Jalan Hidupku

1077 Kata
Ujung tali diikat pada sebuah tiang penyangga, sedangkan ujung yang lain diputar beberapa kali. Amut tetap waspada terhadap ular beracun tersebut. Sebuah serangan dilakukan dengan besi yang berada diujung tali. Wajah sebelah kiri ular terkena besi keras. Tak lupa sebelah pisau ditusukkan ke mata ular hingga hewan tersebut kesakitan. Tali diputar lagi dan langsung mengitari leher ular. Tali dikunci sehingga hewan tersebut tak bisa bergerak bebas. Sayang, dia sendiri terkena kibasan ekor. Si ular terus berusaha untuk lepas dari jerat tali yang diikatkan Amut. Mulut menggigit tali tak putus juga. Ia pun bergeliat tapi tetap tak bisa bergerak bebas. Tali peninggalan jaman modern tersebut tak bisa terkoyak dengan mudah. Apalagi tak ada gigi permanen yang kuat seperti gigi pada hewan lain. Ia pun mengitari tiang beberapa kali. Sebuah sapuan dilakukan dan tiang tersebut bisa roboh. Ia bisa bergerak bebas walaupun masih terikat dengan tali. Menyadari si ular sudah bisa bergerak dengan jauh, Amut pun melompat ke lantai yang lebih atas. Beberapa benda dilemparkan ke hewan mutasi walaupun kadang tak mengenai sasaran. Sudah tak ada benda ringan yang bisa dilemparkan, dia pun mempersiapkan kedua pisau yang berada di tangan. Amut melompat lagi hingga menggapai sebuah baling-baling kipas yang sedang tak berfungsi. Lompatan dilakukan lagi dan langsung menyasar pada mata ular sebelah kanan. Tusukan sangat dalam dilakukan sehingga si ular mengalami kebutaan permanen. Perjuangan yang dilakukan Amut masih belum berakhir. Si ular masih pantang menyerah walau tak bisa melihat dunia lagi. Indera penciuman masih berfungsi dengan baik sehingga bisa mendeteksi hawa keberadaan manusia terdekat. Ia pun terus bergerak untuk mencari Amut. Kebutaan si ular sedikit mempermudah untuk menghindari serangan dari Ular. Amut hanya perlu menyembunyikan hawa keberadaan. Lompatan demi lompatan dilakukan. Setiap lantai diperiksa dengan teliti. Taka da benda apapun yang bisa digunakan sebagai penyamar bau. Bahaya ada beberapa bangku dan meja yang sudah mulai berkarat. Untung masih ada sebuah besi panjang. Dia pun mengambil benda tersebut dan juga sebuah kursi. Amut berlari ke atas ular. Kursi digunakan untuk menahan gigitan dari ular, sedangkan besi ditusukkan ke mulut ular sebelah bawah bersamaan dengan lidah ular. Sebuah lompatan dilakukan. Tiang ditendang dan jatuh ke bawah yang membuat ular tersebut ikut turun. Bagian ekor diperang Amut. Pisau ditusukkan yang membuat hewan tersebut semakin kesakitan. Dia melepaskan begitu saja Beberapa meja dilemparkan kepada hewan buas. Pedang yang tertancap di tubuh ular sudah terlihat. Amut melompat turun ke tempat mutan sedang mengalami kesakitan. Pedang diambil bersamaan dengan tombak yang tak jauh dari tempat tersebut. Sebuah tusukan dilakukan tepat di saluran pernapasan. Tebasan dilakukan berkali-kali hingga kepala ular terpisah dari badan. Dia pun berbaring di samping hewan yang sudah tak bernyawa. Tenaga yang dimiliki Amut sudah sedikit pulih. Hewan beracun tersebut mulai dibongkar. Bagian perut menjadi tujuan utama bagi Amut. Berbagai macam perhiasan mahal ditemukan. Benda tersebut diambil saja. Empedu hewan juga dibongkar sebagai tambahan untuk dijual kepada penduduk sebagai bahan ramuan. Bagian kulit dipisahkan dari daging dan diikat dengan tali. Demikian juga bagian kepala hewan. Segala yang dibutuhkan Amut sudah didapatkan. Sudah saatnya untuk keluar dari kota tersebut. Kaki melangkah dengan santai sambil menahan perut yang sudah agak lapar. Namun dia malah dicegah para penjaga. “Berikan barang yang kau bawa,’ pinta seorang penjaga. “Lho, katanya aku bisa masuk ke dalam kota ini. Kok aku harus menyerahkan barang yang aku dapatkan,” kata Amut. “Serahkan saja barang yang kau bawa dengan baik atau kau akan kehilangan nyawa,” paksa seorang penjaga dengan menodongkan sebuah tombak. Bingung antara memilih untuk menyerang atau melepaskan sesuatu yang diraih dari jerih payah selama ini, Amut mundur beberapa langkah yang mana dia kembali memasuki kota dan para penjaga tak mau mengambil resiko dengan masuk ke dalam tempat tersebut. Dia sedikit mendapat keamanan walaupun berhadapan dengan banyak penjaga. “Hmmm, adakah aturan di sini?” tanyanya. “Tidak,” jawab para penjaga. “Bagaimana kalau kita putuskan ini semua pada kepala desa?” Beberapa penjaga mengantarkan Amut menghadap ke kepala desa. Semua barang yang dikumpulkan dari dalam kota tersebut diturunkan di hadapan sang pemimpin, terkecuali barang yang sengaja disimpan Amut. “Bu, bagaimana keputusan ini semua?” tanya seorang penjaga. Barang ini menjadi milik yang berhasil memburu hewan. Tapi setengah serahkan padaku, apa saja itu,” kata kepala desa. “Baiklah.” Amut sedikit mengalah. Kepala ular diserahkan kepada pihak desa beserta kulit dan kantong empedu. Sedangkan beberapa perhiasan tetap dibawa bersama dengan senjata miliknya sendiri. “Begitu dong.” Seorang penjaga mengambil kepala ular. Mulut hewan yang sudah mati dibuka. Taring hewan diraba dan tanpa sengaja malah menusuk jari telunjuk. Racun langsung terinjeksi ke dalam tubuh penjaga tersebut. Dia pun menggeliat kesakitan luar biasa. Orang yang berada di dekat sana hanya bisa memegangnya sebelum dia kehilangan nyawa. ‘Kenapa kau bawa benda berbahaya ini ke sini?” marah seseorang yang berada di sana. “Yang aku bawa hewan mutan sungguhan. Siapa suruh membuka dan sembarangan memegang. Aku saja ikat agar tak terkena kulitku,” jawab Amut. “Sudah, Adik ini tak bersama. Tolong masukkan ke dalam lilin dan ketika sudah kering dipajang. Jangan mengulangi kesalahan,” kata kepala desa untuk meleraikan pertengkaran. Sejumlah uang telah diberikan kepada Amut karena bisa mengalahkan hewan penghuni kota tersebut. Lelaki itu membeli sejumlah makanan untuk dibawa pulang. Berhari-hari Amut memasuki Kawasan kota tersebut. Hewan mutan tak lagi terlihat. Yang ada malah hewan kecil lain. Beberapa ekor ular dihabisi karena dirasakan mengganggu. Daging hewan tersebut dibakar guna mengundang hewan yang berada di sana. Beberapa jam telah berlaku. Yang ada hanya serigala dan harimau biasa. Amut ingin memburu hewan tersebut, tapi para penjaga sudah mulai bergerak masuk ke dalam kota tersebut. Merekalah yang mengeroyok para hewan yang datang. Penyisiran kota pun dilakukan. Api digunakan untuk membakar daun kering. Kota pun mulai dibersihkan dari sampah yang berserakan. Di saat yang lain sedang memasuki kota, justru Amut keluar dari kota. Lelaki tersebut berjalan menuju ke tempat para keluarga tinggal. Sang ibu pun ditemui. “Ibu, aku pulang tak membawa hasil apapun. Kota tak ada mutan lagi,” katanya. “Amut, kau pulang selamat saja sudah menjadi kegembiraan tersendiri untukku.” Sang ibu mendekat pada Amut sambil menyajikan sebuah makanan. “Makanlah, jika tak ada pekerjaan bantu ayahmu untuk membuat kolam.” “Ibu dan Ayah tak ikut masuk ke kota?” “Buat apa, Nak? Di sini saja kita sudah hidup cukup. Kita tak tahun bahaya apalagi yang ada di dalam kota tersebut.” “Bu, aku mau pergi untuk mencari uang lebih. Aku masih ingin berburu.” “Kau mau pergi kemana?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN