Semua lekas beralih. Cahaya terang membuat mataku kontan menyipit sejenak, sebelum meredup bagai dihalau mega mendung. Kuamati aspal basah, lalu genangan air yang tengah kupijak dengan kaki telanjang.
Hujan yang berinaian lekas membasahi pakaianku. Deru angin terasa amat menusuk, menghalauku untuk memandang tempat macam apa ini.
Hanya sejenak.
Jalanan lengang. Cahaya dari PJU kalah telak oleh badai ini. Tiada satu pun makhluk yang terlihat. Setidaknya begitu, sampai mataku menangkap sosok berpayung putih tengah menyeberang jalan. Kakinya dengan yakin menjejak genangan air, sementara tangannya berjuang mempertahankan payung yang bahkan tak sanggup melindunginya dari amukan angin.
Sekonyong-konyong, sorot cahaya ramai mengalimantang, mengiris hujan badai yang tengah berlangsung. Kian lama, kian mendekat, menyorot sosok berpayung putih yang kini berhenti, pun diriku yang tetap bergeming.
Cipak! Cipak! Cipak!
Derap langkah berkecipak terdengar kala puluhan sosok hitam keluar dari mobil dan berlari. Sosok berpayung putih itu tampak melangkah mundur. Payungnya ia arahkan ke depan, seolah menjadikannya perisai guna melindungi diri, tak peduli hujan kini mengguyur kepalanya.
Benakku meneriakiku untuk segera lari, akan tetapi aku justru maju, menghampiri mereka.
Langkahku terasa ringan, seolah aspal basah di bawah kakiku hanyalah hamparan sutra yang dingin. Puluhan sosok hitam itu bukan lagi sekumpulan manusia; di mataku, mereka tampak seperti bayangan pekat yang merayap, haus akan cahaya yang terpancar dari sosok berpayung putih itu.
"Hentikan," bisikku. Suaraku kecil, tertelan deru badai, namun aku bisa merasakan getaran itu merambat dari ulu hati hingga ke ujung jemari.
Salah satu dari mereka—sosok yang paling depan—mengangkat sesuatu yang berkilat. Senjata.
Namun, sebelum pelatuk sempat ditarik, aku membayangkan dinginnya 'pesan ilahi' yang pernah menyentuh telapak tanganku. Kali ini, aku tidak mencari amarah. Aku mencari penerimaan atas segala luka yang baru saja kutonton di deretan cermin.
Wush!
Bukan ledakan yang keluar, melainkan sebuah gelombang melengkung transparan, menyerupai riak permukaan danau yang kini membungkusku dan sosok berpayung putih itu dalam sebuah kubah hening. Air hujan yang jatuh ke atas kubah itu seketika membeku, berubah menjadi kristal-kristal kecil yang berpendar sebelum jatuh ke aspal.
Sosok berpayung putih itu menoleh. Di balik payungnya yang terkulai, aku melihat wajah yang sangat kukenali. Bukan ibuku yang pucat, bukan pula refleksi diriku yang penuh dendam.
"Kau datang tepat waktu, Ishihara," suaranya bukanlah suara manusia, melainkan gema dari masa lalu yang damai.
Aku menoleh ke belakang, mencari si Jubah Hitam. Ia tidak ada secara fisik, namun aroma segar hutan setelah hujan kembali merasuk ke indra penciumanku, menguatkan jiwaku.
Aku kini paham: kekuatan ini bukanlah senjata untuk balas dendam pada dunia yang kejam, melainkan perisai bagi mereka yang terseret arus—persis seperti saat aku diselamatkan dari buih ombak bertahun-tahun silam.
Puluhan sosok hitam itu mulai memudar, berubah menjadi serpihan abu yang diterbangkan angin badai. Jalanan kembali sunyi. Aku menatap tanganku yang kini tak lagi gemetar.
"Terima kasih," bisikku pada kekosongan.
Cahaya PJU tiba-tiba meredup perlahan, dan aku merasa tubuhku ditarik kembali oleh gravitasi yang kuat. Sensasi jatuh itu membuatku terperanjat, namun sebelum aku menghantam kegelapan yang tak berujung, sepasang lengan yang kokoh menangkap tubuhku yang lunglai.
Jubah Hitam. Ia menggendongku dalam dekapan yang terasa begitu ganjil. Tubuhnya membawa hawa dingin yang menggigit, sebuah kedinginan yang tidak hanya merasuki kulit, namun seolah hendak membekukan aliran darahku—kontras dengan tubuhku yang masih menyimpan hangatnya denyut kehidupan.
Sentuhannya terasa seperti personifikasi dari keheningan abadi, seolah aku tengah didekap oleh sang Mair itu sendiri. Aroma segar kembali merebak, mencoba menenangkan kesadaranku yang kian menipis.
Aku merasa kami melintasi batas yang kasatmata. Ruang gelap itu melarut, berganti dengan remangnya cahaya lampu yang kukenali. Dengan gerakan yang teramat halus, ia membaringkan tubuhku yang setengah sadar di atas tempat tidurku sendiri. Kasur yang empuk terasa asing setelah perjalanan panjang di antara kepingan memori.
Sebelum kesadaranku benar-benar terenggut oleh lelap, aku sempat merasakan jemarinya yang dingin menyentuh keningku, seolah memastikan bahwa badai dalam benakku telah mereda.
Ia merunduk, membiarkan aroma jubahnya membungkusku sepenuhnya dalam keheningan kamar. Bibirnya mendekat ke telingaku, membisikkan kata-kata yang terasa seperti janji sekaligus belenggu yang dingin.
"Tidurlah, Ishihara," bisiknya, suaranya selembut desau angin namun mengandung otoritas mutlak. "Alam fana ini memang kejam, tapi kau tak perlu takut. Kau adalah milikku untuk dijaga, sampai tiba saatnya…"
Aku ingin membalas, ingin menanyakan mengapa ia begitu peduli, namun rasa kantuk yang berat kini tak lagi bisa kulawan. Tubuh dingin itu perlahan menjauh, meninggalkanku yang terlelap dalam dekapan kasur, sementara sisa hawa mautnya masih tertinggal di permukaan kulitku yang hangat.