26

1899 Kata

Author POV Bell pulang dengan keringat tipis di pelipis dan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Jogging pagi cukup membuat tubuhnya lelah, tapi anehnya kepalanya justru lebih ringan. Ia masuk rumah pelan, melepas sepatu di teras. Suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya—terlalu tenang. Tidak ada suara TV, tidak ada suara tawa. Hanya dengung AC dari ruang keluarga dan suara orang tuanya yang samar. Bell hendak naik ke kamar, tapi langkahnya terhenti saat mendengar namanya... dan satu nama lain yang membuatnya refleks menahan napas. "Arsen." Bell tidak berniat menguping. Tapi tubuhnya berhenti begitu saja. Ia berdiri di balik dinding, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak terlihat. Zinia menopang kepalanya dengan siku menempel pada sandaran sofa. Suaranya lem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN