Bab 4 ☆Maaf, Nara☆

3460 Kata
Rasa penasaran terlalu dalam dapat membuat hati menjadi dilema. Mau bertanya, nanti dikira kepo. Mau diam, bikin makin penasaran. ~~~~ Suara mobil memasuki rumah. Mas Wito memasuki rumah sambil membawa koper dan beberapa tas belanja. Itu tandanya Bu Laura sudah kembali. Namun, sedari 10 menit Bu Laura belum menampakkan wajahnya. Nara mengedikkan bahu. Ia lebih memilih mengajak mengobrol Jelita yang tampak lebih cantik kali ini dengan dress bewarna merah maroon. Jika sudah besar, kemungkinan mengikuti karier ibunya yang menjadi artis atau model. Suara langkah kaki terdengar, Bi Inem membawa baskom berisikan air hangat ke ruang tamu. Bu Laura masuk ke dalam, di belakangnya ada seorang lelaki jangkung dengan membawa rokok yang menyala. Nara memutuskan pergi ke dalam kamar Jelita. Ia tak mau jika mendapat omelan Bu Laura jika membawa Jelita ke dalam kamarnya. Kamar Jelita yang bercat pink terkesan feminim banget. Udaranya memang sejuk di kamar Jelita, karena ada ACnya. Nara kelimpungan ketika Jelita mulai merengek seakan ingin menangis. Nara menggendong Jelita dan menepuk-nepuk punggungnya berharap bayi itu merasa tenang. Tetapi usahanya masih saja, bayi itu mulai menangis. Mungkin rindu dengan ibunya. Ingin bertemu. Nara pun membawa Jelita menuju ibunya. Dari atas tangga ia dapat melihat Bi Inem membantu Bu Laura mencuci dan memijat kakinya. Nara tak suka melihat hal itu. Sangat tak sopan menurutnya. Bagaimanapun Bi Inem lebih tua daripada Bu Laura. Lelaki di sebelah Bu Laura justru asyik merokok. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ketika merasa ditatap. Nara sudah ketangkap basah menatap seseorang dengan pandangan benci. Ia pun menuruni tangga menghampiri Bu Laura. "Bagaimana, Bi? Dia sudah belajar dengan baik?" tanya Bu Laura kepada Bi Inem. "Sudah nyonya. Bahkan non Jelita tampaknya sudah nyaman banget sama Nara." Bu Laura mengangguk. Ia meminta Jelita. Nara dengan hati-hati membawa Jelita ke pelukan ibunya. Jelita tampak senang sekali. Mungkin rindu pada ibunya. Nara berpamitan ke belakang. Ia tak nyaman berada dalam satu ruangan dengan lelaki perokok itu. Wajahnya tampak menyeramkan. Wito yang sedang duduk di kursi makan pun menghampiri Nara yang baru memasuki Dapur. Ia ingin meminta maaf kembali, karena dirasa Nara belum mau memaafkannya. "Nar, maaf," ujar Wito. Nara menatap Wito datar. Wajahnya tampak tak ada semangat lagi. "Sudahlah Mas Wito. Toh sudah terjadi, mau gimana lagi. Nara harus menjalaninya, kan? Cuman satu permintaan Nara." Mas Wito meminta Nara untuk duduk. "Apa Nar?" "Jangan kasih tahu bapak. Nara tidak mau buat bapak kecewa. Cukup Mas Wito saja!" Setelah mengucapkan itu, Nara pergi ke kamarnya. Beristirahat sejenak sebelum Bu Laura memintanya untuk memandikan Jelita. Tugas Nara juga terkesan ringan disini. Jika ada Bu Laura, ia hanya diminta untuk memandikan Jelita. Selain itu, Bu Laura hanya ingin menghabiskan waktu dengan Jelita sebelum kegiatannya membuatnya sibuk dan mengharuskannya melepas Jelita. Cukup Mas Wito saja! Kata-kata itu terngiang di telinga Wito. Ia semakin merasa bersalah. Bahkan, ketika Bu Laura sedang tampi, ia memutuskan untuk melamun di dalam mobil. Bagaimanapun ia sudah mengenal Nara sejak lama. Tetapi ia justru memberikan harapan palsu pada Nara. Nara masihlah anak yang tergolong belum pernah merasakan dunia kerja dan ini pertama kalinya. Walau ia akui Nara sudah terbiasa membantu bapaknya dalam mengerjakan urusan rumah tangga semenjak ibunya meninggal. Disisi lain, hanya tinggal Bu Laura dan lelaki perokok itu. Jelita sudah dibawa masuk ke dalam kamarnya oleh Bi Inem. Bu Laura yang asyik dengan instagramnya, berbeda dengan lelaki itu yang justru ingin menanyakan suatu hal tetapi ragu untuk bertanya. "Mau bicara apa?" Bu Laura membuka percakapan terlebih dahulu. Tampaknya sudah kenal lama dengan gerak-gerik lelaki itu. "Siapa tadi?" "Siapa?" tanya Bu Laura yang tidak mengerti. "Gadis muda." Bu Laura mengangguk paham. "Anak Lombok." "Jadi pengasuh anakmu?" "Iya." Lelaki itu mengangguk saja. Ia melepas tindiknya dan membuang puntung roko di asbak yang sudah tersedia. "Kapan sih kamu akan berubah? Tampilanmu itu lo sudah beda jauh dari dulu. Aku saja sampai bosan melihatmu." "Menghina?" tanya lelaki itu sarkastik. "Memangnya kenapa? Benar adanya, kok." "Sudahlah, mending kamu urusi hidupmu yang gak karuan itu. Urusin anakmu dengan baik, sebelum media tahu kebenarannya. Karirmu yang akan habis." Lelaki itu beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya keatas menuju tangga. Mencari kamar Bu Laura lalu tidur disana. Bu Laura yang melihat itu hanya menghela nafas lelah. *** Nara merenggangkan kedua tangannya. Ia mengusap wajahnya dengan lembut. Melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar mandi untuk mencuci wajah. Memperbaiki penampilannya sebelum beranjak menuju kamar Jelita. Kebetulan yang menyenangkan atau kebetulan yang menyedihkan. Ia bertemu lelaki itu, bahkan saling menatap. Nara melanjutkan langkahnya acuh tak acuh. Ia melihat lekaki itu yang baru saja keluar dari kamar Bu Laura. Mungkin rasa penasarannya sekarang sudah terungkap. Bahwa lelaki itu adalah ayah dari Jelita. Pemilik asli rumah itu. Ia bukannya sopan menunduk justru melengos begitu saja. Kalau ia dipecat, tak masalah. Itu keinginannya. Nanti ia bisa cari pekerjaan lain di kota ini. "Hei, siapa namamu?" Nara menggendong Jelita dengan pelan. Ia menciumi wajah Jelita. Bayi itu masih tertidur. Ia jadi ragu untuk memandikannya. "Hei, aku sedang berbicara padamu!" Nara menoleh kearah lelaki itu. Sekarang hanya ada bertiga di kamar itu. Dua orang dewasa, satu bayi yang cantik. "Siapa namamu?" Nara menghela nafas. Mungkin ia harus bisa sopan dengan ayah Jelita. "Nara, tuan." Lelaki itu sedikit terkejut, lalu menetralkan kembali wajahnya. Ia tersenyum tipis pada Nara. Nara tak mau membalasnya. Ia ingin mengusir ayah Jelita. Takut jika dikira pelakor oleh Bu Laura. Bisa-bisa nama baiknya akan menjadi lebih rusak nanti. Ia tak hal itu terjadi. Terlebih jika masuk televisi. Apa kabar bapaknya nanti? "Jelita masih tidur, pak. Saya mandikan nanti saja ya?" Nara kembali meletakkan Jelita. Lagipula belum terlalu sore untuk memandikan bayi itu. Lelaki itu menatap punggung Nara dengan wajah humornya. Ia yang dipanggil Pak kedengarannya lucu. Padahal jika ditaksir umurnya tak berbeda jauh dengan Nara. Lelaki itu memutuskan untuk menghampiri Bu Laura ke ruang olahraga. Ia melihat Bu Laura sedang yoga. Wanita itu memang rajin berolahraga. Menjaga tubuhnya agar tetap tampil memukau di hadapan khalayak ramai. Bagi setiap orang mungkin tidak ada cacatnya, tampak sempurna. Tetapi mereka tak tahu bahwa dibalik semua itu ada suatu kesedihan yang membuat Bu Laura hancur sehancur-hancurnya. Hanya ia yang tahu, bahkan keluarganya pun tak tahu. "Tadi aku ketemu gadis itu," ujarnya. Bu Laura menghentikan olahraganya. Ia membuka tutup botol aqua lalu meminumnya hingga tandas. Membuangnya begitu saja lalu menghampiri lelaki itu. Nanti ada Bi Inem yang membersihkan ruangan itu. "Ada apa?" "Gadis itu tampak lucu. Kamu tau ia memanggilku apa?" Bu Laura mengeryitkan dahi. "Tuan dan pak." Lelaki itu tertawa sambil memegangi perutnya. Ia masih merasa lucu saja. "Wajahmu memang wajah tua, sih," sahut Bu Laura. Lelaki itu memelototkan kedua matanya. Ia tak terima dibilang tua. Ia masih muda dan tampan. Bu Laura mengajak lelaki itu untuk mengobrol di ruang tamu saja. Membicarakan suatu hal yang tak penting hingga tertawa. ******** "Nar," panggil Mas Wito. Nara menghiraukan panggilan Mas Wito. Sudah sejak tadi lelaki itu memanggilnya. Namun ia abaikan. Walau ia sudah memaafkan kesalahan Mas Wito. Tetapi rasa kecewa dan kesal masihlah terpahat sempurna dihatinya. "Nar," panggil Mas Wito lagi. Nara yang merasa terganggu pun menoleh. "Kenapa sih, Mas Wito? Nara kan sudah memaafkan kesalahan Mas Wito." Mas Wito berusaha meraih pergelangan tangan Nara. Sakit rasanya ketika mendapati tatapan kekecewaan dari wanita yang dicintainya. Kesalahannya kemarin tentu membuatnya semakin jauh dari wanita yang dicintainya itu. "Nar..." Nara menyela perkataan Mas Wito. "Mas, sudah ya. Nara masih bayak kerjaan. Kalau Mas Wito ganggu terus, Nara gak akan kelar nanti." Dengan terpaksa Mas Wito menjauhi Nara. Memilih melangkahkan kakinya menuju halaman depan. Memandikan mobil yang akan segera dipakai pemiliknya menuju lokasi syuting. Ah, menjadi artis ternama memang menyenangkan. Andai saja dirinya bisa menjadi artis. Hasilnya akan ia gunakan buat rumah dan menikahi Nara. Namun, mimpi tetaplah mimpi. Bagi Nara, dirinya sekarang adalah seorang penipu. Tidak dapat kepercayaan lagi. Sungguh menyakitkan perasaan Wito. Tetapi ia tak menyerah, cintanya pada Nara bukanlah sebatas satu jam lalu sudah tak lagi cinta. Cintanya pada Nara sampai bertahun-tahun. Karena ia memang tulus, bukan sekedar rasa sesaat. Alasannya mengajak Nara bekerja di Yogyakarta pun juga karena ia ingin semakin dekat dengan Nara. Walau ia tahu caranya sangatlah salah. Bagi Wito, mendapat kepercayaan lagi dari Nara hal yang lebih penting sekarang. "Wito." Mas Wito menoleh kebelakang. Ia menghentikan tangannya yang mengelap kaca mobil. "Bisa cepat diselesaikan?" Mas Wito menatap Bu Laura lalu mengangguk. Sedetik kemudian ia bertanya, "Ada apa ya, Bu?" "Saya buru-buru. Ada hal penting banget ini terkait konser kemarin. Saya harus berangkat sekarang," ujar Bu Laura. Dengan segera ia menyelesaikan pekerjaannya. Sudah resiko dirinya sebagai supir pribadi Bu Laura. Termasuk dalam keadaan genting seperti ini. Dahinya mengernyit ketika mendapati lelaki yang dibawa Bu Laura kemarin mengulum senyum padanya, bahkan mengedipkan mata padanya setelah Bu Laura pergi dari hadapannya. Ia merasa geli dengan keadaan seperti ini. Tiba-tiba ia merasa dunia berhenti saat ini. Lelaki itu normal kan? "Rian, tolong bantu angkat koper nih, dong." Rian, lelaki yang baru saja mengedipkan mata kepada Wito pun mengangguk malas mengikuti perintah Bu Laura. Wito juga tak mengenal siapa lelaki itu. Dari gelagat keduanya ia bisa tahu bahwa hubungan Bu Laura dengan lelaki bernama Rian itu begitu dekat. Bu Laura menatap kedua lelaki itu sebentar sebelum akhirnya melangkahkan kaki menuju Dapur. Disana ia mendapati Nara dengan Bi Inem. "Bi Inem," panggil Bu Laura. Bi Inem gelagapan. Ia merasa kaget dengan panggilan tiba-tiba itu. "Saya akan pergi selama dua hari ke Jakarta. Seperti biasa, awasi gadis itu dalam menjaga Jelita." "Baik, nyonya." "Ya sudah, saya pergi dulu!" Bi Inem mengangguk. Ia menghela nafas lega ketika mendapati langkah Bu Laura menjauhi Dapur. Nara yang melihat tingkah Bi Inem hanya mengedikkan bahu tak peduli. Bukan kehendaknya mencampuri urusan orang lain. Namun, dari perkataan Bu Laura membuatnya sadar bahwa dirinya belum dipercaya sepenuhnya untuk menjaga Jelita. **** Senja mulai tampak di ujung barat. Nara masih asyik menggoda bayi cantik itu. Bayi itu sedari tadi menatapnya dengan binar mata yang terang. Ah, rasanya Nara ingin memiliki bayi. Sungguh, Jelita sangatlah cantik dan menggemaskan. Setelah bayi itu dimandikan, Jelita tak lagi tidur. Justru hanya diam sambil menatap Nara. Nara yang tak tahu harus berbuat apa kepada bayi ini pun memutuskan menunggu bayi itu hingga tidur terlelap. Nara menatap Jelita di ranjang kamar bayi itu dengan senyuman manis. Kedua sisinya sudah ia letakkan guling supaya aman. Ia memutuskan keluar kamar sejenak untuk membuat teh hangat. Kepalanya sedikit pusing dan pegal karena menunduk terus menatap Jelita. Rumah sebesar ini terasa sepi. Bi Inem sedang mencuci pakaian. Disaat-saat seperti ini ia jadi merindukan Gio dan bapak. Keduanya selalu tahu cara meramaikan suasana. Setelah selesai membuat teh hangat, ia memutuskan untuk menonton televisi sejenak. Kedua matanya menoleh kebelakang, memastikan keberadaan Bi Inem. Tidak apakan ia menghibur diri sendiri dulu? Setelah kejadian akhir-akhir ini yang membuat dirinya menjadi kacau dan berusaha ikhlas. Memang dengan ikhlas, semuanya akan terasa indah. Beban masalah yang selalu hinggap akan terasa ringan dan seakan-akan tak lagi ada masalah. Namun, tidak semudah itu ikhlas atas apa yang terjadi padanya. Sekali lagi, ia tidak suka dibohongi, tidak suka ditipu. Coba berfikir, siapa yang suka dibohongi? Apalagi oleh orang yang sudah lama dikenal. Ia mengambil remot di dekat televisi. Namun diurungkannya. Takut jika Bi Inem memergokinya dan melaporkannya ke Bu Laura. "Nara?" panggil Bi Inem. Benar saja, setelah ia meletakkan kembali remot, Bi Inem sudah ada dibelakangnya. "Dimana Jelita?" "Tadi Nara tinggal di kamarnya, Bi. Nara haus, jadi Nara putuskan buat teh hangat ini." Bi Inem mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Jelita. Nara menghembuskan nafas lega. Tak sengaja, kedua matanya menangkap meja laci dibwah televisi itu yang sedikit terbuka. Ia tarik laci yang terbuka itu. Hingga ia menemukan selembar foto yang hanya menampilkan kedua mata saja. Aneh sekali ini foto, pikirnya. Kenapa pula menyimpan foto hanya sebatas mata saja? Tunggu, foto itu tampak seperti mata lelaki. Apa mungkin papa kandung Jelita? Ia meringis pelan dengan pemikirannya sendiri. Kenapa pula sedari kemarin selalu berfikiran tentang papa kandung Jelita! Itu bukan urusannya. Urusannya disini hanya menyelesaikan tugasnya sebagai pembantu. Ah, lebih tepatnya pengasuh bayi cantik itu. "Nara." Nara segera menutup laci itu lagi. Ia menatap gugup kearah Bi Inem. Untung saja saat memanggilnya Bi Inem tak menatap dirinya. Wanita paruh baya itu menatap Jelita yang sedang menangis. "Tolong kamu tidurin bayi ini." "Baik." Nara mengambil alih Jelita. Ia melihat Bi Inem yang melangkahkan kaki menuju sofa. Duduk disana menselonjorkan kaki dan memijat kakinya. Nara menimang-nimang Jelita. Ia berjalan kesana kemari untuk menenangkan bayi itu supaya segera tidur. Ia juga menyanyikan lagu 'nina bobo'. "Bi, setiap hari Bibi selalu begini?" Bi Inem mendongak. "Maksudnya?" "Sepi begini, Bi." "Iya, Nara. Biasanya kalau nyonya lagi syuting atau ada acara gitu, ya bibi sama Jelita saja yang di rumah." "Apa Bibi tidak merasa kesepian dan..." "Takut?" tanya Bi Inem menebak. Nara mengangguk. Ia menatap Jelita yang sudah tak menangis. Hanya saja bayi itu sedang diam saja. Ia sedikit khawatir mengenai keadaan Jelita. Kenapa bayi ini tidak segera tidur? Apa mungkin bayi ini tahu jika ibunya tidak sedang ada disisinya? "Enggak. Kalau kita takut, justru kita akan semakin takut dengan adanya halusinasi sendiri." Nara semakin bingung dengan perkataan Bi Inem. Ia memutuskan duduk disebelah Bi Inem. "Begini, Nara. Orang yang merasa takut itu akan semakin merasa takut. Maksudnya, pemikirannya, halusinasinya pasti mengarah kesegala hal-hal yang membuatnya takut. Sehingga ia akan semakin takut. Dibuat kaget sedikit sudah pasti menjerit atau gak langsung nangis. Janganlah takut akan apapun. Takutlah hanya kepada..." Nara mengikuti gerakan tangan Bi Inem. Jari telunjuk Bi Inem mengarah keatas. "Takutlah hanya kepada Allah," lanjut Bi Inem. "Iya, Bi." "Takutlah hanya kepada-Nya. Dialah yang telah menciptakan kita. Memberi kita kehidupan." Nara kagum akan tutur kata dan nasehat Bi Inem. Ia akan mencoba ikhlas. Ikhlas yang sebenar-benarnya menerima nasibnya. Ada Bi Inem yang membuatnya merasa masih memiliki Ibu. Anggap saja ini pengalaman baru untuknya di kota Yogyakarta. Anggap saja juga ini cobaan untuknya meraih kebahagiaan di kemudian hari. Ia tersenyum lebar menatap Bi Inem. ******* Rian menoleh kearah Bu Laura dengan wajah sebal. Bu Laura justru sedang asyik menatap ponsel dan tak menghiraukannya. "Laura," panggil Rian dengan nada kesal. Bu Laura menoleh. Ia mematikan ponsel dan digenggamnya erat. "Ada apa?" tanyanya santai. "Kenapa sih harus balik lagi ke Jakarta? Gue kan jadi ikut gini." Bu Laura memutar bola mata. Ia tahu, Rian sepertinya mulai tertarik dengan Nara. Lelaki itu ingin sedikit lebih lama di rumahnya. Namun, ia tak membiarkan dan justru membawa Rian ikut bersamanya. Lagipula, jika Rian tetap disana pasti pengasuh anaknya itu akan lalai dalam bekerja. Rian itu penggoda. Suka menggombali gadis-gadis muda yang cantik. Ia terkadang dibuat geleng-geleng dengan sikapnya. Wito yang sedang menyetir mobil hanya mendengarkan pembicaraan keduanya. Rian menoleh kearah Wito, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Laura. Bu Laura mendorong kepala Rian jauh. "Diem, gue mau ngomong!" Bu Luara paham jika Rian ingin membisikkan sesuatu padanya. Ia menajamkan pendengarannya. "Gue bingung sama alasan lo pergi ke Jakarta karena konser. Pasti bukan hal itu kan? Gue tahu, lo udah gak ada urusan apapun di kampus itu." Bu Laura tersentak. Ia mendorong pelan kepala Rian. Kemudian memutuskan menatap jalanan lewat jendela. Tak berniat untuk menjawab. Lagipula, kalau ia ingin menjawabpun bukan waktu yang tepat. Ada Mas Wito yang pasti akan mendengar alasan sesungguhnya. Ia memang tak bisa menutupi alasannya kepada Rian. Nanti jika sudah ada ruang privasi, ia akan mengatakan alasan sesungguhnya. Rian paham akan gelagat Bu Laura. Ia melirik Mas Wito sebentar. Sesampainya di Jakarta, Mas Wito memberhentikan mobil di depan hotel tempat biasa Bu Laura menginap. Ia melirik bangku penumpang lewat kaca atas. Bu Laura sedang tidur. Ia jadi segan untuk membangunkannya. Mungkin menunggu saja. Ia merenggangkan kedua tangannya yang terasa kebas karena menyetir terlalu lama. Huh, sungguh melelahkan. **** Gio menatap rak-rak perpustakaan kampusnya. Ia menatap dengan jeli tulisan-tulisan di setiap rak. Dari mulai buku tentang agama hingga tentang pengetahuan umum. Kini ia sedang mencari buku yang berkaitan dengan jurusan yang diambilnya. Jika ditanya, ia lebih betah membaca buku disini daripada harus nongkrong bersama teman-teman barunya. Karena yang dibrolkan pasti tak akan jauh dengan sosok wanita bernama Laura. Wanita yang umurnya berbeda jarak dengannya sekitar 10 tahun lebih. Bukannya mencari buku yang diperlukannya, Gio justru berjalan menuju rak tempat kumpulan novel berada. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan lama dan tentu akan selalu terpatri didalam ingatannya. Flashback on "Gio, cariin novel yang bagus, dong!" Gio tersenyum, ia mencari novel yang bagus menurut pendapatnya untuk sang pujaan hati. Tangannya berhenti pada novel berjudul "Imam Masa Depan". Ia mengambilnya dan memberikannya kepada Nara. Gadis muda itu tersenyum malu-malu padanya. "Ini bagus, lho." "Iya," jawab Nara singkat. "Kamu baca, nih. Bayangkan jika lelaki yang ada di novel ini adalah aku. Bayangin kehidupan bahagia kita nantinya, ya." Nara tersenyum lebar membalas senyuman Gio yang tak kalah lebar. Flahsback off Gio terkekeh pelan. Saat itu ia dan Nara sedang ada di mall, lalu memutuskan ke toko buku sesuai keinginan Nara. Gadis itu memang sangat suka baca novel. Bahkan, uang jajannya terkadang ditabung untuk membeli novel. Gio rindu pada Naranya. Ia ingin bertemu gadis itu. Ditundukkan kepalanya, menatap sepatu pemberian Nara. Seolah-olah ia membayangkan jika Nara sedang tersenyum padanya. Memberikan semangat padanya untuk meraih masa depan yang indah. Ia mengambil ponsel di saku celananya. Mengetikkan nama Nara di kontak, hendak menekan tombol hijau, namun diurungkannya. Ia bahkan belum mengabari kedua orang tuanya lagi. Pasti mereka sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini. Diputuskannya menelfon ayahnya. Ia melangkahkan kakinya keluar perpustakaan. Mencari tempat sejuk di bawah pohon yang berdaun lebat. "Assalamu'alaikum," ujar suara diseberang sana. "Wa'alaikumussalam." "Kenapa baru telfon lagi?" Gio meringis pelan. "Gio lagi sibuk, Yah." "Sesibuk apapun kamu disana, ya jangan melupakan kedua orang tuamu disini. Ayah sama bunda ini khawatir dan menunggu kabar darimu." Gio semakin merasa bersalah. "Ayah mengizinkanmu kuliah disana, bukan berarti harus membuatmu lalai seperti ini, Gio. Kamu punya tanggungjawab disini. Kamu tahu, bundamu sampai sakit karena menunggu kabar darimu." Gio bersedih mendengar kabar ini. Sungguh ia sangat keterlaluan. Setelah acara pentas senin itu berlangsung, ia hanya menghubungi Nara karena ia sangat rindu pada gadis itu. Sungguh, cintanya terlalu besar pada Nara. "Sekarang bunda bagaimana, Ayah?" tanya Gio. "Alhamdulillah, bundamu sudah baik-baik saja. Sekarang lagi ikut pengajian sama temannya. Ayah sengaja tak menghubungimu itu ya berharap kamu menghubungi duluan, Gio. Lain kali jangan diulangi lagi, ya." "Baik, Yah. Sampaikan salam Gio pada bunda." Ayah dari Gio itu langsung mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Gio memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Jika memberi kabar sekecil ini saja ia sering lalai. Bagaimana dengannya nanti saat sudah memutuskan menikah. Ia tidak boleh lalai dalam memberi kabar kepada istrinya. Kabar itu penting. Hanya mendengar suara saja sudah membuat hati ayahnya senang. Ia memejamkan mata pelan. Menikmati semilir angin yang melintas melewatinya. Sekali lagi ia tanya pada dirinya. Apakah keputusannya kuliah di Jakarta adalah pilihan yang tepat? **** Sebuah kamar di dalam hotel, ada lelaki dan perempuan yang sedang bersiteru. Lelaki itu, Rian sudah malas berdebat dengan Bu Laura dan memilih keluar dari kamar tersebut. Sebelum langkah kakinya mencapai pintu, ia mengatakan, "Sepandai-pandai lo menyembunyikan sesuatu, gue akan segera tahu, Laura. Jangan lo pikir gue sebodoh yang lo kira!" "Lo gak ada berhak, Rian!" Rahangnya sudah mengeras. Dua kali ini ia dibuat marah oleh Bu Laura. Pertama, ketika wanita itu mengatakan telah memiliki anak dan ia baru diberi tahu saat bayi itu telah lahir. Pantas saja ketika dirinya ingin menengoknya selalu dilarang. Kedua, saat ini, saat wanita itu mengatakan bahwa dirinya tidak berhak atas diri Bu Laura. Rian membalikkan tubuhnya. Ia menatap tajam Bu Laura. "Gue berhak!" "Lo gak berhak, lo bukan siapa-siapa gue!" Rian memukul meja disebelahnya. Ia benar-benar marah. "Gue berhak, lo denger kan apa yang gue katakan? Denger Laura, yang lindungi dari media selama ini siapa? Yang selalu ada di dekat lo selama ini siapa? Begitu mudahnya lo katakan gue gak berhak?" teriak Rian. Untung saja kamar ini kedap suara. Untungnya lagi, Mas Wito yang sebagai supir hanya menunggu di dalam mobil. Bu Laura meneteskan air mata. Kedua tangannya digunakan untuk menutup wajahnya. Tak bisakah Rian mengerti dirinya? Tidak semua hal harus dikatakan kepadanya, bukan? Ia tekankan, Rian itu hanya sahabatnya.  "Laura, gue ini peduli sama lo. Tetapi lo seakan-akan gak melihat kepedulian gue. Coba lo bayangin, karena sikap lo ini, siapa yang harus dikorbankan?" Rian berjalan mendekati Bu Laura. Ia memilih duduk di depannya. Ada meja yang membatasi mereka. "Jelita, anak lo yang dikorbankan." Bu Laura semakin menangis. Air matanya turun dengan deras. Mengingat anak satu-satunya itu, ia merasa hatinya semakin sakit. Namun, ia tak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa menyembunyikan Jelita dari media. Ia tak ingin ada seseorang yang mengetahui kebenarannya dan karirnya hancur. Ia butuh bekerja, ia butuh uang untuk memenuhi masa depan yang baik buat Jelita. Jika dulu sebelum ada Jelita, ia hanya memikirkan dirinya saja. Sekarang ia tidak bisa! Ia sadari itu. "Sekarang lo katakan, apa alasan lo kesini?" Bu Laura terdiam. Masih tak ingin menjawab. "KATAKAN!" gertak Rian. Dengan terpaksa Bu Laura mengatakan tujuan sebenarnya kepada kepada Rian. Ia hanya berharap Rian tak melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Hanya itu saja. Karena ia butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya. ~~~~~~ Merindukanmu membuatku ingin segera bertemu denganmu. Tetapi, aku sadar. Bahwa jarak terlampau jauh untuk kutempuh. Kita hanya bisa saling berkabar tanpa bisa saling memandang di tempat yang sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN