Aku terpaku pada rindu, aku terlena pada senyummu, sedangkan aku tak tahu isi hatimu yang sebenarnya.
~~~~~~
"Gimana Nara, kamu mau kan ikut kita-kita?"
Nara mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sedotan. Ia tampak diam merenung. Tubuhnya memang berada disana bersama teman-temannya, namun jiwanya tidak disana.
"Woi, Nara. Kamu mau kan?" tanya Gladis cewek berambut pirang.
Nara hanya menatapnya lalu mengangguk saja. Ia tak memiliki semangat kali ini. Entah kenapa ia merasa malas sekali. Sudah 24 jam semenjak kepergian Gio ke luar kota membuatnya sedih. Ia tak mampu menahan Gio untuk tetap tinggal, bagaimanapun itu impian Gio menjadi seorang reporter.
"Kamu kenapa sih seperti gak semangat gitu?"
Kiara, yang semula fokus dengan ponselnya kini mendadak menatap Nara dengan wajah penuh pertanyaan. Ia mengerti kenapa Nara begitu. Apalagi jika selain Gio masalahnya? Gio lagi, Gio lagi. Kiara rasanya ingin membuka mata hati Nara, bahwa Gio bukan pilihan yang cocok untuknya.
"Kamu pasti lagi mikirin Gio, bukan?"
Nara mengangguk. Ia menyeruput jus jeruknya. Merasa tenggorokannya kering dan haus.
"Sudah berapa kali gue bilang, Nar. Gio itu gak pantes buat kamu. Gio bukan cowok yang tepat buat pendamping hidup kamu."
Gladis menatap tajam Kiara. Ia tampak kesal dengan ucapan Kiara yang tak bisa menjaga omongannya. Sudah tahu jika Nara sangat mencintai Gio, kenapa pula berbicara hal itu. Ini sudah kesekian kalinya Kiara begitu.
"Kamu gak tau namanya jatuh hati sedalam-dalamnya, Ki. Kalau kamu udah ngerasain gimana jatuh cinta, pasti kamu gak akan bilang gitu. Lagi pula Gio baik, kok. Anaknya jujur dan setia."
"Kamu lihat aja, Nara. Gio itu tampan, banyak yang suka pastinya. Apa kamu gak takut tersaingi?"
"Kamu suka sama, Gio," tuduh Nara telak membuat Kiara diam. Kiara memang sedikit mengagumi Gio karena peringainya yang sesuai apa yang dikatakan Nara. Tetapi ia sadar diri bahwa Gio sosok yang sangat dicintai Nara.
"Udah, udah! Sekarang tuh kita bahas buat acara lusa. Kalau kalian beragumen terus, sampai nanti gak bakal kelar urusannya," lerai Gladis sebagai penengah.
Nara memutuskan untuk pulang dan meminta kelanjutan acaranya diinfokan di wa grup saja. Ia merasa tak fokus disini. Terlebih dengan ucapan Kiara yang membuatnya sedikit terganggu. Nara sadar diri bahwa ia bukanlah gadis yang cantik dan tak memiliki tubuh proposional. Ia juga tak memiliki uang yang banyak, beda dengan keluarga Gio yang ayahnya seorang pengusaha kebun dan ibunya seorang Dosen. Jauh sekali dengannya. Tetapi, apakah cinta harus diukur dengan banyaknya harta dan tahta? Nara mencintainya dengan tulus, dari dasar hatinya.
Nara membuka ponselnya. Ia mendecih pelan ketika tak mendapatkan kabar dari Gio. Sudah 24 jam? Sudah sehari lewat! Nara berusaha berfikir positif. Walau rasa khawatir itu muncul. Ia takut Gio kenapa-napa. Bagaimanapun Gio pertama kalinya datang ke kota tersebut. Itu pengalaman pertama Gio.
"Kalau nyebrang lihat-lihat dong, Mbak. Kalau saya nabrak, Mbak. Siapa yang susah? Sayalah, Mbak," tukas seorang bapak-bapak yang tampaknya tukang ojek.
Nara mengusap dadanya pelan. Ia meminta maaf atas apa yang terjadi. Semoga bapak-bapak itu memahami dan maklum padanya. Ia menyesal membuka ponsel saat di jalan. Nyawanya nyaris melayang akan hal ini. Nara berlari ke pinggiran, mumpung tak ada lagi kendaraan yang lewat. Bapak-bapak tadi sudah melajukan motornya dengan kencang. Tampaknya sedang terburu-buru juga.
******
Nara mengernyit penasaran saat melihat ada mobil di depan rumahnya. Tumben sekali ada tamu yang membawa mobil. Siapa tamu itu? Dengan rasa penasaran, Nara melangkahkan kakinya pelan-pelan. Takut mengganggu obrolan tamu tersebut.
"Iya, Pak. Nara mau apa tidak jika diajak ke tempat kerja saya. Lagi membutuhkan karyawan."
Nara masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. Ia mencium tangan bapaknya lalu mengangguk menatap tamu bapaknya. Bapak mengisyaratkan Nara untuk duduk di sebelah bapaknya.
"Nara, ini nak Wito mau mengajak kamu untuk kerja bersama. Kamu akan bekerja di restoran. Bapak harap kamu menerimanya, tetapi bapak tidak memaksa," ujar Bapak.
Ini menarik. Terlebih sudah lima bulan semenjak ia lulus tak pernah bekerja. Karena ia masih membantu bapak bekerja di kebunnya sendiri, kebunnya tidak begitu luas memang. Tetapi dapat menyambung hidupnya dan bapak. Kini, ia rasa ia harus bekerja. Ia membutuhkan uang untuk kelanjutan hidupnya. Mungkin dengan menerima tawaran kerja ini hidupnya bisa lebih baik sedikit demi sedikit. Gaji seberapa ia tak pikirkan dulu, nanti bisa ia tabung.
Nara mengangguk, ia menjawab, "Nara setuju aja, pak. Tetapi dimana Mas Wito kerja?"
Wito menjawab, "Yogyakarta, Nar."
Nara melongo. Jauh sekali, itu luar kota. Kalau kerja disana ia tinggal dimana?
"Jauh, Mas," ujar Nara.
"Tidak apa-apa, Nar. Tempat kerjanya Mas cari yang mau nginep. Mau, ya?" bujuk Mas Wito.
Nara menoleh kearah bapaknya. Bapak mengangguk. Nara semakin bimbang jika begini. Mungkinkah kini sudah saatnya ia mengabdi? Sudah saatnya memberikan apa yang pernah diberikan oleh kedua orang tuanya? Setelah ibunya meninggal, ia hanya punya bapak yang kerjanya cuman serabutan. Itupun terkadang sering tidak kerja. Iya, mungkin ini sudah saatnya ia menjadi tulang punggung keluarganya. Membahagiakan sang bapak.
"Nara mau, Mas," ujar Nara pada akhirnya.
Wito tersenyum. "Besok Mas ke rumahmu lagi, kamu siapkan barang-barangmu yang mau kamu bawa kesana."
Nara mengangguk. Tak lama kemudian ia pamit ke belakang. Mau membuatkan teh hangat buat tamunya, Mas Wito.
Nara membawa nampan berisi teh hangat dan meletakkan kedua gelas di depan Mas Wito dan Bapak. Ia membawa nampannya ke dalam pelukan lalu ikut bergabung kembali mendengarkan obrolan Mas Wito dan bapak.
"Repot-repot saja, Nar," celetuk Mas Wito.
"Tidak apa-apa, Wito," sahut bapak sambil memegang kumisnya yang tebal itu.
Bapak dan Mas Wito kembali berbicara, entah apa yang mereka bicarakan. Hanya perihal masa anak-anak Mas Wito dan masa muda bapak. Sesekali ia diajak ngobrol. Ia hanya bisa tersenyum dan sedikit tertawa ketika mendengar masa kecil Mas Wito yang lucu.
"Dulu kamu itu pernah ngikutin Wito kemana-mana, Nar. Pas umur dua tahunanlah."
Benarkah apa yang dikatakan bapak? Jika saat itu umur Nara dua tahun, berarti Nara masih sangat kecil. Apa ia dan Mas Wito sudah mengenal sejak lama? Nara tentu tak ingat apapun, ia masih balita. Apalagi ingatan balita itu sulit diingat kembali. Masa TK saja Nara lupa-lupa ingat.
"Iya, Nar. Dulu waktu Mas enak-enaknya ke sawah memancing ikan, kamu ngikutin Mas," kekeh Mas Wito.
Bapak memotong pembicaraan Mas Wito. "Ikan cetul itukan ya, Wito?"
Mas Wito menjawab perkataan bapak dengan tertawa pelan. Nara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat bapak dan Mas Wito tertawa terbahak-bahak. Raut wajahnya bahagia, Nara senang melihat bapak yang begini. Karena semenjak kepergian ibunya, bapak menjadi lebih pendiam dan murung. Apalagi terkait perkerjaan bapak yang hasilnya tak seberapa. Bapak dulu pernah ingin nekat mengkuliahkan Nara, tetapi dengan keras Nara menolak. Ia takut jika berhenti di seperempat jalan, belum lagi nanti siapa yang memasakkan makanan untuk bapak jika bukan Nara. Beli ke warung? Nara tak menginginkan hal itu. Nara terdiam, saat ia merantau nanti, siapa yang akan memasakkan makanan untuk bapak?
Mas Wito tampak menengok jam tangannya. Lalu kemudian berpamitan kepada bapak. Mas Wito harus menjemput adiknya sekolah. Mas Wito tersenyum kepada Nara.
Setelah Mas Wito pulang, Nara membawa gelas kosong tadi ke dapur. Ini hari terakhirnya, ia tak lagi bisa memasak makanan untuk bapak. Besok ia akan ke Yogyakarta. Jauh memang, tetapi itulah keputusannya. Ia harus bertanggungjawab atas apa yang menjadi keputusannya sekarang.
Nara mengambil ponsel disaku celananya. Ia membuka chat wa teratas yang tak ada menampilkan chat Gio. Ia kecewa. Alisnya menaik sebelah ketika ada chat masuk dan ramai sekali yang menampilkan grupnya yang berisikan Gladis dan Keira. Nara lupa bahwa ia sudah mengiyakan ajakan Gladis untuk pergi ke rumah neneknya di kampung. Sekedar refreshing.
Nara akan menghubungi teman-temannya nanti. Ia harus berberes sekarang. Jika nanti malam, ia akan merasa letih sehingga selama perjalanan ia tak akan dapat menikmatinya.
"Nara," panggil bapak.
Nara yang hendak masuk ke dalam kamarnya pun mengurungkan niatnya. "Iya, pak?"
"Kamu sama Wito sudah kenal dekat, oleh karena itu bapak mempercayakanmu ikut kerja denganmu. Wito juga mengatakan jika gajinya lumayan besar. Itu cukup buat kebutuhan hidupmu nanti, nak."
Nara memeluk bapaknya. "Pak, maafin Nara, ya. Nara rasa, Nara putuskan untuk mencari kerja didaerah sini saja, pak."
"Kenapa? Lebih baik kamu ikut Wito saja. Demi masa depanmu juga, nak."
"Siapa yang akan memasakkan bapak nanti? Siapa yang akan membantu bapak mengurus kebun nanti?" tanya Nara beruntun.
"Jangan mempermasalahkan hal itu, nak."
Nara mengangguk saja. Mungkin inilah yang terbaik. Cari kerja di dekat daerahnya ada. Jadi pramusaji di restoran, pramuniaga, tetapi juga agak jauh dari rumahnya. Lebih baik ia merantau sekalian saja kan?
*******
Suara klakson mobil terdengar. Nara membawa tasnya ke depan. Ia menemui bapak yang sedang berbicara kepada Mas Wito. Nara memeluk bapak dengan erat. Air matanya menetes. Tak tega melihat bapak sendirian di rumah. Ingin mengajak bapak bersamanya, tetapi ia tak memiliki uang. Menuju Yogyakarta pun ia hanya membawa beberapa lembar uang yang ia tabung selama SMA dulu juga pemberian dari bapak.
Bapak mengusap rambut Nara pelan. Hidungnya memerah menahan tangis. Tetapi, bapak harus bisa melepaskan Nara. Karena itu permintaan bapak sendiri agar Nara bisa lebih mandiri juga nantinya. Walau Nara sebenarnya anaknya juga sudah mandiri.
"Pak, jaga kesehatan, ya. Jangan sampai telat makan. Bapak harus sehat! Maaf, Nara tidak bisa memasak makanan untuk bapak lagi, membantu membereskan rumah. Nara janji akan segera pulang," ujar Nara dengan sesenggukan. Ia tak kuat untuk menahan tangis. Pertama kalinya ia merantau, di kota yang berbeda.
"Nara juga harus begitu, ya." Bapak menatap Mas Wito, ia berpesan, "Tolong jaga Nara dengan baik disana ya, Wito. Bapak cuman punya Nara. Bapak percayakan Nara sama kamu."
Mas Wito mengangguk dan tersenyum. Nara melepaskan pelukannya, ia mencium tangan bapak dengan khidmat. Masih tak rela untuk berjauhan. Mas Wito melakukan hal yang sama, lalu membantu memasukkan barang Nara ke mobil.
Selama perjalanan hanya ada keheningan. Nara menatap pepohonan lewat jendela mobil. Ngomong-ngomong ia belum bertanya ini mobil siapa yang dinaiki Mas Wito. Jika mobil ini milik Mas Wito rasanya mustahil. Dalam kurun waktu empat tahun buat beli mobil itu waktu yang singkat. Apalagi Mas Wito tiap bulannya kirim uang ke ibunya.
Nara menoleh kearah Mas Wito yang tampak fokus mengemudi. Tangannya begitu lihai memegang setir dan rem. Seperti sudah lama mengemudi mobil.
"Mas Wito, boleh bertanya?" tanya Nara penuh was-was merasa sungkan akan pertanyaannya yang mungkin sedikit menyentil hati Mas Wito.
Mas Wito menoleh sedikit kearah Nara lalu mengangguk.
"Kalau boleh tahu ini mobil siapa, Mas?"
"Mobil juragan, Mas. Mas tugasnya cuman mengantar barang gitu. Kalau gak nyupirin bos kemana-mana."
Nara mengangguk mengerti. Tetapi perasaanya berkata lain. Mobil sebagus ini untuk mengantar barang rasanya gimana gitu, ya. Soalnya seperti yang dilihat Nara selama ini jika mengantar barang dalam jumlah banyak pasti menggunakan motor atau gak mobil box. Apalagi Mas Wito bilang pekerjaannya di restoran, mengantar barang yang bagaimana?
Nara melupakan satu hal, dimana teman-temannya sudah menunggunya dan bahkan keretanya segera berangkat. Sedari tadi ponselnya berbunyi, tetapi karena nadanya hening ia tak mendengar jika ada yang menghubunginya.
****
Nara tertidur begitu lama. Ia sempat mabuk perjalanan. Mas Wito yang paham pun meminta Nara untuk tidur saja, ia bisa melewatinya dengan baik.
Dari Bandung ke Yogyakarta tidaklah terlalu jauh, tidak sampai berhari-hari. Gaji seberapa yang dibilang Mas Wito? Ah, ia belum menanyakannya.
Mas Wito memberhentikan mobilnya. Lelaki itu memutuskan berhenti di depan toko. Sepertinya sedang membeli sesuatu tetapi entah apa. Suara pintu samping kemudi dibuka dari luar, Mas Wito masuk sambil membawa dua cup mie goreng. Bau mie goreng yang sudah masak masuk ke indera penciuman Nara. Ia jadi merasa lapar. Mie memang menggoda iman saja. Padahal ia sudah membawa sambal goreng juga beberapa roti untuk dimakan selama perjalanan.
"Loh, udah bangun, Nar," ujar Mas Wito terkejut. Sepertinya lelaki itu tak menyadari, jika saat mobil berheti di depan toko itu, Nara pun sudah terbangun.
"Iya, Mas," ujar Nara.
Mas Wito mengangguk dan mengulurkan satu cup mie kepadanya. "Makan, nih. Mumpung masih hangat."
"Makasih ya, Mas Wito. Harganya berapa ini Mas?" tanya Nara sambil menerima cup mie goreng dari tangan Mas Wito.
"Heleh, tidak usah, Nar. Mas kasih gratis karena Nara sudah mau diajak kerja bareng," ujar Mas Wito.
Nara merasa tak enak. Lelaki dihadapannya baik sekali, mau memberikannya makanan gratis. Padahal ia tak mengingat sama sekali lelaki dihadapannya kini.
"Terima kasih ya, mas," ujar Nara dengan senyuman tulus.
Mas Wito mengangguk saja. Lelaki itu mulai menikmati makanannya. Nara juga mulai memakan mie gorengnya.
Sudah beberapa sendok, Nara memutuskan mengambil ponselnya dan mengaktifkan data ponselnya. Mengotak-atik isinya, masih berharap jika ada kabar dari Gio. Namun, sampai sekarang pun belum ada kabar. Suara panggilan tak terjawab sebanyak 10 kali tampak di riwayat panggilan wa. Nara menepuk keningnya pelan. Lagi-lagi ia melupakan untuk mengabari teman-temannya.
Dalam chat wa menampilkan bagaimana marah dan kecewanya Gladis akan Nara. Nara mengetikkan sesuatu berharap temannya paham mengenai keadaannya sekarang. Ia juga ingin kumpul bersama teman-temannya, tetapi ia benar-benar tak bisa kali ini. Ia merasa bersalah kepada kedua temannya, sungguh ini diluar kendalinya juga.
[Maaf, Gladis, Keira. Mungkin kata maaf tak cukup untuk mengurangi rasa kecewa kalian padaku. Maaf juga baru bisa mengabari sekarang. Maaf juga tak bisa ikut bersama kalian menikmati senja bersama. Kali ini, aku benar-benar tak bisa. Aku sudah berada di tempat yang jauh dari kalian. Inilah keputusanku untuk masa depan. Semoga kalian paham akan hal ini. Maaf banget]
Nara menonaktifkan ponselnya kembali. Ia meletakkannya di dashboard. Menikmati kembali mie goreng yang tinggal beberapa sendok. Berusaha mengalihkan pikirannya mengenai teman-temannya juga Gio. Yogyakarta agak dekat dengan Jakarta? Nara bisa menjumpai Gio nantinya.
"Sini, Mas buang," ujar Mas Wito mengambil cup mie Nara yang sudah kosong isinya. Mas Wito keluar membuang sampah.
"Terima kasih, mas."
Nara membuka kembali ponselnya, berharap ada pesan dari teman-temannya. Apalagi disini agak susah sinyal.
Gladis
[Nara, lo kemana?]
[Nar, apa maksudnya?]
Keira
[Nar, lo kenapa?]
[Karena Gio?]
Nara menonaktifkan kembali riwayat chat digrupnya. Ia akan off hingga sampai ke Yogyakarta.
*****
Tak terasa mobil sudah masuk ke kota Yogyakarta. Nara menikmati perjalanannya.
Nara menatap takjub ketika mobil melewati Malioboro, dimana setelah berekreasi biasanya para pengunjung akan mampir ke Malioboro membeli oleh-oleh untuk keluarganya. Nara jadi ingin ke candi Borobudur. Mungkin lain kali ia akan bilang ke Mas Wito agar mau menemaninya atau paling tidak menunjukkan jalannya menuju candi Borobudur. Bekerja sekaligus berlibur, suatu hal yang menarik kan?
Mobil berhenti di sebuah perumahan elit dan terkesan sangat mewah. Nara menatap Mas Wito, "Ini dimana, Mas?"
Mas Wito menatap Nara dengan raut wajah datar. "Maaf sebelumnya, Nar. Mas Wito sebenarnya bekerja sebagai supir saja. Kali ini boss Mas membutuhkan pembantu buat membantu tugasnya dalam mengurus anaknya yang masih balita juga membantu mengurus rumah."
Nara menggelengkan kepala tak percaya. Jadi, ia dibohongi? Ia pikir akan menjadi karyawan restoran besar. Ia pikir ia memang bekerja sebagai pramusaji. Ternyata, ia akan dijadikan pembantu? Hatinya mendadak sakit. Jika bapak tahu akan hal ini pasti sangatlah kecewa. Bapak sudah mempercayakan Mas Wito.
Nara mengusap hidungnya yang sudah memerah. Ia mengerjapkan mata, setetes air mata turun membasahi pipinya yang tirus itu.
"Kenapa dari awal Mas Wito tidak jujur sama, Nara."
"Maaf, Nar," ujar Mas Wito sambil menunduk tak berani menatap Nara.
Suara ketukan pintu terdengar, Mas Wito membuka kacanya. Menampilkan seorang ibu yang membawa balita. Nara menaksir umurnya kisaran 35 tahun. Tubuhnya yang proposional dan berkulit putih, tampak seperti artis papan atas. Apalagi melihat rumahnya yang juga mewah sekali.
"Eh, ibu."
Ibu itu menatap Nara dengan pandangan menelisik. "Dia?"
Mas Wito mengangguk. Ibu itu meminta Nara untuk keluar dari mobil. Mas Wito membawa tas Nara masuk ke dalam rumah.
Ruang tamunya saja tiga kali lipat dari ruang tamunya. Nara tak bisa membayangkan jika ia yang membersihkan rumah ini. Pasti sangat letih dan capek.
"Bi Inem, buatkan es jeruk buat tamu kita," teriak ibu tadi.
Nara duduk kikuk ditatap tajam oleh ibu tadi.
"Nama saya, Laura Bagaskara. Kamu bisa memanggil saya Bu Laura saja."
Nara mengangguk.
"Kamu sudah tahu tugas kamu apa, kan? Kerja kamu juga, udah tahu kan?" tanya Bu Laura.
"Saya sudah memberi tahu sama Nara, Bu," sahut Mas Wito.
Bu Laura mengangguk. Ia menepuk-nepuk p****t anaknya agar diam. Tampaknya tidurnya tak tenang. "Ini anak saya, Jelita. Kamu harus menjaganya dengan baik."
Mau tidak mau Nara harus menerimanya. Lagipula kalau ia memutuskan kembali pulang, itu tidak mungkin. Ia tak memiliki biaya banyak untuk kembali ke Bandung. Ia juga tak mau membuat bapak kecewa dan sakit. Terlebih ia juga tak tahu daerah sini. Pintar sekali Mas Wito menjebaknya. Membohonginya begitu besar. Mungkin ini pengalaman pertamanya bekerja, sebagai pengasuh anak dan pembantu. Hatinya teriris. Ia ingin menangis, namun keadaan tak memungkinkan. Ditambah Bu Laura menatapnya masih dengan tatapan menelisik dan tajam.
"Ya sudah, besok kamu mulai bekerja. Beri tahu dimana kamarnya, Wit," titah Bu Laura lalu pergi meninggalkan mereka menuju sebuah ruangan di lantai 2. Mungkin kamarnya.
Bi Inem membawa nampan berisi es jeruk, Nara langsung meminumnya. Berharap hatinya segera dingin.
Belum sempat Mas Wito berbicara, Nara mengatakan suatu hal terlebih dahulu. "Tunjukkan dimana kamar Nara."
Mas Wito mengangguk. Nara mengikuti langkah Mas Wito dari belakang. Sebuah kamar yang tampak mewah, luas ruangannya memang sama dengan kamarnya. Namun, ini begitu mewah ornamennya.
Melihat Mas Wito yang akan kembali berbicara, Nara menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia bersender ke pintu. Meluapkan rasa kecewa dengan tangisan. Ia akan mencobanya dengan ikhlas.
"Maafin Nara, pak," lirih Nara.
Suatu hal yang dimulai dengan kebohongan tidaklah baik. Tanpa sadar Nara sudah berbohong juga kepada bapaknya. Ia tak mampu untuk mengatakan kebenarannya. Apa ini? Kepercayaan yang diberikan, namun kebohongan yang didapatkan. Sungguh menyakitkan.
~~~~~~
Biarlah rasa kecewa ini kutanggung sendiri, percuma saja kau tak akan pernah mengerti bagaimana kecewanya diriku padamu.