Aril pamit kepada Rasya karena ia harus rapat mendadak. Jadi, ia menyuruh Rasya untuk menjaga Gabriel. Aril sebenarnya sudah di tunggu dan ia tak boleh telat. Aril ingin meberitahu apa yang dikatakan Gabriel tapi ia tak punya waktu. Jadi, ia langsung pergi. Rasya menggelengkan kepalanya. Ia lalu bangkit dan menuju ruangan putranya. Wajah putranya itu bengkak seperti habis menangis. “Kenapa wajah kamu kayak gini?” Tanya Rasya ke Gabriel. Gabriel menggeleng dan tak mau menjawab. Sudah jelas Rasya tau, putranya pasti menangis semalam. “Kaki kamu sakit semalam?? Atau tangan kamu ini?” Tanya Rasya dengan memeriksa luka di lengan putranya. “Iya.. Sakit.” Jawab Gabriel akhirnya. Rasya menghela nafas. Ia lalu mengambil air didalam baskon dan mulai mengusap badan Gabriel secara perlahan.

