Bab 5 ☆Jelita sakit?☆

3334 Kata
Salurkan nasehat pada seseorang yang sedang membutuhkan nasehat, tanpa bersikap menggurui. ~~~~~ Hidup memang penuh rahasia. Seberapa banyak kejadian dalam hidup tak lepas dari takdir yang ada dalam diri seseorang itu. Dalam hidup juga tak lepas dari yang namanya musibah atau cobaan. Mungkin saja, ada hal yang perlu diperbaiki lagi akan dirinya sendiri. Dalam setiap hal yang menimpa pasti ada hikmah yang dapat diambil. Dalam hidup, terus memperbaiki diri itu memang perlu. Nara mengingat pesan dari bapaknya, bahwa jangan pernah sombong atas apa yang dimiliki. Ketika sedang susah jangan banyak mengeluh, ketika sudah memiliki segalanya jangan sampai sombong. Tetaplah menjadi Nara yang sama, Nara yang selalu menjadi harapan bapak. Namun, ia tahu, ia tak sekuat bapak yang ditinggalkan ibunya. Ia tak sekuat bapak yang selalu sabar mengajarinya hal kebaikan. Tetapi, ia akan selalu mengingat pesan-pesan dari bapak. Terkadang dengan nasehat yang diberikan membuat hati menjadi lebih tenang dan lebih sadar bahwa apa yang dilakukannya selama  ini masuk kategori benar atau salah. Nara mengelus pelan kening Jelita. Bayi itu tampak menangis. Suhu tubuhnya tiba-tiba juga meningkat. Bayi cantik ini sedang demam. Ia tak banyak tahu cara mengatasi bayi yang demam. Bi Inem lagi berbelanja di pasar dan belum kembali. Sedangkan dirinya sedari tadi sibuk mondar-mandir menunggu kedatangan Bi Inem. Ia ingin langsung membawa ke Dokter anak, namun ia ingat tak membawa uang banyak. Jelita kembali nangis, membuatnya panik. Bayi ini rewel sekali. Ia juga tak tahu apa penyebab bayi ini bisa demam. Padahal seingatnya semalam baik-baik saja. "Bi Inem," ujar Nara bahagia ketika mendapati Bi Inem masuk ke dalam rumah sambil menenteng belanjaan. Bi Inem tersenyum kepada Nara. "Bi, Jelita demam." Bi Inem menjadi panik. Ia meletakkan belanjaannya begitu saja di lantai. Mendekati bayi itu dan meletakkan telapak tangannya ke dahi Jelita. Benar saja, tangannya terasa sedikit panas. "Bi, ini gimana?" tanya Nara panik. "Tenang, biar bibi saja yang menggendong Jelita. Bibi akan membawanya ke Dokter. Kamu sendirian di rumah tidak apa-apa?" Nara mengangguk saja. Terpenting Jelita segera mendapatkan obat. "Ya sudah, kamu masak ya! Ini untuk makan kita saja." Nara kembali mengangguk. "Apa kita tak mengabarkan keadaan Jelita?" "Nanti biar bibi yang memberi tahu," ujar Bi Inem lalu pamit menuju kamar Jelita. Entah sedang mengambil apa. Ia memutuskan melanjutkan tugas Bi Inem tadi. Nara memfokuskan pikirannya untuk memasak. Walau rasa khawatir mengenai kondisi Jelita melingkupi hatinya. Bi Inem hanya membeli sayur bayam dan jagung. Sedangkan untuk lauknya yaitu kerupuk uli. Mungkin masak sayur asem yang enak saat ini. Ditambah sambal tomat. Nara jadi lapar membayangkannya. "Nara," panggil Bi Inem. Nara menoleh kebelakang. Bi Inem memakaikan topi bayi di kepala Jelita. Belum lagi jarik yang dibuat untuk menggendong Jelita tampak menutupi semua tubuh bayi itu. Ia dapat melihat jika bayi cantik itu tak nyaman. "Kamu lanjutkan masaknya, ya! Bi Inem berangkat dulu." "Bi Inem naik apa?" "Naik becak, Nar. Kebetulan ada pangkalan becak di dekat sini." Nara mengangguk saja. Lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Gerakan tangannya kembali terhenti. Ia memikirkan keadaan bapak. Apalagi mengenai pola makan bapak. "Nara kangen banget sama bapak," ujarnya lirih. *** Setelah permasalahan kemarin, Rian sedikit menjaga jarak dengan Bu Laura. Ia merasa risih atas tindakan wanita itu. Sungguh hatinya kecewa sekaligus kesal. Saat ini dirinya sedang makan di restauran hotel tempatnya menginap. Ia sadar sedari tadi Bu Laura menatapnya. Namun, ia masih tetap acuh dan memilih menikmati makanannya. Bu Laura menghela nafas kasar. Ia tahu perbuatannya sangat salah. Namun, apa yang harus dilakukannya saat ini? Karena itu pilihannya untuk menyelesaikan masalah yang baru saja muncul dan membuatnya pening. "Rian, lo marah sama gue?" Rian tak menjawab. Ia bahkan memilih mendengarkan musik lewat earphone. Sungguh tak sopan memang. Diajak berbicara malah mengalihkan pembicaraan dengan cara tersebut. Bu Laura memegang tangan Rian. "Rian, tolong pahami gue. Hanya ini satu-satunya cara." "Masih banyak cara lain, Laura. Kenapa lo harus pakai cara ini?" Bu Laura menggeleng. "Tidak, Rian. Hanya ini cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah kali ini. Gue udah gak tahan sama semua ini." "Bisa gak sih lo berdamai dengan masa lalu?" tanya Rian dengan kesal. "Gu--e..." "Kenapa? Gak bisa, kan? Lo terlalu memperlebar masalah, Laura. Coba lo damai sama masa lalu, pasti gak akan gini jadinya. Pasti semuanya akan terasa mudah dan tenang." Bu Laura mensedekapkan kedua tangannya. "Lo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain, Rian. Lo gak akan pernah tahu. Mending lo diam saja." "Oke, kalau itu mau lo. Kalau ada apa-apa, lo gak usah minta tolong sama gue. Gue udah kecewa sama lo. Udah berapa kali juga semalam gue ceramahin lo panjang lebar, namun keputusan yang lo ambil masih sama." Rian menggeser duduknya. Ia berdiri dan melangkahkan kaki menjauhi tempat duduknya. Makanannya belum habis. Ia tak ingin berlama-lama dengan Bu Laura. Takut lepas control dan justru membuat banyak orang semakin tahu siapa Bu Laura sebenarnya. Seburuk apapun Bu Laura, ia tak akan tega membiarkan temannya mendapat masalah karenanya. Bu Laura menatap makanan di hadapannya dengan nanar. Ia sedih dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Selama ini ia hanya punya Rian yang selalu mengerti dirinya. Namun, kali ini Rian kecewa mengenai keputusannya. Ia tahu apa yang menjadi keputusannya kini sangatlah salah. Namun, inilah hal yang tepat untuk kehidupan dan karirnya. Diambilnya ponsel di slingbagnya. Ada banyak foto Jelita di galeri ponselnya. Ia tersenyum tipis memandangi foto putrinya itu. Bayi itu pasti sedang tidur sekarang. Ia sangat rindu pada Jelita. Ia masukkan kembali ponsel ke dalam slingbagnya. Memutuskan masuk ke kamar hotelnya saja sebelum sejam nanti ia akan berjumpa pada seseorang yang akan membuatnya panas dingin seketika. Direbahkan tubuhnya di ranjang sesaat ia sampai di kamarnya. Memejamkan mata pelan. Mengusir bayangan-bayangan buruk yang  kembali muncul di pikirannya setelah sekian lama ia berusaha untuk melupakan. **** Suara ketikan keyboard membuat kesunyian menjadi ramai. Ramai dengan banyaknya tangan yang asyik mengetik di laptop mereka. Gio mengajak teman-temannya untuk mengerjakan tugas mandiri bersama-sama. Tujuannya baik, supaya temannya tidak molor dalam mengerjakan sesuatu. Membiasakan diri untuk disiplin dan tepat waktu itu perlu. "Pusing nih, gue," keluh Noval. "Gitu aja udah ngeluh," sahut Bimo. Lelaki itu tampak asyik mengetik. Mungkin otaknya sedang encer. Noval mendengus. "Gaya lo. Bilang saja kalau kita ini sama." "Kita? Sama? Mimpi ya, jelas-jelas gue ini Bimo, lo Noval. Beda, kan?" ketus Bimo. Gio terkekeh pelan mendengar percakapan kedua temannya. Ia melihat Deden, melirik laptopnya sekilas. Lelaki itu sudah mengetik lebih dari selembar. "Bukan gitu maksud gue. Ah, memang susah ngomong sama orang yang pilkirannya semrawut." "Enak aja, lo kali," ujar Bimo dengan nada kesal. Deden yang merasa pusing mengenai percakapan kedua temannya itu pun langsung menyimpan data tersebut dan mematikan laptopnya. "Udah selesai lo, Den?" tanya Noval. "Belumlah. Lagipula kalian ganggu gue banget." "Ganggu gimana?" "Kalian ngomong terus. Gue butuh ketenangan buat nyelesain artikel ini." Noval dan Bimo tertawa. Kedua lelaki itu senang jika mendapat temannya terganggu karenanya. Namun, keduanya juga kompak akan saling menolong jika salah satu dari temannya mendapat musibah.  ******* Dari kejauhan Rian menatap Bu Laura dengan amarah yang sudah memuncak. Sudah ia katakan, tetapi tetap saja ngeyel. Walau begitu, diam-diam ia mengikuti wanita itu. Ia juga ingin mendengar pembicaraan wanita itu dengan seseorang yang ditemuinya. Rian membuka pintu mobilnya. Meninggalkan mobilnya terparkir di depan toko alat tulis. Ia membenarkan letak topi hitam bertuliskan 'Shut Up' supaya menutupi wajahnya. Lalu melangkahkan kakinya mengikuti Bu Laura yang telah masuk ke dalam sebuah cafe. Dengan tenang ia mengikuti wanita itu yang sedang naik ke lantai 2. Rian merasa panik, ketika Bu Laura berhenti. Mungkinkah merasa jika diikuti? Ia memundurkan langkahnya pelan. Menduduki satu kursi di dekat tangga itu. Mengetukkan dagu pelan dengan pandangan menyamping kanan supaya tak tampak wajahnya.  Setelah dirasa Bu Laura tak curiga, ia kembali mengikutinya. Ternyata lantai atas hanyalah sebuah tempat kosong, bukan cafe. Hanya didesain untuk balkon, menikmati indahnya pemandangan? Disana hanya ada dua buah sofa dan meja yang berisi makanan. Benar-benar privasi. Rupanya sudah dipersiapkan dengan bagus. Ia melihat wanita itu duduk membelakanginya dan sedang menatap pria paruh baya itu. "Apa kabar?" tanya pria paruh baya itu. Rian mencari tempat aman supaya ia dapat mendengar pembicaraan mereka lebih jelas. Karena suaranya bercampur dengan suara angin. Untung saja dirinya juga memakai jaket. Ia juga berharap tidak ada seorangpun yang melintasi lantai 2 ini. Jika ada, sudah dipastikan ia kentara menguping. "Baik," jawab Bu Laura dengan suara dingin. Pria paruh baya itu menghela nafas kasar. "Kamu masih sama. Tambah cantik dan dewasa." "Apa yang ingin Anda katakan?" "Tak bisakah kita basa-basi dulu, melepas rindu misalnya?" Bu Laura masih mempertahankan raut wajahnya. Dingin. Tak ada ekspresi sama sekali. "Baiklah. Kamu mau kan tinggal serumah dengan Cahaya?" "Tidak!" "Kita akan merawat bayi itu sama-sama. Aku akan menerimanya, Cahaya pasti juga menerimanya." "Tidak! Anda tidak berhak atas bayi itu." Pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar. "Saya berhak, Laura. Saya berhak! Apa susahnya jika kita tinggal bersama? Apa susahnya? Kamu masih tak suka dengan Cahaya, iya?" tanyanya meminta penjelasan. Bu Laura tampak marah. Ia tak suka mendengar nama 'Cahaya' disebut-sebut. Bahkan, sampai wanita itu meninggal pun ia tak akan mau mendengarnya. Apalagi tinggal bersamanya. "Cahaya sakit, apa kamu tak ingin menjenguknya?" "Sudah saya bilang, saya tak ingin melihatnya! Jangan pernah hubungi saya lagi, sampai kapanpun saya tak akan pernah datang atau mau tinggal bersama. Saya ingatkan, ini terakhir kalinya Anda meminta untuk bertemu. Jangan pernah lagi, saya tak suka itu!" Bu Laura bangkit berdiri. Tanpa menoleh lagi ia melangkahkan kakinya menuju lantai 1. Pria paruh baya itu menatap pedih punggung wanita yang selalu dicintainya itu. Ia tahu, sikapnya selama ini sudah membuat wanita itu membencinya. Biarlah waktu yang melunakkan hatinya supaya mau menerimanya dan mempertemukannya dengan bayi mungil itu. *** Rian menghembuskan nafas lega ketika sudah sampai di mobilnya. Dilepaskannya topi itu dan melemparkannya ke kursi belakang. Untung ia segera menuju mobilnya ketika disadarinya pembicaraan itu benar-benar selesai. Bu Laura memegang pilihannya sendiri. Wanita itu menemui pria paruh baya itu. Ah, setidaknya tidak ada acara teriakan di dalam sana tadi.  Ia cukup tertegun dengan kedewasaan Bu Laura tadi. Walau terbilang masih egois dan belum bisa berdamai dengan masa lalu. Setidaknya wanita itu masih sopan dalam membalas tiap perkataan pria paruh baya itu. Rasa khawatirnya sedikit hilang. Ia hanya ingin melindungi wanita itu dari wartawan. Bisa saja ada yang memotret pertemuan itu dan ada yang mengikuti secara diam-diam kepergian wanita itu. Apalagi di cafe tadi terbilang lumayan ramai. Rian memejamkan mata sebelum kembali mengemudikan mobilnya. Dari sini ia dapat melihat jika Bu Laura sudah naik ke dalam mobilnya dan keluar meninggalkan pelataran cafe. Rasanya, tak sia-sia hari ini ia mengikuti Bu Laura secara diam-diam. Rasanya juga ia tak rugi telah menyewa jasa rental mobil. *** "Ada apa, Bi?" tanya Bu Laura kepada Bi Inem. Ia sedang dalam perjalanan menuju hotel. "Maaf, nyonya. Non Jelita sedang sakit, demam tinggi." "Apa, Bi?" Hampir saja Bu Laura teriak. Namun, Mas Wito cukup dikagetkan oleh suara Bu Laura. "Nona Jelita sakit, nyonya. Bahkan, Dokter menyarakankan agar Jelita di rawat inap." "Bi, bawa dia ke rumah sakit. Saya akan segera pulang." "Baik, nyonya." Setelah telefon terputus. Bu Laura menghubungi Rian untuk mempersiapkan koper bawaan mereka. Untung saja baju-bajunya tidak pernah ia keluarkan dari koper. Jika sedang berganti baju hanya ambil di koper, tak sempat untuk memasukkan baju ke almari hotel. "Ada apa, Bu?" Mas Wito memberanikan diri bertanya. Ia juga penasaran. "Mas Wito, hari ini kita pulang. Jelita sakit." "Baik, Bu." Mas Wito merasa senang bisa pulang dengan cepat. Pasalnya tubuhnya juga terasa pegal. Ia hanya tidur di mobil. Senang juga ia bisa melihat wajah Nara. Khawatir juga dengan keadaan bayi cantik itu yang cukup membuat siapapun terhibur ketika memandangi wajahnya. Bu Laura menatap wajah Jelita di ponselnya. Ia sedih ketika mendapat kabar bahwa putrinya sedang sakit. Tak biasanya putrinya sakit jika ia tinggal pergi untuk urusan pekerjaan. Namun, kali ini putrinya sakit bahkan sampai harus dirawat inap. Ia mengusap foto Jelita di ponselnya. Alasannya untuk hidup kini hanya karena bayi itu. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan bayi itu. Harapannya, Jelita segera sembuh. Tak tega melihat putrinya harus dirawat inap. Sungguh menyakitkan. "Bu Laura, sudah sampai!" Bu Laura menatap hotel didepannya. Benar saja, sudah sampai. Ia terlalu lama melamun dan bersedih. Dengan sedikit berlari ia menuju kamar hotelnya. Ah, menyebalkan ketika kamarnya bukan berada di lantai 1. Bu Laura cukup terkejut, ketika ada suara nafas terengah yang mendekatinya. Ternyata Rian ada dibelakangnya. "Darimana lo?" "Ah, gue lagi jalan-jalan." "Lo gak ngikutin gue kan?" Rian tampak terkejut dengan pertanyaan Bu Laura. Kemudian ia tersenyum manis. "Buat apa? Lo kan gak mau dengerin omongan gue?" Bu Laura terdiam. Tak menjawab dan tak bertanya lagi. Ia tak ingin bertengkar dengan Rian hari ini. Lift terbuka, Rian dan Bu Laura masuk ke dalam lift. Saat di dalam lift, Rian menatap Bu Laura. Mendekati wanita itu, memeluknya dari samping. "Gue yakin, Jelita pasti baik-baik saja." "Lo gak tanya tentang pertemuan gue tadi?" "Enggak, itu gak penting. Gue yakin lo pasti bisa berfikir jernih, gak buat kericuhan atau teriak-teriak yang bakal mengundang orang untuk penasaran akan masalah lo," jawab Rian dengan nada santai. Bu Laura tersenyum. Ia membalas pelukan Rian. Dalam lift mereka berdua berpelukan. Hanya Rian yang selalu mengertinya selama ini. Rasanya, jika ia mengecewakan Rian pasti akan membuat hubungannya dengan Rian akan merenggang. Bahkan, lelaki itu memegang kepercayaan penuh padanya. "Terima kasih, Rian," ujar Bu Laura dengan senyuman tipis. Rian tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan sebagai teman. ********* Nara menundukkan kepala ketika ditatap tajam oleh Bu Laura. Entah apa salahnya, ketika sampai rumah sakit Bu Laura selalu menatapnya tajam. Hanya dirinya yang ada di depan ruangan Jelita. Ia ingin sekali melihat kondisi terkini mengenai Jelita. Namun, sepertinya Bu Laura tidak mengizinkannya. Apa salahnya sebenarnya? Kenapa Bu Laura kentara sekali tidak suka padanya. Ponselnya yang berada di saku roknya bergetar. Ia merindukan seseorang yang sedang menelfonnya ini. "Assalamu'alaikum," sapa Nara dengan riang. "Wa'alaikumussalam. Gimana kabarnya?" "Alhamdulillah baik, pak. Bapak sehat?" Nara tersenyum tipis. "Sehat." Nara terdiam menunggu bapaknya kembali berbicara. Ketika ia mengalihkan pandangan, entah dari kapan pastinya, ada Mas Wito yang sedang menatapnya dari jarak 5 meter. Ternyata lelaki itu sudah selesai dengan tugasnya yang diminta Bu Laura untuk mengembalikan koper dulu ke rumah. "Bapak disana makannya gimana?" tanya Nara. "Bapak masak, Nar. Tenang saja bapak gak sering beli." Nara tersenyum. "Alhamdulillah. Nara cuman ingin bapak jaga kesehatan saja, jangan sampai telat makan." "Bapak ingin ngomong sama Wito," ujar bapak disana. Nara kembali menatap Mas Wito. Melangkahkan kakinya mendekati lelaki itu. Lalu memberikan ponselnya. Ia memutuskan kembali duduk. Dalam hatinya berharap Mas Wito menepati janjinya untuk tidak memberi tahu tentang pekerjaannya. Ia tak ingin kesehatan bapak menurun. Sesekali Nara menatap Mas Wito. Ia penasaran akan apa yang sedang jadi pembicaraan mereka. Sebuah tangan mengembalikan ponselnya. Ia yang menunduk menatap sandal jepitnya pun mendongak. Sudah selesaikah? Secepat itu? "Terima kasih," ujar Mas Wito dengan tatapan sendu. Nara hanya mengangguk. Walau mulutnya terus meronta meminta dirinya untuk mengatakan beberapa pertanyaan kepada Mas Wito terkait apa yang Mas Wito bicarakan dengan bapak tadi. "Ada yang sms tadi. Gio." Sontak Nara memeriksa ponselnya. Benar saja, ada pesan dari Gio. Tanpa sadar ia tersenyum lebar ketika mendapati isi pesan dari Gio. Gio♡ [Nara, aku rindu kamu] Mas Wito menatap tak suka melihat raut wajah bahagia Nara saat mendapat pesan dari seseorang bernama Gio. Dalam hatinya bertanya-tanya mengenai siapa soaok bernama Gio? Ada hubungan apa Nara dengan Gio? Kenapa Nara tampak bahagia sekali ketika mendapat pesan dari orang itu? Mas Wito mengepalkan kedua tangannya tak suka. Ia menggelengkan kepala pelan ketika mendapati pemikiran yang membuatnya ingin marah. Ia tak suka jika memang kenyataannya Nara memiliki hubungan spesial dengan lelaki bernama Gio. "Siapa?" tanya Mas Wito penasaran. "Siapa?" tanya Nara balik. Ia bingung dengan maksud pertanyaan Mas Wito. Siapa yang ditanyakan oleh Mas Wito. "Gio," jawab Mas Wito. Nara tersenyum tipis. Tak berniat untuk menjawab apalagi menjelaskan siapa lelaki bernama Gio. "Siapa, Gio?" tanya Mas Wito lagi. "Kenapa Mas Wito ini?" "Mas cuman tanya siapa Gio itu?" Nara mendengus. "Mas Wito gak berhak tahu siapa Gio itu." Mas Wito menghela nafas. "Baiklah, Mas bisa tanya pada bapakmu." Nara menatap Mas Wito tak suka. "Apa urusan Mas Wito sebenarnya?" Mas Wito hanya diam, lalu pergi begitu saja meninggalkan Nara. Nara mengedikkan bahu tak peduli. Lagipula ada apa dengan Mas Wito itu? Kenapa pula terkesan mengurus Nara. Nara menatap pintu ruangan Jelita yang belum dibuka sama sekali. Ia ingin masuk, namun tak berani harus bertemu Bu Laura. Huh, ia merasa bosan duduk berdiam disini. [Masa, sih?] Akhirnya ia memutuskan membalas pesan dari Gio. Ia juga ingin tahu bagaimana lelaki itu disana. Dulu, setiap libur sekolah ia dan Gio selalu meluangkan waktu untuk bersama. Entah sekedar jalan-jalan ke Taman Kota, sawah, atau ke kebun sekalipun. Saling tertawa, bercanda  bersama, sebelum memutuskan untuk berkomunikasi lewat ponsel saja. Ia jadi rindu juga sama lelaki itu. Rindu menjahilinya. [Iya, coba kalau ada kamu. Pasti gak bosan nih aku disini] [Benar? Bukannya disana banyak cewek-cewek cantik?] [Secantik apapun jika bukan kamu orangnya, aku gak mau] Nara tersenyum. Kedua pipinya pasti sudah bersemu merah. Kenapa pula Gio mendadak jadi cowok yang romantis. Lelak itu pintar sekali membuatnya jatuh cinta. Tangannya mulai mengetik sesuatu berupa emoticon senyum untuk balasan pesan dari Gio. Ia berusaha menahan senyuman. Tak mau jika ada yang melihatnya dengan tatapan bingung atau parahnya menatapnya ngeri, mengira dirinya gila karena senyum-senyum sendirian. *** Rian memicingkan mata ketika mendapati sosok pria paruh baya yang ditemui Bu Laura kemarin. Ia alihkan pandangannya. Dalam hatinya tak mengira jika pria itu ada di Yogyakarta juga. Tentunya kemungkinan pria itu tahu alamat asli rumah Bu Laura. Huh, harapannya semoga Bu Laura mau berdamai dengan masa lalu. Lagipula ada Jelita yang cantik dan menggemaskan itu. Dirinya sedang ada di restoran di dekat rumah sakit. Menunggu makanan yang sedang dibelinya untuk dirinya dan Bu Laura. Ia juga membelikan makanan untuk pekerja wanita itu. Ia membelalakkan mata ketika pria paruh baya itu mendekati kursinya. Ah, tidak mungkin. Tetapi tatapan dan langkahnya mengarah ke dirinya. "Rian?" Ia menelan ludahnya kasar. Pria paruh baya itu membuatnya tegang saja. Apalagi ada tatapan intimidasi untuknya. Ia pun bertanya pada dirinya sendiri, kemungkinan besar jika pria itu memantau perkembangan hidup Bu Laura. Oleh karena itu mengenal nama dan wajahnya. Rian mengangguk saja. Pria itu sudah duduk dihadapannya. "Tak salah lagi. Wajahmu masih sama, ya." Rian mengernyit bingung. Wajahnya masih sama? "Saya Kara, kamu pasti tidak mengingat saya. Tetapi saya yakin kamu mengenal saya." Rian mengangguk kaku. Tatapan terkesan intimidasi itu membuat dirinya merasa terpojokkan. Seakan dirinyalah dalang dari semua yang menimpa Bu Laura. "Lagi pesan makanan untuk Laura?" tanya pria paruh baya itu. Rian menelan ludahnya susah payah. Huh, pria dihadapannya ini benar-benar membuatnya takut. Pergerakannya seakan menipis, tak bisa leluasa lagi. "Iya," jawabnya dengan suara pelan. "Kamu pasti bingung kenapa saya mengenal kamu. Ohh ya, kamu tak perlu membayar makanan yang kamu pesan tadi. Karena kebetulan ini restoran saya." Rian mengangguk saja. "Wajahmu memang masih sama. Saya ingat itu, kamu itu saudara sepersusuan Laura." Kali ini ia dibuat kaget beneran. Bagaimana mungkin dan bagaimana bisa? "Ibumu meninggal setelah melahirkan kamu, dengan begitu ibu kandung Laura yang memberi asi kamu bahkan kamu dirawat ibu kandung Laura sampai berumur 3 tahun. Jelas sekali kamu tidak ingat, karena waktu itu kamu juga masih bayi." "Apa maksud Anda? Saya benar-benar tidak mengerti," ujar Rian. "Itulah kebenaran yang harus kamu ketahui. Jangan sampai kamu mencintai Laura. Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi," jelas pria paruh baya itu lalu pergi begitu aaja meninggalkan Rian dengan penuh kebingungan. Rian menggelengkan kepala tak percaya. Ibu kandungnya memang meninggal. Tetapi yang ia ingat dirinya selalu tinggal bersama sang papa kandung. Lalu bagaimana mungkin dirinya bisa jadi saudara sepersusuan dengan Bu Laura? Ia bingung dan tentunya masih penasaran. Ia harus segera pulang ke tempatnya untuk mencari tahu kebenarannya. Bertanya pada sang papa. Jika memang benar adanya, lalu kenapa Bu Laura tak mengingatnya juga? Bukannya umur mereka hanya berjarak satu tahun saja? Sekarang umur Bu Laura saja masih 31 tahun, dan ia masih 30 tahun. Huh, sebenarnya apa yang terjadi. Ia benar-benar tak mengerti. Ia mengusap wajahnya. Lalu berdiri menuju kasir. Mengambil makanannya yang mungkin sudah jadi. Benar saja, tak lama kemudian makanan yang dipesannya sudah jadi dan ia tidak diperbolehkan membayar. Ini benar-benar gawat. Pria itu diam-diam selalu mengawasi Bu Laura. Terlebih pasti pria itu tahu keberadaan Jelita yang sedang sakit. Haruskah ia mengatakan hal ini kepada Bu Laura? Tidak, hal ini akan membuat Bu Laura semakin tidak mau berdamai dengan masa lalu. Wanita itu terlalu egois dan keras kepala.  ~~~~~~~ Mungkin dengan tidak peduli adalah salah satu cara untuk meminimalisir rasa sakit
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN