bc

Mutan Hunter

book_age16+
36
IKUTI
1K
BACA
adventure
warrior
tragedy
ambitious
male lead
like
intro-logo
Uraian

Tahun 2134 merupakan bencana besar bagi umat manusia. Sebuah meteor menghantam samudera Hindia yang menyapu segala daratan. Setelah seratus tahun berlalu para hewan mengalami mutasi dan memangsa manusia. Di saat manusia lain lari menghindari hewan mutasi Amut justru memburunya. Karena itulah dia diusir dari pulau tempatnya tinggal. Amut memulai petualangannya memburu para mutan yang berukuran raksasa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Serbuan Gurita
Tahun 2134 adalah tahun kemalangan bagi umat manusia. Kala itu sebuah meteor jatuh ke dalam samudera Hindia. Hantamannya membuat gelombang setinggi sepuluh ribu meter. Seketika seluruh peradaban di dunia hancur total. Segala kawasan di seluruh bumi tersapu tsunami yang maha dahsyat itu. Peta di seluruh dunia berubah total. Tak ada lagi negara ataupun perserikatan. Kini seratus tahun sudah bencana itu berlalu. Umat manusia tersisa mengandalkan teknologi yang ada. Tapi bencana lain malah mengintai mereka. Hewan-hewan bermutasi dengan ukuran yang tidak wajar. Paron bersama beberapa orang tinggal di pulau kelapa silang, satu dari beberapa pulau yang digunakan untuk mengungsi dari hewan mutan. Beberapa panah besi di siapkan untuk berjaga-jaga jika ada hewan mutan yang menyerang pulau tersebut. Amut, seorang anak yang diselamatkan oleh Paron. dia keluar dari rumah sederhananya. Dijumpailah sang ayah angkat yang sedang menangkap ikan di sebuah tambak. "Ayah, ada yang bisa aku bantu," tawar Amut. "Amut, sudah Ayah bilang kau jaga ibu dan adikmu. Biar Ayah yang bekerja sendirian," kata Paron. "Ayah, ibu malah menyuruhku untuk membantu Ayah. Katanya ibu sangat kuatir tentang keselamatan ayah," kata Amut. Tiba-tiba sebuah benda besar datang dari arah pantai, seekor gurita raksasa. Salah satu tentakel raksasanya menjulur ke daratan. Terlihatlah mutan itu oleh penjaga pantai. Bel peringatan dibunyikan, seketika semua orang panik tak masuk ke dalam rumah rumah perlindungan, termasuk Paron. Tapi hal ini tidak dilakukan oleh Amut. Dia masih saja berdiri tegak di hadapan hewan yang sebesar rumah. Tiada sedikit pun rasa ketakutan padanya. "Nak, pergi dari sana! Cari tempat yang aman!" teriak sebuah menjaga pantai. Amut tak menggubris teriakan itu sedikit pun. Melesatlah dia secepat angin ke arah sang mutan. Sebuah pisau kecil dia tancapkan ke tubuh si mutan. Kulit yang terlalu ulet tak membekaskan luka sama sekali. "Ayolah, kumohon ini bekerja," katanya. Dua orang penjaga pantai mengambil panah mereka. Dilesatkan anak panah itu ke tubuh gurita mutasi. Lumayan, panah tersebut setidaknya menusuk sedalam belasan centimeter. Merontahlah si gurita. Dia berkali-kali mencambukan ke sepuluh lengannya. Amut terus saja berlari sambil mengelak serangan dari gurita. Sayang gerakannya justru terganggu oleh petugas pantai. Tembakan panah mereka malah membuat si gurita semakin mengamuk. Serbuan panah menghalau Amut melakukan serangan jarak dekat. Hal ini membuat Amut mundur. Puluhan panah besi telah menghiasi tubuh si gurita. Kini serangan balasan ia lancarkan, sebuah sembuaran tinta hitam mengarah kepada penjaga pantai. Berlarilah penjaga pantai untuk menghindari serangan gurita. Sayang, salah satu dari mereka tertangkap. Hisapan di lengan gurita tak bisa terlepaskan. "Tolong!" teriaknya sebelum masuk ke dalam mulut gurita. "Tidak!" Mengamuklah si teman. Tapi dia sudah tak bisa berbuat banyak. Menangislah dia menyaksikan temannya menjadi santapan mutan raksasa. Amut menjumpai seutas tali yang sangat panjang. Di sampingnya ada sebuah busur panah serta anak panah. Diikatlah tali itu di pangkal anak panah. Berlarilah dia dengan cepatnya sambil mengarahkan anak panah. Di saat sasarannya sudah dekat Amut melesatkan anak panahnya. Tertembuslah tubuh si gurita. Gurita merasakan kesakitan yang luar biasa. Meraunglah dia sampai terdengar ke seluruh penjuru pulau. Penjaga pantai tersisa memilih untuk menyelamatkan diri. Amut masih tegak berdiri dihadapan gurita dan tetap memegang tali tersebut. Cambukan dari lengan gurita tertuju pada Amut. Berlarilah Amut untuk menghindari serangan si mutan. Amut melilitkan tali ke lengan gurita sambil melompat ke sana ke sini bak seekor tupai. Entah berapa menit Amut berlari, dia sendiri tak tahu. Kini tubuh si gurita dipenuhi dengan tali. Mutan besar itu tak bisa bergerak lagi. Amut mengambil napas sambil mengistirahatkan tubuhnya. Para penjaga pantai datang dengan membawa bala bantuan. Tanpa basa basi dipanahlah si mutan hingga si muatan tak bisa bergerak lagi. "Bocah, kenapa kau mengacaukan tugas para penjaga pantai. Gara-gara kau teman kami ada yang meninggal," kata penjaga pantai dengan kasarnya. "Justru aku yang menyelamatlah banyak orang. Malah kalian yang menggangguku. Aku tak jadi makan daging raksasa," kata Amut. "Diam kau bocah." Sebuah anak panah mengarah padanya. Amut mengeluarkan pisaunya. Tapi beberapa anak panah siap menembus tubuhnya. Mundurlah Amut untuk menghindarinya. *** Langkah kaki Amut menghantarkannya ke sebuah rumah yang sederhana. Berdirilah yang ayah di tengah pintu masuk. "Amut, kau berbohong lagi kepada kami. Ibumu tak menyuruhmu untuk membantuku," kata sng ayah. "Tapi ibu tak melarangku untuk membantu Ayah," alasan dari Amut. "Ayah yang melarangku keluar dari rumah. Di luar sana sangat berbahaya, banyak monster sebesar rumah berkeliaran," kata sang ayah. "Ayah, bagiku mereka itu bukan monster tapi mereka itu buruan kita." Ditemparlah sepotong daging gurita mutasi ke depan ayahnya. "Mereka juga sejenis ikan yang ayah buru dan tangkap setiap hari," kata Amut. "Amut, kau bawa monster lagi," marahlah sang ayah. "Ayah, tak perlu seperti itu. Amut, jangan kau ulangi lagi perbuatan seperti ini," kata ibunya. Dia berada di tengah untuk melerai keduanya. Amut dan ayahnya saling memandang. Setelah sekian lama bubarlah keduanya. Daging gurita yang Amut lemparkan dia ambil kembali untuk dibakar dan dimakannya sendiri. *** Matahari baru saja keluar dari baik sebuah lautan. Daun kelapa melambai diterpa kuatnya angin laut. Siapa kira pagi hari itu suara peringatan berbunyi keras. Semua warga bergegas menuju ke tempat yang aman. Tapi berbeda dengan Amut. Area yang dianggap bahaya malah dia datangi. Tiada apa pun yang ada di tepi daratan itu. Di depannya hanya ada lautan yang begitu luas. Tiada seekor monster pun yang dia temui. Sepanjang garis pantai telah dia kelilingi tapi sia-sia hasilnya. "Hmmm, mengapa mereka membunyikan lonceng peringatan jika tak ada monster? Bikin curiga saja. Apa mereka terlalu takut hingga membunyikan bel peringatan? Bikin lelah saja," katanya pada diri sendiri. Amut memanjat sebuah pohon kelapa. Dipetiklah beberapa buah kelapa. Saat hendak turun terdengarlah suara yang memanggil dirinya, "Amut!" Segeralah dia turun dari pohon kelapa itu. Dengan langkah cepatnya Amut berlari ke sumber suara. Hanya dua buah kelapa yang dia bawa. 'Ibu!" teriak Amut ketika menemui seorang perempuan dari jarak jauh. Segera dia berlari agar semakin dekat. Ibu angkatnya Amut juga mendengar suara si anak. Berlarilah untuk bisa menemui orang yang dicarinya. "Amut, kamu dari mana saja?" tanya si ibu. "Bu, aku tadi ke pantai karena kukira ada mutan yang menyerang lagi. Memangnya ada apa, Bu? Mengapa mereka membunyikan bel peringatan jika tak ada mutan yang menyerang?" tanya Amut bertubi-tubi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook