Sebuah keputusan yang diambil, tak bisa dikembalikan dalam waktu dekat. Apapun yang diputuskan, itulah yang menjadi tanggungjawabnya sekarang. Maka, ambillah keputusan yang tepat. Agar tak ada penyesalan di masa mendatang.
~~~~~~
Nara memakai bajunya dengan tergesa-gesa. Pagi-pagi sekali ia sudah dipanggil Bu Laura. Ia menemui Bu Laura yang sedang duduk dengan menyilangkan kaki di meja. Nara mendadak takut jika Bu Laura persis seperti majikan yang galak.
"Kamu mandikan anak saya," titah Bu Laura tak terbantahkan.
Nara diam menunduk dan mengangguk.
"Sudah tahu kan gimana caranya memandikan bayi?"
Nara menggeleng. Ia meringis pelan. Mana pernah, memiliki anak saja belum.
Bu Laura menghela nafas pelan. "Baiklah, kamu bisa belajar dulu. Nanti biar Bi Inem yang mengajarkanmu. Kamu temui Bi Inem sana!"
Nara mengangguk dan pamit kebelakang menemui Bi Inem. Ia belum membuka ponselnya kembali. Mungkin sekarang baterainya sudah habis, karena tadi malam tinggal 5%. Betapa menyedihkan nasib Nara kali ini. Ia mencoba menerimanya dengan ikhlas.
Bi Inem mengajarkan Nara cara memandikan bayi dan memakaikan baju bayu. Mengajarkan cara merawat bayi dengan baik. Ada manfaatnya juga Nara disini walau hatinya diliputi kecewa. Karena dengan hal ini ia bisa sekaligus belajar untuk anaknya di kemudian hari. Rasanya Nara tak sabar membangun rumah tangga dengan Gio.
"Ohh iya, Bi. Mulai hari ini awasi dia dulu. Besok biar dia yang melakukannya sendiri," titah Bu Laura pada Bi Inem.
Bu Laura sudah tampil cantik dengan dress berwarna maroon juga rambutnya yang dikepang sebelah menjadikannya tampak lebih muda.
"Saya titip rumah ya, Bi. Selama seminggu kedepan saya akan ke Jakarta. Saya ada acara nyanyi di kampus dan pastinya juga saya sibuk banget."
Bu Laura mengambil putrinya, Jelita, dari gendongan Bi Inem. Mencium wajahnya penuh kasih sayang. Membuat bayi yang sedang bangun itu tertawa geli. Umurnya masih 5 bulan, kulitnya putih, dan cantik. Mungkin karena bayi inilah yang nantinya membuat Nara betah disini.
Bu Laura menuju mobilnya yang disana juga ada Mas Wito. Mobil melaju meninggalkan rumah mewah ini. Nara ingin bertanya perihal suami Bu Laura yang entah dimana, karena ia belum melihatnya sama sekali. Ingin Nara bertanya kepada Bi Inem, tetapi ia takut karena bukan haknya untuk bertanya.
Nara menimang Jelita dengan sesekali mengajaknya mengobrol. Bayi itu hanya tersenyum sambil memasukkan kelima jarinya ke dalam mulut. Nara memegang jari mungil itu agar tak masuk ke dalam mulutnya lagi. Bi Inem tadi menyerahkan bayi itu kepadanya karena ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.
Nara membawa Jelita ke dalam kamarnya, ia meletakkannya di ranjang. Sebelah kanan dan kiri Jelita ia berikan guling agar Jelita tak jatuh. Nara mengambil ponsel dan menchargenya. Ponselnya mati. Benar-benar kehabisan daya. Ia pun juga tak bisa menghubungi bapaknya.
****
Kota yang berbeda, seorang lelaki sedang memasuki kampus dengan wajah bahagia. Ini hari keduanya berkuliah disana dan kini ia akan menikmati waktu istirahatnya setelah menjalani serangkaian PBAK. Dalam waktu sehari ia sampai dan capek di perjalanan, esoknya ia beristirahat sejenak di kos lalu esoknya ia harus mengikuti PBAK. Ah, melelahkan memang. Senang juga karena ia mendapatkan beasiswa. Senang akhirnya ia bisa mengejar impiannya menjadi reporter.
Lelaki itu, Gio, berjalan kearah teman-temannya yang sedang nongkrong di kantin kampus. Gio bertos ria pada teman-temannya. Ia sudah bisa mulai menyesuaikan diri dengan kehidupannya sekarang. Walau terbilang singkat memang.
"Wah, Gio, makin kinclong aja," gurau Deden sambil menelisik penampilan Gio yang memang tampak keren hari ini. Dengan jaket denim dan celana jins hitamnya, serta kulit Gio yang memang putih tampak seperti model iklan.
Gio membuka ponselnya. Nama Nara tersematkan paling atas. Gio lupa belum mengabari Nara. Padahal kemarin ia sudah menghubungi bapak dan ibunya. Ia berharap Nara tidak kecewa akan hal ini.
[Maaf, baru menghubungimu. Aku sudah sampai dengan selamat. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik saja. Tak sabar rasanya ingin segera lulus agar kita bisa bertemu kembali. Lagi apa sekarang?]
Gio mematikan ponselnya. Ia ikut bergabung dengan obrolan teman-temannya perihal kuliah dan ada yang sebagian membicarakan game. Bahkan disaat ramai-ramai begini masih ada yang sibuk memainkan game.
"Eh, lo tau gak? Denger-denger, acara PBAK terakhir bakal ngundang artis terkenal."
"Den, Den. Masih lama kali acaranya," sahut Bimo.
"Lagak lo, Bim. Lo yang paling gencar mendekati cewek selama ini. Bahkan, anaknya Bu Siti saja lo embat," ujar Noval berambut gondrong itu sambil tertawa. Semua pun menertawai Bimo akhirnya. Bu Siti itu pedagang makanan di kampus ini, penjual macam-macam makanan.
"Eh, kalian ntar malam mau ikut gue gak?"
Gio dan lainnya saling berpandangan penasaran.
"Gue mau ajak kalian ke apartemen gue. Lagi ada makanan gratis, nih. Bokap gue baru datang dari London," ujar Deden.
Gio hanya diam. Ia tak bisa mengiyakan ajakan teman-temannya. Karena bagaimanapun tujuannya disini untuk fokus dengan kuliahnya. Memang itu bukan masalah jika harus ke apartemen Deden. Namun, ke apartemen Deden butuh biaya transport. Ia akan berfikir dua kali akan hal ini. Harus bisa menyesuaikan dengan hidupnya.
Melihat Gio yang terdiam, Deden pun bertanya, "Lo ikut kan? Tenang aja. Kalian boleh nginep juga."
"Ada ceweknya, gak?" tanya Bimo.
Noval menoyor kepala Bimo pelan. "Cewek mulu yang ada di otak lo. Fokus sama kuliah dong, bro. Macam gue ini," ujar Noval sambil tertawa memuji dirinya sendiri yang padahal tak lain 11 12 dengan Bimo. Ia memang playboy sejak zaman SMA. Pergaulannya yang tergolong kurang bisa terkontrol membuatnya masih saja begini dari dulu.
Gio mengangguk saja menangapi ajakan temannya. Selama mengajaknya kearah hal baik ia tak masalah. Lagipula ini rezeki tidak boleh ditolak. Kapan lagi dapat makanan gratis seperti ini. Baru kali ini ada teman yang masih dua kali bertemu sudah diajak makan gratis. Beruntungnya ia mempunyai teman-teman begini. Walau terkadang agak sedengan disaat stress.
"Besok jangan bangun kesiangan lo," seru Gio.
"Yoi, pastilah bro. Bisa dihukum telat masuk," kekeh Deden.
****
Nara menyantap makanan paginya dengan wajah lesu. Ia masih belum bisa menerima berjauhan dengan bapak. Terlebih pikirannya khawatir mengenai bapak yang entah makan apa sekarang. Padahal makanan dihadapannya cenderung enak. Bu Laura walau galak, tetap menyuguhi makanan super enak buat para pembantu maupun sopir.
Bi Inem menjaga Jelita di dalam kamar bayi itu. Walaupun masih terbilang kecil, bayi itu sudah dibuatkan kamar yang luas dan mewah.
Selesai mencuci piringnya, Nara berjalan menyisir rumah. Tepatnya di ruang tamu. Ia melihat ada beberapa foto Bu Laura dikala muda. Tidak ada foto keluarga Bu Laura ataupub papa kandung Jelita. Ternyata apa yang ditebaknya benar, Bu Laura seorang artis. Ia tak percaya akan hal ini. Bisa bekerja di tempat artis, walau sebagai pengasuh anaknya.
"Nara, sudah selesai?" panggil Bi Inem dari belakangnya. Nara menoleh kaget.
Bi Inem menyerahkan Jelita. Nara menatap bayi itu yang kedua matanya terbuka. Nara mencium pipinya pelan. Ia merasa gemas dengan Jelita.
"Jaga Jelita dulu, ya. Bi Inem mau membersihkan kamar Bu Laura."
Nara mengangguk. Ia mengajak Jelita ke ruang tamu. Mengajaknya mengobrol. Bayi jika diajak ngobrol akan senang, juga agar membiasakan bayi aktif nantinya. Lihat saja, Jelita sampai tertawa. Tangannya tak sengaja menepuk pipi Nara.
Nara membawanya ke dalam kamarnya kembali. Ia akan menghubungi bapak.
Ada sebuah pesan dari Gio, ia merasa senang. Ia pun membalaskan kata-kata penuh semangat dan penuh cinta pada Gio. Jika ada yang bertanya apa hubungannya dengan Gio? Hanya sebatas komitmen untuk bersama, semacam sahabat dekat tetapi saling jatuh cinta. Bukan sepasang kekasih yang sedang merajut asmara. Baginya dan Gio, ikatan pernikahan yang nantinya akan merekatkan hubungan mereka. Selain itu, tidak ada.
Nara menanyakan banyak hal kepada bapak, juga Gio. Memberikan wejangan kepada mereka agar tidak makan dengan telat. Tetapi, Nara tak mengatakan perihal perkerjaannya disini. Ia masih sangsi untuk mengatakannya. Apalagi dengan bapak, pastilah bapak akan kecewa dan merasa tertipu. Terlebih Gio, pasti tak akan setuju dengan hal ini. Ia takut jika Gio akan menghajar Mas Wito. Bagaimanapun Gio pernah mengikuti kejuaraan silat nasional. Pemegang sabuk hitam.
*******
Tak terasa malam puncak telah tiba. Hari terakhir PBAK. Setelah beberapa hari menjalankan PBAK. Hari-harinya ia lewati penuh semangat. Mengingat impian dan tujuannya ke kota ini. Mengingat ia ingin secepatnya menyelesaikan pendidikannya agar bisa segera mencari kerja dan menemui pujaan hatinya. Mengajaknya kesini bersama, merajut kasih di ibukota tercinta. Ia ingin segera melamar Nara agar tak seorangpun dapat mengambil Nara darinya. Nara, hanya miliknya. Miliknya selamanya. Cintanya juga akan selalu untuk Nara.
Acara kali ini begitu meriah. Benar apa yang dikatakan Deden, acara ini mengundang artis papan atas. Artis ini katanya juga anak seorang pengusaha tersohor dulunya. Bisnis kuliner juga digeluti artis ini.
Gio memilih duduk di belakang, tak ikut bersama teman-temannya yang sedang meliukkan badan menikmati suara nyanyian di atas panggung itu. Sebuah ingatan terlintas di pikiran Gio, ketika Nara mengatakan suatu hal yang membuatnya tersenyum senang.
Flashback on
"Terus, dengerin musik terus. Aku diabaikan."
Nara menoleh kearah Gio dengan senyum jahil. "Biar gak stress, Gio."
"Tetapi, walau aku sering dengerin musik. Aku selalu mengingat kamu dimanapun, kok."
"Bisa aja," ujar Gio sambil tertawa.
Flashback off
Gio mengadahkan kepala menatap bintang di langit. Betapa ia mencintai Nara dengan tulus. Tuhan pasti tahu dan mengerti bagaimana perasaannya dengan Nara. Ia berharap Nara adalah takdirnya. Masa depannya. Ia ingin membangun rumah tangga yang indah bersama Nara. Menciptakan keluarga yang harmonis bersama anak-anaknya kelak.
Suara sorakan terdengar nyaring. Sepasang kaki jenjang dengan high heels yang tingginya mencapai 10 meter naik ke atas panggung. Dimana pemiliknya seorang wanita yang cantik. Gio bahkan sempat melongo. Ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Nara yang masih tetap cantik.
Tarikan dilengannya membuatnya hampir menjerit. Ia menemukan Deden yang mengajaknya untuk ke depan. Bukan hanya mahasiswa saja sebenarnya, mahasiswi juga ada disana menanti kedatangan artis tersebut. Beberapa kali artis itu membintangi film yang ditayangkan di bioskop.
"Cantik sangat si Laura ini," ujar Bimo dengan kedua mata yang menatap gadis itu penuh pandangan memukau. Gio melihat gadis itu masih tersenyum lebar. Melambaikan tangannya kepada para mahasiswa/i.
"Sadar Bim, dia itu pantesnya jadi tante kita," sahut Deden.
"Masih muda juga," ujar Noval.
Deden memutar bola mata kesal. Apa teman-temannya tak bisa membedakan mana yang masih muda mana yang sudah tua. Memang si Laura itu tampak cantik dan kelihatan muda. Tertapi umur tetap tak bisa ditipu.
"Umurnya sudah lebih kepala tiga," ujar Deden sambil menepuk pundak Bimo dan Noval.
Bimo melototkan matanya tak percaya. "Alamak, lo serius?"
"Gak masalah, umurnya boleh jauh. Cinta gak boleh jauh," ujar Noval sambil tertawa.
Gio menggeleng-gelengkan kepala pelan. Ia ikut tertawa juga. Ia menatap si Laura itu. Tetapi, buru-buru ia mengalihkan pandangannya kearah para penonton. Dimana mereka sudah ikut bernyanyi dan menggoyangkan badannya mengikuti irama musik. Gio belum pernah seperti ini.
Gio hanya ingin mundur kebelakang, namun tak ada jalan. Para mahasiswa tampak rengket dan bersenang-senang. Bagian mahasiswa/mahasiswi dipisah dengan sekat. Ia melihat kebelakang lagi, makin banyak yang ikut menonton. Gio mendesah kecewa. Mau bagaimapun ia akan tetap disini sampai acara selesai nantinya.
Bukannya melihat penyanyinya, Gio justru memilih menatap sepatu pemberian dari Nara untuk hadiah ulang tahunnya. Katanya, rela menabung uang jajan sekolahnya demi memberikan hadiah terbaik untuknya. Gio tersenyum mengingat hal itu. Sepatu ini membuatnya makin semangat menjalankan aktivitas kuliahnya.
Gio berpegangan pada sekat yang hanya tali tambang itu. Tubuhnya sedikit saja hampir jatuh jika tidak bisa menjaga keseimbangan. Tubuhnya tersenggol oleh Deden yang juga ikut menikmati lagu sambil menutup mata. Untung saja ia bisa menyeimbangkan tubuhnya, entah apa jadinya jika tidak. Ia bisa jatuh tertindas oleh para lautan manusia yang sedang berjoget ria itu.
"Gila, Laura cantik kali kalau dilihat dari dekat," ujar Bimo. Noval mengangguk mengiyakan.
Tak terasa acara sudah selesai, kini Gio sedang bersender pada kursi mobil milik Deden. Mereka memutuskan untuk langsung pulang. Mobil mulai bergerak meninggalkan pelataran kampus.
Gio yang duduk di samping kemudi menoleh kearah Deden yang tampak diam setelah acara selesai. Entah apa yang terjadi. Apa kedua temannya tak merasakan akan hal ini?
Tak terasa mobil yang ditumpangi Gio sudah berhenti di depan kosnya. Bimo dan Noval sudah tertidur. Bahkan suara mendengkur terdengar dari Bimo, tampak pulas sekali. Sedangkan Noval sudah ngorok. Gio ingin memvidio hal ini, menunjukkan kepada mereka berdua untuk bahan lelucon besok. Namun, ia mengurungkan niatnya.
"Lo ada masalah?" tanya Gio.
Deden menggelengkan kepala. Gio yang paham segera turun dari mobil. Mengucapkan terima kasih pada Deden. Mungkin suatu saat ia akan membalas semua kebaikan Deden ketika ia sudah sukses.
*****
Nara menatap Jelita yang tampak sudah nyenyak tertidur. Ia membawa Jelita menuju kamarnya. Daripada tidur di kamar Jelita, rasanya ia tak pantas. Lagipula kamar itu juga jarang ditempati. Jika ada Bu Laura pasti Jelita akan tidur di kamar Bu Laura.
Nara mengambil ponselnya, membuka riwayat chatnya dengan Gio. Ada sebuah pesan dari Gio.
Gio♡
[Apa kabar?]
Nara mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari Gio.
[Nanyain kabar mulu]
Gio♡
[Mau nanyain apa, dong?]
Nara membalas dengan balik bertanya.
[Gimana kuliah kamu?]
Gio♡
[Baik. Kamu sekarang dimana?]
Haruskah Nara mengatakan yang sejujurnya kepada Gio? Tetapi ia tak ingin siapapun mengetahui akan hal ini. Cukup dirinya saja yang mengalaminya, bukan orang lain. Nara menghembuskan nafas lelah. Ia harus bagaimana? Kenapa jujur sesulit ini?
[Kerja, dong]
Gio♡
[Wah, kerja apa? Masak malam-malam kerja. Pengen cepet lulus deh. Agar kamu gak capek kerja. Terus nungguin aku di rumah dengan masakan buatanmu yang enak itu]
Nara tersenyum malu. Ia memang sudah terbiasa membuatkan makanan untuk Gio. Bahkan saat sekolah dulu, ia sering membuatkan nasi goreng kepada Gio. Katanya nasi goreng buatannya enak.
Ia hanya membaca pesan dari Gio yang bertanya perihal pekerjaannya. Ia harus apa? Haruskah ia mengalihkan pembicaraan saja?
[Sudah malam, nih. Tidur sana. Besok ke kampus kan?]
Gio♡
[Iya, selamat malam]
Nara tak lagi membalas pesan dari Gio. Jika dibalas, Gio akan terus membalas pesannya. Perihal chat Gladis dan Keira ia belum berani jujur juga. Bahkan, chatnya ia sematkan agar tak kepencet terbuka ketika ada pesan masuk.
Nara mengusap dahi Jelita. Ia tampak berkeringat. Mungkin karena bayi itu sudah biasa dengan AC. Sedangkan di kamarnya begitu panas, dan tak ada kipas maupun AC. Nara mengambil koran di meja. Mengipaskannya pada bayi itu. Ia tak masalah jika harus begadang akan hal ini.
Tiada duka tanpa bahagia yang ada. Duka dan bahagia selalu bersebelahan. Terkadang suka berebut posisi. Itulah yang mungkin Nara alami saat ini. Disaat ia merasa sedih, ada Jelita yang menjadi kebahagiaannya. Bayi itu bagai penguatnya. Bersama bayi itu membuat Nara betah juga takut di sisi lain. Takut tidak bisa meninggalkan bayi itu, takut rindu ketika ia sudah memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
~~~~~~
Cinta tak dapat diukur dengan rupa. Cinta juga tak dapat diukur dengan banyaknya harta. Tetapi cinta dapat diukur, dari bagaimana perjuangannya dalam menemukan cinta, mempertahankan cinta dan mempersatukan cinta.