Bangkit dari ranjang, aku langsung meraih jam bundar di atas nakas dan menatap sendu pada jarum pendeknya. Pukul sepuluh malam. Itu artinya, hampir seharian aku mengurung diri dan menangis, tanpa makan ataupun minum. Beberapa pelayan bahkan Richard telah menegurku untuk makan siang dan malam, tapi aku menolak. Dan sekarang, aku lapar. Mengingat tenaga yang banyak kuhabiskan untuk menangis sia-sia rasanya menyakitkan. Aku bodoh. Benar-benar bodoh! Tidak seharusnya aku berharap banyak pada pria t***l itu. Seharusnya aku lebih tahu. Dia tampan dan kaya, pasti dikelilingi banyak wanita. Tentu Justin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, kan? Atau memang semua pria tidak akan melakukannya. Dan seharusnya, aku membenci Justin. Aku sering menegaskan pada diriku sendiri bahwa dia adalah seseo

