Menahan Rasa Sakit

1073 Kata
"Oh, My Lord! Apa yang harus aku lakukan?" Kegelisahan kini menghantui. Aku semakin mengapit tubuh dengan kedua tangan. Aku menundukkan pandangan. Malu dan takut yang aku rasakan pada saat ini. Namun, berbeda dengan Nevelas. Tangannya meraih shower kemudian mengguyur tubuhku dengan lembut. Terkadang dia menggosok kulitku. Aku masih menjauhkan tubuhku ketika dia menyentuhnya. "Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu!" ujarnya dengan nada datar. "Aku takut kamu menyentuhku sebelum sah menjadi suami!" kilahku menjawab semua keanehan yang aku rasakan. Kemudian aku menerka, jangan-jangan dia selalu melakukan dengan gadis lain! Bisa jadi, kamar yang berderet itu adalah kamar-kamar istrinya. Ih, aku bergidik sendiri membayangkannya. "Kenapa?" tanya Nevelas singkat. "Aku tidak tahu, Tuan. Kenapa Anda membuatku semakin bingung. Terkadang anda bak penyelamat, namun setelahnya Anda akan berubah menjadi iblis!" Mendengar perkataanku, dia seperti tidak peduli. Tak ada kata yang dia ucapkan. Tangannya terus membersihkan rambutku dengan shampo yang dia ambil di tempat rak panjang yang menggantung di pinggir bathtub. "Bersihkan sendiri! Aku akan menunggumu di luar. Tolong jangan lama!" perintahnya sembari meninggalkan jejak rambut yang masih menyisakan shampo beraroma wangi bunga Orchid. Aku hanya bisa menatap pada punggungnya yang telah berganti dengan piyama hitam terbuat dari satin. Jujur mungkin aku terkesima dengan segala prilakunya. Namun, tetap saja aku harus waspada terhadapnya. Setelah membersihkan dan mengeringkan tubuh. Aku meraih paper bag yang dia berikan. Aku terbelalak ketika aku menatap pakaian tidur yang ... akh! Aku sendiri malu untuk memakainya. Bahan halus seperti terbuat dari sutra, namun begitu menerawang ditambah dengan warna merah mencolok. Kalau ada kesempatan meminta, aku hanya ingin memakai baju piyama tertutup bergambar Teddy bear. Tak ada pilihan lain selain aku memakainya. Oh, Tuhan baju apakah ini? Hampir setiap detailnya memperlihatkan lekuk tubuh dan kulit ini masih saja terlihat. Aku berinisiatif untuk menutupinya dengan kimono handuk yang tergantung. Aku meraih dan memakainya. Setelahnya aku menggeser pintu, tampak Nevelas tengah duduk di sofa dengan menjulurkan kakinya. "Sudah?" tanyanya pendek. Aku mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa pakai kimono? Bukankah tadi aku memberimu baju tidur?" ujarnya sembari mengernyitkan dahi. Aku hanya menundukkan kepala, tidak ada kekuatan untuk menjawabnya. Rasa malu mulai menyelimuti diri yang tidak tega mengatakan kalau baju yang aku pakai akan mengundang hasratnya. "Buka!" perintahnya dengan nada tinggi. "Tidak, Tuan. Aku tidak akan membukanya di depan matamu!" Aku menolaknya mentah-mentah. Begitu tidak ikhlas diri ini harus memperlihatkan tubuhku. Langkahnya mendekat padaku. Semakin dia melangkah, maka tubuhku semakin bergetar memaku. Seakan kaki ini, tak ada kekuatan untuk berlari menjauhinya. Hanya beberapa langkah, kini tubuh kekarnya telah ada di depan mataku. Tinggi badannya menutupi tubuhku yang termasuk pendek di kalangan orang Amerika. Tinggi badanku menurun pada mama yang mempunyai darah Asia. Memang mama dari keluarga Indonesia sedangkan papa dia berasal dari Amerika. Perlahan dia menarik tali yang melingkar di pinggangku dan kini kimono itu terbuka. Memperlihatkan sebagian tubuhku. "Begini lebih enak dipandang!" ujarnya sembari melepaskan kimono handuk yang menutupi tubuhku. Tangannya menarikku untuk duduk di ranjang. "Duduk!" perintahnya. Aku pun mengikuti dan duduk di sampingnya. Tangannya meraba kulitku kemudian perlahan mengoleskan salep pada setiap luka. Setelahnya dia menempelkan bibirnya pada bahuku. "Jangan takut! Walaupun pakaianmu mengundang hasrat laki-lakiku. Aku tidak akan menyentuhmu," ucapnya sembari mengusap lembut punggungku yang terbuka. "Aku minta maaf, Tuan Nevelas!" "Minta maaf untuk apa? Minta maaf karena tidak bisa melayaniku!" Kedua alisnya terangkat. Ketika melihat tingkahnya, spontan aku mencebikkan bibirku. Dan apa yang terjadi? Matanya begitu tajam menatapku dengan berang. Tangan yang tadi ramah memperlakukanku, kini mencengkram bahu dengan kasar. Kemudian menghempaskanku keatas kasur. Tubuhku mulai merasakan ketakutan yang sangat. "Apa aku membangunkan kembali jiwa Psychopat-nya?" Aku hanya bisa berkata dan bertanya dalam hati. "Jangan seperti anak kecil! Aku paling tidak suka melihat perempuan manja! PAHAM!" bentak Nevelas padaku yang masih diam terpaku. Suara napasnya begitu terasa di atas hidung. Dia sengaja berbicara di depan wajah, hidung kami pun saling menempel. Ingin rasanya aku mendorongnya, atau melemparnya keluar kamar. Namun, lagi-lagi aku tak sanggup mengangkat tubuhnya. Jangankan untuk melemparnya. Sekedar melepaskan cengkeramannya aku tidak mampu. "Kenapa? Sudah mulai menyerah dan takut?" tanyanya kembali. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak ingin menyerah di hadapannya. Jiwa benciku pada laki-laki kembali memuncak. Ku tatap dia dengan tajam, berharap semua pesan kebencianku tersampaikan. Plak! Untuk ketiga kalinya dia menampar pipi, begitu panas terasa. Namun, aku tidak mengalihkan tatapan benci terhadapnya. Aku semakin tertantang untuk memancing kemarahannya. Aku hanya ingin tahu sampai mana dia akan tega memperlakukan gadis yang akan menjadi istrinya. Lebih baik aku mati sekarang karena siksaannya dari pada aku harus bernasib sama dengan mama yang selalu menangis setelah papa menyiksanya. Jiwaku semakin bergolak ketika terlihat tangannya akan mendarat lagi pukulan. Dia kembali menamparku, kali ini lebih keras hingga menyisakan sedikit darah di ujung bibirku. "Sudah menyerah, Nona!" berangnya. "Hahahaha!" Aku menjawab dengan tawa penuh ejekan. "Aku tidak akan menyerah pada laki-laki busuk seperti kalian! Bunuh aku, bunuh aku! Kalau itu yang kalian mau!" Aku berteriak begitu kencang. Entahlah apakah teriakkanku akan mengganggu orang-orang yang ada di mansion. Aku sudah tidak peduli lagi. Namun, yang aku lihat dia malah menyungging senyuman. "Waw! Kamu semakin menantang, Nona. Baru kali ini, aku bertemu dengan gadis yang tidak waras!" Tubuhnya mendekat kembali. Dengan cepat dia meraup bibirku dengan kasar dan meninggalkan sedikit gigitan. "Tuan, lepas! Aku tidak suka!" teriakku sembari mendorong tubuhnya sekuat tenaga. "Aku tidak akan melepaskan kamu, Sayang! Sampai kapanpun kamu akan menjadi tawanan Nevelas Vernon, Tatiana Fredicson!" Baritonnya semakin tegas. Kemudian tangannya membelai pipiku yang masih merah karena tamparan kemudian perlahan mengusap darah yang masih mengalir di pinggiran bibir. "Cih! Aku sebagai tawanan? Kamu tidak akan bisa memaksaku, Tuan Nevelas yang terhormat!" Mendengar jawabanku yang semakin berang. Dia menatap dengan penuh kebencian. Kemudian dia bangkit dari tubuh dan aku bersyukur ketika terbebas dari kukungannya. Dia melangkah menuju nakas dan mengeluarkan sesuatu. Aku terperanjat ketika dia mengeluarkan dua buah borgol. Entah apa yang akan dia lakukan? Dia menatapku dengan senyuman yang mampu merontokkan semua sendi keberanian yang tadi aku tunjukan. "Tuhan! Tolong aku, Tuhan!" Aku hanya bisa menjerit ketakuatan dalam hati. Langkahnya semakin mendekat, aku bergeser sedikit demi sedikit setidaknya bisa menghindarinya. Kakinya menaiki ranjang dan mencengkram tangan kemudian menariknya ke pinggiran, dan selanjutnya kedua tanganku telah terpasung. Dengan sengaja, jari-jarinya bermain di sekitar dadaku yang terbuka. "Melawan lagi, Nona?" tanyanya sembari menempelkan bibirnya di atas bibirku. Aku hanya bisa menatap jijik padanya. Sedangkan tubuhku tak mampu lagi bergerak. "Kamu sudah tak mampu lagi untuk melawan! Bagian mana dulu yang ingin kamu sentuh? Tubuhmu begitu wangi dan indah, Nona!" Dia menurunkan nada bicaranya. Sedangkan tubuhku semakin bergetar ketika mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN