Cinta butuh kepercayaan yang kuat, jika percaya saja tidak, bagaimana cinta akan bertahan?
~~~~~~
Rian menatap rumah mewah dihadapannya dengan lesu. Ia baru saja sampai di rumah Bu Laura. Menggeret kopernya dan mengetuk pintu rumah itu berkali-kali.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu. Wanita itu terkejut mendapati Rian, teman dari Bu Laura.
"Bagaimana mas Rian liburannya?" tanya Bi Inem.
"Membosankan," jawab Rian. Lalu ia masuk ke dalam rumah dan menghempaskan tubuhnya di sofa.
Bu Laura yang sedang mengajak Jelita berbicara pun juga tak kalah kaget mendapati temannya tiba-tiba datang ke rumahnya dan duduk disebelahnya.
"Kok gak kabar-kabar sih, Rian? Kenapa juga lo balik sini lagi?" tanyanya penasaran.
Rian memilih diam. Ada banyak rahasia yang ingin ia katakan, namun ia masih lelah dengan perjalanan yang panjang ini.
Bu Laura menghela nafas. "Masuk sana ke kamar, lo istirahat saja. Kayaknya lelah banget."
Rian mengangguk dan menaiki lantai dua.
Bu Laura meminta Mas Wito untuk membawa koper Rian ke kamarnya. Jika Rian datang, ia akan menginap di kamar putrinya. Lalu Rian yang tidur di kamarnya.
****
Nara menatap penasaran akan sosok Rian yang tampak dekat dengan Bu Laura. Akhirnya ia memutuskan bertanya kepada Bi Inem. Kebetulan sekali Bi Inem sedang berjalan menuju dapur. Sambil mengelap meja dapur, ia bertanya kepada Bi Inem.
"Bi, Nara boleh tanya?" tanya Nara dengan sopan.
Bi Inem mengangguk. "Boleh."
"Rian itu bapak kandungnya Jelita ya, Bi?" tanya Nara. Akhirnya ia bisa mengungkapkan apa yang selalu ada dalam pikirannya itu.
Bi Inem bingung mau jawab bagaimana. Ia pun juga tak punya hak memberi tahu semuanya mengenai siapa papa kandung Jelita.
"Bi," panggil Nara ketika Bi Inem hanya diam saja.
"Bukan, papanya Jelita itu lagi kerja jauh banget. Jadi, ya jarang kesini," jelas Bi Inem. Ia tidak sepenuhnya berbohong. Karena kebenarannya memang begitu. Ia pernah mendengar pembicaraan Rian dan Bu Laura jika papa kandung Jelita ada di luar negeri. Ia pun juga tak yakin jika papa kandung Jelita tahu mengenai keberadaan Jelita. Ah, itu bukan urusannya. Urusannya hanya kerja dan dapat gaji untuk menghidupi kehidupannya.
Nara mengangguk-anggukkan kepala seolah paham. "Sebenarnya Nara risih akan kedatangan teman Bu Laura itu, Bi. Dia kan bukan siapa-siapa Bu Laura kenapa bisa sampai menginap dan tinggal bareng," ujarnya.
Bi Inem kini paham apa yang dipermasalahkan oleh Nara. Ia pun juga terkadang bingung kenapa Bu Laura seolah-olah membiarkan saja. Tidak ada ketegasan sama sekali. Jika tetangga tahu tentu langsung mengusir keberadaan Rian di rumah ini. Namun, karena rumah ini begitu tertutup jadi tidak ada yang tahu kecuali penghuni rumah ini. Tidak ada yang tahu jika jika ini ialah rumahnya artis dan model terkenal yang sering tetangga lihat. Tetangga hanya tahu bahwa pemilik rumah ini kaya.
"Sudah jangan dipikirkan, biar itu jadi urusan Bu Laura," ujar Bi Inem.
Nara mengangguk saja. Apalah daya ia hanya pengasuh dari putri pemilik rumah ini. Tak berani untuk menasehati atau mengomentari apa yang dilakukan Bu Laura adalah kesalahan.
Mas Wito yang sedari tadi berdiri di dekat dapur pun tentu mendengar pembicaraan mereka. Setelah ia meletakkan koper di kamar Bu Laura, ia langsung menuju dapur dan ia terkejut mendengar pembicaraan mereka.
Seketika ia mengingat kejadian hari itu, saat di rumah sakit.
Flashback on
Mas Wito berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. Ia yang tertidur di mobil setelah marah karena melihat Nara begitu bahagia mendapat pesan dari kontak ponsel Nara yang dinamai Gio.
Mas Wito memilih kamar mandi di dekatnya, dimana letaknya ada di dekat pintu masuk rumah sakit. Saat ia hendak masuk ke kamar mandi lelaki, ia melihat ada Bu Laura dan Rian di kamar mandi wanita. Karena rasa penasaran pun ia memilih menunda buang airnya. Ia bersembunyi dengan baik dan merapatkan telinganya ke tembok supaya lebih jelas mendengar pembicaraan keduanya.
Disana ia dibuat terkejut dengan pembicaraan Rian dan Bu Laura.
"Lo harus tahu kebenaran yang baru gue tahu."
"Maksud lo apa, sih? Kebenaran apa?"
"Lo tau?"
"Gak taulah."
"Maksud gue lo gak tau jika lo dan gue ini adalah saudara sepersusuan?"
"Kebanyakan tidur ya lo, ngelantur gitu kalau ngomong."
Flashback off
Jujur saja, Mas Wito terkejut dengan hal itu. Namun, mendengar jawaban dari Bu Laura ia lebih terkejut lagi. Entah banyak rahasia saja ia kerja disini.
Nara yang mengalihkan pandangan pun tak sengaja melihat Mas Wito berdiri di dekat pintu dapur. Ia terkejut. Bi Inem juga tak kalah terkejut. Nara takut jika pembicaraannya tadi dilaporkan kepada Bu Laura. Mempercayai Mas Wito itu susah baginya.
"Bi, gimana ini? Nara takut," jawabnya dengan nada lirih.
"Bibi percaya sama Mas Wito."
Ah, Bi Inem. Tak tahu saja jika Mas Wito itu seorang pembohong. Bagi Nara, sekali didustai dan dikhianati begitu besar, ia tak akan percaya lagi.
Mas Wito menatap kedua mata Nara lalu berjalan mendekatinya. "Nara, boleh Mas bicara sama kamu?"
Nara hendak menggeleng, namun Mas Wito cepat berucap, "Tidak ada penolakan!"
Terpaksa Nata mengiyakan. Daripada Mas Wito berbicara disini.
Bi inem tersenyum kearah keduanya. Ia yakin jika keduanya memiliki suatu hubungan khusus. Namun, masih malu-malu mengakuinya. Nara tak suka melihat senyuman Bi Inem. Sejujurnya ia malas mengiyakan ajakan Mas Wito.
Nara mengikuti langkah kaki Mas Wito. Lelaki itu mengajaknya ke halaman belakang. Ketika langkah Mas Wito berhenti, ia juga berhenti. Langkahnya mundur ketika Mas Wito berjalan mendekatinya.
"Nara," panggilnya.
Nara menelan ludahnya kasar. Entah kenapa Mas Wito tampak menyeramkan kali ini. Wajahnya datar, tatapannya tajam dan menusuk.
"Aku tanya sama kamu, siapa Gio?"
Nara makin terkejut mendapati pertanyaan seperti itu dari Mas Wito. "Ada apa Mas Wito?"
Mas Wito melangkah mendekatinya. Nara memundurkan langkahnya. Setiap langkah Mas Wito maju, ia ikut mundur selangkah. Dihalaman belakang ini hanya ada dirinya dan Mas Wito.
"Aku tanya sekali lagi, siapa Gio?"
Nara berdecak kesal. Kenapa lelaki itu memaksanya untuk menjawab pertanyaan yang tak begitu penting untuk lelaki itu?
"Aku tanya baik-baik, Nara," ujar Mas Wito dengan nafas memburu. Langkahnya kembali maju.
Sontak Nara memundurkan langkahnya. "Apa sih, Mas Wito. Itu bukan urusan Mas Wito," ketus Nara.
Ia sudah tak punya kesabaran menghadapai lelaki dihadapannya itu. Lelaki yang diberikan kepercayaan oleh bapak, tetapi justru didustai. Huh, bapak pasti sangat kecewa jika tahu kebenarannya. Namun, ia tak mau jika sampai membuat kesehatan bapak menurun.
Mas Wito melangkah satu langkah. Nara tak lagi bisa mundur, dibelakangnya ada pacul, ia takut dengan benda-benda tajam seperti itu.
Nara menatap Mas Wito takut-takut, hendak menjawab, namun bicara Mas Wito selanjutnya membuatnya terkejut.
"Aku sudah cari dimanapun ponsel kamu, di kamar kamu, namun tidak kutemukan. Pintar sekali kamu menyembunyikannya."
Nara menatap nyalang Mas Wito. "Untuk apa?"
"Tentu untuk mencari tahu mengenai lelaki bernama Gio," jawab Mas Wito dengan nada santai.
Nara mendorong Mas Wito kasar. Ia berjalan dengan cepat menuju dalam rumah. Ia murka. Lelaki itu begitu lancang memasuki kamarnya. Seharusnya tadi ia menampar wajah Mas Wito.
Ia memang tidak pernah mengunci kamarnya, karena memang tak ada barang berharga. Lagipula jika ia membuka menutup pintu akan sangat melelahkan. Terlebih ketika ia menggendong bayi cantik itu.
***
Flashback on
"Pa, beri tahu Rian apa benar jika Rian dan Laura saudara sepersusuan?" tanya Rian penasaran.
"Asal kamu mau papa nikahkan."
"Pa, Rian sudah mencintai orang lain. Nanti Rian akan segera membawa dia kehadapan papa," ujar Rian sepenuhnya tidak betul.
Sang papa menyerah. Tak lagi memaksa. "Baiklah, papa akan menjelaskannya padamu. Semuanya yang belum kamu ketahui."
Flashback off
Rian dengan segera mengenyahkan pikirannya. Ia tak mau lagi mengingat. Kepalanya sangat pusing jika harus mengingat pembicaraannya dengan sang papa. Setidaknya biarlah apa yang ia ketahui ia simpan saja dulu. Lebih baik ia fokus mencari pasangan saja untuk memenuhi janjinya pada sang papa.
Senyumnya mengembang ketika mengingat gadis manis itu. Gadis yang telah memanggilnya dengan sebutan pak, memangnya dirinya bapak-bapak? Ia terkikik geli mengingatnya. Mungkin ia bisa mencoba mendekati gadis itu. Ia rasa umurnya hanya berbeda sepuluh tahun saja. Tak apalah menurutnya. Tak terlalu jauh juga.
Ia lalu beranjak dari ranjang. Memilih mencuci wajahnya di kamar mandi yang ada di dalam kamar ini. Kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar Bu Laura menuju ruang tamu.
******
Nara menekuk kedua kakinya. Merapatkan tubuhnya ke tembok. Ini sudah tengah malam, namun ia belum memejamkan mata. Justru sedang mengeluarkan air dari kedua matanya. Ia menangis.
Baru tadi ia kesal dan marah akan perilaku Mas Wito. Lalu malam setelah isya' ia mengecek ponselnya. Ada banyak panggilan dari Gio dan ia tentu tak mengangkatnya. Selama bekerja ia memang selalu mensilent ponselnya. Lalu ia putuskan menelfon Gio kembali, namun panggilannya ditolak. Ia tahu Gio pasti sangat kesal padanya.
Ia memberondong lelaki itu dengan banyak pesan namun tak jua dibales. Sungguh, baru kali ini ia mendapat cobaan yang rumit. Rasanya ia tak kuat menanggung beban sendirian. Ia tak ada teman untuk berbagi. Jikapun ada, percuma saja. Karena bagaimanapun hanya sedikit lega yang akan ia dapatkan. Belum tentu juga orang yang ia bagi masalahnya akan menjaga kepercayaannya.
"Gio, maafkan aku. Aku gak bisa bilang kebenarannya sama kamu," ujar Nara sesenggukan. Air matanya masih saja mengalir.
Biarlah ia dianggap cengeng. Yang berkata seperti itu tak tahu gimana rasanya jatuh cinta.
****
Gio menatap ponselnya dengan wajah datar. Ia mengabaikan panggilan dan pesan dari Nara. Bahkan ia tak membacanya. Ia masih kesal dengan gadis itu.
Ia jadi mengingat kisahnya dengan Nara. Awal mula dirinya mengungkapkan perasaannya dengan Nara.
Flashback on
Gio tersenyum menghampiri Nara. Gadis itu sedang asyik memakan bakso di kantin sekolah. Ia duduk di dekatnya. Untung saja kantin tak seramai tadi. Ia bisa leluasa berbicara dengan gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya.
Nara yang sadar akan kehadiran Gio pun menoleh. Mulutnya masih penuh dengan bakso.
"Habiskan dulu makananmu," ucap Gip perhatian.
Nara dengan segera menelan baksonya. Gio terkekeh melihatnya.
"Ada apa, Gio?" tanya Nara dengan tatapan lugu.
"Nara, ada hal yang ingin aku katakan padamu," ujar Gio. Kegugupan tak dapat dihindarinya.
Nara mengangguk. Menunggu perkataan Gio selanjutnya.
"Sejujurnya..."
Nara dibuat penasaran dengan perkataan Gio.
Gio membalikkan tubuhnya. Meremas kedua tangannya. Ah, rasanya seperti ini mau mengungkapkan rasa kepada sosok yang dicintai.
Kemudian Gio membalikkan tubuhnya kembali menghadap Nara. "A-aku, a-aku.."
Nara merasa gemas pada Gio. Namun ia juga kesal pada lelaki dihadapannya itu yang telah membuatnya penasaran. "Gio, ada apa, sih?"
"Nara, huh, Nara a-aku, aku suka sama kamu," ucap Gio pada akhirnya.
Nara terdiam. Ia menatap wajah Gio yang menampilkan keseriusannya. "Suka dalam hal apa ini?"
"Aku suka sama kamu, Nara. Aku cinta sama kamu. Aku nyaman sama kamu. Kamu, bagaimana?"
Nara menatap kuah bakso dimangkok dnegan tatapan berfikir. Ia sejujurnya merasa nyaman dengan Gio. Namun, bukan berarti ia cinta pada lelaki itu.
"Aku nyaman sama kamu, Gio. Namun, untuk cinta aku tidak tahu itu."
Gio tersenyum lebar. Setidaknya Nara nyaman dengannya. Soal cinta ia yakin seiring berjalannya waktu Nara akan mencintainya.
"Kamu mau tidak jadi kekasihku?" tanya Gio masih dengan senyuman.
"Maaf, Gio. Nara tidak bisa."
Gio menatap sendu kedua mata Nara. Ia ditolak!
"Kenapa?"
"Nara hanya ingin kekasih pertama Nara ialah pasangan Nara, suami Nara," jawab Nara dengan senyuman manis.
Gio tampak berfikir. Ia harus bisa membuat Nara selalu bergantung padanya. Nara harus selalu ada didekatnya. Ia tak mau jika ada seseorang yang mendekati Nara, apalagi akhir-akhir ini ada seorang lelaki seangkatan Nara yang tampak gencar mendekati gadis itu. Ia merasa cemburu dan tak suka.
"Bagaimana kalau kita buat komitmen!" tawar Gio.
Nara mengernyitkan dahi bingung. "Komitmen apa, Gio?"
"Kita bukan sepasang kekasih. Kita hanya berkomitmen untuk saling setia, saling menjaga, dang saling mencintai," ujar Gio.
Nara tersenyum lebar. "Oke, tetapi untuk cinta Nara butuh waktu. Nara juga tak mau jika pada akhirnya Nara harus merasakan sakit hati karena cinta."
"Tidak, aku pastikan kamu akan selalu bahagia bersamaku, Nara."
Flashback off
Sejak saat itu ia dan Nara semakin dekat. Dirinya dengan Nara memang sudah kenal lama. Hingga komitmen itu membuat hubungannya dengan Nara berjalan selama ini. Ia tersenyum mengingat semua ini.
Namun, baru kali ini ia mengabaikan Nara. Biarlah. Kapan-kapan ia akan menghubungi Nara kembali. Ia hanya ingin tahu, seberapa cintanya Nara padanya.
****
Semua penghuni rumah mewah itu terkejut dengan keadaan Nara. Kedua mata yang membengkak. Tampilannya juga kusut. Bu Laura yang melihat seperti itu menatap tajam Nara.
Nara hanya bisa menunduk ditatap seperti itu. Ia tahu ini memang salahnya yang tidur terlalu malam, akhirnya ia bangun kesiangan juga.
"Mas Wito, Anda mencari pembantu. Oh, pengasuh anak saya orang yang sesuai kriteria saya, bukan?" tanya Bu Laura menatap Mas Wito.
Nara semakin menunduk mendengar perkataan Bu Laura. Sungguh, hatinya semakin sakit dibuatnya. Apalagi perutnya terasa dililit. Ia merasa jika dirinya lagi masuk angin. Perutnya terasa kembung.
"Iya, Bu. Nara itu anaknya disiplin, rajin, dan ramah, Bu," jawab Mas Wito membela.
"Lalu kenapa dia seperti ini? Saya tak suka jika seorang pengasuh bagi anak saya tetapi seperti ini? Bagaimana jika saya tinggal di luar kota, apa saya bisa mempercayainya?" ujar Bu Laura dengan nada keras. Ia tampak marah sekali.
Nara ingin menangis rasanya. Ia kerja disini pun tak ada libur. Setiap hari kerja. Gajinya memang lumayan. Tetapi fisik dan hatinya serasa remuk. Ia tak ada seseorang yang dijadikan penopang.
"Ma-maaf, Bu. Saya tadi malam tidur kemalaman. Saya sedang masuk angin, Bu," ujar Nara dengan jujur. Untuk masuk angin, saat ini ia rasakan.
"Saya tak terima alasan apapun. Jika kedepannya kamu seperti ini terus, lebih baik kamu angkat kaki dari sini. Dengar, saya tak suka sama seseorang yang lalai dengan pekerjaannya. Itu sudah tanggungjawab kalian bekerja disini." Bu Laura menatap tajam Nara lalu pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya di lantai dua.
Nara tak bisa menahan. Akhirnya air matanya turun juga. Ia menangis sesenggukan. Mas Wito yang menatap Nara seperti itu merasa sedih. Ini salahnya, salahnya yang telah membohongi Nara. Dengan segera ia pergi untuk mengambil minyak ke kamarnya. Siapa tahu dapat meredakan rasa sakit Nara pada perutnya.
Bi Inem dan Rian menatap Nara dengan diam. Tak tahu harus berkata apa. Pasalnya Bu Laura memang terkenal kejam dengan semua orang yang tak mematuhi perintahnya. Tetapi, wanita itu sangat menyayangi seseorang yang disukai wanita itu.
Nara berjalan menuju kamarnya. Ia duduk menangis di lantai keramik. Ia tak kuat, namun untuk pulang ia tak punya uang. Apa yang harus ia katakan pada bapak jika ia harus kembali ke Bandung? Ia berharap Bu Laura tak memecatnya.
Mas Wito melangkah mendekati Nara. Ditangannya ada minyak pereda sakit perut. Ia ulurkan ke Nara.
Nara menatap Mas Wito. Ia tahu lelaki itu lancang memasuki kamarnya. Namun, ia tak bisa marah. Hatinya telah hancur dan sakit. Pertama mendapatkan pengalaman kerja yang buruk. Sungguh miris nasibnya.
"Olesin ke perutmu, lekas sembuh, Nar," ucap Mas Wito lalu keluar kamar Nara.
Nara kembali menangis. Ia dengan segera bangkit dan mandi. Lalu akan kembali bekerja merawat bayi cantik itu. Ia harus kuat dihadapan Bu Laura. Tidak boleh kembali melakukan kesalahan.
Terkadang apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tidak bisa dicegah memang. Hanya bisa melanjutkan dan menerima takdir yang ada.
*****
Nara tersenyum menatap hasil masakannya. Ia memasak ayam goreng kecap pedas untuk Bu Laura. Katanya, wanita itu suka makanan yang rasanya pedas.
Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk memasak. Untung saja stok ayam di kulkas masih banyak. Ia juga sudah meminta izin kepada Bi Inem. Bi Inem yang paham mengenai masalahnya pun mengiyakan permintaannya. Tadi pagi juga ia sambil menelfon Gio, lelaki itu akhirnya mau mengangkat panggilan telfonnya. Merasa senang? Tentu. Akhirnya, ia dan Gio sudah berbaikan lagi.
Ia juga meminta maaf atas sikapnya yang kemarin. Walau kenyataannya dirinya tak sengaja. Ia hanya bersikap profesional saja dalam bekerja. Lagipula, ini salahnya juga yang tidak memberi tahu kepada Gio mengenai pekerjaannya.
Tepat pukul 08:00 pagi, meja makan sudah terisi makanan buatan Bi Inem dan dirinya. Bi Inem yang memasak sayur.
Nara membungkukkan badan sedikit dan mempersilahkan Bu Laura untuk duduk. Bu Laura menatap makanan pagi itu dengan wajah datar. Nara jadi takut jika dirinya masih terkena amarah lagi di pagi hari.
"Banyak banget Bi, masaknya," ujar Rian sambil menyendok nasi menggunakan centong.
"Iya, den Rian. Bu Laura katanya hari ini mau ke luar kota lagi," ujar Bi Inem yang membuat Nara kaget. Loh, bukannya masih beberapa hari lagi?
Rian terkekeh lalu mengambil ayam goreng dan sayur sop serta cah kangkung.
"Siapa yang masak ayam goreng ini?" tanya Bu Laura.
Nara merasa gugup. Ia menatap Bi Inem meminta bantuannya.
"Nara, nyonya."
"Dia sengaja atau gimana?"
Nara meremas kedua tangannya pelan.
"Nara memasakkan ayam goreng kecap pedas kesukaan, nyonya. Supaya nyonya senang," jawab Bi Inem lagi. Karena Nara tak bisa menjawab. Tak berani.
"Kamu gak tau apa jika hari ini saya mau ke luar kota? Kenapa memasak ayam goreng kecap pedas? Kamu sengaja buat tubuh saya jadi gemuk dalam waktu dekat? Saya ini mau pemotretan majalah terkenal di negara kita," omel Bu Laura. Ia tampaknya sudah menerbangkan bendera perang ke Nara.
Nara menahan air matanya. Ia malu diomelin dihadapan semua pekerja. Ia pun juga tak tahu jika hari ini Bu Laura akan ke luar kota. Ia pikir masak ayam goreng kecap pedas ini tak akan jadi masalah. Justru sebaliknya, membuatnya kembali mendapat masalah.
"Maaf, Bu Laura. Nara tak sengaja. Nara juga tak tahu jika ibu akan ke luar kota," cicit Nara.
"Halah, alasan saja. Wito, pertama kali kamu menawarkan teman sebagai pengasuh bayi dan katamu orangnya sesuai kriteria saya. Tetapi kenyataannya?"
Rian menatap kasihan Nara. Kemarin sudah dimarahin sekarang pun masih saja. Ia menggenggam tangan kanan Bu Laura.
"Sudah, Laura. Hargai dia. Dia sudah masak pagi-pagi buat lo. Kalau lo memang gak mau ayam goreng kecap pedas ini biar gue aja yang makan. Lo makan aja yang lain," ujar Rian.
Bu Laura menatap tajam Nara, kemudian memilih makanan lainnya. Nara yang tak kuat berada disana pun memutuskan untuk ke kamar Jelita. Ia harus mengurus bayi cantik itu. Daripada di ruang makan yang membuat hatinya semakin sakit.
Mas Wito tak bisa berbuat apa-apa. Lelaki itu menatap bersalah ke Nara. Karenanya semua ini harus dialami Nara. Padahal yang ia tahu, kedua orang tua Nara tak sekalipun memarahi Nara seperti ini. Tentu hal ini membuat hati Nara sedikit terguncang. Ini salahnya. Salahnya.
Dilain sisi, Nara yang sudah ada di kamar Jelita pun bingung tak menemukan Jelita. Ia berfikir, apa Jelita ada di kamar Bu Laura.
Nara akhirnya memutuskan kembali ruang makan. Ia mengajak Bi Inem untuk ke dapur.
"Ada apa, Nara?"
"Bi, Jelita tidak ada di kamarnya," ujar Nara sedikit panik.
"Tenang, Jelita ada di kamar Bu Laura."
Nara menghela nafas lega. Nara ingin menanyakan hal lain, namun ia sedikit ragu. Ia ingin bertanya tentang Rian tidur di kamar yang mana.
"Bi, kenapa bibi gak bilang kalau Bu Laura akan keluar kota hari ini?"
"Maaf ya, Nara. Bibi pikir gak akan jadi masalah karena hal ini. Rupanya Bu Laura masih giat sekali untuk diet demi menjaga tubuhnya supaya bagus hasil fotonya nanti."
Nara mengangguk saja.
"Ya sudah, bibi mau kembali ke ruang makan. Ayo, kamu kesana juga!"
Bi Inem menarik tangan Nara supaya mengikutinya. Nara menurutinya. Ia tidak boleh lemah dan takut.
****
Deden menatap bingung Gio. Lelaki itu tersenyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya. Ia sedikit melirik, namun karena layarnya yang sedikit gelap membuatnya tak dapat melihat lebih jelas. Yang pasti, foto seorang wanita cantik di ponsel Gio.
"Siapa dia?" tanya Deden penasaran. Daripada diam-diam kepo lebih baik bertanya langsung pada orangnya.
"Oh, orang spesial."
"Spesial? Wah, cewek lo bro?"
Gio hanya tersenyum.
"Lihat dong fotonya," ujar Deden penasaran akan wajah dari kekasih Gio.
"Gak deh, ntar lo suka lagi. Dia itu yang pasti spesial di hati gue," ujar Gio sambil tertawa.
Deden meninju pelan bahu Gio. "Bro, walaupun lo jauh dari dia tetap jaga perasaan lo, jangan sampai karena lo jauh, lo bisa melakukan sesuatu hal yang melawan prinsip lo."
Gio mendengarkan bingung perkataan Deden. Ia tak mengerti maksudnya apa.
"Dalam hubungan percintaan itu dua kuncinya, kepercayaan dan kesetiaan. Jika kedua hal itu tak bisa dipegang, maka hubungan yang terjalin akan hancur juga. Walau dia belum tentu jodoh lo, setidaknya bahagian dia semampu yang lo bisa. Jangan sampai meninggalkan luka yang sulit disembuhkan."
Gio sekarang mengerti maksud dari perkataan Deden. Ia pun yakin pada dirinya jika ia akan selalu menjaga perasaannya untuk Nara. Ia berharap juga jika dirinya berjodoh dengan Nara.
Tahun depan ia sudah memutuskan akan melamar Nara. Senyum dibibirnya mengembang ketika membayangkan hal itu terjadi. Dimana wajah malu-malu Nara akan muncul.
Lalu setahunnya lagi ia akan menikahi Nara. Setelah ia lulus, ia akan bekerja dengan status sudah menjadi suami sah Nara. Karena jika ia kelamaan tak memberi kepastian, ia takut ada yang melamar Nara. Nara itu tipe istri idaman tiap lelaki lajang.
"Malah senyum-senyum sendiri. Gue ini nasehatin lo kali, Gio. Biar lo jadi lelaki bertanggungjawab. Tetapi gue yakin lo orangnya bertanggungjawab. Cuman, ini kan lo beda kota, provinsi malah. Godaannya tinggi banget. Apalagi disini ceweknya aja cantik-cantik gitu. Lo kalau gak kuat, pasti bakal jatuh ke hati yang lain. Dan, saat itu terjadi, lo akan kehilangan dia selamanya," ujar Deden.
"Iya, bro. Gue gak kayak gitu. Lo kayak pernah ngalamin aja, sih."
"Gue emang pernah, dan sampai sekarang gue nyesel banget."
Gio terkejut dengan apa yang dikatakan Deden. "Lalu dia dimana?"
"Gue gak tahu, dan gue gak tahu dimana rumahnya. Dia selalu larang gue kalau gue mau ngantar dia pulang, bapaknya protektif banget sama dia. Gue bisa saja menyusul dia dan mencari rumahnya, tetapi gue gak mau merusak kebahagiaannya. Dia pasti sudah melupakan gue juga."
Persoalan cinta memang rumit. Namun, serumit apapun soal cinta, tak dapat mengalahkan kerumitan matematika.
Gio ingat perjuangannya dalam mengejar dan menyakinkan Nara bahwa ia adalah lelaki yang tepat untuk Nara. Ia harus bisa melakukannya dengan baik, ia tak akan membiarkan siapapun untuk merusak hubungannya dengan Nara. Walau dirinya sekalipun. Ia akui, gadis-gadis disini sangat cantik. Termasuk Shella yang sering mengejarnya itu. Namun, ia tak tergiur cinta karena wajah. Ia hanya cinta pada hati dan sikap yang baik, seperti Nara.
********
Diantara puluhan bambu aku menunggumu, diantara malam yang sunyi aku membayangkanmu. Namun, yang terbayang justru kau bersama yang lain.