Tidak sampai setengah jam, aku kembali ke kamar Justin. Terkejut karena pria itu tidak lagi sedang berbaring melainkan terduduk dengan bersandar pada kepala ranjangnya. Aku menaruh nampan yang berisi semangkuk bubur, segelas air, dan obat ke atas nakas, kemudian aku duduk di pinggir ranjangnya. “Merasa lebih baik?” “Tidak,” jawabnya serak. Aku kembali mengambil nampan itu dan menaruhnya ke pangkuanku. Menyendok buburnya, lalu membawanya kedepan bibir Justin yang terkatup rapat dan tampak begitu pucat. “Buka mulutmu,” suruhku. “Aku bisa makan sendiri,” sahutnya yang justru terdengar begitu angkuh untuk orang yang sedang sakit sepertinya. Dia hendak meraih sendok di tanganku, tapi aku menolaknya dengan menjauhkan sendok itu dari jangkauannya. “Tidak ada penolakan lagi, buka mulutmu,

