Ada kalanya orang akan lelah dengan semua yang terjadi, tetapi ada kalanya diam memang lebih baik untuk meredam amarah.
~~~~
Bu Laura menatap Jelita-putrinya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan wajah sedih. Ia mengelus pelan dahi Jelita. Ada banyak do'a dan harapan padanya untuk putrinya itu supaya segera sembuh.
"Bi, saya pergi dulu menyusul Rian," ujar Bu Laura.
Bi Inem mengangguk. Bu Laura membenarkan penampilannya. Memakai kembali kacamata dan topi yang dipinjaminya dari Rian. Dimanapun ia berada di situasi begini, ia harus tetap melakukan penyamaran sebagai orang lain. Jika tidak, identitasnya akan terbongkar, media akan tahu bahwa dirinya sudah memiliki anak. Satu lagi, akan ada pertanyaan yang membuat hatinya sakit, siapa papa kandung Jelita? Harus ia jawab apa nanti. Terlebih karirnya akan merosot jika sampai media tahu. Banyak dampak negatifnya daripada dampak positifnya.
Bu Laura membuka pintu rawat Jelita. Ia melihat ada pembantu barunya, tepatnya pengasuh putrinya itu sedang duduk di depan kamar inap ini. Ia tutup kembali ruang rawat Jelita.
Dengan langkah sedikit sombong ia menatap pengasuh putrinya. Sejak ia datang di rumah sakit, ia tak suka melihat wajah itu. Ia mengira bahwa penyebab putrinya sakit karena gadis muda itu tak becus merawat Jelita.
"Eh, Bu Laura."
"Panggil saya nyonya," ujar Bu Laura dengan nada sombong.
Nara merasa kikuk. Ia menundukkan kepala. "Iya, nyonya."
"Saya sejak awal memang kurang percaya jika kamu mampu merawat putri saya."
Nara memberanikan diri menatap Bu Laura. Wajahnya sudah pucat, ia takut jika dipecat. Mana ia kerja belum ada sebulan. Untuk pulang ke Bandung, pakai uang apa nantinya?
"Nyonya, jangan pecat saya! Tolong kasih saya kesempatan lagi. Saya janji akan berusaha menjaga Jelita dengan baik," ujar Nara sambil menangkupkan kedua tangannya, tatapan matanya juga memelas.
"Baik, saya ingin kamu menjaga dan merawat putri saya dengan baik!"
Nara menghela nafas lega. Ia menatap punggung Bu Laura yang sudah menjauhinya. Benar tebakannya waktu itu, Bu Laura belum mempercayainya menjaga dan merawat Jelita. Soal Jelita sakit, bukankah sakitnya seseorang itu karena memang sudah takdir? Kenapa ia jadi seakan disalahkan dan menjadi penyebab Jelita sakit?
Nara mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. Meremas kedua tangannya. Sekuat tenaga ia menahan air mata. Ia tak mau begini, namun takdir membawanya kesini. Terlebih dengan kebohongan yang dibuat oleh Mas Wito membuatnya harus merasakan kesedihan ini.
***
Dengan berlari Rian menuju rumah sakit. Tak sengaja bahunya bertabrakan dengan Bu Laura. Rian langsung saja menarik Bu Laura menuju kamar mandi.
Bu Laura menghentakkan tangan Rian. Menatap Rian dengan tatapan tajam. "Lo kenapa, sih?"
Rian masih menetralkan nafasnya. Ia seakan habis dikejar singa yang mencari makan.
"Ada apa, sih? Kenapa bawa gue ke kamar mandi segala. Lo gak lihat ini? Kamar mandi wanita," ketus Bu Laura.
Rian memegang kedua pundak Bu Laura. "Lo harus tahu kebenaran yang baru gue tahu."
Bu Laura mengernyit heran. "Maksud lo apa, sih? Kebenaran apa?"
"Lo tau?"
"Gak taulah," jawab Bu Laura dengan cepat.
Rian mendengus kesal. "Maksud gue, lo gak tau jika lo dan gue ini adalah saudara sepersusuan?" tanya Rian penasaran akan jawaban Bu Laura.
Bu Laura tertawa pelan. "Kebanyakan tidur ya lo, ngelantur gitu kalau ngomong."
Rian kembali berdecak kesal. Ia serius, namun Bu Laura justru menanggapinya dengan tawaan.
"Kok lo ketawa sih? Gue tanya serius lo ini!"
"Gimana gue gak ketawa? Lo aja lagi bercanda," ujar Bu Laura lalu berjalan menuju cermin. Menatap penampilannya.
"Gak bakal ada orang yang tahu kalau gue ini Laura, kan?" tanya Bu Laura pada Rian.
"Enggak." Rian menjawab dengan ketus.
Bu Laura menyadari bahwa temannya itu sedang bete atau mungkin marah dengannya. Ia akhirnya memutuskan mendengarkan perkataan Rian walau ia yakin jika temannya itu lagi ngelantur.
"Siapa yang bilang kalau lo dan gue adalah saudara sepersusuan?"
"Orang yang lo temui di cafe waktu itu," ujar Rian.
Bu Laura menatap Rian dengan pandangan menyelidik. Kini dirinya sangat yakin jika Rian mengikutinya saat di cafe waktu itu. Huh, apa mungkin orang yang memakai pakaian serba warna hitam?
Rian yang menyadari dirinya sudah keceplosan dan tertangkap basah sudah mengikuti Bu Laura pun memilih berdehem. "Ah, lupakan saja!"
Walau ia masih penasaran, namun dirinya memilih tak lagi berkata. Ia tak mau makin kecebur lagi karena omongannya yang tidak sempat disaring.
"Jangan ngalihin pembicaraan, gue tahu lo," ujar Bu Laura.
Rian mengacak rambutnya. Menatap kanan-kiri memastikan tidak ada seorangpun yang mendengar pembicaraannya dengan Bu Laura. Ia berjalan mendekati Bu Laura lalu membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. "Gue memang mengikuti lo waktu itu."
"Gue pikir lo akan teriak-teriak gak jelas, nyatanya lo bisa bersikap dengan baik. Walau lo belum bisa berdamai dengan masa lalu lo," lanjutnya masih dengan bisikan.
"Ngapain sih bisik-bisik?" tanya Bu Laura.
"Gue tuh gak mau jika ada orang yang denger sama pembicaraan kita. Lo kan artis dan model terkenal. Kalau gue ngomong keras dan penuh emosi yang ada lo bakal jadi pengangguran jadinya," ujar Rian dengan nada santai.
Bu Laura memukul pelan kepala Rian. Ia sangat kesal dengan temannya itu.
Rian menarik tangan Bu Laura untuk keluar kamar mandi. Ia tak lagi memberi tahu kebenaran yang masih gamang kepada wanita itu. Lebih baik ia bertanya pada papanya sendiri. Mencari kebenaran yang telah disampaikan pria paruh baya itu.
Tanpa sadar, pembicaraan keduanya terdengar oleh orang lain. Orang lain itu sangat dekat dengan keduanya, bahkan bekerja di rumah Bu Laura.
****
Salah satu kampus di Jakarta, dimana ada Gio bersama teman-temannya sedang fokus pada mata kuliah hari itu. Gio tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Dosen. Walau teman sebelahnya sedari tadi berusaha mengganggunya. Karena ia memiliki konsentrasi yang bagus.
Walau ada rasa kesal di dalam hatinya karena sudah diganggu, namun Gio tetap fokus. Setelah mata kuliah selesai, ingin sekali dirinya memarahi orang yang telah mengganggunya itu. Namun, orang tersebut adalah seorang gadis. Bukan dirinya sekali memarahi gadis. Ia menghormati seorang gadis, karena ia punya bunda dan Nara.
Setelah Dosen menutup mata kuliah hari itu, dengen tergesa Gio membereskan peralatan tulisnya.
"Gio," panggil gadis bernama Shella yang tadi mengganggu dirinya.
Gio tak menjawab, ia justru mengabaikan gadis itu. Melangkahkan kakinya menghampiri teman-temannya yang sedang asyik mengobrol setelah Dosen keluar.
"Woi, bro," sapa Deden.
Gio ikut duduk. Sepertinya teman-temannya tak keluar kelas, menunggu mata kuliah selanjutnya yang masih belum ada kabar dari Dosen apakah masuk atau tidak.
Shella merasa kesal diabaikan oleh Gio. Ia berjalan mendekati Gio. "Kamu kok gitu, sih," ujar Shella.
Noval yang melihat Shella pun langsung bersiul. "Si cantik cemberut aja," godanya.
"Diam lo!"
Deden tertawa melihat Noval yang langsung terdiam.
"Gio, jangan abaikan aku, dong."
"Halo, Shella. Lo itu gak ada apa-apanya dibanding Laura. Mending pergi deh, bikin kedua mata gue sakit aja ngelihat lo ngomong manja sama Gio," ujar Noval. Ia yang tadinya mengerjai gadis itu mendadak kesal karena sudah dibentak. Apalagi gadis semanja Shella itu membentaknya dan ada sedikit air ludah yang muncrat ke wajahnya, membuatnya harus segera pergi ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan bersih.
Shella yang kesal pun memutuskan untuk menjauhi Gio dan teman-temannya. Gio hanya diam saja, tak perduli dengan teman sekelasnya itu.
Ketiga temannya langsung saja mengubah topik pembicaraan tentang wanita bernama Laura. Ia sampai bosan mendengarnya. Ia lebih memilih mendengarkan musik lewat earphonenya. Memutar musik kesukaannya dengan Nara.
******
Sejak kejadian dimana Bu Laura tak suka padanya karena berfikir telah membuat Jelita menjadi sakit, Nara berusaha berhati-hati dalam merawat Jelita. Walau ia tahu kejadian waktu itu bukan salahnya. Semuanya sudah menjadi takdir bahwa Jelita sakit, dan pas sekali ia yang menjadi pengasuh bayi cantik itu.
Nara menyerahkan Jelita ke Bu Laura yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Wanita itu memutuskan untuk di rumah selama dua minggu setelah Jelita keluar dari rumah sakit. Meminta manajernya untuk mengatur ulang jadwal pemotretan. Ia melakukan semua itu untuk mengawasi Nara.
"Buatkan saya teh hangat," titah Bu Laura kepada Nara. Diluar memang hujan.
Nara mengangguk dan menuju dapur. Ia mengambil gelas dan menuangkan air hangat ke gelas tersebut. Mencelupkan teh, lalu dimasukkannya gula ke dalam gelas yang sudah berubah warna. Diaduknya menggunakan sendok supaya gula bercampur dengan air teh.
Disisi lain, Mas Wito sedang berada di kamar Nara. Lelaki itu mencari-cari ponsel Nara. Sudah beberapa kali selama seminggu lebih Mas Wito keluar masuk kamar Nara untuk mencari ponsel gadis itu. Hanya satu tujuan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Tentang siapa Gio dan hubungan Gio dengan Nara. Mas Wito tidak mau ada seorangpun yang mencintai Nara selain dirinya, kecuali bapak kandung Nara.
"Dimana Nara meletakkan ponselnya," ucap Mas Wito pada dirinya sendiri. Pasalnya ia sudah mencari dari mulai bawah bantal, almari, dan tempat lainnya di kamar Nara. Namun, ia sama sekali belum menemukannya. Pencariannya selama seminggu lebih ini terasa sia-sia.
Tak disangka, Bi Inem melihat Mas Wito yang berada di kamar Nara. Bi Inem pun ikut masuk dan bertanya, "Ada apa, Mas Wito?"
Mas Wito tampak gugup dan gelagapan. Ia seperti maling yang ketangkap. "Eh, ini, Bi. Nara meminta saya untuk mencari gelangnya yang hilang," kilah Mas Wito.
Bi Inem tampak tak percaya. Wanita tua itu menatap Mas Wito dengan pandangan menyelidik. "Benar?"
"Iyalah, Bi. Nagapain juga saya masuk ke kamar Nara kalau Naranya gak minta." Lagi-lagi Mas Wito membohongi Bi Inem. Ia merasa berdosa telah membohongi wanita tua itu. Namun, ia tak mau juga jika Nara sampai mengetahuinya. Ia tadi lupa tidak menutup pintu kamar Nara.
"Mas Wito tampaknya dekat sekali dengan Nara, wah jangan-jangan ada hubungan..." Bi Inem menatap jahil Mas Wito.
Mas Wito salah tingkah ditatap Bi Inem seperti itu. Lalu ia pamit keluar kamar Nara. Takut jika Nara akan segera kembali ke kamar dan akhirnya mengetahui perbuatannya selama ini yang telah masuk kamar orang tanpa izin. Karena bagaimanapun tiap orang memiliki privasi masing-masing. Tidak semua orang suka jika privasinya diketahui orang lain.
Bi Inem pun juga memutuskan keluar kamar Nara. Menutup pintunya dan berjalan menuju Dapur. Tepat sekali, disana ada Nara yang meletakkan gelas teh ke nampan.
"Nara," panggil Bi Inem.
Nara menoleh. "Ah, iya, Bi."
"Teh untuk siapa itu?"
"Bu Laura," jawab Nara.
"Sini biar bibi yang bawa."
Nara menolak dengan nada halus. "Biar Nara saja, Bi."
Karena Bu Laura memintanya, jika ia memberikan pekerjaan ini ke Bi Inem nanti Bu Laura akan mengiranya tidak tanggungjawab. Ah, ia tak mau.
Bi Inem mengangguk saja dan membiarkan Nara melakukan tugasnya. Dengan adanya Nara pekerjaannya terbantu. Jika tidak ada Nara, ia akan kelelahan mengerjakan semuanya sendiri. Pernah ia bertanya Bu Laura supaya menambah pembantu lagi. Namun, Bu Laura tak mendengarkannya karena sesuatu hal yang ia tahu pasti berkaitan dengan privasi wanita itu. Ia yang kerja sudah lama sebelum Bu Laura memiliki Jelita tentu tahu apa yang terjadi pada wanita itu.
*****
Gio menatap ponselnya dan membolak-balik ponselnya dengan tatapan kosong. Sudah seminggu lebih ia tidak memberi kabar kepada Nara. Ia memilih menyibukkan diri dengan tugas kuliahnya dan teman-temannya disini. Nara pun juga tak menghubunginya sama sekali.
Ia hanya ingin Nara menghubunginya, ia ingin tahu apakah Naranya merindukan dirinya atau tidak. Selama ini hanya dirinya yang selalu gencar menghubungi Nara. Ia tahu gadis itu mencintainya, namun entah kenapa ada perasaan ragu pada Nara. Ketika tiap kali ia bertanya mengenai pekerjaan gadis itu sering mengalihkan pembicaraan. Ada sesuatu hal yang disembunyikan, tetapi ia tak diberi tahu. Ia hanya bisa berdo'a semoga Nara baik-baik saja disana.
Gio merindukannya, ia tak bisa jika menunggu Nara yang menghubunginya lebih dulu. Mumpung teman-temannya lagi asyik mengobrol, sedangkan dirinya memilih duduk agak jauh dari temannya. Saat ini pun ia sedang berada di apartemen Deden.
Ditekannya tombol hijau pada nama kontak Nara. Tersambung, tetapi belum diangkat. Ia mencobanya lagi, namun masih sama. Hingga lima kali ia mencoba tetapi masih sama saja. Ia kesal pada Nara yang tak mengangkat panggilan telfonnya.
"Kenapa lo?" tanya Noval yang melihat gerak-gerik Gio.
Gio mengangkat bahunya acuh.
"Gue dm lewat ig, sampai berasa lagi neror tuh orang lewat chat, tetapi gak dibales juga," ujar Bimo pada Noval.
Noval menoyor kepala Bimo. "Gue gak tanya lo kali."
Bimo mendengus kesal. Ia mengusap-usap kepalanya dan menatap tajam Noval. Musuh bebuyutannya dalam mencari cewek, eh jodoh. Tetapi merangkap menjadi temannya.
"Gue cuman lagi curhat doang. Gue lagi ngejar-ngejar Laura tuh," ujar Bimo.
Kedua mata Noval melotot. "Serius lo? Lo gak nyadar dia itu model dan artis, mana mau sama lo yang masih kuliah gitu. Kerja juga gak."
"Eh, jangan salah. Gini-gini gua ganteng dan banyak yang suka sama gue."
Noval dan Deden berlagak ingin muntah. Gio terkekeh mendengarnya. Tampaknya Bimo yang lebih gencar daripada Noval.
"Lo gak ikut-ikutan?" tanya Deden pada Noval. Karena setahunya temannya itu juga selalu memuji Bu Laura.
"Gaklah, gue suka sama yang masih muda. Dia kan cocoknya jadi kakak gue."
"Lagak lo, Noval. Kalau gue dapat dia. Awas lo rebut dari gue!" ancam Bimo pada Noval.
Noval memutar bola mata malas. Tak mungkin ia seperti itu. Ia lebih memilih yang umurnya dibawahnya atau tidak seumurannya. Ia masih muda.
"Cinta itu gak pandang umur, Noval. Kalau udah cinta mau sejelek, mau sejauh apapun umurnya, kalau udah cinta ya apa yang dimongin orang lain gak akan dipeduliin. Yang penting sama orang yang dicinta," ujar Bimo dengan menenggapkan badannya. Menepuk pelan dadanya.
"Ya udah lo nikahin aja tuh orangnya," ujar Noval dengan kesal.
"Pastilah," jawab Bimo.
Deden rasanya ingin menimpuk kepala Bimo. Supaya pikirannya tidak tentang Bu Laura saja. Ia harus menyadarkan Bimo jika umur mereka sangat jauh. Ia juga tak yakin kedua orang tua Bimo setuju mengenai keinginan Bimo menikah dengan Bu Laura.
Gio menggelengkan kepala melihat tingkah temannya itu. Ia yakin Bimo hanya bercanda saja. Tak mungkin Bimo yang playboy rela setia dengan wanita bernama Bu Laura itu.
Gio merasa terhibur dengan tingkah teman-temannya ini. Ia dapat melupakan sejenak hatinya yang dirindung kekesalan karena Nara.
****
Rian merebahkan tubuhnya ke ranjang. Memejamkan mata, menghembuskan nafas kasar.
Sudah seminggu ia berada di negara yang berbeda dengan Bu Laura. Setelah putri kandung wanita itu keluar dari rumah sakit, dua hari setelahnya ia memutuskan untuk pulang ke negara papanya. Akhirnya, ia berada disini.
Ia meminta kejelasan kepada papanya mengenai perkatan dari pria paruh baya itu. Namun, papanya tak mengatakannya. Memaksapun percuma, papanya memberi syarat bahwa dirinya harus menggantikan sang papa memimpin perusahaan. Tentu ia menolak, ia tak minat dalam waktu dekat ini. Ada banyak hal yang harus dikejar dan ia tak mau berjauhan dari Bu Laura.
Rian menegakkan badannya. Berjalan keluar kamar. Ia memutuskan diam-diam memasuki kamar sang papa. Namun, belum sampai membuka pintu, suara berat mengejutkannya.
"Ada apa?" tanya pria paruh baya yang tentu saja papanya.
"Mencari papa."
"Ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Ah, iya. Aku akan segera kembali ke Yogyakarta."
"Sampai kapan kamu terus begini? Dia sudah besar, Rian. Papa ingin kamu segera menikah dan menetap disini."
Rian menghela nafas lelah. "Tidak, pa. Rian tidak bisa."
"Kalau begitu, papa akan menjodohkan kamu."
"Jangan memaksa Rian untuk melakukan sesuatu yang tidak Rian sukai," ujar Rian dengan nada tegas. Ia benci namanya pemaksaan.
"Oke, papa tidak lagi memaksamu," ujar papanya menyerah.
Rian memilih kembali ke kamarnya. Percuma ia seminggu disini jika tak mendapatkan jawaban dari sang papa. Justru papanya memintanya untuk segera menikah. Huh, harus kapada siapa lagi ia bertanya. Hanya papanya yang memiliki jawaban atas pertanyaannya.
~~~~~
Membentuk kenangan itu mudah, yang sulit itu ketika kenangan akan tetap ada dalam ingatan walau orangnya tidak lagi ada dalam pelukan.