Malam itu tenang dan cukup sunyi untuk ukuran kamar Bell yang biasanya masih terputar playlist lagu favoritnya. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya dari layar ponsel yang redup. Bell tengkurap di kasur, menggulir layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Pikirannya ke mana-mana, tapi ia terlalu malas untuk mengakuinya. Tok. Suara kecil dari jendela. Bell mengernyit. Tok. Tok. Ia langsung bangkit setengah duduk. “Apaan sih…” gumamnya pelan, sedikit kesal. Bell berjalan ke arah jendela, membuka tirainya sedikit. Dan di sana, Arsen. Berdiri di bawah, satu tangan di saku jaket, tangan lainnya menggenggam sesuatu. Bell langsung membuka jendela setengah, wajahnya muncul dengan ekspresi tidak percaya. “Lo ngapain di sini?!” bisiknya kesal. Arsen mendongak. Wajahnya tenang
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


