Hampir bisa dikatakan bahwa Aldi bekerja lembur di kantor perusahaan miliknya, ia pun sibuk hingga tengah malam karena mencoba untuk memecahkan masalah yang melanda perusahaannya. Profitnya menurun, jumlah konsumen yang memerlukan jasa juga menurun. Tidak hanya lebih banyak pengeluaran bagi dirinya sendiri bahkan uang perusahaan juga banyak keluar untuk membeli kebutuhan-kebutuhan lain seperti material dan bahan pembuat struktur.
Perusahaan milik Aldi bergerak di bidang konstruksi, menyediakan jasa konsultan, kontraktor dan desain arsitektural.
Aldi tertidur di dalam ruangannya, pipinya bersentuhan dan bersandar di atas meja kerjanya, dasinya melintang ke belakang membelit lehernya bagaikan orang baru selesai mabuk, liur yang keluar dari mulutnya menetes setetes demi setetes ke atas mejanya itu, ia juga mendengkur cukup kencang.
“Pak. Bangun, Pak. Jarum jam menunjukkan sudah hampir pukul dua belas malam. Saya ingin membereskan ruangan bapak.” kata pembersih ruangan kantor.
Dengan mata yang berkedip-kedip beberapa kali, Aldi mulai terbangun. Tangan kanannya mengusap-usap kedua matanya sementara tangan kirinya membetulkan posisi dasi yang salah haluan.
“Haa? Hmm… Berapa lama saya telah tertidur, Hadi?” tanya Aldi.
“Kurang lebih sekitar dua jam setelah rapat yang anda laksanakan pukul sepuluh malam tadi, Pak.” jawab Hadi, ia merupakan seorang karyawan yang berposisi di bagian OB kantor.
“Mana si Rahman, Di?” tanya Aldi sambil membereskan meja kerja dan merapihkan pakaiannya yang tampak kacau.
“Rahman sedang menanti di luar, Pak. Dari tadi beliau telah menanti anda.” jawab Hadi.
“Baiklah saya segera pulang, apa tamu-tamu kita sudah berpulangan?” Aldi bertanya dengan sepasang bola mata yang melirik serius.
“Sudah, Pak. Tamu-tamu sudah berpulangan beberapa menit setelah rapat selesai.” jawabnya.
“Baiklah, kalau sekiranya kamu lelah. Tidak apa-apa besok saja bersih-bersihnya, Di.” Aldi menyambung.
Mengambil jasnya yang tergantung di sandaran kursinya sembari berdiri, ia berlalu meninggalkan Hadi sambil mengenakan jasnya.
“Mari, Hadi. Saya duluan ya!” salam Aldi pada karyawan OB tersebut.
Sesampainya di depan halaman kantor, tepatnya di laman parkiran Aldi menjumpai supir pribadinya yang bernama Rahman itu. Ia sudah cukup lama dan termasuk karyawan loyal di perusahaan Aldi.
“Yuk, Man. Mari kita pulang.”
“Mari, Pak. Sebentar saya bukakan pintu terlebih dahulu.” kata Rahman sambil membungkukkan badan dan menjulurkan jari jempolnya ke arah pintu belakang yang ia tuju.
“Sudahlah, Man. Tidak seharusnya kau buat aku seperti itu, lagipula kita kan masih manusia. Seorang manusia harus memanusiakan manusia, bukankah begitu?” Aldi menghalanginya.
Mendengar ucapan Bosnya, Rahman terpaku dan membisu sejenak.
“Jadi kita pulang?” Aldi memutus lamunan Rahman.
“Eh, jadi kok, Pak. Mari silahkan.” jawab Rahman dengan raut wajah terkejut.
Sepanjang perjalanan Aldi mencoba membawa cerita-cerita random yang ia lantunkan kepada supirnya, Rahman. Ia ingin Rahman tidak mengantuk karena jarak dari kantor ke rumah Aldi juga bisa dibilang lumayan jauh.
Dengan diiringi suara musik jazz yang lembut dari perangkat audio yang dimiliki mobil tersebut, mereka berbincang-bincang.
“Rahman, saya lihat kamu selalu termenung dan terlalu hanyut dalam lamunan. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepada saya?” tanya Aldi sambil tangan kirinya bersandar di bahu pintu mobil.
