"Arsenio, Papa ingin kamu hadir di acara makan malam nanti." Arsen baru masuk dalam rumah saat suara Daniel terdengar. Arsen diam tak menyahut, ia tetap melangkahkan kakinya tanpa mengindahkan keberadaan Papa atau Mamanya. "Arsenio, Papa bicara sama kamu!" bentak Daniel. Ia melangkah cepat dan mencengkeram bahu Arsen. Kini dua laki-laki tersebut saling berhadapan. "Dengar, kali ini Papa tidak akan memaafkan kamu kalau sampai gagal. Kamu harus bersikap baik pada anak teman Papa nanti. Dan setelah lulus, kalian akan langsung bertunangan." "Nggak," jawab Arsen datar. "Arsen nggak mau." PLAK! Daniel langsung menampar Arsen, sedangkan Arsen hanya diam menerima. Bukan karena pasrah tetapi ia benar-benar merasa lelah. Di dalam otaknya hanya kondisi Fani lah yang ia pikirkan. Tidak ada yang

