Hasil Perjuangan

2128 Kata
Genah telah berhasil melalui banyak hal demi bertemu dengan orang yang bisa memberinya banyak jawaban tentang Celine dan bagaimana mengantarkan majikannya itu pulang. Dia tidak menyia-nyiakan waktu dengan berlama-lama berbasa-basi dengan Pak Kong. Dia terus menanyakan pada pria tua itu tentang Celine dan asalnya. Benarkah Celine berasal dari dunia berbeda dari dirinya, itu lah yang membuatnya tidak bisa menyelesaikan masalah hidupnya. "Majikanku, dia mengatakan kalau asalnya bukan dari dunia ini. Lalu darimana dia berasal?" tanya Genah langsung. "Hmm? Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Apa alasanku untuk memberikanmu jawabannya?" tanya Pak Kong seperti mengejek. "Memohon akan kulakukan jika perlu," balas Genah. "Aku tidak butuh sujud atau hormat darimu," balas Pak Kong dengan angkuhnya. "Hidupnya adalah beban bagiku, jika dia tersiksa, maka aku yang lebih tersiksa. Jika dia bahagia, maka aku lebih bahagia. Sebab itu … karna itulah aku mencari tentang dirinya. Dia adalah cahaya baru bagiku, tanpa dia … aku tidak akan pernah merasa diperlukan di dunia ini," ungkap Genah sesuai dengan perasaanya yang kini terus membuatnya tersiksa. "Tidak ada hubungannya denganku. Masalah hidupmu adalah milikmu, aku tidak ikut campur," jawab Pak Kong. "Apa yang kau inginkan? Aku akan berusaha memenuhinya sebisa mungkin," tambah Genah. "Ehm … sebentar," sahutnya. Dia memegang ujung jari Genah bagian kelingking lalu memejamkan matanya. Dia sedang melihat sesuatu dari dalam diri Genah. "Baiklah, lagian kau tidak terlalu banyak menguntungkan aku," decak Pak Kong. Pak Kong meminta benda yang sering digunakan oleh Celine. Untuk membaca dari sana. Tapi Genah tidak memilikinya. Tidak mungkin pula dia kembali ke istana untuk membawakan pada Pak Kong. Sebab jelas Pak Kong mengatakan kalau dia akan menghilang jika sudah ditemui oleh orang lain. Dia akan bersembunyi selama dua minggu dari dunia, jika sudah ada orang yang menanyakan sesuatu padanya. Beruntung Genah adalah orang pertama yang menemukan Pak Kong setelah dua bulan tidak ada yang menanyakan Pak Tua itu. Jika saja dia terlambat beberapa hari, mungkin saja dia tidak ada waktu mencari Pak Kong. Sialnya, Genah sudah menanyakan pada Pak Kong tadi, itu artinya Pak Kong akan menghilang selama dua minggu ke depan. Jika saja dia tidak menanyakan tadi, mungkin dia masih memiliki beberapa hari untuk menjemput benda yang sering digunakan Celine. "Aku tidak memilikinya," jawab Genah dengan muka kecewa. "Kalau begitu kau tidak ada kesempatan lain," balas Pak Kong. Genah kesal saat itu, dia terus menyalahkan dirinya perihal kesembronoan. Harusnya dia mempersiapkan dari awal. Sejak dia baru saja pergi memang dia hanya berbekal nekat saja. Tidak ada persiapan sedikit pun. Wajar saja jika akhirnya harus pulang dengan tangan kosong. Dia terus terbayang dengan wajah Celine. Ketidakmampuan dirinya dalam membantu Celine membuat dia merasa tidak berguna. Setidaknya dia bisa menyelamatkaan Celine dari dunia yang bukan asalnya. Hanya itu yang dia inginkan. Namun dia sudah tidak ada jalan lain lagi. Dia terlalu sembarangan dalam melangkah. Hingga akhirnya perjuangannya berakhir tanpa membuahi hasil. Ketika dia membayangkan wajah Celine di pikirannya, Genah teringat akan satu hal. Dia mengingat kalau dulu Celine pernah membawakan dia sesuatu dari kastil Darchen, yaitu buah pinus kering. Celine meletakkannya di kantung jubah kuda yang ditunggangi oleh Genah. Berharap pinus itu masih ada di sana, dia langsung berlari mengarah kuda yang dia tunggangi tadi. Lalu memeriksa bagian kantong milik kudanya. "Syukurlah," ucapnya kegirangan. Genah langsung memberikan pada Pak Kong. Berharap pinus itu berhasil menyelamatkan nasibnya yang telah gagal membantu Celine. Pak Kong menerima pinus tersebut. Dia menutup matanya sambil menggenggam pinusnya. Dia mulai membaca melalui sentuhan tangan Celine. Sedikit demi sedikit alur kejadian Celine mengambil pinus itu terputar. Lalu kemudian Pak Kong mencari masa lalu milik Genah. Dia terus memutar ingatan dari Celine, sampai akhirnya dia menemukan peradaban manusia yang amat asing baginya. Pak Kong yang sedang tertutup matanya itu langsung terbelalak. Dia begitu terkejut melihat dunia asing itu. Terlalu banyak orang dengan pakaian aneh. Besi dan api dalam bentuk yang berbeda. Terlalu banyak bahaya dalam peradaban itu, hingga hati Pak Kong yang tenang kemudian terganggu. "Ada apa?" tanya Genah. Dia melihat Pak Kong yang begitu panik yang semula biasa saja itu tiba-tiba berubah ekspresinya. "Siapa wanita itu?" ucap Pak Kong yang ikut keheranan. Pak Kong langsung menjelaskan yang dia lihat pada Genah. Satu persatu secara rinci dia jelaskan pada Genah. Mulai dari apa yang dia lihat tentang bangunan yang menjulang tinggi. Tempat-tempat aneh. Meski banyak cahaya penerangan di sana, masih terlalu berbahaya bagi orang-orang. Banyak kejahatan manusia di sana, bahkan lebih mengerikan dibandingkan dunia mereka. Seperti yang Pak Kong lihat, sesungguhnya bukan Yumiro yang menganggu manusia, tetapi sesama manusialah yang saling menyakiti. Mereka begitu kejam, hingga pembunuhan adalah hal biasa bagi mereka. "Terlalu kejam yang kau ceritakan. Tidak seperti yang Nona Celine jelaskan," sulak Genah. "Belum selesai aku bercerita," jawab Pak Kong. Pak Kong melihat dunia itu begitu indah pula. Ketika malam, bintang bersinar dengan sahdu, dengan kerlip cahaya lain, dimana bukan tuhan yang menciptakan benda itu, tetapi manusia. Banyak benda asing lainnya yang membantu manusia pada jaman tersebut. Hanya saja, benda-benda itu pula yang melalaikan mereka. Celine adalah orang yang terus tersenyum kepada semua orang. Dia membagi kebahagiaannya meski dia menderita. Banyak hal yang membuatnya berhenti berharap pada masa depan yang cerah, tapi dia terus hidup dan berusaha agar tetap bertahan meski banyak beban yang dia pikul. Celine hidup seperti halnya orang lain. Punya beberapa teman dan sering bersama dengan mereka. Dia tertawa dengan ceria, dia banyak berbicara dan tidak terlihat kecewa meski banyak hal pula yang membuatnya berduka. Tetapi ketika sendiri, dia menangis. Dia bersedih sebab terlalu banyak masalah hidupnya. Tidak pernah dia menampakkan kesedihan itu pada orang lain. Dia terus bersembunyi di balik muka riangnya. Hanya saja, dia terlalu lemah untuk terus tegar, hingga air matanya terus bercucuran ketika dia sendiri. "Ternyata dia memang begitu. Dia kuat. Hanya saja terlalu cengeng," timpal Genah sambil tersenyum. "Kira-kira begitu," jawab Pak Kong. "Terima kasih. Ada hal lain pula yang ingin kutanyakan," sambung Genah. "Ternyata kau serakah juga," bengis Pak Kong. "Bagaimana cara mengembalikannya ke dunianya?" "Aku tidak tahu. Tidak pernah ada sejarahnya orang seperti ini di kehidupan lali," jawab Pak Kong. "Meski sedikit celah akan aku cari," sahut Genah tanpa getir. "Dasar keras kepala." Pak Kong mengumpat. "Aku rasa dia bisa kembali, hanya saja kecil kemungkinannya." "Katakan saja, aku berharap banyak pada kemungkinan itu," sahut Genah semangat. "Dia akan kembali, tapi bukan sekarang waktunya. Kau tidak bisa memaksa waktu untuk membuatnya kembali ke dunia itu," jelas Pak Kong. "Apa maksudnya? Aku tidak paham." "Akan ada cahaya yang akan membawanya pergi. Kapan waktunya, aku tidak tahu," tukas Pak Kong. "Aku akan cari, dimana aku mendapatkannya?" tanya Genah dengan perasaan tidak sabar dan tidak pikir panjang. "Aku juga tidak terlalu yakin, tapi orangnya berasal dari dunia yang sama dengan dia," ungkap Pak Kong. Genah langsung bergegas pergi dari sana setelah mengetahui segalanya. Dia berterima kasih pada Pak Tua tersebut lalu segera beranjak berangkat. Dia akan mencari siapapun orang itu. Dia harus mempertemukan Celine dengan orang tersebut. Dengan begitu, beban Celine tidak akan dipikul sendirian, setidaknya Celine bisa berbagi cerita keluhan pada orang tersebut. Genah kembali ke Kerajaan Athiam, lalu menemui Celine setelah sampai nanti. Dia tidak sabar menyampaikan bahwa bukan hanya Celine seorang yang terjebak di dunia mereka, namun ada salah seorang lagi. Ditambah kabar baiknya adalah, orang tersebut adalah harapan besar bagi Celine. Genah memacu kudanya dengan kecang, tidak ada ranting pohon yang menghalanginya, tidak ada batu yang menjadi hambatan baginya. Dia terus mengayunkan tali kuda yang melingkar dileher hewan tersebut. Dia tidak akan berlama-lama lagi, kabar tersebut harus segera dia sampaikan. Genah sudah membayangkan bagaimana ekspresi Celine nantinya jika tahu bahwa bukan dia seorang yang terjebak di dunia tersebut, bahwa ada seorang lagi. Dia tidak sendirian. Sementara Celine yang masih tidak menyangka kalau Dion berani mengatakan hal kasar itu padanya, hanya bisa menelam semua kata-kata tersebut. Dia yakin orang lembut seperti Dion tidak menyimpan kalimat seperti itu, dia tentunya adalah pria lugu nan polos. Celine menatap mata Dion sambil mendekat. Dia terus melangkah lebih dekat dengan Dion sampai Dion heran dan bingung. "Hey … apa yang kau katakan tadi?" tanya Celine sambil mencipitkan matanya. Dia menatap Dion penuh dugaan dan kecurigaan. "Eh eh … apa maksudmu?" tanya Dion balik. "Saat kau mengatakan itu, yang aku lihat adalah Darchen. Ehm … kau diajarkan olehnya, bukan," tukas Celine sambil menunjuk dengan jarinya. "Kenapa kau bisa menduga hal itu?" "Cih, aku sudah yakin. Aku tahu sifatmu, jadi tidak mungkin mengatakan hal itu," jawab Celine sambil melipat tangannya. "Sudahlah, tidak perlu menutupinya lagi. Darchen yang menyuruhmu mengatakan demikian, kan?!" sambung Celine menekankan dugaannya. "Ehm … benar," angguk Dion. "Baiklah … jagan pernah mau diajarkan seperti itu lagi. Aku tidak akan mengganggunya. Aku juga punya malu. Kau kira aku senekat itu mencacinya, ha? Bisa-bisa dia emosi nantinya lalu merobek mulutku di depan banyak orang," timpal Celine. "Aku kira kau tidak memikirkan hal sejauh itu," tambah Dion yang tidak bermaksud mengejek Celine. Dion hanya terlalu polos orangnya, sampai kata-katanya juga tidak pernah dia anggap menyakiti orang lain, karena memang dia lembut orangnya. "Oh yah, jangan bahas itu lagi. Ada yang ingin kutanyakan," kata Celine mengajak Dion lebih santai lagi dalam berbincang. "Ada apa?" "Ada hubungan apa kau dengan Genah. Aku rasa kalian serasi, kenapa tidak menikah saja?" Dengan mulut tidak tersaring baik, Celine hanya mengungkapkan isi kepalanya yang kopong itu. Dia terus mengoceh padahal tidak tahu kebenarannya. Yang dia ucapkan hanyalah sesuai perkiraannya, meski tidam benar, dia tetap mengungkapkannya. "Apa maksudmu?" tanya Dion terkejut. Dia menjadi risih dengan perbicangan mereka. Terlalu jauh untuk memikirkan hal pribadi, menurut Dion. Bahkan otaknya tidak terbiasa dengan kisah intim seperti itu. Dia hanya tahu perang, misi, dan kemerdekaan saja. Tidak sempat dia memikirkan hal lain selain bela negeri. Tapi Celine yang mulutnya lemes itu malah membuyarkan sikap tekatnya itu dengan pertanyaan sulit. "Yah … aku rasa kalian cocok," tambah Celine lagi tanpa rasa bersalah. "Itu hanya pendapat pribadimu saja," balas Dion mengalihkan pembicaraan. "Hey hey … kenapa? Kau juga sudah sepatutnya menikah. Lihat umurmu, sudah tua begitu masih melajang. Lemah sekali kau," ejek Celine. "Apa yang kau katakan?" "Apa yang kukatakan? Sekarang waktunya kau mencari teman hidup, itu saja tidak paham. Apa kau ingin terus melajang seperti ini, ha? Dasar laki-laki payah! Jangan tiru tuanmu yang gila itu. Pikirkan masa depanmu," nasehat Celine dengan perasaan seolah orang paling bijak sedunia. "Negeri ini adalah masa depanku," jawab Dion dengan penuh yakin. "Dasar sinting. Aku seharusnya membawamu clubing agar jadi playboy sekalian," gumam Celine dengan sedikit kesal. Dia sudah memperhatikan beberapa keanehan di dunia tersebut. Banyak sekali pria tampan yang menyia-nyiakan wajahnya dengan mengabdikan diri pada negeri. Mereka tidak memerlukan waktu untuk diri sendiri atau waktu untuk mencari pendamping hidup. Yang mereka kenal hanya berlatih perang dan mencari kekuatan untuk melindungi negeri segenap jiwa dan raga mereka. Jika saja dengan wajah seperti itu mereka hidup di dunia nyata bersama Celine, mungkin mereka adalah aktor dan model terkenal yang tampan dan mapan. Mungkin akan banyak ketampanan yang terkalahkan jika mereka hidup di dunia yang sama seperti Celine. Bahkan tanpa perawatan kulit, mereka sangat tampan. Padahal terim matahari terus-terusan membakar kulit mereka. Tapi ketampanan itu masih terus melekat. Ketika letih saja mereka terlihat mempesona, meski debu dan keringat menyertai mereka. Tapi tidak ada kata kurang dalam penilaian wajah mereka. Begitu tampan sampai Celine tidak tahu harus berbuat apa dalam menahan matanya untuk menjaga agar tidak menatap para lelaki itu. "Haruskah aku menikahi kalian semua?" celetuk Celine. "Apa yang kau pikirkan?" Darchen datang menghancurkan bayang-bayang Celine tentang kehidupan dimana banyak pria tampan di sekelilingnya. Darchen menjetik kepala Celine ketika dia melihat Celine bergumam. Baru saja dia meninggalkan wanita itu beberapa jam, tapi sudah ada niat untuk berpaling dari dirinya. Dia merasa tercampakkan dengan perbuatan Celine itu. "Buang jauh-jauh impian bodoh itu," perintah Darchen lalu menarik hidung Celine keras. Bahkan sampai ujung hidungnya memerah karena tarikan terlalu keras. "Ahhhh! Sakit!" rengek Celine sambil memukul tangsn Darchen yang menarik hidungnya sampai memerah itu. "Aku akan membunuh orang yang kau sukai, selain aku," ucap Darchen mengancam. "Cih, dasar labil! Semalam kau menyiksaku, hari ini bertingkah tidak terjadi apa-apa. Besok apa lagi yang akan kau lakukan padaku?" umpat Celine kesal. Darchen menatap Dion, memerintah dengan kode agar dia segera meninggalkan mereka berdua di sana. "Hey! Kemana kau? Bagaimana dengan Genah! Dion! Dion!" Celine berteriak memanggil Dion. Belum sempat Dion menjawab pertanyaannya tentang perasaannya terhadap Genah, tapi tidak terjawab karena dia langsung pergi. "Berisik sekali kau," decak Darchen. Pria itu menutup mulut Celine yang berteriak-teriak keras itu, lalu membawanya hendak masuk ke dalam kamar. Tapi Celine dengan niat memberontak melebarkan kaki dan tangannya agar tidak bisa melewati pintu masuk ke dalam. Dia menahan kakinya di sudut pintu agar Darchen tidak bisa menarik paksa tububnya masuk ke dalam. "Lpakn … ehm … ak (lepaskan aku)." Mulutnya yang masih tertutup telapak tangan Darchen itu terus berusaha berteriak. "Apa?" tanya Darchen tidak paham. Celine kemudian menarik tangan Darchen dari mulutnya, lalu menginjak kaki pangeran itu. "Huh … aku tidak bisa bernafas!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN