Kalau ada satu hal yang Bell benci akhir-akhir ini, itu adalah kenyataan bahwa dirinya jadi terlalu mudah panik. Terutama kalau yang menyebabkan itu... Arsen. Hari itu, Bell baru saja menuruni tangga sekolah dengan langkah malas sambil menatap layar ponsel. Ia menabrak seseorang membuatnya kaget dan reflek hampir terjatuh ke belakang. "Hati-hati." Suara itu. Bell mengangkat kepala. Arsen. Berdiri di depannya dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi tangannya refleks menahan pundak Bell agar tidak jatuh. Detik itu juga, otak Bell langsung blank. Jantungnya? Berisik. Tidak bisa diajak kerja sama. "Lo—lo kenapa berdiri di tengah jalan sih," Bell mendengus, cepat-cepat berdiri tegak dan mundur. "Ngagetin." Arsen mengangkat alis tipis. "Gue yang ketabrak tapi gue yang disalahin." "Y