“Ehh, tidak ada, Pak. Tidak ada apa-apa.” jawabnya terburu-buru.
“Kalau seandainya ada masalah apapun itu, ceritakanlah kepada saya. Apakah gaji kamu kurang, Man?”
Dengan rasa tidak enak dan gelisah, Rahman menjawab, “Tidak, Pak. Segalanya cukup bagi saya. Anda sudah berbuat yang baik untuk saya.”
“Saya dengar istrimu ingin melahirkan, saya mendengarnya dari David sebelum rapat dimulai tadi. Apakah itu benar?” tanya Aldi dengan raut wajah yang sedih.
Sedikit berpeluh pada jidatnya, Rahman menjawab dengan perlahan, “Benar, Pak. Istri saya tengah hamil anak pertama. Saya sedikit grogi karenanya maaf, Pak.”
“Loh, kenapa minta maaf? Kamu tidak berbuat kesalahan apa-apa terhadap saya. Saya suka kinerja kamu selama berada di perusahaan ini. Kamu begitu loyal kepada perusahaan ini bahkan kepada saya.” kata Aldi dengan lembut kemudian ia merenung dan sedih karena ia sangat ingin memiliki seorang anak serta berpikir bagaimana rasa kebahagiaan yang dirasakan oleh Rahman saat akan menerima anak pertamanya.
“Pak. Anda tidak apa-apa? Apakah anda sakit, Pak?” Rahman memutus lamunan Aldi.
“Ahh, tidak. Pasti senang rasanya kalau kita akan memiliki seorang anak.” jawabnya sambil mengalihkan pandangannya ke jendela melihat lampu-lampu jalanan malam yang berkilauan, matanya berkaca-kaca bahkan objek disekitarnya dapat bercermin di bola matanya.
Tidak terasa perjalanan sudah hampir selesai, rumah Aldi semakin mendekat. Sesampainya di rumah, Aldi mengirimkan uang tunai di dalam amplop cokelat.
Aldi berkata sambil mengulurkan amplop berisi uang tunai tersebut dengan kedua tangannya yang menyalam Rahman, “Man. Ini ada rezeki untuk keluargamu. Salam sama keluarga ya.”
“Sudah, Pak. Tidak usah, Pak. Saya merasa tidak enak, Pak.” Rahman mencoba menolak dan mencoba untuk melepaskan tangannya.
“Sudahlah, Man. Ini rezeki untukmu, terimalah anggap saja bonus kerja kerasmu hari ini.” Aldi meyakinkan.
“Terima kasih banyak, Pak. Semoga sehat selalu, murah rezeki dan panjang umur. Anda sudah sangat baik sekali kepada saya, Pak” kata Rahman dekat senyum simpul diiringi air mata yang berkumpul di kelopak mata bawahnya. Jika ia berkedip maka jatuhlah air mata itu.
Setelah Rahman mengantarkan bosnya ke rumah, kini giliran ia pulang ke rumahnya dengan membawa mobil kantor tersebut, seperti biasa esok pagi Aldi akan dijemputnya kembali untuk pergi ke kantor.
Sesampainya di pintu depan rumah, tempat yang biasa ia gunakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu hal yang asing, yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Tabir pada pintu yang biasanya bergeser hanya saat ia pulang, kini telah tergeser seperti ada yang masuk ke dalam rumahnya. Sementara aroma ruang depan rumahnya seperti parfum pria.
Dengan raut wajah heran ia cepat-cepat masuk ke dalam dan mencoba mencari tahu siapa yang masuk ke dalam rumahnya itu karena ia berpikir kalau di rumahnya hanya ada istrinya saja, Rara.
Semeter demi semeter ia melangkahkan kakinya ke depan, melihat ke kiri dan ke kanan, atas dan bawah bagaikan seorang penyelidik. Alangkah terkejutnya ia melihat ke tirai yang biasa terpasang sebagai sekat antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Dari balik tirai itu terpancar cahaya kuning lampu keluarganya. Cahaya kuning itu biasa menjadi cahaya penenang dan cahaya penghangat ruang keluarga mereka namun seketika itu cahaya tersebut berubah menjadi cahaya mimpi buruk bagi Rara dan hubungan mereka.
Cahaya itu memantulkan bayangan dua orang yang tengah duduk berdua sambil berpegangan tangan, saling bersenderan kepala dan saling bercengkrama seakan-akan sudah lama dekat/kenal.
Aldi membeku melihat di balik tirai sosok bayangan sang Istri bersama pria asing tak dikenal.
Dia terpaku di tempatnya mendengar percakapan istrinya dengan pria asing yang duduk bersamanya dari balik tembok ruang tamu.
“Mas… Ron. Maukah kamu puasin aku sekali lagi? Aku gak sanggup melupakan kenikmatan yang kau berikan, Ron.” Suara Rara terdengar mendesah dibalik tirai diikuti suara kecupan bibir yang saling beradu.
Sosok bayangan Rara memanjat ke pangkuan pria yang tengah duduk sedikit mengangkang.
Wajah Rara dan pria itu saling berhadapan, Pria tersebut mencium bibir Rara sebanyak-banyaknya sampai suaranya terdengar seperti decitan di permukaan lantai yang masih basah.
Tubuh Aldi bergetar menahan amarah, tangannya sudah tergenggam dan terkepal.
Pria itu duduk lebih tegak dan mengatakan sesuatu kepada Rara, “Hey, Sayang. Mari kita lakukan la—”.
Dengan suara yang membesar dan terkejut, Aldi berteriak sehingga memotong kata-kata pria tadi, “RARA! Siapa lelaki itu?!”,
Aldi berlari mendekati bayangan tersebut dan membuka tirainya dengan kasar sampai-sampai terdengar suara robekan dari benang-benang yang rapat itu kemudian ia melihat bahwa satu butir kancing di atas baju istrinya telah terbuka dan kerah bajunya compang-camping.
“OH! Jadi begini kelakuan kamu selama aku di kantor? Mempermainkan suami kamu dan berkali-kali minta cerai hanya karena pria b******n ini yang mengambil istri orang lain?” kata Aldi histeris.
Sontak, Rara dan seorang pria itu menjadi tegang dan terkejut karena mendengarkan suara Aldi tiba-tiba berteriak dari arah belakang dan mendekati mereka bahkan sampai di jarak yang berdekatan hingga tirai tabir tersebut terhempas ke atas ubin.
Tangan yang tadinya saling berpegangan kini terlepas, jarak diantara mereka berdua yang tadinya berdekatan kini berjauhan.
“Kalau iya, kenapa emangnya?!” kata Rara kuat dan tegas sambil menyilangkan tangannya di depan d**a. Matanya memelototi Aldi dengan tatapan tidak puas dan kesal.
“Aku dengar perusahaanmu sedang mengalami masalah dan bakalan bangkrut?” katanya dengan nada menghina.
“Aku tidak ingin hidupku bertambah susah denganmu lagi. Aku mau cerai! Titik.”
“Rara kamu…” Aldi menatapnya tak percaya mendengar kata menyakitkan dari Rara.
“Apa? Gak suka?! Kamu bahkan tidak bisa memuaskan aku. Kamu sangat tidak becus mengurus perusahaanmu dan tidak pernah memuaskan hasratku. Sikapmu berpura-pura sok baik membuatku muak. Padahal kamu sering menggoda wanita di kantormu dan berselingkuh di belakang. Kamu tak kalah b******k dengan pria lain di luar sana.” Rara mencibirnya dan menatapnya menghina.
“Rara, siapa yang bilang aku seperti itu—”
“Alah gak usah bohong deh!” Tiba-tiba Roni memotong perkataan Aldi dengan cepat.
“Semua orang juga tahu kamu itu buaya darat. Kamu membelanjakan uangmu pada wanita lain alih-alih istrimu. Pantas saja kamu bangkrut karena menghambur-hamburkan uangmu untuk wanita lain,” ujarnya menatap Aldi dengan tatapan provokatif.
“Jangan sembarang memfitnahku, b******k!” Aldi meraih kerah baju Roni dan meraung dengan marah.
“Aldi, lepaskan Roni, sialan!” Rara mendorong Aldi untuk melepaskan Roni.
Kemudian dia menampar wajah Aldi dengan marah.
Wajah Aldi menoleh ke samping akibat tamparan Rara. Pipi kirinya memerah dengan bercak lima jari Rara.
“Apa yang dikatakan Roni itu benar! Liat aku punya bukti semua perselingkuhanmu!” Rara mengambil foto-foto di atas sofa dan melemparkannya ke wajah Aldi dengan murka.
Foto itu mengenai wajah Aldi dan jatuh berhamburan di atas lantai. Mata Aldi membelalak menatap foto-foto dirinya bersama dengan seorang wanita di kafe. Padahal itu foto dirinya dan rekan bisnisnya.
“Rara, kamu salah paham. Ini bukan berseli—”
“Alah gak usah bohong! Aku muak denganmu! Aku mau cerai sekarang juga! Aku tidak mau hidup susah dengan pria yang sudah bangkrut dan berselingkuh sepertimu!” Seru Rara menatap Aldi dengan tatapan benci dan menghina.
“Rara…” Aldi menatapnya dengan muram dan sakit hati.
Roni menyeringai melihat Aldi yang sedang sangat terpuruk dan dia tampak sangat menikmatinya. Selama ini dia sangat dengki dengan kesuksesan Aldi. Sekarang Aldi turun ke titik terendah hidupnya. Perusahaan akan bangkrut dan dia selingkuhi oleh istrinya.
Tak puas dengan kelakuan Roni, Aldi menarik kembali tangan Roni dengan sekuat tenaga. Cepat-cepat Roni berbalik arah dan memukul bawah bibir Aldi,
“Rasakan itu, kau pantas mendapatkannya!” katanya.
Aldi tersungkur karena pukulan Roni, “Lelaki b******n, b******k!”.
Bergegas bangkit dari keterpojokannya oleh Roni, ia menghantam kepala Roni dari belakang dengan tangan kanannya, “Anak j*****m! b*****t! Apa yang kau inginkan dari keluargaku, dasar manusia hina!”
Roni merasa kesakitan, dia memegangi kepalanya, tak tinggal diam dia berbalik dan melawan Aldi kembali.
Kali ini dia melakukan uppercut tepat di dagu Aldi sehingga membuat Aldi merunduk kemudian dia melakukannya beruntun diiringi dengan tendangan di perut dan ia pun berhasil menjatuhkan sang Suami Rara itu.
Roni meludahi wajah Aldi, “Kaulah yang hina!”.
Aldi mendapatkan lampu hias yang berada tepat di sebelah kirinya, di atas meja kayu yang mengkilap karena dibaluri dengan minyak kayu Turki. Ia mengambil lampu itu dan memecahkannya ke kepala Roni, pecahannya menggores pelipis mata Roni.
Setelah itu Aldi mencoba mendapatkan kesempatan, ia mencoba menendang bagian vital kejantanan Roni tetapi rivalnya itu berhasil menghindar dan mengakibatkan pukulan untuk kesekian kalinya di wajah Aldi,
“Mati kau, b******k!”
Rara menjerit histeris, “Roni, hentikan! Kau bisa membunuhnya!” sambil mencoba memisahkan mereka berdua.
Roni kembali meludahi wajah Aldi sebelum Rara menarik tangannya untuk segera meninggalkan rumah itu.
Rara pun segera membawa keluar selingkuhannya, meninggalkan Aldi yang tengah terpuruk sendirian tanpa adanya dukungan maupun kasih sayang.
Aldi menangis, ia tak kuasa menahan air mata lagi. Ia membuang semuanya, ia melampiaskan semua amarahnya ke benda-benda sekelilingnya. Lampu, hiasan meja semua jatuh ke atas lantai. Ia juga melepaskan dasinya dan melibas-libaskannya ke segala arah seperti orang depresi.
Ia tak lagi memiliki secercah harapan apapun untuk mempertahankan rumah tangganya, segalanya berakhir. Rumah tangga yang ia coba pertahankan semenjak tiga tahun silam berakhir tragis seperti ini. Ditinggalkan mantan istrinya yang pergi bersama seorang b******n yang mengacaukan segalanya.
Kedua tangannya memukul-mukul wajahnya, menjambak-jambak rambutnya, menarik-narik jasnya dan kemejanya sendiri hingga compang-camping. Tangisnya tak terbendung semakin keras dan pecah, wajahnya penuh dengan warna kemerahan. Emosi dan tangis terus datang secara bersamaan meskipun matanya tak mampu mengeluarkan air mata lagi seakan-akan saking perihnya kejadian itu hingga ia menangis tanpa air mata.