"Sayang," panggil Erfan meminta perhatian. Dia bahkan melingkarkan tangannya ke pinggang gue. Aneh banget nih laki! Humu tapi posesif. Dia menarik tubuh gue sampai kami jadi deket banget. "Apa-apaan sih. Malu tau dilihatin orang," desis gue dengan mata memicing. Erfan menatap tajam gue. "Aku tidak suka orang-orang melihat kamu seperti itu!" Seperti ape, Bang? Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata banyak juga cowok gatel yang ngeces lihat paha gue. Ya Tuhan, salah besar gue jalan-jalan ke mall pakai kaos Erfan yang terlihat sangat ketat akibat busungan t***k gue. Belum lagi celana boxers Erfan yang benar-benar pendek, memampangkan paha gue yang putih kayak tembok istana negara. Bukan gue melebih-lebihkan atau songong, yes. Asli gue memang putih sejak lahir. Fakt

