Sakit, Tuan!

1082 Kata
Mencoba menggerakkan tangan yang terborgol memang sia-sia, hanya doa yang bisa aku lantunkan. Aku sudah tak peduli tanganku akan terluka atau memar yang terbayang dalam benak hanya ingin terlepas dari cengkeraman nya. Tok! Tok! Beberapa kali ketukan, mampu melepaskanku dari ketidakjelasan dirinya yang telah terbungkus dengan jiwa Psychopat. Dia begitu kesal mendengar suara ketukan, terlihat rahangnya yang semakin mengeras. Dengan sengaja Nevelas, mendaratkan pukulan tepat di samping telinga kananku. Ranjang pun sesaat bergetar karena kerasnya pukulan. Dan aku hanya bisa membenamkan kepala ke bawah dengan kedua tangan yang masih terikat. "Masuk!" Dia berkata sembari berteriak. Kemudian melangkah ke sofa untuk duduk dan mengangkat satu kakinya. Satu orang dengan perawakan tinggi dan tegap mendekatinya. Setelan jas hitam masih terbungkus menutupi tubuhnya, walaupun jam telah menunjukan pukul 10 malam. Dia menatapku sesaat kemudian memalingkan wajahnya dengan cepat. Entahlah mungkin dia kasihan melihatku tak berdaya. Sang pria seperti membisikkan sesuatu padanya. Tangannya mengepal ketika mendengar bisikan sang pria. Dia memukul meja yang ada di dekatnya dengan keras. "Sudah aku katakan bereskan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun! Sekarang kerahkan pasukan untuk melakukan penyerangan. Malam ini juga, mereka harus tahu siapa Nevelas Vernon?" Dia berkata dengan Bariton yang menakutkan. Sesekali aku mencoba memahami apa yang tengah mereka bicarakan. Namun, tetap saja aku tidak mengerti. Tanpa basa-basi atau melepaskan dahulu borgol yang mengikatku. Nevelas langsung pergi meninggalkanku, dengan langkah tergesa. "Siapkan semua pasukan dan senjata!" perintahnya semakin mengecil di indera pendengaranku. Setelah pintu tertutup, aku hanya bisa menghela napas. Apa yang harus aku lakukan dengan tangan terikat seperti ini, untuk mengusir nyamuk pun mungkin aku tidak akan bisa. "Ya, Tuhan! Benarkah dia jodoh yang telah Engkau tetapkan untukku? Egoiskah aku, apabila aku tidak setuju dengan takdir yang telah ditetapkan," lirihku berdoa mengharapkan keajaiban Tuhan mendatangiku. Setelah cukup lama aku menggerakkan tanganku, namun tetap saja sia-sia. Hingga lelah melanda dan aku tak ingat lagi dengan segala kejadian. *** Sinar matahari, membangun tidurku ketika seseorang masuk ke dalam kamar dengan membuka tirai panjang. Mataku mengerjap sesaat, sedangkan tanganku masih tergantung. Aku mencoba menggerakkan pergelangan tanganku yang tak terasa kebas dan ngilu. Kemudian, seseorang mendekatiku dan mulai membuka borgol yang mengikat. Satu persatu dia lepaskan, kemudian mengangkat kedua tanganku dan mengecup pergelangan tangan yang sedikit lecet dan memar. "Sakit?" tanyanya pendek sembari terus mengecup. Pandangannya tak lepas menatap padaku. Ketika dia menatap tak ada jawaban dari bibirku, seakan kekakuan telah menyelimuti. Tak lama aku merasakan nyeri yang sangat di perutku. Mungkin karena aku menahan keinginanku untuk membuang air kecil. Aku meringis, namun tubuh ini semakin lemah dan hanya bisa meneteskan air mata yang tak terbendung. Seperti mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia mengendong tubuh lemahku, masuk ke kamar mandi. "Aku akan menunggumu di luar. Assistenku akan membantumu bersiap!" Dia meninggalkanku sendiri. Aku semakin kesal padanya, karena ulahnya kini aku merasa lemah dan tak berharga. Setelah melakukan hajat aku keluar dari kamar mandi dan aku terbelalak dengan apa yang terlihat di depan mata. Ada empat orang perempuan dengan seragam hitam putih berdiri seraya mengangguk hormat padaku. Satu orang lebih dewasa mendekati dan memapahku untuk duduk di kursi yang berlapis bludru halus. "Silahkan, Nona sarapan dulu! Setelahnya kami akan membantu Anda bersiap!" kata asisten dengan name tag Clara. "Baik! Thank you so much!" ucapku berterima kasih pada orang-orang yang telah membantuku. "Tidak usah berkata seperti itu karena ini sudah menjadi tugas kami, Nona!" ucapnya lembut, namun masih terdengar tegas. Aku mengangguk dan kembali fokus pada sarapan yang menggugah selera. Aku memakannya dengan lahap. Beef bacon terselip diantara roti Bun yang lembut. Tak terasa aku telah menghabiskan dua buah sandwich tanpa sisa. "Setelah sarapan, mandilah dahulu, Nona! Karena Tuan akan mengajak Anda keluar." "Baiklah. Kenapa kamu selalu meyuruhku? Apa tuanmu akan marah? apabila tidak sesuai jadwal?" tanyaku pada Clara sembari mengelap bekas minyak yang menempel di ujung-ujung bibirku. "Maaf, Nona! Itu bukan wewenang kami untuk menjawabnya." "Oh, Baiklah! Aku mengerti! Aku akan mandi dan tak akan bertanya lagi!" Aku menjawab sembari meninggalkannya. *** Aku keluar dari kamar dengan menggunakan dres hitam di atas paha, Namun, masih sopan. Tak lupa aku sertakan kardigan untuk menutupi bahu. Itupun aku memaksa Clara supaya meminjamkannya. Rasanya sudah cukup, dia melihat tubuhku yang terbuka. Clara dan tiga asisten lainnya berjalan di belakangku. Dia menghentikan langkah, ketika berdiri di depan pintu lift. Aku berkata kembali, bisa-bisanya ada lift di rumah ini. Ting! Pintu lift terbuka dan Clara menekan tombol angka tiga. Tak lama pintu lift terbuka dan aku takjub dengan ruangan yang lebih mewah dibanding lantai dasar. Gucci besar tersimpan rapih di setiap sudut. Bunga Orchid menjuntai ke bawah dengan berbagai warna, jangan ditanya harganya berapa? Clara mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan berikutnya, pintu yang terbuat dari kayu ukiran dengan aksen dominan warna hitam. "Silahkan Nona, Tuan Nevelas menunggu Anda di dalam!" ujar Clara sembari membungkukkan setengah badannya. Clara dan tiga asisten lainnya meninggalkanku di depan pintu. Rasa khawatir mulai menggelitik kembali. "Semoga pagi ini dia bersikap wajar!" pintaku dalam doa. Ku buka pintu tanpa mengetuknya. Mataku mengedar ke sekeliling ruangan. Namun, tak ada siapapun yang ada di ruangan tersebut. Tapi, aku bisa memastikan kalau ini adalah ruang kerja Nevelas. Kaki ini berjalan perlahan, penasaran melihat pada laptop yang masih menyala. Pikirku, bisa saja ada aset papa yang masih bisa dilihat dan diambil datanya. Seseorang menarik tanganku dan memutarnya kebelakang. Rasa ngilu dan sakit mulai terasa, sampai tak mampu lagi bibir ini untuk berteriak. Kakinya mendorong dan menghempaskanku ke atas meja. "Apa yang tengah kamu lakukan, Nona!" Suara berat yang baru-baru ini selalu menghantuiku, aku sangat hapal kalau orang yang mendorongku adalah Nevelas. "Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan,"jawabku sembari menahan rasa sakit di pipi karena Nevelas terus membenamkan kepalaku. Nevelas menarik kepala dan membalikkan tubuhku. Mata kami saling beradu tatap. Menundukkan mata yang kini aku lakukan, aku tidak bisa menatapnya terlalu lama. Tangannya menarik daguku sampai kepala ini mendongkak ke atas. Posisi yang pas untuk dia bisa memagutkan bibir. Dalam hati terus meracau, jangan sampai pagi ini dia mendapatkanku dengan mudah. Ku buang wajah ke sembarang arah, namun Nevelas menahannya dan akhirnya seperti biasa dia berhasil memagut bibirku dengan kasar. "Ini hukuman ketika kamu mengendap melihat sesuatu yang tidak boleh kamu lihat!" Mendengar perkataannya aku hanya bisa pasrah dan merutuki diri sendiri. "Dasar bodoh, kenapa kamu penasaran melihat laptop sialan itu!" teriakku yang lagi-lagi hanya bisa terungkap dalam hati. Nevelas mengangkat tubuhku dan menyimpannya di atas meja. Dengan kasar tangannya membuka kedua kakiku. Tangannya mulai merambat ke segala arah. "Stop, Tuan! Hentikan! Aku tidak suka!" Aku berteriak tepat di sisi pendengarannya. Wajahnya yang semakin berang menatapku. "Akh! Sakit, Tuan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN