RINJANI Ayah memasuki rumah mungil yang dibeli dari hasil penjualan rumah lamanya di Bandung. Wajahnya penuh dengan keringat, di bahunya tersampir sebuah handuk kecil. Sudah lama sekali lelaki itu tidak lari pagi. Kegiatannya di lapas hanya begitu-begitu saja, kalau pun olehraga hanya senam kesegaran jasmani bersama sesama narapidana. Dia mengisi sebuah cangkir keramik dengan serbuk coklat kemudian menyeduhnya dengan air panas. Aku pikir ayah akan minum coklat panas habis olahraga ternyata dia menghampiriku yang tengah bersedih di depan laptop, dan coklat panas dipercaya dapat memperbaiki mood yang sedang hancur, begitu katanya. “Putri ayah, minum dulu, Nak,” ujar Ayah, dia memberikan cangkir dengan gambar kucing itu padaku. “Ayah, makasih banget, gimana udaranya seger kan?” tanyaku de

