Meluluhkan Hati

1719 Kata
Darchen berjalan menaiki tangga satu demi satu untuk mengantarkan piring berisi makanan untuk Celine. Berharap agar wanita itu memakannya meski tidak menyukai dirinya. Dia takut kalau sampai Celine kelaparan karena tidak memakan apapun. Darchen masuk ke dalam kamar tersebut lalu meletakkan piring itu tanpa mengatakan apapun. Di langsung keluar setelah memberi makan Celine. Setelah melihat pintu itu kembali tertutup rapat, Celine langsung menatap piring tersebut. Dia mendekat secara perlahan. "Syialan! Kenapa dia mengantarnya sudah malam begini. Aku sudah menahan lapar dari tadi," gerutu Celine mengumpat. Celine tidak tahu kalau Darchen masih berada di balik pintu mencoba menguping apakah wanita itu menyentuh makanan yang dibawakan. Darchen tersenyum mendengar umpatan Celine. Entah mengapa wanita itu lucu baginya. Sebenci-bencinya dia terhadap orang, dia masih menyempatkan diri untuk makan. Darchen ragu akankah itu rakus atau karena tidak peduli. Dengan hati tenang, Darchen kembali ke kamarnya. Tidak perlu memikirkan cara untuk membujuk Celine agar makan. Terkadang wanita itu sangat mudah diatur, dan kadang tidak bisa terkendalikan. Celine yang tidak bisa menolak makanan di depan matanya hanya bisa menyantap semuanya. Padahal dia sudah meniatkan dirinya agar tidak menyentuh makanan agar perutnya sakit, kemudian pingsan kelaparan. Setelah itu meminta Darchen membebaskan dirinya dari kastil dan kembali Kediaman Zoe. Namun rencananya tidak berjalan dengan mulus. Dia malah tergoda langsung dengan makanan sedap yang dibawa Darchen. Sungguh dia sangat lemah jika berhadapan dengan makanan. Setelah selesai memakan semuanya, dia keluar dari kamarnya lalu turun ke bawah untuk mengantarkan piring tersebut. Dengan hati-hati dia berjalan mengendap-endap. Melihat kondisi sekitar kanan dan kiri. Memastikan tidak ada Darchen di sana. Tidak melihat tanda-tanda keberadaan Darchen, Celine langsung turun ke bawah menuju dapur. Dari kejauhan dia mendengar suara perabot yang sedang berjatuhan. Celine lantas berlari memeriksa keadaan dapur. Dia takut kalau suara tersebut berasal dari bintang yang tidak sengaja masuk ke dalam kastil. Deg! Celine dihadapkan dengan asap yang datang dari dapur itu. Aroma di dalam dapur sangatlah menyengat, hingga membuat tenggorokannya gatal. Dia langsung mengambil air kemudian menyiramkannya ke arah kuali tempat Darchen sedang memasak. Entah sudah berbentuk apa lagi masakan yang ia buat. Berwarna hitam dan tidak bertekstur lagi. "Kenapa kau mematikannya?" tanya Darchen bingung. Tanpa menjawab pertanyaan Darchen, Celine mengambil kain pelapis tangannya lalu mengangkat kuali itu dari atas tungku. Dia merendam kuali panas itu di air yang mengalir dan membuang isi dalam kuali. "Jangan pernah memasak lagi," ucap Celine dengan muka datar. Dia kemudian pergi langsung setelah mengatakan sepatah kata pada Darchen. Setelah larut malam, Celine baru bisa terpejam tidur. Dia awalnya tidak bisa menutup matanya sama sekali, namun karena lelah akhirnya tanpa sadar matanya tertutup dan tertidur. Dari balik tembok yang memisahkan antar ruangan, Darchen diam-diam menunggu Celine sampai pulas. Kemudian dia masuk ke dalam. Entah apa tujuannya. Darchen membuka baju yang menutup tubuh Celine. Lalu digoreskannya jarinya ke arah rusuk Celine. Sedikit demi sedikit darah pun mengalir dari sana. Tampak dari wajah wanita itu sedang kesakitan, mungkin karena dia tertidur pulas hingga tidak merintih. Hanya saja dari raut wajahnya tergambarkan perasaan perih dari dalam. Seketika cahaya berwarna merah pekat muncul di permukaan. Kemudian cahaya itu menggumpal dan membulat. Seperti mutiara besar, gumpalan tadi masuk ke dalam tubuh Celine. Deg! Tubuh wanita itu seakan terisi oleh jiwa baru yang bersih. Nafasnya terhenti sejenak. Darchen langsung menekan d4d4 Celine, sehingga nafasnya kembali mengalir. Dengan perlahan, tangannya mulai memperbaiki luka tersebut. Sedikit demi sedikit bekas goresan tangannya di atas rusuk Celine terobati. Hanya saja tertinggal sebuah bekas. Namun bukanlah seperti bekas jahitan pada umumnya. Bekas luka itu tertutup dengan rapi tanpa meninggalkan sedikit pun lecet. Tetapi diantara perut dan tulang rusuknya muncul sebuah simbol ular di kulit perutnya. Sebelum Darchen keluar dari ruangan tersebut, dia menatap wajah Celine sejenak. Dipandanginya dengan dalam, selanjutnya dicarinya letak dimana hatinya bisa tergugah pada wanita itu. Wajahnya tidaklah terlalu cantik, tapi entah mengapa setiap melihat wajah wanita itu, dia semakin terhipnotis untuk terus menatapnya. Semakin lama pandangan dan pikirinnya hanya tertuju pada Celine seorang. Wanita itu kini teramat cantik di matanya. Sedikit dia sadar terhadap perasaannya. Dia sekarang tahu, kalau dia mencintai wanita itu, entah sejak kapan mulanya. Yang kini dicemaskannya hanyalah takut akan tidak mampu menjaga dan melindungi wanita itu dari segala macam bahaya. Kicauan burung di pagi hari yang cerah itu, membangunkan Celine dari tidurnya. "Auh … kenapa perih sekali," rintih Celine sambil memegang perutnya. Seperti ada sebuah sayatan yang membelah perutnya. Ketika dia bangkit dari ranjangnya, perih itu semakin terasa. Awalnya Celine menganggap sepele hal itu, mungkin hanya akibat makan terlambat semalam, makanya perutnya nyeri. Dia tetap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun semakin dia mencoba melupakan perutnya, sakitnya semakin menjadi-jadi. Sampai dia tak sanggup berdiri dengan benar karena sedang menahan sakit. Dia memeras perutnya agar mengurangi rasa perih itu lalu menyandarkan tubuhnya di tembok sebab dia sudah tidak tahan lagi berdiri lebih lama. Pelan-pelan dia menjatuhkan dirinya ke lantai agar lebih rileks. Dia mengambil sebuah minyak yang berfungsi menghangatkan tubuh untuk dioleskan pada perutnya. Betapa shocknya dia ketika mengangkat bajunya dan hendak mengoleskan minyak itu. Sebuah lambang ular terukir di atas perutnya. Dia langsung ketakutan dan berteriak keras sebab tidak bisa menerima keanehan yang terjadi padanya. Celine takut simbol itu muncul akibat kekuatan sihir magis yang ada dalam tubuhnya semakin menguasai dirinya, tanpa tahu kalau simbol itu Darchen lah yang membuatnya. Celine memaksakan tubuhnya agar bisa berdiri. Lalu dia berlari dengan kencang untuk menemui Darchen. Dia lupa bahwa sanya mereka sedang bertengkar kala itu. Karena terlalu panik, dia melupakan segalanya. Dia membuka pintu kamar Darchen tanpa mengetuk lebih dulu. "Darchen, aku akan berubah!" Ucapan pertama yang dikatakan oleh Celine ketika melihat Darchen. "Ada apa? Kau tenanglah dulu," jelas Darchen yang terkejut. Tiba-tiba wanita itu membicarakan hal aneh dengan wajah panik, tentu saja membuatnya sedikit cemas. Tidak tahu harus mengatakan apa pada Darchen, Celine membuka bajunya lalu menunjukkan pada Darchen simbol yang muncul di perutnya entah dari mana asal dan muasalnya. "Aku takut …," ucap Celine dengan muka panik. Darchen yang tahu dari mana simbol itu berasal hanya bisa berpura-pura tidak tahu. Dia suka dengan raut panik dari wanita itu. Dia suka karena kini Celine telah membicarainya, yang dimana sebelumnya wanita itu tidak mengacuhkan dirinya. Darchen berniat mempermainkan wanita itu sebentar karena dia senang akan hal itu. "Dari mana itu datangnya?" tanya Darchen dengan muka tidak tahu. "Aku yakin … aku yakin ini terjadi karena magisku," tebak Celine serius. Melihat Celine semakin panik, Darchen semakin ingin membuatnya ketakutan. Sebab wanita itu terlalu manis saat mengadu padanya. "Darchen … katakan kau tahu cara menghentikan magisnya!" paksa Celine. Tanpa sadar dia mendekati Darchen yang tengah duduk di kursi. Celine menunjukkan lambang itu dan tidak menutupnya sama sekali. Berharap agar Darchen mencari asal simbolnya, kemudian membantunya lepas dari magis uang terus mengikatnya dan mengambil alih tubuhnya. "Biarkan aku melihatnya," ucap Darchen. Dia merangkul pinggang Celine kemudian menariknya lebih dekat dengannya. Tangannya begitu pas di lingkaran pinggang Celine. Membuat Darchen semakin ingin mendekapnya dan tidak melepaskannya sama sekali. "Kau bisa lihat?" tanya Celine dengan dahi mengernyit. Dia tidak sadar kalau dirinya sedang dipermainkan. Rasa cemasnya lebih besar daripada kesadarannya saat ini. Dengan posisi berdiri sementara Darchen duduk, membuat wanita itu merasa ada yang aneh. Jika memang benar Darchen panik, sudah barang pasti dia akan berdiri karena panik. Lalu mengapa respon pria itu malah terlihat sangat santai. Celine mencoba menenangkan pikirannya, dan mencari letak keanehan lainnya yang ditunjukkan oleh Darchen. Dia menatap tangan Darchen yang melingkar di pinggangnya. Terasa hangat jika dibanding dengan perutnya yang dingin. Kemudian Celine menatap wajah Darchen lagi. Dia mendapati senyum tipis di bibirnya. Matanya juga tampak biasa saja, tidak menggambarkan kepanikan sama sekali. Otaknya yang lamban itu akhirnya encer juga. Celine sadar dengan yang terjadi. Dia baru paham sekarang. Dirinya dan Darchen bukannya sedang bertengkar. Namun bodohnya dia malah mengadu seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ayahnya. Dia akhirnya menjauh dan mendorong badan Darchen dari tubuhnya. "Sebentar saja," ucap Darchen dengan suara berbisik memohon. Pangeran itu menarik pinggang Celine lagi mendekat ke arahnya. Dia memeluk tubuh Celine dengan erat dan lama. Sama sekali dia tidak membiarkan wanita itu memberontaknya. "Maafkan aku," sambung Darchen lagi. "Aku tidak akan memaafkanmu," jawab Celine dengan nada luluh. "Kau tidak akan lepas dariku, jika tidak memaafkanku," lanjut Darchen dengan suara manja. "Berhentilah membuatku bingung. Sebaiknya kau menjauh dariku, karena itu hal yang baik," kata Celine dengan mata tidak tega menatap wajah Darchen. Hatinya sangat terluka saat mengatakan hal itu, namun agar semuanya berjalan normal tanpa ada drama harem kerajaan, dia tidak ingin. Baginya terlalu sulit untuk menjadi orang yang mencintai pangeran di kerajaan manapun. "Ck, jangan bilang kau jatuh hati pada Si Brengzek itu!" Suaranya tiba-tiba naik. Mata Darchen yang semula tampak senang, seketika berubah. "Aku berhak mencintai siapapun, tidak seorang pun pantas membatasi perasaanku," tegas Celine. Tidak senang dengan ucapan Celine. Darchen langsung menarik tangan wanita itu ke arah wajahnya. Lalu menerkam ke arah bibir Celine. Dia menggigitnya dengan keras sampai bibir Celine terluka. "Apa yang kau lakukan?!" Celine mendorong tubuh Darchen yang seperti orang keserupan. Dia mundur dan menjauh dari Darchen. "Kau hanya boleh mencintaiku!" tegas Darchen lagi. "Aku datang bukan untuk membahas perasaan yang merusak duniaku! Aku hanya tanya soal simbol ini," ucap Celine sambil menunjuk perutnya. Darchen tiba-tiba membuka bajunya sampai badannya terlihat jelas. Dia mendekat ke arah Celine sambil menunjuk ke arah perutnya. Persis seperti simbol milik Celine, Darchen juga mempunyai simbol tersebut. Letak maupun bentuknya juga mirip. "Kita sudah terikat, sekeras apapun kau menolakku, kau tetap akan jadi milikku," ujar Darchen dengan wajah serius. Entah kapan pangeran itu berubah menjadi seorang yang amat posesif dan berterus-terang. Seolah semua yang diucapkannya tidak pernah dibayangkan oleh Celine. Sebagaimana cerita dari orang-orang, dia adalah pria dingin yang kejam, tapi mengapa Celine banyak melihat sifat kekanak-kanakan dari pria tersebut. "Kau hanya mengarang cerita," sergah Celine tidak meyakini perkataan Darchen. "Apa masih terasa perih?" tanya Darchen sambil menyentuh perut Celine. Dia seolah tidak menghiraukan pernyataan dari wanita itu. Celine yang masih takut dengan Darchen hanya bisa mundur dan menampakkan raut ketakutan. "Ti-Tidak," jawab Celine berbohong. Darchen yang sudah tahu kalau wanita itu berbohong, langsung mengangkat tubuh Celine ke atas ranjangnya lalu menyuruh agar wanita itu duduk dan membuka bajunya. "Aku tidak mau!" tolak Celine memberontak. Darchen jongkok di bawah lantai lalu menunggu Celine membuka bajunya. Dia dengan lembutnya meminta agar Celine jadi anak patuh untuk beberapa menit kedepan. Sebab dia ingin membantu agar perih di perutnya itu tidak terlalu menyakitkan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN