Bab 10 | Syllain

1295 Kata
Chandelier terang, dinding kayu ulin serta harum mendur terselip di antara silir angin. Ini rumah nenekku. Janabijanaku. Tanganku menekan lantai, berusaha mendorong tubuh yang terasa berat ini untuk bangkit. Semakin lama kuperhatikan, semakin yakin bahwa aku berpindah alih-alih tengah bermimpi. Pigura yang beranak pinak di dinding memampangkan jelas wajah-wajah yang pernah menghuni rumah ini—pun wajahku dari masa ke masa. Di balik sekat, ruang tamu ramai dengan wajah-wajah asing. Tampak bibi dan pamanku sibuk menjamu tamu. Nenekku—yang sudah kepala tujuh—lewat dari dapur memboyong nampan berisi cangkir dan teko teh. Air mukanya tampak berseri hingga tak menghiraukanku yang kini menempel di dinding, kebingungan. ​"Nenek?!" bisikku panik, mataku melotot menatapi cangkir keramik itu. "Itu 'kan cangkir yang kemarin dipakai wadah cacing umpan pancing! Kok masih dipakai buat nyuguh tamu?!" Tentu saja suara histerisku tak terdengar olehnya. Tak mau terjebak dalam suasana yang tak kumengerti, aku pun berpindah ke ruangan lain. Semuanya tampak normal. Piano tua milik nenek masih tergeletak di sudut ruang keluarga, kendati jam dinding antik milik mendiang kakek—yang seharusnya ada—tak berhasil kutemukan. Mungkin nenek sudah memasukkannya ke kardus, mengingat sudah lewat lima warsa sejak terakhir aku menginjakkan kaki di sini. Dapur penggah ramai dengan saudara-saudariku yang memilih bersembunyi alih-alih ikut menyambut tamu. Mereka yang biasanya selalu bertengkar tanpa sebab yang jelas kini duduk bersama, kendati dengan ponsel di tangan masing-masing. ​"Selamat pagi dunia! Halo saudaraku, para siamang sekalian!" seruku lantang, merentangkan tangan bak raja yang menyapa rakyatnya. Tiada satu pun dari mereka yang menyadari kedatanganku, jadi aku santai saja saat mencuri setoples halwa pala di meja dan lekas beranjak. Ruang keluarga tak lagi sepi. Ada seseorang duduk di kursi berlengan, di dekat jendela. Pandangnya terpaku pada buku hitam di tangannya. Aku tak tahu siapa ia, tetapi kurasa aku pernah bertemu dengannya. Kakiku spontan menghampirinya. Dilihat dari dekat, rupanya ia seorang pemuda yang mungkin seusiaku. Awalnya kupikir ia anak tetangga nenek yang tomboi. Aku justru tergeming alih-alih bertanya hingga pemuda itu mengalih pandang padaku. "Tunjukkan telapak kakimu." Itu adalah permintaan teraneh yang pernah ditujukan orang padaku, akan tetapi aku tetap menurutinya. Kuangkat kaki kiriku. Sekonyong-konyong, pemuda itu meletakkan bukunya dan bangkit. Tatapannya seolah menyuruhku duduk di kursinya. Jadilah aku duduk dengan patuh, sementara ia kini membuka lemari di sudut ruangan, mencari sesuatu. Mulutku terbuka, hendak mengingatkan bahwa itu lemari nenekku, namun tiada suara yang keluar. Ia kembali dengan kotak P3K dan lekas duduk di lantai, lalu meraih kaki kiriku. Aku baru sadar pakaiannya kasual namun serba hitam. Ada sebersit kekhawatiran di manik kelabunya—ampuh membuatku menelisiknya lebih dalam sampai sesuatu terasa dicabut dari telapak kakiku. NYUT! Rasa sakit kontan menyadarkanku. Tatapanku jatuh pada kakiku yang kini tengah diperban, lalu pada tisu berdarah di lantai. Ada serpih kaca sebesar kuku jari manisku. Sejak kapan kaca itu menancap di sana? Sungguh, aku tak merasa tertusuk apa pun sedari tiba. Selesai dengan kakiku, ia beranjak membuang serpih kaca itu. "Itu... terima kasih," ujarku saat melihatnya kembali. Tiada jawaban. Pemuda itu duduk di seberangku dan kembali tenggelam dalam bukunya. Hening yang asing membuatku kikuk, jadi aku memutuskan untuk pindah ke kamar. Kuletakkan toples halwa pala yang kubawa di meja sudut untuk pemuda itu sebelum beranjak bertatih-tatih. "Kau sudah dekat dengannya, ya?!" Pertanyaan yang lebih seperti tuduhan itu terdengar lantang hingga membuatku jengah. Tanganku refleks menutup gorden pintu ruang keluarga. Di hadapanku kini berdiri salah satu saudariku yang lebih muda dua tahun—Bella, anak dari pamanku yang tinggal di Kota Nanas. Matanya yang berbinar-binar itu seakan menyuarakan rasa penasarannya yang kelewat besar. "Ayolah, Ishi. Kau sering chat dengannya 'kan? Kau bahkan punya panggilan sayang untuknya!" Layar ponsel dihadapkan tepat di depan wajahku. Terlihat jelas percakapan santai nan akrab di sana yang menambah kerutan dahiku. Kulirik nama kontak di sudut kiri... Sirloin? Sejak zahir di mayangda nan fana ini, tak pernah aku mendengar orang dengan panggilan yang seperti bagian daging steak. Tunggu, bisakah itu disebut sebagai panggilan sayang? Namun, itu benar ponselku. Garis vertikal biru yang membelah layarnya adalah ciri khas yang tak bisa kubantah. Aku bungkam. Bella lekas beranjak kembali ke dapur dengan tawa membahana, merasa menang. "Cih, dasar aneh," gerutuku pelan. Kamarku di rumah ini masih sama. Lukisan abstrak buatanku menggantung bisu di dinding. Tubuhku kini rebah di tempat tidur. Nyaman. Namun, seberapa lama pun mataku terpejam, aku tak kunjung tertidur ataupun terbangun dari mimpi ini. Sekonyong-konyong, aku merasakan riak dari tepi tempat tidur, merambat hingga berhenti tepat di sisi tubuhku. Sekilas kuintip dari ekor mataku. Itu jelas bukan Bella. Makhluk asing nan kurang ajar itu sudah bersandar nyaman di kepala tempat tidur. Mau apa dia? batinku terusik. Aku berpura-pura tidur, namun makhluk itu tetap pada posisinya dalam hening yang menjengkelkan. Rasanya aku ingin memukulnya, membekapnya dengan bantal hingga pingsan, dan menyeretnya ke hadapan seluruh penghuni rumah ini. Akan tetapi, semua itu hanyalah rencana dalam benakku karena sekonyong-konyong, dengan sangat tak terduga, tangannya kini terasa mendarat di dahiku, mengelusnya sejenak, lalu berpindah ke pucuk kepalaku. Demi apa pun, aku berusaha mempertahankan wajah lelap ini. Tangan besarnya kembali bertengger di dahiku—lama—sebelum berpindah mengurung sisi tubuhku yang lain. Kalian tahu bagaimana rasanya menahan amarah dengan kelopak mata? Ya, itu tidak berhasil. Mataku celik detik itu juga, namun wajah di hadapanku ini tak kaget sama sekali, justru wajahnyalah yang ampuh mengagetkanku dan guratnya yang tak merasa bersalah itu benar-benar menjengkelkan. Makhluk ini, pemuda asing di ruang keluarga yang kunamai 'Sirloin' di ponsel gaibku. Tanpa aba-aba, lututku menendang perutnya dengan seluruh tenaga. Dug! ​Mungkin tendanganku hampir berhasil, karena saat aku bangkit hendak lari, sebelah tanganku dicengkeram kuat olehnya. Tubuhku ditarik kembali ke tempat tidur. Aku terduduk di tepi tilam di antara kakinya, dan 'Sirloin' mendekapku erat dari belakang. Satu tangannya mengunci tanganku, sementara yang lain menahan bahuku. "Sialan!" makian itu lolos dari mulutku, sementara cengkeraman pada bahuku kini menguat, memaksaku untuk bersandar padanya. "Namaku Syllain, bukan sialan." Suaranya rendah di dekat telingaku. Ini pertama kalinya entitas yang kutemui di alam ini mau menyebutkan namanya—ayolah, si Jubah Hitam saja tak mau repot memperkenalkan diri, padahal dialah yang sering kutemui di alam gaib ini. Syllain tak macam-macam lagi. Ia mendekapku diam seperti Brahma yang menantikan usapan sebelum tidur, walau atmosfer di sekitar kami mendadak suram dan penuh kerinduan yang tersembunyi. ​Aroma manis seperti vanila merebak tipis dari tubuhnya. Perlahan, kehangatan dadanya membuaiku hingga aku kembali terlelap dalam dekapannya. "...Ishihara." ⊹ ⁛ ⊹ "Ishihara!" Pekikan kembali menggema. Tangannya terus menggoyang-goyangkan tubuh saudarinya. Tetangga bilang Ishihara tidak terlihat keluar rumah sejak pagi, jadilah ia memanjat pagar yang digembok. Pintu ternyata tak dikunci, namun lampu di beranda yang menyala. Tiada jawaban atas panggilannya membuatnya kian khawatir, lebih-lebih setelah mereka menemukan Ishihara tergeletak di pojok gudang. Padahal maksud kedatangannya yang mendadak ini sebagai kejutan, bukan untuk dikejutkan. "Eido, panggil Pak RT!" "Aku yakin dia cuma tidur," tukas bocah laki-laki itu, lalu mengambil botol airnya dan membukanya. "Wahai putri tidur, bangunlah karena hari sudah malam!" Percikan air maupun siraman di wajah tiada yang mempan. Tubuh itu tetap bergeming dengan napas pendek yang tenang dan teratur, pun dengan detak jantungnya. "Eido! Panggil Pak RT!" Bella kembali meraung. Eido tak lagi membantah, lekas ia berlari tergopoh-gopoh ke rumah Pak RT hingga melupakan sandalnya. Tetangga pun datang karena teriakan Bella, tetapi mereka pun hanya sampai pada kesimpulan bahwa Ishihara pingsan. Pak RT akhirnya datang bersama ambulans. Ishihara—di detik-detik menjelang penambahan usianya—dilarikan ke UGD dalam keadaan tak sadarkan diri. Di sisi lain, di ruang tamu rumahnya yang kini sepi, tampak cahaya kuning nan lirih menari dalam kegelapan. Perlahan, melelehkan sepasang lilin berbentuk angka 18 yang tertancap di kue black forest. Sekonyong-konyong, cahaya itu seketika padam dengan sempurna, seolah ada yang meniupnya. Padahal, tiada satu pun jendela yang terbuka malam ini. Tiada seorang pun di sana. Lantas, bagaimana bisa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN