Kau tidak sejauh kepala dan kaki. Kau juga tak sedekat kaki dan jari. Namun kenapa kau begitu sulit kugapai?
*****
Setahun kemudian...
Semuanya berubah, tak lagi sama dengan sebelumnya. Memang, dalam satu hari setiap orang bisa berubah dalam sekejap saja. Semua itu tak lepas dari usaha orang tersebut dalam mencapai keinginannya untuk berubah.
Nara tersenyum menatap uang yang ia kumpulkan selama bekerja jadi pengasuh Jelita. Uang yang ia kumpulkan lumayan banyak. Ia akan membuka usaha lewat uang ini. Walaupun setiap bulannya ia selalu mentransfer bapak uang untuk memenuhi kebutuhan bapaknya, ia juga menyisihkan uang untuknya menabung. Baginya, menabung itu perlu. Apalagi jika ada keperluan mendesak dan ia tak memiliki uang sama sekali. Ia jauh dari bapak, ada di kora rantauan yang sekarang sudah tak asing lagi baginya.
Setelah kejadian dimana ia sering dimarahin oleh Bu Laura, ia juga sebisa mungkin memperbaiki dirinya dan mengikuti kemauan Bu Laura supaya tidak mengalami kejadian yang serupa. Termasuk berdaptasi dengan lingkungan barunya. Ia juga sudah tahu dan hafal sikap Bu Laura. Wanita itu akan marah, jika ia sering melakukan kesalahan walau tanpa disengaja, sebaliknya wanita itu akan tersenyum ramah padanya disaat ia mau mengikuti apa yang dimaunya.
Saat itu ia juga dengan berani mengangsurkan diri menggantikan pekerjaan Bi Inem ini. Dimana setiap Bu Laura habis dari luar kota dan langsung ke rumah, Bi Inem memijat kedua kaki Bu Laura di air hangat. Menurutnya, walau pembantu seharusnya Bu Laura paham bahwa hal itu kurang baik dan kurang sopan dilakukan. Seharusnya justru yang masih muda membantu. Lambat laun Bu Laura tidak pernah lagi memarahinya. Bahkan, lima bulan terakhir ini ia sering dipuji karena masakannya enak. Ia akan memasak ketika Bu Laura ada di rumah, tentunya bersama Bi Inem juga. Ia pun senang, akhirnya berbagai kesakitan yang ia alami sudah membuatnya nyaman disini. Apalagi ketika bayi mungil itu selalu rengket padanya. Minta selalu digendong olehnya walaupun Bu Laura tak lagi kerja atau ke luar kota.
Sebentar lagi, Jelita berumur dua tahun. Ia senang dan tak menyangka bisa betah setahun disini. Namun, jika sudah tepat tiga tahun, ia akan berhenti bekerja. Memulai buka usaha di Bandung, di tempat tinggalnya sana bersama bapak. Bapak sudah tua, ia tak mungkin selalu meninggalkan bapak. Tak setega itu dirinya.
"Nara," panggil Bu Laura.
Nara berjalan menuju Bu Laura. Wanita itu ada di ruang tamu bersama Rian. Laki-laki itu selama lima bulan ini juga mendekatinya. Entah apa tujuannya. Kata Bu Laura, Rian butuh calon pendamping atau istri dalam wkatu dekat karena umurnya yang sudah cukup umur bahkan sudah kepala tiga.
Hal yang dilakukan Nara tentu menanggapinya biasa. Bukan itu saja, Mas Wito pun juga ikut-ikutan menarik perhatiannya. Lelaki itu sudah berubah lebih baik dari sebelumnya. Semenjak ia dimarahin, Mas Wito selalu meminta maaf padanya. Karena menurutnya semua itu salahnya.
"Iya, Bu."
"Jaga Jelita dulu, saya mau pergi dulu."
Nara mengangguk dan mengambil alih Jelita dari gendongan Bu Laura. Ia mengajak bicara Jelita. Jelita tersenyum sambil menepuk kedua tangannya pelan.
"Ih, lucu banget kamu," ujar Nara dengan senyum lebar.
Tiba-tiba Bi Inem datang dibelakangnya. "Nara, cobain puding buatan bibi, nih."
"Siap, bi."
Nara mengikuti langkah Bi Inem menuju dapur. Bu Laura baru saja pergi dengan Rian dan Mas Wito, supirnya.
"Jika Bu Laura pergi sekarang, pasti nanti tidak balik lagi," gumam Bi Inem.
Nara menatap Bi Inem dengan pandangan bingung. "Loh kenapa, bi?"
"Tadi bibi denger ada urusan penting pas Bu Laura sedang menelfon dengan seseorang."
Nara mengangguk saja. "Tetapi tadi gak bawa koper, bi."
"Dia baru beli apartemen di Jakarta dan tentu ada bajunya disana juga," ujar Bi Inem.
Nara melongo dibuatnya. Baru beli mobil baru, sekarang ia denger baru beli apartemen?
"Bi Inem sedekat ini ya sama Bu Laura," ujar Nara.
Bi Inem mengangguk dan memberikan potongan puding ke Nara. "Jelita mau?" gurau Bi Inem.
Jelita hanya tersenyum saja. Nara mengelus pelan pipi Jelita. Lembut dan halus.
Nara memasukkan puding ke mulutnya. Rasanya manis dan enak.
"Gimana?"
"Enak, bi!" pekik Nara senang.
"Bibi tutup pintu depan dulu, ya. Bibi yakin Bu Laura gak akan kembali lagi. Lagipula kita di rumah hanya bertiga saja."
Nara mengangguk setuju. Ia mulai kembali memasukkan puding ke mulutnya. Untungnya Bu Laura membebaskan pembantunya untuk membuat makanan apapun. Karena akhir-akhir ini Bu Laura sering keluar kota juga. Job yang didapatkan sepertinya banyak. Bahan makanan disini juga lengkap. Nara sampai terpukau dibuatnya.
"Nara, bibi tadi denger dari warga katanya nanti malam ada pemadaman."
Hal begini membuat Nara panik. Jika ada pemadaman, Jelita pasti akan menangis.
"Bi, ada lilin kan?"
"Ada, nanti setelah manghrib kamu tidurin Jelita. Biar dia gak nangis," titah Bi Inem.
Nara mengangguk saja. Lalu menenggelamkan wajahnya di leher Jelita. Jika dibilang sayang, ia sayang sekali dengan Jelita. Rasanya tak tega jika 2 tahun lagi ia akan pergi dari rumah ini.
*****
Gio tersenyum menatap ponselnya yang berwallpaper foto Nara. Sudah setahun ia tak bertemu dengan gadis itu. Rasanya ingin segera jumpa. Hatinya selalu berbunga tiap mengingat Nara.
Ia putuskan malam ini untuk menelfon Nara. Ia sangat rindu. Dua kali panggilan masih belum diangkat.
"Nara dimana, sih?" Gio tak sabar menanti panggilan tersambung.
Dikota Yogyakarta, kota yang menjadi tempat Nara tinggal saat ini. Nara sudah berhasil menidurkan Jelita. Ia hanya berdua dan Bi Inem di kamar Jelita dengan membawa lilin. Ia dan Bi Inem duduk di lantai keramik.
"Dingin banget udaranya," ujar Nara sambil merapatkan jaketnya.
Bi Inem saja sampai melebarkan kedua tangannya di depan lilin, lalu diusapkan ke kedua pipinya. Nara juga mengikutinya.
Suara getaran ponsel di saku celana Nara membuatnya kaget. Ia lupa, ponselnya sekarang ia ganti nada getar. Supaya tahu siapa yang menghubunginya.
Nara merogoh ponselnya di saku celana, nama Gio terpampang di ponselnya. Ternyata Gio yang menelfon. Tanpa sadar ia tersenyum. Ia dan Gio memang saling berkabar hanya lewat chat wa dan sms atau paling tidak telfon. Ia tak suka vidio call ataupun saling berkirim foto kepada Gio. Gio mengikuti kemauannya dan menghormati keinginannya. Walau ia tahu pasti Gio merasa kecewa dengan apa yang dipintanya ini. Karena ia juga takut jika harapannya tidak akan nyata, walau ia berharap ia dan Gio selalu bersama. Ia dan Gio juga tak tahu apakah nantinya berjodoh atau tidak. Namun, meminimalisir hati itu sangat sulit. Jika terlalu cinta, butuh waktu lama untuk melupakan.
"Siapa tuh yang telfon, senyum-senyum sendiri," ujar Bi Inem.
Nara tersenyum malu menatap Bi Inem. Lalu ia menjawab, "Ada deh, bi."
Bi Inem mengangguk-angguk saja seolah mengerti. Senyum malu anak muda ketika jatuh cinta. Ia pernah mengalaminya juga dulu.
"Assalamu'alaikum," ucap Nara. Untung saja Jelita sudah tidur.
"Wa'alaikumussalam," jawab Gio diseberang sana.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Nara.
"Baik, kamu?"
"Baik juga," jawab Nara.
Hanya hening setelahnya. Lalu perkataan Gio selanjutnya membuatnya kaget dan senang bukan main.
"Nara, aku berfikir akan segera melamarmu."
"Be-benarkah, apa tidak terlalu cepat?" tanya Nara.
"Tidak, untuk pernikahan aku putuskan dua tahun setelahnya," jawab Gio sambil tersenyum.
Nara tersenyum juga. Ia sampai membungkam bibirnya supaya tidak kelihatan Bi Inem. Ia malu, sungguh.
"Kamu senang dan setuju kan?"
"Iya, tentu."
"Aku senang mendengarnya. Aku akan pulang ke Bandung dua hari lagi. Datang ke rumahmu, dan membawa kedua orang tuaku."
Nara berdiri dari duduknya dan memutuskan berbicara dengan Gio di depan kamar Jelita. Walau ia agak takut karena gelap.
"Gio, apa keluargamu mau menerimaku?" tanya Nara pelan-pelan.
Gio tahu apa yang dikhawatirkan oleh Nara. "Pasti setuju, aku juga sering menceritakanmu kamu ke mereka. Katanya mereka ingin bertemu denganmu."
"Ah, Gio. Nara jadi malu," ujar Nara dengan senyuman lebar. Ia tak bisa menutupi rasa malunya.
"Nanti aku kabari lagi kalau aku sudah melamarmu," ujar Gio.
"Kamu baik-baik disana. Ingat kewajiban dan prinsip."
"Pasti, terutama ingat kamu juga," goda Gio.
Nara hanya terkekeh saja. Ia tanpa sengaja menatap ke bawah. Ia merasa takut. Rumah ini luas tetapi menakutkan jika gelap seperti ini.
"Kalau itu harus, jika tidak awas saja." Nara balas menjahili lelaki itu dengan sedikit mengancam. Walau ia percaya bahwa Gio tidak seperti itu.
"Ya sudah aku tutup dulu telfonnya."
"Kok belum ditutup?" tanya Nara.
"Sebenarnya masih ingin bicara sama kamu, tapi tugas menantiku," ujar Gio.
Nara memahami Gio yang statusnya sebagai mahasiswa.
"Lanjut bicara besok saja," ujar Nara.
"Ya sudah, aku tutup ya. Jangan rindu dan berdo'a semoga kamu dan aku disatukan sampai surga-Nya," ujar Gio.
"Aamiin. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Nara memang ingin menikah hanya satu kali. Menikah dengan lelaki yang mencintainya dan mampu menjaga kepercayaannya. Ia ingin menikah dengan lelaki yang bisa membuatnya lebih baik lagi. Baginya, ia tak ingin hanya bahagia di dunia saja, ia ingin bersama-sama menuju surga-Nya.
Nara tersenyum tipis, kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Kelamaan di luar kamar membuatnya sedikit gemetar dan takut.
******
Hari ini Nara meminta izin untuk libur kerja, ia ingin keluar jalan-jalan. Sudah lama rasanya ia terlalu sibuk menjadi pengasuh Jelita. Ia tidak sendirian. Ada dua orang lelaki di kanan-kirinya yang mengikuti kemanapun ia pergi. Kecuali ketika ia di toilet tentunya.
Siapa lagi jika bukan Rian dan Mas Wito. Bu Laura dan Rian sudah kembali lagi ke Yogyakarta. Jika dengan Mas Wito ia memang mengajaknya, karena dirinya ingin diantar ke malioboro. Ia pikir suatu saat ketika kembali ke Bandung, bisa sendirian kesana untuk membeli oleh-oleh buat bapak, kedua orang tua Gio, dan Gio. Untuk tetangga dekatnya juga.
Sedangkan untuk Rian, lelaki itu mengikutinya karena kehendaknya sendiri. Apalagi lelaki itu membuatnya malu dihadapan Bu Laura tadi.
Flashback on
"Bu Laura, saya mau izin libur bekerja hari ini," ujar Nara sedikit takut.
"Kenapa?"
Nara hanya diam saja, tak berani menjawab.
"Udah izini saja, Laura. Dia kan gak pernah libur kerja. Kasihan kalau kerja terus gak liburan."
Bu Laura mengangguk setuju atas usulan Rian. Nara tersenyum senang. "Terima kasih, Bu."
Rian mendekati Nara. "Pantes banget udah cantik pagi-pagi begini."
"Rian, Rian, Nara apa mau sama lo," ujar Bu Laura.
"Maulah, orang gue ganteng begini," ucap Rian dengan percaya diri dan bangga. Bahkan, ditepuknya d**a bidang Rian oleh Rian sendiri.
"Nara, kakak mau bilang sesuatu."
Bu Laura menatap Rian dengan pandangan penuh selidik.
"Apa, kak?" tanya Nara lirih.
"Ada sapi ada kambing. Ada kecoa di celana Laura. Ada Nara yang kusayang. Eh, cantiknya bikin Mas terpesona."
Nara tertawa mendengar perkataan Rian. Lelaki itu berusaha menggombalnya. Ia sampai ketawa dibuatnya. Bu Laura apalagi, kesal setengah mati. Tangannya yang berkuku panjang itu sontak menancap di pergelangan tangan Rian. Nara sampai meringis dibuatnya. Pasti sakit.
"Kurang ajar," pekik Bu Laura kesal.
"Sakit tau, Laura."
"Lo sih, ngapain bawa-bawa nama gue," ujar Bu Laura dengan nada kesal.
"Habisnya cuman nama lo yang gue tahu akhiran huruf a," jawab Rian dengan nada santai.
"Kan ada tuh nama Nara, akhirannya a juga," sahut Bu Laura.
"Bedalah, kalau Nara kan cocoknya jadi yang baik-baik, kalau lo mah gak," ujar Rian sambil tertawa hingga memegangi perutnya sendiri.
Bu Laura memukul keras lengan Rian sesekali juga mencubitnya. Ah, pasti sakit.
Nara diam-diam pergi meninggalkan keduanya. Mengambil tasnya di kamar, lalu menghampiri Mas Wito yang sudah ada di halaman depan.
Rian yang merasa Nara tidak ada disampingnya pun langsung celingukan mencari Nara. "Gara-gara lo, sih. Gue jadi ditinggal Nara."
"Halah, belum mandi juga. Bau tuh."
Tanpa mandi, Rian langsung menuju halaman depan. Mengikuti kepergian Nara.
Flashback off
"Kak Rian memangnya mau kalau naik angkot?" tanya Nara. Karena perjalanan menuju malioboro masih jauh.
Rian menoleh, mengedipkan sebelah matanya. "Maulah, asalkan sama neng geulis."
Nara tertawa pelan. "Kalau aslinya gak mau jangan pura-pura mau ya, Kak. Nara tahu Kak Rian pasti gak pernah naik angkot."
Kedua mata Rian membulat. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. "Enggaklah."
Mas Wito yang sedari tadi hanya mendengarkan pun mendengus kesal. Lelaki yang menjadi teman sekaligus saudara sepersusuan Bu Laura pun suka menggoda Nara. Ah, tepatnya menyukai Nara. Ada dua sekarang yang menjadi saingannya. Lelaki yang bernama Gio yang belum ia ketahui sampai sekarang. Ia tak mau memkasa Nara lagi untuk menjawab, daripada Nara semakin menjauhinya. Sudah untung dirinya diberi maafa, jika tidak pasti hubungannya dengan Nara akan semakin jauh. Udah jauh, makin jauh deh.
Ketika melihat ada angkot yang lewat, Mas Wito melambaikan tangan. Ia meminta Nara untuk masuk ke dalam angkot dulu setelah angkot berhenti di depan mereka. Kemudian dirinya masuk, setelah itu baru Rian.
Nara duduk berhadapan dengan Mas Wito, sedangkan di sebelah Mas Wito ada Rian. Nara dapat melihat jika lelaki itu tak nyaman. Kenapa berbohong demi sesuatu yang tak membuatnya nyaman? Lagipula dirinya tak memaksa Rian untuk ikut dengannya. Ia juga tahu jika lelaki itu belum mandi.
Setelah tempat yang dicapai sudah sampai. Nara dan lainnya pun segera keluar. Nara membayarkan angkot dirinya dan Mas Wito.
"Nar, loh kenapa?" tanya Mas Wito.
"Gak apa-apa, Mas. Kamu yang udah mau nemenin Nara dan ngantar Nara sampai sini."
Mas Wito akhirnya mengangguk saja.
"Bayarin dong," ucap Rian lirih. Ia berbisik ke telinga Mas Wito.
Mas Wito berdecak kesal lalu membayarkannya juga.
"Kenapa kok bayar lagi, Mas? Kan udah Nara bayarin?" tanya Nara bingung.
"Ini Mas Rian gak bawa uang," jawab Mas Wito.
Nara menatap Rian dengan pandangan menyelidik. Lalu kemudian ia alihkan pandangan kearah malioboro. Ia melangkahkan kakinya dari satu toko ke toko lainnya. Mas Wito selalu mengikutinya dari belakang.
Langkahnya terhenti ketika sampai di toko yang menjual bakpia. Ia memutuskan untuk membeli 1 kotak bakpia. Setelah lelah berjalan kesana-kemari, Nara mengajak Mas Wito dan Rian menuju tempat makan. Ia membeli es degan disana. Rasanya segar tenggorokannya setelah lelah berjalan memutari malioboro.
Rian sangat kesal hari ini. Ia tak membawa uang. Padahal ia juga ingin mentraktir gadis itu. Seharusnya tadi dirinya bawa uang, pergi ke kamar dulu ambil dompet. Ia jadi melas sendiri disini.
"Kok belum diminum Kak Rian?" tanya Nara. Nara yang membelikan minum untuk Rian. Ia juga membelikan untuk Mas Wito, namun Mas Wito menolak.
Rian tersenyum manis. "Udah gak haus lagi pas lihat wajah Nara yang cantik ini."
Mas Wito pura-pura mual mendengarnya. Lelaki itu tak cocok menggombali Nara. Rasanya tak ingat umur saya. Nara cocoknya memanggil om kepada Rian. Rian saja yang terlalu gencar mendekati Nara. Rasanya Rian itu tak pantas jadi saingannya. Ah, mungkin saingannya hayalah Gio saja.
"Kak Rian minum saja es nya. Kalau lihat Nara gak bakal mengurangi rasa haus," ujar Nara.
Rian mengatupkan bibirnya. Lalu meminum es degan yang terasa segar di tenggorokan. Ah, kapan-kapan ia akan mengajak Nara jalan-jalan berdua saja. Tanpa lelaki disebelahnya ini.
Nara mengernyitkan dahi bingung ketika melihat Mas Wito yang tampak menutup hidung. "Mas Wito, kenapa?" tanya Nara yang penasaran.
"Ohh, ini Nar. Mas kok mencium bau sesuatu ya."
"Sesuatu apa, Mas?"
"Seperti bau kecut gitu," ujar Mas Wito. Ia berniat meledek Rian. Memberanikan diri. Ah, hanya karena ini saja tak akan membuatnya dipecat Bu Laura. Lagipula bossnya itu Bu Laura, bukan Rian.
Rian mendelik tajam mendengarnya.
"Mas Rian kenapa?" tanya Mas Wito pura-pura tak tahu.
"Kak Rian memang belum mandi," cicit Nara. Ia takut dimarahi lelaki itu.
Kedua mata Rian membulat. Ia memang belum mandi. Apalagi melakukan perjalanan ini dan sedari tadi jalan-jalan keliling sekitaran malioboro tentu membuat keringatnya bercampur dengan baunya dirinya yang tak mandi. Alhasil baunya ya tak sedap, bau kecut.
Mas Wito menahan tawa. Ia berhasil menjahili lelaki itu. Salahnya telah mengganggu waktu dirinya dengan Nara. Padahal ia ingin berdua saja tadi menuju sini. Eh, tiba-tiba nongol dan ikut. Mana tak bawa uang pula.
"Ah, Nara. Kak Rian mandi, kok," ujar Rian salah tingkah.
Nara mengangguk saja. Tak ingin memperpanjang sesuatu hal yang tidak penting. Mandi atau tidak itu urusan Rian.
Rian rasanya ingin memukul Mas Wito disini. Sudah mempermalukan dirinya dihadapan Nara.
*******
"Nara," panggil Rian.
Nara yang sedang menyuapkan makanan ke bibir Jelita pun hanya menoleh sekilas. Sesekali ia mengajak bicara Jelita supaya anaknya aktif.
"Kenapa sih lo gak nerima-nerima gue? Apa karena umur kita jauh?" tanya Rian. Wajahnya tampak frustasi dan tatapannya sendu.
Selama ini Nara tak pernah meminta Rian untuk mendekatinya. Hanya saja lelaki itu selalu mendekatinya. Ia dengar dari Bu Laura jika Rian memang sedang cari jodoh. Namun, ia harus memberi ketegasan kepada Rian.
"Maaf, kak. Nara gak bermaksud. Tetapi, Nara sudah dilamar sama orang lain," jawab Nara.
Dilain sisi, Mas Wito mendengarnya. Ia yang ingin menemui Nara di ruang makan pun menghentikan langkahnya ketika mendengar pembicaraan Rian dan Nara. Jantungnya seakan pergi dari tubuhnya. Rasanya sakit, mencintai tak dapat balasan. Mencintai sendirian, dan dengar-dengar sudah dilamar. Ia sudah kalah duluan. Siapa yang beraninya melamar Nara? Apa, lelaki bernama Gio itu?
Sedangkan Rian merasa harapannya sirna. Ia memang menyukai Nara. Berharap Nara mau menerimanya, namun yang ada ia dapat penolakan. Apalagi Nara sudah dilamar, ia berfikir jika mungkin Mas Wito yang telah melamar Nara. Huh, ia kalah.
"Siapa yang melamar lo?" tanya Rian dengan nada tenang.
"Yang pasti itu sudah menjadi rencananya setahun lalu," jawab Nara pelan.
Apa lagi ini, setahun lalu? Jadi, Nara memiliki kekasih dan ia baru tahu akan hal ini. Sungguh ia tak mengira. Ia memperjuangan seseorang yang sudah dimiliki orang lain.
"Kenapa gak bilang?" tanya Rian kesal. Ia menyesal sekarang. Sia-sia ia mendekati Nara jika hatinya tak akan bisa dimilikinya. Apalagi sebentar lagi umurnya beranjak 32 tahun. Ia belum menikah. Bu Laura saja sudah memiliki anak.
Nara tersentak mendengar nada bicara Rian yang terkesan kesal. Ia mengoreksi dirinya sendiri. Apakah ia salah? Ia juga tak meminta Rian untuk mendekatinya selama ini. Sikapnya juga cenderung menolak. Ia juga sering menghindari lelaki itu. Namun, lelaki itu mengejarnya.
"Buat apa?" tanya Nara sambil kembali menyendokkan nasi ke Jelita.
"Seharusnya kamu bilang, Nara," ucap Rian masih dengan nada kesal.
Mas Wito yang sedari tadi menonton pun memutuskan mendekati Nara. Ia menatap tajam Rian. Tak peduli lagi dengan siapa Rian sebenarnya. Ia bekerja untuk Bu Laura, bukan untuk Rian. Ia yakin, Bu Laura tak akan memecatnya jika ia mengatakan kepada publik kebenaran yang baru diketahuinya beberapa hari yang lalu. Karena ia melihat pembicaraan Bu Laura dengan lelaki itu secara langsung. Rahasia yang akan membuat nama baik wanita itu jelek dan kemungkinan karirnya akan buruk.
"Kenapa Mas Rian tampak kesal?" tanya Mas Wito dengan nada santai.
Rian menatap tajam Mas Wito. Ia semakin kesal dibuatnya. "Jangan ikut campur urusan gue dengan Nara!"
"Urusan Nara sama saja dengan urusan saya Mas Rian," jawab Mas Wito.
Nara yang mendengar keduanya mulai berdebat akhirnya memutuskan pergi begitu saja. Ia tak mau Jelita melihat pertengkaran tersebut. Itu tak baik. Lagipula kenapa mereka merebutkan dirinya.
Mas Wito menatap sekilas Nara yang pergi dari ruang makan. Ia membiarkannya. Kini langkahnya mendekati Rian.
Sedangkan Rian juga membiarkan Nara pergi. Ia harus meladeni lekaki dihadapannya ini. Yang berani-beraninya merebut Nara darinya. Ia kalah gerak. Ia benci telah dikalahkan oleh seorang supir.
"Seharusnya Mas Rian tidak kesal dengan Nara. Bukankah dari pertama kali Mas Rian mencoba mendekati Nara...Nara selalu berusaha menjauhi Mas? Coba renungi, siapa yang sering mendekati Nara?" tanya balik Mas Wito. Ia tak suka akan sikap Rian kepada Nara.
Rian mencengkeram kerah baju Mas Wito. "Lo hanya seorang supir. Tetapi lo berani-beraninya ngoming gitu sama gue. Lo juga udah ngerebut Nara dari gue. Lo tau gue suka sama Nara, lo emang gak tahu diri!"
Mas Wito tak melepaskan tangan Rian. Ia menatap Rian dengan tatapan tak kalah tajam. "Gue udah ngerebut Nara?" tanyanya dengan kekehan pelan.
"Lo kenapa lamar Nara duluan? Hanya gue yang boleh!"
Mas Wito tak perlu menjelaskan soal lamaran ini. Biarlah Rian mengira dirinya yang telah melamar Nara. Yang terpenting lelaki itu tak berusaha mengganggunya lagi.
"Jangan halu, Mas. Sampai kapanpun Nara gak bakal mau sama Mas yang sudah tua ini. Nara ini masih gadis, masih muda. Umurnya itu jauh banget dari Mas," ujar Mas Wito dengan berani. Kepalanya mendongak seolah menantang.
"Gue punya segalanya, gue kaya. Gue lebih pantas dari lo, Wito."
"Kekayaan bukan jaminan untuk lo bisa mengusai segalanya. Nara tidak butuh banyaknya uang lo. Lebih baik, Mas ikhlaskan Nara. Jangan sesekali Mas bersikap apalagi berbicara seperti itu kepada Nara!" Mas Wito dengan berani memberi ancaman Rian. Ia tak takut.
Rian melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Lalu pergi dari hadapan Mas Wito. Ia mengingatkan dirinya sendiri, tak akan membiarkan Nara jatuh ke pelukan Mas Wito. Nara hanya pantas dengannya.
****
Gio tersenyum senang ketika sudah sampai di Bandung. Kini, ia sudah sampai di halaman rumahnya. Ah, ia rindu dengan rumah yang ditempatinya dan seisinya.
Senyumnya mengembang ketika menemukan bundanya sedang menyiram tanaman. Ia berjalan dengan mengendap-endap lalu memeluknya dari belakang.
"Siapa ini? Lepaskan!"
Gio semakin mempererat pelukannya. "Bunda, ini Gio."
"Gio," ujar bunda dengan senyuman lebar lalu memberikan air ke pipi Gio.
Gio melepaskan pelukan bundanya. Mencium telapak tangan bunda.
"Kamu pulang, nak. Bunda kangen banget sama kamu," ujar bunda lalu memeluk Gio. Gio merasakan jika bunda menangis karena rindu padanya.
"Tumben kamu pulang."
"Bunda seneng kan pastinya Gio pulang," ujar Gio.
Bunda tersenyum lalu meletakkan alat penyiram bunga disana. Menarik lengan Gio menuju rumah.
Disana ada ayah yang sedang asyik menonton televisi.
"Lihat, yah. Siapa yang pulang?"
Ayah menoleh kesamping. Ia terkejut melihat ada Gio disana di dekat istrinya. Gio, putra kandungnya pulang.
Dengan segera ayah memeluk Gio. "Ayah seneng kamu pulang. Kok gak kabar-kabar?"
"Kejutan, yah," ujar Gio. Ia senang kehadirannya ditunggu-tunggu kedua orang tuanya. Ia tahu, mereka merindukannya. Hanya lewat telfon, tanpa berjumpa tidak dapat melepaskan rindu keseluruhan.
Ayah mengajak Gio mengobrol di depan televisi yang dianggurin. Ayah menanyakan banyak hal mengenai pengalaman Gio merantau di ibu kota. Menanyakan tentang teman-teman Gio disana, juga mengenai Nara. Kedua orang tua Gio memang sudah tahu akan gadis muda yang akan segera menjadi calon menantu mereka.
Keduanya merestui, asal baik dan membuat putranya senang saja. Mereka juga tak memandang status dan bagaimana kehidupan Nara. Lagipula yang menjalankan juga Gio. Yang penting gadia itu mencintai Gio, dan mau menerima putranya apa adanya. Tidak menuntut lebih.
"Bundamu itu pengen banget pergi kesana. Tetapi ya gitu, bunda masih mikir-mikir lagi. Nanti tinggalnya dimana. Nyewa hotel kan mahal, apalagi kalau ngekos kan harus sebulan ya. Jadi, ayah dan bunda putuskan akan datang ketika kamu akan wisuda."
"Tidak apa, yah."
"Ya, nanti kalau memang diberi kesempatan kesana ya kesana menjumpaimu, nak. Sering-sering kasih kabar juga, apalagi kalau mau wisuda, bilangnya jangan dadakan, ya," ujar sang ayah.
Gio mengangguk saja. Baginya yang terpenting itu do'a kedua orangtuanya. Ia cukup senang akan hal itu. Ia juga lebih senang mengingat tujuan keduanya datang kesini. Apalagi jika bukan untuk melamar sang pujaan hati.
~~~~~~~
Kau memintaku untuk mengerti, namun kau tak berusaha tuk memahami. Kau selalu menuntutku, namun kau tak menghargai perjuanganku. Kau selalu menyalahkanku, namun kau tak berusaha tuk memperbaikinya.