Cahaya mentari telah keluar dari dalam lautan. Amut telah membawa sedikit pakaiannya. Ditemuilah keluarganya.
"Ibu, Ayah, aku pamit untuk pergi selamanya. Adik-adikku, jika kalian besar nanti carilah Kakak. Entah dimana Kakak pun tak tahu," kata Amut.
"Nak, terimalah ini." Sang ayah menyerahkan sebuah pedang yang cukup besar. Amut menerima pemberian sang ayah. Disarungkan pedangnya yang kini berjumlah dua buah.
Paron dan keluarganya mengantarkan Amut hingga ke tepi pantai. Sebuah perahu telah Amut siapkan. Sepasang layar sederhana dipasangnya. Perahu pun didorong hingga ke perairan. "Semuanya selamat tinggal," kata Amut sambil melambaikan tangannya.
Paron dan melambaikan melambaikan tangannya. Tapi dibelakangnya ada sebuah ombak yang aneh. "Amut, lihat belakangmu!" teriak Paron.
Menolehlah Amut ke belakang. Dilihatnya seekor buaya yang ukurannya lebih besar daripada kapalnya sendiri. Mulut si buaya pun telah menganga lebar. Melompatlah Amut ke punggung buaya. Tapi buaya malah membalikkan tubuhnya hingga dia tercebur ke dalam air asin.
"Amut!" teriak keluarga Paron. Alhasil si buaya mengejar keluarga Paron. Larilah mereka semua untuk menyelamatkan diri.
Amut tak tinggal diam. Langsung saja dia menusukkan sebuah pedangnya ke ujung ekor buaya. Terkejutlah si buaya mutasi itu. Sekali kibas Amut terpental dan melayang di udara. Langsung saja mulut si buaya terbuka lebar. Dimakanlah Amut secara utuh.
Sang ibu mengetahui kematian sang anak. Menangislah dia sekeras-kerasnya, "Amut." Segera mereka pergi meninggalkan buaya tersebut untuk menyelamatkan diri.
Perlawannya Amut tak cukup di situ saja. Meski telah berada di dalam mulut buaya Amut tak pantang menyerah. Pedangnya menancap di sebuah rongga yang membuat si buaya berguling kesakitan. Sebuah pedang Amut cabut lagi. Disabetkanlah pedang itu berkali-kali hingga membuat si buaya kesakitan luar biasa.
Setiap kali sabetan tergores luka dalam si buaya mutasi. Keadaan buaya yang berguling-guling membuat posisi Amut selalu saja berpindah. Terus saja Amut menorehkan luka dalam. Sedikit demi sedikit daging di dalam tubuh di buaya terlepas. Darah yang semakin deras membuat warna tubuh Amut berubah menjadi merah.
Luka di dalam tubuh buaya sudah tak tertahankan lagi. Melompatlah si buaya tinggi ke langit. Terjatuh tepat dihadapan Paron. Seketika itu keluarga Paron menjadi histeris dan kacau balau. Istri dan anak-anaknya Paron menangis dengan hebatnya. Sebuah kejanggalan tampat di buaya tersebut. Dari dalam buaya muncul sesosok manusia. Dia membersihkan wajahnya yang tertutup darah. Tak bukan dan tak lain orang itu adalah Amut.
"Amut," kata keluarganya. Terlihatlah senyum kegembiraan.
"Ibu, Ayah, ayo kita bongkar hewan ini. Salah satu dari pisauku terjatuh di sana. Dan aku juga melihat ada benda yang memantulkan cahaya," kata Amut.
"Ayo kita lakukan bersama." Sang ayah mendekati Amut. Diberikan salah satu pedang dari Amut. Pedang dia gunakan untuk mereobek kulit dari atas. Sengaja punggung buaya dilubangi agar lebih mudah mengetahui isis dalam kandungan di dalam perut buaya.
Setengah hari sudah mereka membongkar mayat buaya. Kini pekerjaan mereka tinggal sedikit lagi. Rasa lapar terbayarkan sudah dengan daging yang dipanggang istri Paron. Kini isi perut dibedah dengan paksa. Terlihat sangat berkilau, sebuah benda yang berwarna kuning. Paron segera merobeknya. Tak bukan dan tak lain itu adalah emas. Selain itu terdapat juga beberapa senjata yang tertelan.
"Emas! Kita kaya!" teriak Paron dengan sangat gembira. Istrinya segera datang dan melihat sendiri apa yang terkandung di dalam perut buaya. Hanya liangan air mata yang dia ungkapkan sebagai tanda kegembiraan.
"Amut, kau hebat. Dengan uang sebanyak ini kita bisa membeli kapal dan tinggal di pulau yang bebas dari bahaya," kata Paron.
Segera emas yang berlumuran berbagai zat dibersihkan. Kilauan emas bersinar benderang sebagaimana perasaan keluarga itu. Senjata yang ada di dalamnya mereka ambil dan bersihkan. pergilah Paron ke dermaga kapal.
***
Paron telah sampai ke sebuah dermaga. Dicarilah seorang pemilik kapal. Dia pergi ke sebuah tempat perniagaan.
"Pak, aku mau membeli sebuah kapan yang terkuat," kata Paron.
"Berapa uang yang kau punya? Jika tak punya uang berharap banyak.
Sebuah kantong ditelakkan di atas meja penjual. Dibukalah kantong tersebut. Beberapa benda yang terbuat dari emas terpampang dengan jelasnya. Diamati emas tersebut dengan teliti. Setelah beberapa saat dia berkata, "Maaf, aku tak bisa menyiapkan kapal dengan harga sebanyak ini."
"Kalau begitu siapkan yang terbaik. Aku juga sewa kuli angkut barang," kata Paron.
"Baiklah."
Diantarlah Paron ke tempat kapal bersandar. Sebuah tangga mengantarnya menuju ke dalam kapal. Bentuknya cukup besar tapi bukan yang terbesar. Berbeda dengan yang lain kapal ini sedikit kayu yang digunakan. Dinding dari besi melindungi seluruh badan kapal. Sebuah baling-baling ada di belakang badan kapal. Dua buah roda menghiasi tepi kapal.
"Inilah kapal yang kami miliki. Kapal ini digerakkan dengan panel surya ataupun tenaga angin. Tinggal pilih saja. Silahkan ambil ini." Si penjual memberikan buku panduan.
Paron memasuki kapal dengan penjual. Betapa terkejutnya dia ketika melihat peralatan canggih yang masih tersisa. Ruang kontrol yang cukup mewah dan nyaman. Beberapa ruangan telihat besar walau masih kotor.
"Baiklah, aku ambil yang ini. Tapi aku butuh kuli angkot untuk membawa barang bawaanku," kata paron sambil mengulurkan tangannya.
Kesepatan jual beli telah terjadi. Kini Paron mendapatkan kunci kapal sebagai tanda transaksi dan kepemilikan kapal.
***
Paron kembali lagi ke keluarganya. Beberapa senjata telah terlihat bersih. Tapi kulit buaya sama sekali belum tersentuh. "Tolong bawakan semua barang ini. Dan juga bantu aku untuk membedah hewan ini," katanya.
"Ayah, mereka semua siapa? Dan apa yang akan mereka lakukan?" tanya Amut.
"Amut, kita yang bayar mereka untuk membawa semua ini. Malam hari ini juga kita akan berangkat, Ayah telah membeli sebuah kapal yang cukup kuat," kata sang ayah.
"Ayah, aku mau pergi ke kapal dahulu. Perjanjiannya hari ini aku harus segera pergi dari pulau ini," kata Amut.
"Perginya ke dermaga. Kapal milik kita yang terbuat dari besi dengan panel surya di atasnya." Sang ayah melemparkan sebuah kunci.
"Baik Ayah." Amut menangkap kunci yang melayang di udara. Segera dia berlari menuju ke dermaga.
***
Setelah berlari selama beberapa menit Amut sampai juga di sebuah dermaga, tempat bersandarnya banyak kapal. Rasa lelahnya terbayarkan sudah ketika melihat sebuah kapal. Segala bodinya terbuat dari besi. Didatangilah seorang yang ada di sana. "Maaf, kepal milik pak Paron dimana?" tanya Amut.
"Di sana," kata orang itu sambil menunjukkan jarinya ke sebuah kapal.
Tiada dia kira dan sangka, kapal yang dikaguminya miliknya sendiri. Segera Amut melompat ke atas kapal.