchen keluar dari sana. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Darchen ketika pertama kali membuka pintu tersebut. Matanya langsung dimanjakan oleh penampakan yang luar biasa. Darchen begitu mempesona. Kulitnya yang putih mulus dan bersih itu membuat Celine ternganga. Belum lagi karena perut kotak-kotak yang membuatnya ingin menyentuhnya lama. Kaki Darchen yang panjang itu membuatnya ingin terus melihatnya. Ditambah wajahnya yang begitu menawan. Semua itu membuat Celine sesak nafas. Dia memegang d4d4nya yang terasa terguncang tersebut. Jiwa ingin memfoto pria itu meronta-ronta. Meski sialnya pada zaman itu tidak ada alat digital secanggih milik Celine dari dunianya. "Persetanan," decak kagum Celine dengan suara kagum pelan. "Astaga, mataku … aku seperti orang c***l," sambung Celine bergumam dalam benaknya. Darchen keluar dari kamar mandi sambil melemparkan handuk ke wajah Celine. Kemudian dengan angkuhnya dia duduk di atas ranjang. Padahal saat itu dia belum mengenakan pakian, hanya sehelai handuk sajalah yang menutupi dari bawah pusat hingga pahanya. Celine mendekat berjalan perlahan ke arah Darchen. Kemudian dia berdiri tepat di depan Pangeran itu. Dengan detak jantung yang tidak stabil, dia berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat terkesima, meski dia sebenarnya sagat berselera. Dia tidak ingin jadi seorang c***l hanya karena Darchen yang begitu menggoda. Dia terus berucap di dalam hatinya, mencoba menenangkan pikirannya yang kotor itu. Tangannya mulai menyentuh rambut kepala Darchen. Dia menyapu pelan mencoba mengeringkan. Wangi semerbak harum dari kepala rambut dan tubuh Darchen, membuat Celine semakin tidak fokus untuk mengeringkan rambutnya Darchen. Pikirannya terus terbawa dengan pemandangan pertama kali melihat Darchen saat di kamar mandi tadi. Celine sama sekali tidak berani melihat Darchen. Dia takut kalau dirinya malah merusak Darchen. Sesekali dia melirik mata Darchen. Dia memastikan apakah pria itu menyadari detakan jantung Celine. Kalau sampai terjadi, Celine tidak tahu harus meletakkan wajahnya dimana. "Lap dengan benar," suruh Darchen. Celine dengan pantuh mulai me-lap rambut Darchen. Dia mencoba fokus dengan membuang jauh-jauh pikirannya yang nakal. Tiba-tiba mata Darchen melirik ke arahnya. Membuat Celine gugup tidak karuan. Mata yang indah itu menembak seribu peluru ke hati Celine. Bulu matanya yang lentik membuat Celine terbuai. Celine menatapnya balik, tidak sengaja mata mereka bertemu. Hingga akhirnya Celine tidak tahan lagi, dan membuang pandangannya ke arah lain. Dia kembali mengeringkan rambut Darchen. Namun secara cepat, Darchen menarik tangan Celine, hingga tubub wanita itu terhayung tidak terkontrol. Dia merasa kalau dia akan jatuh ke lantai. Bersiap untuk menebalkan bokongnya agar tidak sakit ketika jatuh nanti. Perkiraannya salah, dia malah jatuh tepat ke pangkuan Darchen. Mata meraka saling bertemu. Raut memancing dari Darchen jelas sangat di sengaja. Dia menatap Celine sambil tersenyum jahil. "Lakukan dengan benar," kata Darchen. Celine menelan air liur, lalu menutup matanya sebentar dan menggelengkan kepalanya agar dia tidak gugup lagi. Dia mulai mengeringkan rambut Darchen kembali. Meski jantungnya kini hampir meletus, dia masih bersikap kuat seolah tidak tergoda sama sekali denhan ketampanan Darchen. Pikiran kotornya tidak tertahankan lagi, dia bergumam," Dia tidak memakai apapun, astaga! Hanya kain itu saja penutup tubuhnya. Jangan bilang kau sengaja melakukan ini, Darchen bajjingan," umpat Celine kasar dalam hatinya. Darchen yang memang sengaja menjahili Celine, terus menatapnya sambil tersenyum penuh arti. Dia tidak berkedip sama sekali saat menatap Celine. Sampai Celine merasa risih dengan tatapan itu. "Kenapa dengan matamu, ha?" tanya Celine sambil mengerucutkan bibirnya karena tidak senang. "Kenapa kau jelek sekali," decak Darchen lagi. Celine mendengar itu langsung berhenti menghapus rambutnya, lalu hendak berdiri dari sana. Dia kesal karena mulut Darchen yang memang tidak bisa halus. Tapi Darchen menariknya lagi, hingga dia tetap pada posisi semula, duduk di pangkuan Darchen. Dia tertawa meski sedikit tertahan, karena memang tidak terbiasa tertawa. Pangeran itu amat irit tertawa. Hanya sebentar dan tidak terlalu kuat. Darchen langsung memegang kepala Celine dari lalu mendorong wajah wanita itu hingga tepat di depan matanya. Lalu dia mengincar bibir wanita itu untuk dijajalinya habis-habisan. Celine yang tidak menyangka akan diperlakukan seperti oleh Darchen, hanya bisa diam saja. Semua terjadi cepat. Hanya dalam satu tarikan nafas saja, Darchen menarik tangan lalu kemudian dengan cepat menjatah wajah Celine. Pangeran itu kini melakukannya dengan lembut. Tidak kasar seperti biasanya. Dengan pelan dia menghisap bibir Celine, lalu berpindah ke bibir bawanya. Dia melakukannya sampai Celine tidak merasa sesak seperti biasanya. Kemudian Darchen pelan-pelan turun hingga sampai di tengkuk leher Celine. Dia menciumi tempat tersebut dan meninggalkan tanda di sana. Dia pindah ke tempat satunya lagi di sebelah kanan, dan meninggalkan tanda juga di sana. Dia dengan nakal berhembus ke arah telinga Celine. Spontan Celine mengeluarkan suara desahan tanpa disengaja sama sekali. Dia sendiri pun terkejut mendengar suara itu. Dia langsung menutup mulutnya agar suara itu tidak keluar. "Apa yang akan dilakukan Darchen padaku? Semoga dia tidak menghancurkan masa depanku," celetuk Celine dalam benak. Darchen mulai intim kini. Tangannya memegang lingkar pinggang Celine. Kemudian kancing baju Celine dibukanya satu persatu. Model gaun itu untungnya bertangan panjang, hingga tidak terbuka seluruhnya. Celine yang duduk di atas pangkuan Darchen merasakan sesuatu dari milik Darchen. Mungkin pria itu benar-benar berkontraksi. Tidak bida dihentikan jika pria itu ingin mencicipinya. Celine tidak tahu milik Darchen tegang karena cuaca dingin atau ter@ngs@ng. Darchen semakin liar pula tangannya hingga ke paha Celine. Pria itu mengelus pelan bagian pahanya sampai Celine mengeluarkan suara desahan lagi. Sungguh Celine juga manusia, bisa melakukan kesalahan. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi jika Darchen semakin memancingnya. Celine memengang tangan Darchen agar pria itu berhenti mengelus pahanya. Kemudian dia meletakkan tangan Darchen ke bahunya. Lalu dia berdiri. "Pakai bajumu," suruh Celine setelah dia berdiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN