“Aku gamau tau, apapun yang kamu katakan. Pokoknya aku mau cerai, titik!” kata Rara tepat tiga tahun umur pernikahan mereka yang masih belia kepada suaminya, Aldi.
Rara kerap berkelahi secara verbal kepada suaminya karena masalah yang terus-menerus menghampiri dirinya. Bahkan sudah tiga tahun menikah mereka belum memiliki momongan karena ia membenci Aldi tiap kali dirinya diajak melakukan hubungan intim oleh suaminya sendiri.
Sembari mencoba berdiri dari kursi sofa di ruang keluarga, Aldi berkata dengan lemah lembut “Tapi kenapa, Ra? Apa salahku, kamu sakit aku selalu ada dan bahkan aku gak pernah absen selama kamu diopname di rumah sakit. Siapa yang selalu datang ke kamu dan memberikan buah-buahan ataupun makanan selama kamu dirawat, aku kan? Terus siapa yang tiga tahun ini menafkahi kamu, aku juga kan?”.
Tak tinggal diam Rara menepis semua pertanyaan bertubi dari suaminya dengan wajah memerah sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangan, “Sudahlah! Aku ga tahan lagi hidup bersama kamu terus, kamu tuh maunya yang enak-enak terus. Kamu terus minta ke aku untuk melakukan hubungan suami-istri dan aku bosan jadi istri kamu. Aku bosan jadi istri, aku ingin keluar jalan-jalan sama temen-temen aku tanpa harus terkurung sama pekerjaan-pekerjaan seorang istri, Mas!”
“Tiga tahun kita menikah, kamu gak pernah mau untuk mengindahkan keinginanku itu, gak lain dan gak bukan untuk memiliki penerus keluarga kita tapi kamu gapernah berpikir panjang sampai ke sana kan? Kamu taunya shopping terus, belanja ke sana ke mari, menghambur-hamburkan uangku yang kucari dengan titik keringatku sendiri namun sekalipun kamu gapernah menghargai suami kamu. Hati-hati kamu tuh bisa jadi istri durhaka!” sangkal Aldi sambil menutupi wajahnya yang memanas kemudian Aldi menyambung kalimatnya untuk menegaskan apa yang terjadi,
“Kamu tau gak, bisnis aku tuh saat ini sedang menurun drastis. Gak seperti dulu yang masih banyak konsumen di mana-mana yang membutuhkan proyek dari bisnisku. Jadi tolonglah belajar berhemat!”,
“Berhemat? Hehh! Berhemat apa? Berhemat sama pelit itu ga beda jauh. Kamu tuh enak-enakan makan di luar sana, keluyuran kemana-mana. Aku aja uang belanja kamu kasi turun dari bulan-bulan sebelumnya. Itu kamu bilang hemat, Mas?” sanggah istrinya.
“Aku ngasi uang belanja ke kamu tau ga kenapa lebih dikit? Karena profit perusahaan juga menurun, Ra. Terus kamu harusnya sadar diri juga kenapa aku makan di luar sana? Karena kamu sendiri gak pernah masak lagi untuk suami kamu bahkan kamu cuma masak untuk sarapan pagi saja terus makan siang, makan malam?” jawab Aldi dengan tegas.
Mendengar statement suaminya, ia bertambah marah kemudian ia berteriak kencang, “Sudahlah, Mas. Lebih baik kita cerai, cerai, cerai!!! TAU GAK?! CERAIIII!!”.
Ia kemudian membanting gelas kaca ke atas lantai dengan penuh amukan bagaikan seluruh tubuhnya telah dirasuki oleh emosi yang menggelegak.
"Jaga omongan kamu, Ra! Ga ada cerai-cerai aku mencintai kamu setulus hatiku. Semua sudah aku turuti permintaan kamu tetapi jika kamu terus meraung kepadaku hanya untuk memerintahkanku agar segera menceraikanmu maka jawabannya adalah tidak!" sambung Aldi dibarengi gerakan yang tiba-tiba menendang meja kopi ruang keluarga.
"Ya terus kenapa memangnya? Terserah apa kataku, lagian kita udah gak cocok untuk mempertahankan hubungan rumah tangga ini. Duh aku tuh benci banget liat kamu, Mas. Mending segera deh kita cerai supaya aku bisa hidup bebas dan bahagia di luar sana. Kalau aku terus bersama kamu, rasanya seperti jiwaku tersiksa. Aku tuh dah gak nyaman lagi sama kamu, sadar dong. Lelaki pecundang kayak kamu bisa bahagiakan aku? Ngimpi kamu!" jawabnya kembali dengan raut wajah sinis sambil meludah ke arah sofa yang berada di dekat suaminya.
"Dasar kamu, Ra. Kamu memang bener-bener seorang istri yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung! Seenaknya kamu berkata seperti itu, memangnya aku pernah melarang kamu untuk pergi bersama teman-teman kamu? Atau jalan-jalan dengan membawa semua uang hasil kerja kerasku untuk kamu habiskan dengan membeli barang yang kamu inginkan. Sadar, suami mana yang sabar dengan kelakuan kamu jika kamu terus sepert itu, beruntung sekali kamu, Ra. Kamu punya suami yang penyabar seperti aku dan..." kata suaminya terputus dan terpatahkan.
"Halah! Terserah apa kata kamu dan kamu tidak usah membela diri deh, duh. Ini kamu tau gak apa? Ini kaca dan kaca itu tajam, jangan sampai aku lempar ke muka kamu ya, Mas."
"Berani kamu!" Aldi membentak keras dan menampar pipi kiri Rara.
Dia merasa sangat geram dengan perkataan dan tingkah laku istrinya yang sudah tidak lagi bisa dia terima, kesabarannya telah habis.
Aldi terdiam seribu bahasa setelah menampar wanita yang dia sayangi, dia tidak menyangka telah melakukan itu.
"Lagi! Lagi dong, Mas. Lakukan lagi, katanya kamu sayang sama aku? Lagi, lakukan!" Air matanya sedikit mengalir di bagian bawah matanya, tergenang tipis-tipis sambil tangan kirinya memegang pipi yang memerah itu.
Aldi melepaskan Rara, dia mematung. Dia begitu menyesal atas perbuatannya itu. Dia memaki dirinya sendiri karena tidak bisa terus menahan emosi yang dipancing oleh istrinya.
"Ternyata benar, kamu memang laki-laki b******k dan kata orang-orang kamu memang pecundang, hanya berani melawan seorang wanita yang lemah dan kamu mengaku kalau kamu sangat mencintai istrimu? Cuih, b******n!"
"Ra.. Maa--"
"Sudahlah diam! Pokoknya aku mau kita cerai!" kata Rara yang perlahan menjauh dari suaminya dengan suara lantang dan melengking.
Setelah mengatakan itu Rara dengan marah meninggalkan ruang tamu. Aldi mendesah frustrasi melihat kepergian istrinya. Dia tidak berdaya dan tidak bisa mencegah istrinya. Melirik jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, mau tak mau dia mengambil tas kerjanya untuk berangkat ke kantor meskipun perasaannya sangat tidak enak setelah bertengkar dengan sang Istri.