"Bukan, Nak. Aparat membunyikan bel peringatan untuk mengumumkan sesuatu hal yang penting. Mereka ingin mencarimu," kata sang ibu.
Berangkatlah Amut ke tempat pengungsian.
Tempat pengungsian merupakan area yang berada di tengah pulau, tepat di tengah hutan belantara. Di sinilah tempat yang paling aman untuk menghindari serangan mutan yang berukuran raksasa. Bukan hanya jauh dari laut saja yang membuat tempat ini aman tapi juga area bebatuan yang menyulitkan bagi hewan laut. Semak belukar yang tumbuh sebagai pencegahan alami menambah aman tempat. tapi sangat disayangkan, tempat ini kekurangan makanan, jauh berbeda seperti yang ada di pantai.
Dengan napas yang masih ngos-ngosan Amut tiba di tempat pengungsian. Amut melihat beberapa aparat sedang berdiri di depan masyarakat.
"Amut, mengapa kamu tidak langsung menghadap ke sini? Ada masalah apa?" tanya tetua pulau.
"Maaf Tetua, aku kira tadi ada serangan monster. Maka dari itu aku langsung bergegas ke pantai," kata Amut.
"Amut kau tahu mengapa aku mengumpulkan orang di sini?"
"Tidak, Tetua."
"Amut, kita di sini akan melakukan sebuah peradilan. Kau, sudah tiga kali mengganggu penjaga pantai. Gara-gara kamu kita kehilangan empat orang."
"Tapi Tetua, aku tak mengganggu mereka. Aku hanya ingin berburu monster saja."
"Itukah alasanmu? Bukankah kita ini mangsa? Mana mungkin kita bisa memburu monster yang ganas?" tanya tetua bertubi-tubi.
"Tetua, mereka itu bukan monster, hanya ikan raksasa saja. Jadi kita bisa memakannya seperti biasa," alasan Amut.
"Begitu menurutmu. Jadi apakah kau akan mengorbankan keluargamu agar bisa makan?"
"Tentu saja tidak, Tetua."
"Sudah jelaskan, kau sendiri tak mau mengorbankan keluargamu. Amut, kita di sini hanya berlindung agar bisa hidup selama mungkin. Kita ini bukan pemangsa monster. Jadi keputusannya kau diusir dari pulau ini. Mulai besok kau tak boleh tinggal di sini." Tetua mengetuk lantai dengan tongkatnya. Tanda keputusan sudah final.
Semua warga pulau kembali melanjutkan aktifitasnya kembali. Kini tinggal Amut sendiri. Diambillah sebuah parang yang sepanjang lengannya. Amut memetik puluhan buah kelapa. Dibawalah buah itu ke sepi pantai. Satu per satu buah dirangkai hingga terbentuk sebuah kapal apung kecil.
Kala siang mentari sedang gencarnya memusatkan teriknya. Rasa haus, panas, lapar dan jengkel beraduk menjadi satu. Keringat sebesar butiran jagung menetes tak karuan. Di bawah sebuah pohon yang rindang Amut mengistirahat dan menyejukkan diri. Angin pantai yang bertiup membuat rasa kantuk semakin mendera di tubuhnya. Hampir saja dia terjatuh karena rasa ingin tidur yang terlalu berat.
"Amut!" Suara yang samar-samar terdengar di telinga Amut. Dia tak bisa membedakan apakah dunia hanya atau mimpi semata.
"Amut, bangun Nak," kata seorang ibu.
Amut kaget bukan kepalang. Sontak dia langsung bangun dari alam mimpinya. "Ibu, ada apa?" tanya Amut.
"Nak, kau makan dahulu," kata sang ibu yang membawakan ikan bakar untuk Amut.
Amut membuak lebar matanya. Dibelakang ibunya ada sesuatu hal yang mencurigakan. Langsung saja Amut menerjang tubuh sang ibu. Siapa sangka di pasir belakang ibunya tersimpan seekor monster, kepiting yang setinggi kambing. Makanan yang terbawa ibunya jatuh begitu saja.
"Ibu tidak apap-apa?" tanya Amut.
"Nak, larilah," kata sang ibu.
Entah mengapa Amut tak memperdulikan perkataan sang ibu. DIa malah menghadang si kepiting. "Bu, selamatkan diri Ibu. Anggap saja aku telah mati," katanya.
Si kepiting berbalik badan. Serangan capit dia lanccarkan ke arah Amut. Nafsu mangsanya terlihat sangat jelas di keduanya. Melompatlah Amut ke sana dan ke sini sambil mencari senjata yang ada. Di carilah titik kelemahan di ketiping. Tak bukan dan tak lain adalah bagian atas badannya.Amut berlari sembari mengambil pedangnya. Dijumpailah sebuah pohon kelapa. Di sanalah Amut memanjat. Sayang, pohon kelapa bagaikan batang kering di mata kepiting. Dengan sekali serang pohon kelapa terpotong di pangkalnya. Pohon roboh seketika, saat yang sangat mendesak buat Amut. Melompatlah dia ke punggung si kepiting. Sebuah pisau tertancap dalam di tubuh si kepiting. Mutan itu pun berputar kesakitan. Memegang erat pangkal pisaunya sehingga dia tak terjatuh. Sebuah pedang masih dibawa Amut. Dengan ayunan sekuat tenaga Amut memotong anggota gerak kepiting satu persatu hingga tak tersis sedikit pun, termasuk kedua capitnya.
Segala anggota gerak si kepiting telah habis. Kini si mutan tak bisa apa-apa lagi. Turunlah Amut dari tubuh si kepiting. Ditebaslah pedang berkali-kali hingga si kepiting kehilangan nyawanya. "Bu, aku dapat mangsa besar," katanya.
Perasaan si ibu bercampur aduk antara senang, sedih dan marah. Dilihatlah daging yang masih segar nan melimpah. Mendekatlah sang ibu kepada anaknya. Dipedulilah tubuh si anak yang penuh keringat. Tak terasa air matanya mengalir deras. "Nak, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada dirimu di luar sana," katanya.
Sang ibu melepaskan pelukannya. Dihapuslah air matanya.
"Bu, jangan kuatirkan diriku. Aku malah kuatir tentang Ibu. Silahkan bawa daging ini pulang," kata Amut.
Pekerjaan yang tadi sempat dia tunda kini dilanjutkan kembali. Ratusan buah kelapa telah dia rangkai menjadi satu. Selesailah sebuah kapal. Tapi rasa di dalam hatinya tidaklah puas. Dilanjutkanlah pekerjaannya hingga sore hari.
***
Kala mentari sudah terbenam di dalamnya sebuah lautan. Cahaya berwarna jingga menghiasai sang langit. Kala itulah Amut berbalik ke rumahnya. Cahaya yang terang berganti dengan kegelapan malam. Diketuklah pintu dengan rasa cemas, "Tok tok tok."
Tak lama berselang sang ayah membukakan pintunya. Masih tampak wajah si anak, Amut. Tapi ada hal yang berbeda dengan wajah ayahnya kali ini. Sang ayah terlihat gembira. "Ayah, ada apa ini?" tanyanya.
"Amut, maafkan Ayah yang sudah memarahimu dari dulu. Ayah berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan orang yang Ayah cintai," kata sang Ayah.
"Ayah, kita ini satu keluarga. Meskipun tak melahirkan aku tapi Ayahku tetaplah Ayahku," kata Amut.
"Amut, ayo kita masuk ke dalam. Kepitint yang tadi kau tangkap kini telah masak," kata ibunya.
Amut masuk ke dalam rumah. Adik-adiknya telah menyantap makanan hasil olahan sang ibu. Bergabunglah Amut di dalam kehangatan keluarga tersebut. Malam terakhir bagi Amut terasa sangat menyenangkan.
"Amut, Ayah baru sadari yang kau lakukan ada benarnya juga. Tapi yang kau lakukan amat sangat berbahaya jika ditiru orang lain. Ayah akan tetap melobi tetua. Jika suatu saat kau masih kesempatan untuk ke sini maka akan ayah usahakan kau bisa tinggal lagi di sini," kata sanag ayah.
"Ayah, jangan khawatirkan aku. Aku ini memburu monster. Aku ingin Ayah tetap seperti ini, selalu menjaga keluarganya," kata Amut.
Sang ibu datang dan membawakan beberapa macam hasil olahannya. Bergabunglah dia bersama keluarga kecilnya.