01. Dokter sp.A
Dr. Reyna Rosallie Sp.A tertulis di meja kerja seorang dokter spesialis anak yang cantik dan sederhana. Reyna adalah seorang dokter anak yang sangat ramah dan pintar membujuk pasiennya.
Kehidupan seorang dokter yang terlihat sempurna dan bahagia hanyalah pandangan semata, sesungguhnya kehidupan mereka tidaklah mudah, contohnya adalah Reyna.
Pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk memprioritaskan keselamatan pasien dan mendahulukan kepentingan banyak orang, pekerjaannya adalah sesuatu untuk mengabdikan diri pada orang lain adalah pekerjaan yang mulia, itulah pandangan Reyna selama kurang lebih tiga tahun menjadi dokter resmi di usia memasuki tiga puluh tahun.
Reyna sering disapa Rena, hidupnya tak semudah yang dipikirkan orang lain, dia yang harus menahan lelahnya bekerja dan menghadapi kegagalan bertunangan selama tiga kali berturut-turut.
Dibalik wajah cantik Rena dia juga masih di tolak dan gagal menjalin hubungan, hingga bisik-bisik tetangga setiap saat harus dia dengar setiap harinya.
Ditambah status ibunya yang janda semenjak Rena duduk di bangku SMA, ibunya dulunya adalah mantan perawat di rumah sakit 'Gelora Karya' tempat Rena bertugas saat ini, menambah topik pembicaraan untuk mulut tetangga yang selalu mengoceh kesana kemari tentang kehidupan mereka berdua.
Almarhum ayah Rena sendiri dahulu adalah dosen di universitas ternama di kotanya, yang sekarang beliau hanya menyisakan kenangan seorang ayah untuk putrinya.
Rena POV
Jam menunjukkan pukul 12.45, Aku duduk diam di dalam ruangan ku tanpa ada kebisingan sama sekali, hingga membuat diriku kembali mengingat kejadian yang terulang satu Minggu lalu.
Flashback
"Saya tidak bisa meneruskan pertunangan ini!" ucap pria bernama Azril. Saat itu seluruh keluarga sedang berkumpul untuk melakukan pertunangan antara aku dan Azril.
Seperti tersambar petir di siang bolong, ini yang ketiga kalinya aku gagal bertunangan. Lagi-lagi dengan alasan yang tidak jelas.
Aku menatap panas Azril yang menundukkan kepalanya, orang tuanya menatap sinis ibuku dan aku bergantian.
Azril yang melihat ku seolah bertanya kenapa, dia pun mengerti dan mengutarakan alasannya, "Hatiku berlabuh pada orang lain." ucapnya sedikit canggung, berbeda dengan orangtuanya yang tersenyum puas mendengarnya.
"Pergilah, aku tak memaksamu untuk hal ini." jawab ku sambil memalingkan wajah dari Azril dan keluarganya. Ibuku ikut menitikkan air mata karena nasib sang Putrinya yang lagi-lagi gagal.
Ibu Azril berdiri meninggalkan suami dan putranya di sana. Ayah Azril segera mengikuti istrinya, Azril menatap ku dengan tatapan tidak bisa ditebak.
"Maafkan aku Ren!" lanjut Azril sebelum pergi menyusul orang tuanya pergi keluar rumah ku.
Ibuku menatapku haru dan segara memeluk ku hangat, menyalurkan kekuatan agar aku tak goyah dan rapuh.
"Tidak apa, dia bukan jodoh kita!" lirih Ibuku sambil mengusap bahu dan rambut ku pelan.
"Ada yang menanti Rena di luar sana Bu, mungkin dia lebih baik dari Azril dan sebelumnya." jawab ku seolah kuat dan tegar, padahal jauh di dalam hatiku aku menangis meraung-raung meratapi nasibku yang semakin bertambah usia.
Aku memeluk Ibu kuat, aku tak ingin kehilangannya seperti kehilangan ayah beberapa tahun lalu. Aku perlahan-lahan mengerti apa arti sebenarnya sebuah hubungan dan seberapa berharganya dia di dalam menjalin ikatan abadi.
Aku memang tak seberuntung mereka yang bisa menjalin keluarga di usianya yang dibilang bahagia.
Namun aku yakin, mereka pasti tak seberuntung diriku yang masih memiliki ibu walau kehilangan ayah.
Tak seberuntung diriku yang mampu bertahan dari guncangan kegagalan yang diulang-ulang. Tak seberuntung diriku yang lebih paham arti memiliki saat kehilangan.
Tak seberuntung diriku yang bisa menghargai hubungan adalah ikatan kekal yang lebih berharga dari apapun.
Mungkin setelah aku merasa lelah dan menyerah Tuhan akan mempertimbangkan nasibku lagi, namun aku tak boleh goyah, jika bukan karena diriku sendiri maka aku harus kuat demi ibuku tercinta.
Flashback end
Air mata lolos keluar membasahi pipi ku, dan jatuh di jas putih bersih milik ku. Sebuah panggilan menyadarkan lamunanku dari kejadian yang sangat membuat aku terpukul di dalam dan tegar di luar.
"Dokter! Dokter Rena?" panggil suster pribadi ku sambil melambaikan tangannya di depan wajah ku.
"Ha? iya? apa?" Aku tersadar seketika dan bingung apa yang sedang terjadi.
'Huh ... lagi-lagi aku teringat hal menjengkelkan itu,' batinku sambil mengusap wajah lelah, dan kembali menatap Dewi (Suster pribadiku di rumah sakit).
"Ada pasien baru setelah jam makan siang." balas Dewi memberitahu diriku jika ada pasien anak baru.
"Oh, iya saya ingat! terimakasih sudah mengingatkan saya," jawabku ramah sambil tersenyum lembut.
"Iya sama-sama Dok, apa Anda lelah Dok?" tanya Dewi khawatir melihat wajahku.
"Oh ... tidak, saya hanya sedikit lapar saja." jawabku sambil terkekeh kecil, memang benar aku sedikit lapar.
"Oh ... kalau begitu silahkan Dokter istirahat dan segera menemui pasien baru," ucap Dewi sambil berlalu meninggalkan ruangan ku dan pergi.
"Huh ... lebih baik aku makan dulu, mau bagaimanapun perut ku juga hidup!" ucapku pelan berbicara sendiri sambil mengusap perutku dan membereskan meja lalu menuju kantin rumah sakit.
Rumah sakit yang begitu ramai pengunjung, keadaan darurat dengan kondisi cemas dan was-was tak henti selalu meliputi kondisi rumah sakit.
Ada yang datang untuk bertamu atau menjenguk, ada juga yang datang untuk mengucapkan salam perpisahan pamit pergi selamanya.
Inilah rumah sakit, tempat dimana takdir ditentukan disini, tempat yang menjadi saksi bisu atas kematian orang-orang selama puluhan tahun sejak berdiri megah dan kokoh.
Dokter yang berlarian kesana kemari dengan jas berlinang darah, suster yang tergesa-gesa sambil membawa catatan dan infus demi keselamatan pasien, tak henti hentinya terjadi selama 24 jam.
Jasa mereka tak bisa di bayangkan dengan kebahagiaan semata, usaha mereka mampu menyelamatkan nyawa manusia.
Dulu aku juga berpikir untuk menjadi dokter bedah saraf, tapi aku urungkan setelah melihat kematian ayahku, aku lebih memilih menjadi spesialis anak yang bisa merawat mereka dari kecil sebelum terlambat hingga menua.
Seluruh pekerja, staf, dan dokter menyapaku ramah dan hangat, mereka semua mengenal diriku mungkin karena keramahan ku dan sedikit makanan seminggu sekali.
Namun aku sendiri juga senang memberikan mereka makan siang setiap seminggu sekali, menurutku itu bisa membuat mereka lebih semangat untuk bekerja.
"Siang Dok?" sapa Pak Heri staf dapur kantin rumah sakit.
"Siang Pak Heri, gimana kabarnya Nisa?" balasku menyapa balik sambil bertanya kondisi putrinya yang beberapa hari lalu aku cek kesehatannya.
"Alhamdulillah sudah sehat Dok, sekarang dia lebih ceria dari sebelumnya." jawab Pak Heri memberi tahu kondisi kesehatan putrinya.
"Wah ... bagus kalau begitu Pak, vitaminnya diminum terus ya, jangan sampe terlalu lelah dan istirahat cukup!" ucapku sambil memberi nasehat pada Pak Heri.
"Iya Dok, terimakasih ya, kalau saja saya punya anak laki-laki seusia Dokter, pasti sudah saya suruh melamar Dokter Rena!" sahut Pak Heri membuat diriku sedikit canggung karena membicarakan perihal nikah atau lamaran, entah kenapa di telingaku sedikit risih mendengar ucapan itu.
"Hehehe ... saya jalan dulu Pak?" balasku hanya dengan kekehan kecil dan memilih berlalu menghindari pembicaraan menuju kantin untuk makan.
"Huh, ucapan masyarakat membuatku lelah." lirihku sambil berjalan dan tersenyum kecut, sambil memasukan tanganku ke saku jas bergelar milikku.
Tibalah aku di Kantin, dan duduk sendiri di meja belakang yang nampak sepi.
Aku letakkan satu porsi makan siang dan duduk tenang di sana, makanan itu sebenarnya tidak berniat untukku makan, namun mau bagaimanapun perutku juga hidup, dan ingin sehat.
Satu lalapan kecil sayur matang berhasil ku kunyah dan kutelan, terkadang nafsu makan itu akan hilang saat mengingat kondisiku sendiri, aku bahkan merasa tak tega dan kasihan pada diri sendiri, sebegitukah malangnya diriku hingga aku tak berdaya.
Mataku menatap seluruh penjuru kantin rumah sakit yang selalu menjadi tujuan ku saat lapar di jam kerja.
Seorang anak laki-laki sedikit berbeda dari anak pada umumnya tengah berdiri bingung mencari sesuatu. Aku yang merasa tersentuh meninggalkan meja makan dan menghampiri anak itu.
Aku membungkuk dihadapannya dan berbicara lembut, "Kamu cari apa?" tanyaku pelan dan mengusap bahu anak itu yang berusia sekitar lima tahun.
Anak itu merasa diajak bicara menatap ku dan tersenyum lebar, saat itu juga aku dapat memastikan jika anak itu terlahir prematur atau kondisi rahim ibunya sedang bermasalah. Aku sama sekali tak merasa aneh justru aku semakin tergerak mendekatinya.
"A ... ayah, dimana Bi?" tanya anak itu menyahuti pertanyaan ku dengan bertanya kembali mengenai ayahnya.
"Mungkin dia lagi membeli sesuatu?" jawabku lembut dan melanjutkan bicara, "Mari duduk di sana dengan Bibi?" lanjut ku mengajaknya duduk di meja makan ku, alhasil anak itu menurut saja dan tersenyum kecil.
"Kamu mau makan sayur?" tanya ku sambil menawarinya makan sayur matang, lagi pula itu sangat bagus untuk menunjang daya tahan tubuh anak seusianya.
Siapa sangka anak itu mengangguk mau untuk menerima tawaran makan dariku.
"Kata ayah sayur itu bisa buat Deon jadi superhero yang kuat!" jawabnya sambil mengoceh tentang manfaat sayur yang membuatnya menjadi superhero, 'Ada-ada saja anak ini,' batinku tertawa lucu mendengar ucapan anak itu, mungkin itu salah satu cara orang tuanya agar dia mau makan sayur.
"Wah ... kalau begitu kamu makan sayur yang banyak ya, nanti Bibi kasih kamu hadiah." balasku semakin semangat untuk memberi dia suapan sayur.
"Aaa ...." ucapku menyuruhnya membuka mulut untuk makan, dan dia menurut patuh dan makan banyak. Alhasil jadinya makan siang itu aku bagi dengan Deon.
"Enak Bibi, nanti Deon kasih bibi hadiah ka ... karena kasih Deon sayur." oceh Deon sedikit sulit berbicara, aku memakluminya dan membantu dia untuk melanjutkan bicaranya sambil menjadi pendengar yang baik.
"Deon mau kasih apa hem?" tanyaku sambil menyuapinya lagi.
"Kita naik sepeda terbang punya ayah!" jawabnya sedikit membuatku bingung, aku pikir saja jika sepeda terbang itu adalah mobil-mobillan remote control miliknya.
"Kalau gitu nanti Deon yang supir ya?" balasku semakin senang melihat nafsu makan Deon yang mudah dan enak di lihat, membuat semakin b*******h untuk makan siapa saja yang melihatnya.
"Deon jadi supirnya Bibi kalau udah besar ya?" sahutnya sambil tertawa-tawa. Sungguh aku melihat kebahagiaan dari tawanya itu.
"Iya, Bibi–" baru saja aku ingin menyahuti perkataan Deon, sebuah suara bariton pria terdengar sedikit marah melihat aku dan Deon. Aku langsung menatapnya heran dan sedikit kesal.
Tubuh tinggi, rahang tegas, terlihat wajah yang begitu tampan, namun siapa pria itu? dan apa hubungannya dengan Deon.
Aku terus menatap mata pria itu penuh tanda tanya, pria itu menarik Deon segera dari hadapan ku seolah aku adalah masalah untuk anak itu, padahal aku sama sekali tidak punya niat buruk.
Aku merasa dia kurang sopan menarik anak itu begitu saja dari hadapan ku tanpa tahu alasan yang jelas, kalau dia memiliki sopan santun pasti sudah permisi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu apa lagi di hadapan orang lain, sungguh pria aneh.
Rena POV end
Hai hai... gimana di bab pertama ini? Semoga suka ya! Lanjut lagi baca sampai end ya! jangan lupa untuk tekan love dan follow ya! Agar tahu info selanjutnya tentang MAHAR TERINDAH, semoga bermanfaat dan menghibur, sayang kalian banyak-banyak makasih...