Awal mula memang Yina berlari bersama dengan para penduduk untuk menyelamatkan diri. Namun kali ini dia merasakan sesuatu yang tak enak di dalam hati. Sebab itulah tempat penyelamatan ditinggalkan. Yina memilih untuk kembali ke desa dengan resiko mendapatkan serangan dari mutan raksasa. Dari jarak cukup jauh desa sudah terlihat berantakan. Bangunan yang ada di sana banyak yang roboh. Tak ada lagi kehidupan yang terlihat. Semua sudah kehilangan nyawa, termasuk iguana raksasa. “Amut!” panggilnya berkali-kali. Setiap mayat diperiksa. Orang yang dimaksud tak ditemukan. Bahkan bongkahan bangunan dibongkar sebisa yang dimampu. Tiada sedikit pun tanpa keberadaan Amut. Yang tersisa hanya sebuah tombak. “Amut!” tangisnya sambil memegang tombak terdarah tersebut. “Yina, kenapa kau menangis?” tanya

