Bab 26

1132 Kata

Kebahagiaan dan kesedihan memiliki cara sendiri untuk datang dan pergi.    Langit siang ini terasa berbeda. Kumpulan awan seperti berkumpul di atas makam Zia yang sudah penuh dengan bunga. Semua yang orang mengantarkan kepergiannya telah pulang satu demi satu. Kini, tinggalah aku, Jek dan pak Firman yang masih sibuk mengusap-usap papan kayu bertuliskan nama Marzia, saudara kembarku. Air mataku yang sejak tadi sudah keluar, seakan sudah tidak tersisa lagi. Bibirku terkunci rapat. Setelah sebelumnya aku berteriak-teriak memanggil nama Zia seperti orang gila. "Faza...." Panggil Jek kepadaku. Aku menggeleng cepat. Dia mengajakku pulang sekarang ini. Tapi aku masih belum bisa meninggalkan tempat ini. Masih banyak hal yang ingin aku ceritakan pada Zia. Berbicara tentang sama kecil kami berd

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN