Celine dengan ragu membuka bajunya. Untungnya saja dia menggunakan pembalut berwarna putih untuk menutupi p4yud4r4nya. Dia kemudian menatap Darchen, melihat ekspresi wajah pria itu. Dia takut kalau kali ini juga pria itu sedang mempermainkan dirinya.
Ketika dilihatnya, tampak sangat berkonsentrasi dan serius. Darchen dengan pelan menjamah perut Celine, terus kemudian menggoreskan jarinya di atas simbol tersebut. Seolah dia sedang menggambar pola di atas sana. Seperti pola segi enam yang indah, entah seperti apa bentuknya, namun dia terlihat fokus. Seketika cahaya menyerupai pola tersebut muncul.
Saat itu juga Celine semakin kesakitan menahankan perihnya. Rasa sakitnya tidak tertahankan, sampai tangannya meremas kasur tempat tidur dimana dia sedang duduk kini lalu menggigit bibirnya untuk menahan sakit. Seolah perihnya sampai hingga ke tulangnya. Seakan tubuhnya sedang digerogoti.
"Ahhh," rintih Celine kesakitan.
Namun Darchen tidak berhenti menggores perutnya. Dia tetap melanjutkan pengobatan itu. Meski sebenarnya dia pun tidak tega mendengar jerit kesakitan dari wanita itu. Tetapi jika tidak segera ditangani, bisa-bisa magis dalam tubuh Celine membahayakan dirinya sendiri.
"Kenapa kau menatapku begitu?!" tanya Celine dengan muka tidak senang bercampur malu.
Darchen tersenyum. Kemudian dia lanjut mengobati perut Celine.
"Aku terhibur," jawab Darchen singkat.
"Orang sakit begini dianggap candaan, huh," gerutu Celine dengan suara pelan membisik.
Darchen kemudian berdiri. "Sudah selesai," ucapnya. Pangeran itu langsung berbalik pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.
"Lagi lagi dia begitu," decak Celine kesal.
Celine melihat perutnya, sebab dia tidak merasakan sakit atau perih dari sana. Setelah beberapa saat barulah dia tersadar. Ketika matanya menatap bercak darah di lantai. Awalnya dia menganggap kalau darah itu berasal dari simbol perutnya. Namun setelah diikutinya bercak-bercak merah darah itu sampai ke pintu kamar Darchen, dia baru sadar kalau darah itu bukan miliknya. Dia tidak melalui jalan itu sebelumnya. Sudah tentu itu bukan miliknya. Kesimpulannya bahwa darah itu adalah milik Darchen.
Celine langsung mengikuti kemana perginya Darchen melalui bercak darah di lantai. Hingga akhirnya tidak ada tanda lagi yang menuntut jalannya. Mentok hingga kamar mandi.
Dia membuka dengan pelan pintu kamar mandi tersebut, dan melihat situasi di dalamnya dengan bersembunyi di balik tembok.
"Uhuk … uhuk." Suara batuk Darchen terdengar. Beserta dengan keluarnya darah dari mulutnya. Sangat banyak dan kental. Terlihat bahwa darah itu teramat segar.
Celine ingin sekali menolong pria itu, namun tidak ada yanh bisa dia lakukan. Bahkan masuk ke dalam kamar mandi pun dia tidak berani.
Celine akhirnya kembali ke kamar Darchen dan duduk di sana. Dia berpura-pura seolah tidak mengetahui apapun. Sebab dirinya yakin kalau sebenarnya Darchen tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain. Dia selalu ingin tampil kuat, padahal sebetulnya dia sangat lemah. Tujuannya hanya agar tidak membuat orang cemas.
Celine merebahkan badannya di atas tempat tidur. Lalu menutup wajahnya dengan bantal yang berada di dekatnya. Sampai akhirnya Darchen datang, barulah dia menarik selimut dan membalut tubuhnya.
"Apa dia kedinginan?" tanya Darchen dalam benak.
Pangeran itu mencoba merasakan suhu tubuh Celine, namun dahinya tertutup bantal. Saat dia mengangkat bantal tersebut, tapi tertahan. Celine bersikeras agar bantal itu tidak terbuka.
"Ada apa denganmu?" tanya Darchen bingung.
"Aku ingin tidur," jawab Celine dengan bantal masih menutup mukanya. Suaranya terdengar sengau sebab terhambat bantal.
"Kau baru saja bangun," ucap Darchen dengan bingung.
"Aku mengantuk, kenapa masih ditanya!" balas Celine dengan cerewet.
"Apa tidak susah bernafas jika kau menutup hidungmu," timpal Darchen lagi.
Celine langsung bangkit dari posisi tidurnya, lalu menyingkir bantal dari wajahnya, kemudian dia menatap Darchen dengan mata mengerikan. Seolah dia sedang murka.
"Kenapa kau berpura-pura cemas? Ha?!" tanya Celine dengan muka masam.
"Karena aku peduli," jawab Darchen singkat.
"Cemaskan saja kesehatanmu. Tidak perlu hiraukan aku," tambah Celine merengut. "Kau tidak perlu mengobatiku, aku tidak butuh," ucapnya lagi dengan marah. "Karena … kau akan terluka," sambung Celine sambil menunduk. Dia tidak ingin Darchen sakit karena dirinya, seperti tadi, begitu banyak darah yang keluar dari mulutnya. Semua itu disebabkan oleh dirinya. Karena luka kecil di tubuhnya, sampai melukai Darchen sebanyak itu.
"Apa kau sedang mencemaskanku?" tanya Darchen sambil tersenyum. Dia mengelus rambut Celine senang sambil tertawa pelan.
"Tidak!" teriak Celine malu. Dia langsung menidurkan badannya lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Darchen kemudian berjalan ke arah barat tempat tidur itu, lalu berbaring di samping Celine. Dia mengambil selimut dan menutup dirinya bersama dengan Celine. Mereka kini tepat berada satu alas di atas ranjang yang sama.
"Kenapa kau di sini?!" senggak Celine sambil menjegilkan mata ke arah Darchen.
"Karena ini kamarku," jawab Darchen singkat dan tenang.
Celine baru sadar. Ternyata dirinya sedang di kamar Darchen. Pantas saja dengan tenang pria itu tidur di sampingnya. Jawabannya cukup mudah. Dia bisa sesukanya melakukan apapun, karena memang kamar itu adalah miliknya.
Celine keluar dari selimut itu, hendak pergi meninggalkan kamar Darchen.
Dengan sigap, pangeran itu menarik tubuh Celine dan langsung mendekapnya erat. Dia tidak membiarkan wanita itu bergerak sedikit pun. Dengan suara pelan membisik, dia meminta agar Celine tidak perlu pergi darinya, karena saat ini dia membutuhkan seseorang membantunya menahan rasa perih di tubuhnya. Bukannya dia ingin meminta balas budi, hanya saja dia menginginkan dekapan hangat.
Darchen dengan manjanya mengatakan,"Perutku sakit." Sambil merengek dia mengadu pada Celine.
Sementara Celine yang terkejut dengan tingkah Darchen hanya bisa tertanya. "Kenapa pria ini bisa manja begini?"
Celine kemudian menatap Darchen. Dengan jarak yang begitu dekat, mata mereka baradu. Beberapa detik mereka saling memandang satu sama lain. Darchen yang tersenyum tipis itu tidak berkedip sama sekali menikmati wajah Celine yang tampak masam.
"Apa perutmu benar-benar sakit? Sama seperti yang kurasakan tadi?" tanya Celine penasaran.
"Aku bisa menahannya," jawab Darchen.
Bahkan sakit yang dirasakan oleh Celine tadi itu lebih parah dari pada yang diderita Darchen sekarang. Sakitnya berlipat ganda karena menanggung semua magis yang buka miliknya. Apalagi memang pada dasarnya magis yang dimiliki Celine bersifat merusak. Sudah barang tentu kalau Darchen akan hancur, sebab magis itu bukanlah miliknya. Tapi dengan bodohnya dia menyedot magis tersebut, yang jelas tahu apa akibatnya bagi dirinya.
Celine melepas dekapan Darchen lalu bangkit dari ranjang tersebut.
"Celine," panggil Darchen melarangnya agar tidak pergi jauh darinya.
Celine tetap diam dan pergi begitu saja. Dia turun ke bawah untuk menghangatkan air di dapur. Meski tidak mengobati, setidaknya membantu meringankan rasa sakit Darchen. Setidaknya dia berguna untuk Darchen. Apalagi sakit itu diderita Darchen karena dirinya sendiri.
Dia segera naik lagi setelah air yang dimasaknya sudah hangat, kemudian kembali ke kamar Darchen.
"Hmm?" decak Darchen heran melihat Celine kembali.
Celine meletakkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil bersamaan yang dibawanya tadi di samping Darchen duduk.
"Buka baju," perintah Celine dengan singkat. Matanya tidak memandang wajah Darchen sama sekali. Sebab dia tidak ingin melakukannya karena hati, namun dia telah bertekad agar tidak menaruh cinta pada Darchen lagi. Jika menatap wajah Darchen, jantungnya akan langsung berdegup kencang. Sebab itu dia hanya menunduk.
Seolah yang dilakukan Darchen padanya, terulang kembali. Yang semula pangeran itulah yang menyuruh Celine membuka baju, kini berganti, wanita itulah yang menyuruhnya membuka baju.
"Kau bersandar saja," suruh Celine lagi.
Dengan pelan Celine menempelkan kain hangat itu ke perut Darchen. Dengan penuh perhatian, dia menepuk-nepuk pelan perut Darchen.
"Astaga, kenapa sangat bagus?! Syialan! Aku terpesona. Sangat menggoda, aku tidak tahan lagi. Keimananku bisa goyah kalau lama-lama memandang ini," umpat Celine dalam hatinya. Melihat tubuh Darchen yang sempurna itu, dia hanya bisa menelan ludah.
"Kenapa kau menutup mata?" tanya Darchen kebingungan.
Celine yang terkejut langsung membuka matanya dan membuang pikirannya jauh-jauh.
"Agak ke atas," surug Darchen lagi.
Sungguh Celine tidak tahan lagi. Harga dirinya seolah dipertaruhkan. Rasanya dia ingin menyentuh badan Darchen yang six pack itu. Namun dia terus berceloteh dalam hati untuk memendam dan terus mengontrol niatannya itu.
"Kau berkeringat," ucap Darchen sambil mengusap kening Celine yang basah.
"Dasar b4jingan! Aku sampai keringat dingin karena tubuhmu," umpat Celine lagi dalam hati.
"Ekhem …," deham Celine. "Apa sudah mendingan?" tanya Celine.
"Masih sakit," jawab Darchen. Padahal sesungguhnya dia bisa menahan rasa sakit itu. Lebih parah lagi rintangan yang dialaminya di masa lalu dari pada sekarang kini. Tapi melihat keresahan hati Celine, membuatnya ingin terus memandanginya dan menikmati perhatian dari wanita itu.
Tangan wanita itu terus mengusap badan Darchen dengan kain rendaman air hangat. Meski hampir tidak bisa mengontrol diri, namun Celine meneguk khilafnya dan membuang pikirannya jauh-jauh.
"Oy, sampai kapan aku akan terkurung di sini?" tanya Celine.
"Sampai kau memaafkanku," jawab Darchen.
Celine berhenti. Dia mengemasi benda yang dibawanya tadi lalu pergi begitu saja. Tanpa meninggalkan sepatah kata dia acuh pada Darchen.
Selama dua hari penuh, Celine sama sekali tidak mengacuhkan Darchen. Kerjanya hanya rebahan di tempat tidur. Meski beberapa pekerjaan rumah, dia lakukan, seperti, memasak, dan membersihkan kastil tersebut. Dia juga mencuci pakaian kotor lalu merapihkannya.
Dia sama sekali tidak pernah berbicara dengan Darchen. Ketika dia disapa atau ditanya oleh Darchen, dia diam tidak berkutik.
Sampai akhirnya Darchen sadar, kalau waita itu hanya ingin keluar dari kastil tersebut.
"Kau ingin jalan-jalan?" tanya Darchen.
Celine yang tengah menjemur pakaian itu tidak menjawab sama sekali. Dia terus memeras dan menggantungkan pakaian.
"Celine!" panggil Darchen.
"Tidak," jawab Celine.
"Makan di luar?" tanya Darchen lagi.
"Aku sudah masak," jawab Celine.
Dari beberapa hari sebelumnya Celine tidak pernah berbicara dengan pangeran tersebut. Namun hari ini, dia menghiraukan Darchen.
"Ganti baju, kita kembali ke istana," perintah Darchen. Dia kemudian pergi tanpa mendengar penolakan dari Celine.
Celine yang tidak bisa berkata-kata apapun lagi, hanya bisa menuruti perintah Darchen.
"Dia memerintah lagi," umpat Celine dengan mulut mengerucut.
Beberapa saat kemudian, Darchen datang ke kamar Celine. Dia mengetuk pintu berulang sampai wanita itu membukakan pintu.
"Sabar!" teriak Celine dari dalam.
"Cepatlah!" perintah Darchen mendesak.
"Iya , aku cuma…." Baru saja hendak mengupat dari dalam, Darchen masuk ke dalam, padahal pintu sudah dikunci dengan rapat. Bersengaja agar pangeran itu tidak bebas keluar masuk ke kamarnya. Namun tidak berguna sama sekali, karena pangeran itu terlalu disepelekan jika hanya bermodalkan penguat yang dapat dirusaknya.
"Nanti panas," ucap Darchen.
"Wah! Jaman ini juga ada perawatan seperti itu, yah?" jawab Celine tercengang.
"Nanti kau kepanasan," sambung Darchen.
"Brengzek! Aku luluh," decak Celine dalam hatinya.
Sesegera mungkin, Celine menyelesaikan bajunya yang sulit dikancing itu.
"Biar aku bantu," ucap Darchen lalu berjalan mendekat Celine.
Dengan cepat, Celine menghindar agar jangan sampai pria itu melakukan adegan romantis yang bisa menimbulkan perasaan luluh. Celine sudah menebak hal apa yang akan terjadi setelahnya. Dia sering menonton di film-film drama percintaan. Dengan alur yang mendukung, suasana dan tempat. Celine berbalik agar Darchen tidak bisa menggapai kancing bajunya.
"Apa kau bodoh!" Darchen menjetik kepala Celine, lalu menarik tangannya agar berbalik.
"Eh eh." Celine terhayung dan punggungnya berbalik ke arah Darchen.
Darchen menepiskan rambut Celine yang terurai, lalu mengancingkan gaunnya yang macet.
"Sudah," ucap Darchen. Dia menjetik Kepala Celine lagi. "Jangan biasakan berpikiran kotor," nasehat Darchen seolah meledek.
"Aku tidak memikirkan apapun, kya! Jangan asal bicara," umpat Celine sambil mengejar Darchen yang sudah lebih dulu turun ke bawah. Dia akan menjelaskan atas sangkaan Darchen terhadapnya. Walaupun memang benar tadi dia sempat berpikiran kotor. Dia cukup malu karena Darchen berhasil menebak. Tapi dia lebih tidak senang lagi karena pangeran itu meledeknya sambil menjetik kepalanya dan tersenyum seolah sedang menurunkan harga dirinya.