Mendengar itu membuatku tercengang. Aku tidak bisa! Aku tidak yakin bisa melakukannya. Tiga kata terkutuk itu justru membuat air mataku semakin deras. Aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti! Justin tidak mencintaiku. Kenapa? “Kenapa kau tidak mencoba mencintaiku?” tanyaku di sela tangisku yang terdengar begitu menyedihkan, tapi aku benar-benar tidak bisa mengehentikannya. Justin terdiam, dia menarikku kedalam pelukannya. Kurasakan kecupan-kecupan ringan mendarat di ujung kepala, tapi aku malah membalasnya dengan pukulan di d**a diikuti isak tangisku yang semakin menjadi. “Maafkan aku,” bisiknya dengan suara parau. Aku menjauhkan tubuhku darinya dan menatapnya dengan mataku yang sembab. Aku ingin menanyakan satu pertanyaan yang sudah lama bersarang di kepalaku dan terus menggangg

