Justin mendorong tubuhku menjauh dengan lembut, melepas pelukan kami. Diam-diam, aku merasa kecewa dan semakin menginginkannya. Oh cinta memang benar-benar berbahaya. Bahkan hanya dengan sebuah pelukan mampu menghapus segala rasa sakit yang sebelumnya berkecamuk di d**a. Menggantinya dengan ribuan kupu-kupu yang membawa kebahagiaan. Aku tersenyum, dengan harapan dia akan membalasnya. Kemudian tatapan keras dan serius Justin menjawab harapanku, seakan apa yang baru saja terjadi sama sekali tidak berarti apapun baginya. Setelah cukup lama saling tatap, Justin menggeleng. Aku sungguh tidak mengerti apa maksudnya karena setelahnya, dia menarikku lagi ke dalam pelukannya, yang jauh lebih erat. Dan hal itu justru semakin membuatku bingung. Tangannya semakin dieratkan, perlahan membuatku s

